Agnes hanya bisa memperlakukan Kelvin sebagai teman.. Begitu juga Kelvin.. Mereka benar hanya berteman biasa.. Bukan sebagai sahabat... Tidak bersapa saat di sekolah.. Tapi Agnes bisa saja keluar masuk rumah Kelvin seenaknya layaknya rumah sendiri... Bagaimana bisa??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohos Otaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Mandiri
" Buk.. Buk.. Buk.." Daisy memukul belakang Jesica..
" Apa kalian enggak pernah mau membiarkan anak beasiswa itu??" Agnes bicara kepada Daisy...
" Agnes.. Anak pinter sekolah.. Kamu gak usah ikut campur.. Salahnya sendiri karna hidup miskin.." lalu menendang kaki Jesica...
" Emang kalo miskin itu salah?? Setidaknya dia lebih pinter dari kamu Daisy.." Agnes bicara lagi kepada Daisy..
" Heh!! Kamu itu enggak ada urusannya sama anak miskin ini.. Jadi.. Kamu pergi saja.. Aku gak mau ribut sama kamu..." lalu mendorong bahu Agnes..
Daisy sekali lagi memukul Jesica lalu menendang perut Jesica.. Agnes marah lalu melemparkan besi di samping Daisy dan teman-temannya..
" Kamu ngapain sih?? Dasar suka ikut campur.. Kamu itu..."
" Plllakkk!!" Agnes menampar keras wajah Daisy..
" Haahhh.. Dasar bajingan..."
Salah satu teman Daisy menendang Agnes dari belakang lalu memegang kedua tangan Agnes... Agnes kesakitan lalu menendang perut teman Daisy.. Agnes mengambil besi yang ada di depannya lalu memukul salah satu teman Daisy..
" Agnes!! Kamu pikir kamu itu hebat.." lalu Daisy mengeluarkan pisau lipat dari sakunya..
" Apa kamu mau main kasar?? Kamu itu pecundang.. Karna itu kamu sering ngebuli anak lain.. Apa kamu kurang perhatian?? Atau apa karna Jonathan tidak memperdulikanmu.."
" Diam!!" Daisy berteriak...
" Hah?? Apa kamu tau Jonathan itu juga punya perempuan lain selain kamu.." sambil tersenyum sinis... Tiba-tiba Jesica berdiri ingin kabur.. Daisy yang melihat itu semakin marah lalu ingin mendekati Jesica tapi dihalang oleh Agnes...
" Sshhhrrreett..." darah mengalir dari tangan Agnes.. Daisy kaget lalu melepaskan pisau lipat dari tangannya... Daisy dan teman-temannya panik lalu melarikan diri..
" Hahhh.. Sialan!! Aku benar-benar gabisa gerak kali ini..." lalu mengambil pisau lipat itu dan menyimpannya ke dalam sakunya...
" Agnes!! Nes!! Nes!!" Jesica memanggil Agnes.. Tapi perlahan kesadaran Agnes hilang.. Jesica berlari menuju ke kelasnya memanggil Chris..
Chris dan Clara berlari bersama Jesica...
" Pasti itu Agnes lagi.. Hah.. Mon.. Apa dia ada ngirim rekaman lagi??" Randy bertanya kepada Monica..
" Enggak ada.." tiba-tiba terlihat Chris menggendong seseorang menuju ke UKS.. Clara datang ke kelas Agnes...
" Mon.. Agnes terluka.."
Monica kaget lalu buru-buru berlari ke UKS.. Kelvin berdiri menemui Jesica di kelasnya..
" Aku mau bicara sama kamu.." Kelvin berdiri di depan meja Jesica sambil kedua tangannya di dalam saku seluarnya..
Setelah satu jam kemudian Monica datang bersama Agnes.. Kelvin melihat ke arah Agnes.. Agnes duduk lalu menundukkan kepalanya di atas meja...
" Trrrrrrriiiiiiiiiiiiiiing" bell berbunyi menandakan waktu pulang..
" Nes.. Apa kamu mau aku anterin??" tanya Monica..
" Enggak.. Kamu pulang dulu.. Aku keluar setelah supir sampai.."
" Kalo gitu aku duluan ya.." sambil keluar dari kelas dengan wajah yang khawatir...
" Kel.. Aku pergi dulu.. Nes.. Aku pergi duluan.." lalu memegang bahu Agnes..
" Eessss.. Bajingan sial!!" Agnes menyumpahi Randy..
" Aku lupa.. Maaf non.. Aku pamit.." sambil mengundur lalu berlari keluar dari kelas...
