Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Gemuruh ombak di Selat Malaka terdengar seperti raungan raksasa yang lapar. Di atas dek MV Bratadikara Prime, Devanandra berdiri tegap dengan angin laut yang menerpa keras wajahnya. Di sekelilingnya, tim taktis yang dipimpin oleh Bram bergerak dengan kecepatan militer yang sangat presisi. Menggunakan pemindai termal tingkat lanjut dan detektor radiasi portabel, mereka memeriksa barisan kontainer yang bertumpuk seperti labirin baja raksasa.
"Tuan Muda! Palka nomor empat bersih! Tidak ada indikasi kebocoran radiasi atau material nuklir!" teriak Bram melalui alat komunikasi nirkabel, suaranya bersaing dengan deru angin dan mesin kapal.
"Periksa manifes fisik pada manifes manual kapten kapal, sekarang!" balas Devan, matanya tidak lepas dari radar taktis di pergelangan tangannya. Di layar digital itu, tiga titik merah besar—kapal patroli cepat milik armada gabungan Interpol—sedang bergerak memotong jalur mereka dengan kecepatan penuh. Jarak mereka kurang dari lima mil laut.
"Bos," suara Kenzo mendadak menginterupsi dari jalur komunikasi privat dari Menara Bratadikara. "Gue baru saja mendeteksi anomali di sistem navigasi satelit kapal lo. Peretas The Ghost Protocol gak cuma memalsukan manifes digital di pabean, mereka juga meretas sistem komputer kemudi kapal dari jauh. Mereka mencoba mengunci kemudi Bratadikara Prime agar kapal lo menabrak batas teritorial luar tanpa bisa berbelok!"
Devan mengepalkan tinjunya. "Mereka mau menciptakan skenario seolah-olah kita mencoba melarikan diri dari pemeriksaan Interpol."
"Tepat. Dan kalau kapal lo melewati garis batas itu, Interpol punya hak hukum penuh untuk melepaskan tembakan peringatan atau bahkan melumpuhkan kapal lo secara paksa," lanjut Kenzo dengan nada panik yang jarang terjadi. "Gue butuh waktu setidaknya lima belas menit untuk mematahkan enkripsi mereka dan mengambil alih kemudi manual dari sini."
"Lo punya waktu sepuluh menit, Kenzo. Lakukan, atau gue yang akan meledakkan ruang kemudi otomatis itu sendiri dan membawa kapal ini dengan jangkar manual," jawab Devan dingin, memancarkan aura kepemimpinan taktis yang tidak mengenal kata menyerah.
Sementara itu, di bawah sorot lampu ruang konferensi Otoritas Maritim Singapura yang dingin, Aura Kirana berdiri bagaikan seorang dewi keadilan yang tidak tergoyahkan. Di seberang meja marmer, pengacara utama Vanguard Maritim tampak mulai memperbaiki posisi duduknya, ketenangan palsunya mulai terkikis oleh lembaran draf eksepsi yang baru saja disodorkan Aura.
"Nyonya Bratadikara," sahut pengacara Vanguard itu sambil membolak-balik berkas dengan jari yang sedikit tegang. "Tuduhan Anda mengenai spionase industri adalah spekulasi yang tidak berdasar. Bukti digital yang kami miliki telah terverifikasi oleh protokol keamanan pabean."
Aura melangkah maju satu langkah, mengetukkan ujung pena montblanc-nya ke atas meja, menciptakan ketukan konstan yang mengintimidasi.
"Apakah protokol yang Anda maksud adalah Protokol Aegis-7 yang telah dinyatakan usang oleh Konvensi Keamanan Siber Jenewa tahun lalu?" tanya Aura, suaranya begitu tenang namun tajam menghunjam. "Tuan-tuan dewan pengawas yang terhormat, jika Anda melihat pada Lampiran C dari draf yang saya bawa, Anda akan menemukan catatan forensik digital yang membuktikan bahwa sistem pabean regional telah disusupi melalui backdoor yang ditanam oleh perusahaan konsultan siber yang didanai langsung oleh Vanguard Maritim dua bulan lalu."
Aura menjeda kalimatnya, menatap satu per satu para diplomat senior di dalam ruangan dengan pandangan mata cokelatnya yang jernih namun menuntut jawaban.