Beberapa menit kemudian Kelvin berdiri dari kerusinya lalu berdiri di samping Agnes..
" Ayo pulang.. Kamu harus mengobati memarnya sebelum Fenny pulang.. Gausah banyak bicara.. Hari ini aku bawa mobil.."
" Terserah!!" Agnes berdiri lalu keluar dari kelas diikuti Kelvin...
Setelah sampai di rumah Kelvin.. Kelvin membawa Agnes masuk ke kamarnya... Agnes duduk di atas kasur Kelvin...
" Gimana caranya aku mau ngobatin memarnya kalo kamu enggak buka bajunya.. Atau kamu mau pembantu saja yang membantumu.."
" Enggak.. Aku.."
" Tenang aja.. Aku gak bakalan tergoda sama kamu yang kayak samseng jalanan.."
" Mulutmu pengen dihapus dari bumi.. Serius!! Kalo gitu lakuin aja di dalam kamar mandi.. Nanti ada yang masuk.. Aku gamau ketangkap basah sama kamu... Enggak rela..."
" Aku sudah mengunci pintunya.. Jadi kamu tenang aja.. Sekarang gimana?? Kamu mau di mana?? Di sini aja atau di kamar mandi??" Kelvin bertanya lagi ke Agnes..
" Apa kita bisa duduk di lantai saja.. Tapi kamu jangan coba-coba melakukan hal aneh.."
" Eya.. Eya.. Kamu pikir aku ini pria napsuan.."
Agnes membuka seragamnya membelakangi Kelvin.. Merek duduk di samping kasur Kelvin..
" Aku buka kancingnya.. Kamu bisa menahannya dari depan.." Kelvin membuka kancing pakaian dalam Agnes yang menutupi dadanya.. Agnes hanya diam lalu menahan dengan menyilang kedua tangannya..
" Kamu terlalu keras kepala.. Liat memarnya semakin banyak begini.." lalu perlahan mengoles salep di belakang Agnes..
" Ahhh!!" suara Agnes keluar karna merasa perih..
" Jangan bikin suara aneh-aneh.. Nanti ada yang mendengarnya.. Ini akan lebih sakit nantinya saat dikompres sama es batu.." sambil mengoles salep..
" Itu benar-benar sakit bajingan!! Haahh..."
" sakitnya sementara aja.. Daripada kamu harus nahan sakitnya selama berbulan.. Karna memarnya semakin bertambah.. Bodoh!!"
" Haahhh!! Benar-benar sakit.. Aku berasa salepnya bisa membunuhku.. Haahh.. Aahh.." Agnes kesakitan lalu menggenggam paha kanan Kelvin..
" Hei jangan lepasin tanganmu dari depan.."
" Aahh.. Maaf.. Tapi benar-benar perih..."
" Tsk..." lalu Kelvin mengompres memarnya menggunakan es batu...
" Aaahhh.. Aahhh.. Ahhhh.. Kelvin!! Itu perih.." suara kesakitan Agnes tiba-tiba mengencang.. Kelvin buru-buru menutup mulut Agnes..
" Hei.. Kamu bodoh!! Ngapain suaranya sekeras itu sih.."
" Haahhh.. Soalnya sakit bajingan!!" menyumpahi Kelvin..
" Tsk.. Bego amat.." Karna pakaian dalam Agnes sudah lepas dari tangannya.. Kelvin menarik kedua tangan Agnes lalu membungkukkan separuh badan Agnes di atas kasurnya.. Lalu menekan es kompres di setiap memar Agnes dengan tangan kirinya menutup mulut Agnes..
" Eeehhmm.. Eeeemmmm..." Agnes memberontak ingi bangun karna kesakitan...
" Sialan!! Kalo kamu bangun aku bisa melihat kedua gunungmu bodoh.." Kelvin berbisik ke telinga Agnes.. Agnes kesakitan lalu menggenggam selimut Kelvin..
Setelah satu jam Kelvin mengompres memar Agnes.. Agnes terlelap karna lelah menahan kesakitannya...
" Tsk.. Bajingan ini!!" Kelvin hanya menutup tubuh Agnes dengan selimutnya..
" Nes!! Agnes!! Bangun.. Mamaku enggak lama lagi udah sampai.. Buruan pakai seragammu...
" Bodo amat.." Agnes buru-buru mengambil pakaian dalam serta seragamnya.. Selesai merapikan seragam dan rambutnya Agnes buru-buru keluar dari kamar Kelvin lalu menuju ke kamar Fenny untuk menyiapkan latihan buat Fenny...
" Pakai sweater ini.. Tubuhmu punya banyak luka-luka..." Kelvin melemparkan sweaternya kepada Agnes.. Agnes tidak membantah lalu buru-buru memakainya..
Tidak lama kemudian Fenny masuk ke kamarnya..
" Maaf kak aku telat..."
" Gapapa kok.. Kamu bisa istirahat dulu... Baru mulai latihannya..."
Dua jam les yang diberikan berlalu..
" Aku antar kamu ke rumah.. Di sini sulit mendapatkan taksi.. Kamu harus keluar berjalan kaki..." Kelvin bicara kepada Agnes...
" Terserah.. Itu lebih baik.. Jalan XX..."
Setelah sampai Kelvin melihat hanya satu gedung yaitu restoran Jepang milik keluarga Agnes...
" Kamu kerja lagi?? Ngebantu di resto??" Kelvin bertanya..
" Enggak.. Aku tinggal di atas resto itu.. Sebuah kamar.. Punya dapur.. Kamar mandi.. Lalu pintu di sebelah itu adalah karyawan ibuku..."
" Kenapa kamu enggak tinggal di rumah??"
" Ibuku enggak punya rumah di bandar ini.. Karna ibuku menetap di Jakarta barat tepat di ibu kota... Lagian ibuku juga udah pulang... Ibuku hanya tinggal di sini selama satu minggu atas urusan bisnisnya..."
" Hahhh?? Jadi kalo ibumu datang dia tinggal di mana??"
" Di rumah tante.. Kembaran mama.. Tapi tante juga jarang ada di sini.. Jadi aku lebih milih tinggal di sini..."
" Eeeemm kalo gitu aku pamit.." Kelvin pergi...
Kelvin langsung pulang ke rumah selepas menghantar Agnes...
" Kamu udah pulang... Kok kecepatan.." tanya ibunya Siska...
" Eya.. Karna aku hanya anterin dia di resto keluarganya.."
" Lah ngapain?? Dia mau kerja lagi??"
" Dia tinggal di gedung itu.. Di tingkat atas gedung resto mereka..."
" Hahhh?? Ngapain seperti itu??" Siska dan Robert menjadi kaget... Kelvin menceritakan apa yang di katakan oleh Agnes...
" Eemmm.. Sekarang ini enggak mudah untuk anak muda merendahkan derjatnya apalagi dari keluarga yang kaya raya seperti keluarga mereka..."
" Mama jadi kasian mendengrnya.. Lalu gimana makannya??"
" Pasti hanya turun ke bawah karna itu resto milik mereka.." Kelvin menjawab dengan datar...
Agnes menjalani sekolahnya seperti biasanya.. Selesai sekolah pasti akan mampir ke rumah Kelvin untuk les tambahan Fenny adiknya Kelvin...
" Anak-anak.. Bermula minggu ini.. Kalian sudah tidak ada sesi pembelajaran karna dua minggu lagi kalian akan menjalani ujian akhir tahun... Ibu hanya minta kalian belajar di rumah... Saat di sekolah kalian hanya akan di kasi lembaran-lembaran soalan yang mirip untuk ujian akhir tahun.. Tapi tentu saja kalian enggak bisa bergantung sama soalan yang guru berikan.. Ingat kalian harus belajar di rumah juga.. Apa semuanya mengerti apa yang ibu sampaikan??"
" Ngerti buuuuu..."
" Ya sudah... Kalo gitu kalian bisa lakuin apa pun hanya saja jangan berisik hingga mengganggu kelas lainnya... Kalian mau tidur.. Atau mau apa pun itu bisa.."
" Trrriiiiiiiiing...." bell berbunyi menandakan waktu pulang sekolah.. Saat Agnes sampai di rumah Kelvin..
Agnes melakukan les seperti biasanya.... Setelah selesai Agnes ketemu ibunya Kelvin..
" Bu.. Sepertinya les tambahan untuk Fenny saya gabisa lanjutin.. Karna 2minggu lagi saya harus ujian akhir tahun.. Saya benar-benar mohon maaf karna tiba-tiba... Tapi saya bisa memberikan Fenny kertas soal melalui ponsel.. Fenny bisa melakukannya sendiri..."
" Oh soal itu.. Yaaa saya paham.. Gapapa.. Fenny juga seperti udah bisa.. Kamu ga usah khawatir... Apa hari ini adalah hari terakhir kamu datang ke mari?? Waduh jadi berat yah.. Ahh kalo gitu apa kamu mau makan malam bersama?? Please jangan ditolak yaaa.."
Agnes hanya bisa menerima undangan tersebut...