"Jika Otoritas Maritim Singapura tetap melanjutkan perintah penahanan terhadap kapal kami berdasarkan bukti cacat hukum yang dimanipulasi oleh pihak ketiga, maka Bratadikara Group akan langsung mengajukan tuntutan ganti rugi imateriil sebesar lima ratus juta dolar atas gangguan rantai pasok internasional, dan kami akan menarik seluruh investasi logistik hijau kami dari distrik ini dalam waktu dua puluh empat jam. Silakan pilih: menegakkan hukum yang adil, atau menjadi alat politik bagi sindikat asing yang sedang sekarat."
Seorang diplomat senior di ujung meja tampak menyeka keningnya yang basah oleh keringat dingin. Pernyataan Aura bukan sekadar pembelaan hukum; itu adalah ancaman ekonomi makro yang dapat mengguncang stabilitas pelabuhan regional.
Kembali ke Selat Malaka, situasi telah mencapai titik kritis. Tiga kapal patroli Interpol kini telah berada di jarak pandang visual. Melalui pengeras suara berkekuatan tinggi, perintah untuk menghentikan kapal telah digaungkan berulang kali dalam berbagai bahasa internasional.
"Tuan Muda, kemudi benar-benar terkunci! Kapal kita terus melaju menuju batas teritorial luar!" Bram melaporkan dengan wajah tegang dari ruang kendali utama.
Devan berjalan ke anjungan kapal, menatap tiga moncong kapal patroli yang mulai bersiap mengambil posisi taktis untuk mengepung mereka. "Kenzo! Berapa lama lagi?!"
"Dua menit, Dev! Enkripsi The Ghost Protocol berlapis-lapis seperti bawang, mereka pakai server pantulan dari lima negara berbeda!" sahut Kenzo dari seberang perangkat nirkabel, suara ketukan papan ketiknya terdengar seperti berondongan peluru senapan mesin.
Di tengah ketegangan maut itu, Devan menarik napas panjang. Ia teringat akan janjinya kepada Aura dan Gavinandra. Takhta ini harus tetap bersih. Ia tidak boleh membiarkan ada satu pun peluru yang ditembakkan, baik dari pihaknya maupun pihak Interpol, karena hal itu akan menghancurkan seluruh draf legalitas yang sedang diperjuangkan Aura di Singapura.
Devan mengambil mikrofon radio kapal, beralih ke frekuensi terbuka yang terhubung langsung dengan kapal komando Interpol.
"Kepada komandan armada patroli Interpol, ini Devanandra Bratadikara," suara berat Devan bergaung di udara, dipenuhi wibawa absolut yang seketika membuat operator di seberang sana terdiam. "Kapal kami saat ini sedang mengalami kegagalan sistem navigasi akibat serangan siber pihak ketiga. Kami tidak sedang melarikan diri. Saya mengundang tim inspeksi Anda untuk naik ke atas kapal secara damai, sekarang juga, sebelum kapal ini menyentuh garis batas. Kami membuka pintu palka kami secara penuh untuk membuktikan bahwa kami bersih."
Tindakan Devan adalah sebuah perjudian taktis yang luar biasa berani. Dengan mengundang Interpol naik secara sukarela sebelum ada perintah penahanan resmi, Devan memotong legitimasi narasi "penyelundupan" yang coba dibangun oleh Vanguard Maritim.
"Akses berhasil diambil alih!" teriak Kenzo tiba-tiba. "Mesin kapal melambat sekarang!"
Seketika itu juga, kecepatan monster baja MV Bratadikara Prime menurun drastis, menyisakan deburan ombak kecil saat tiga kapal Interpol merapat di sisi lambung kapal dengan posisi siap melakukan inspeksi damai, bukan penangkapan paksa.
Di ruang konferensi Singapura, waktu tiga puluh menit yang diberikan Aura hampir habis. Suasana begitu mencekam hingga suara detak jarum jam dinding terdengar sangat jelas.
Tiba-tiba, ponsel milik ketua dewan pengawas maritim bergetar. Pria paruh baya itu mengangkat telepon, mendengarkan laporan selama beberapa detik dengan ekspresi wajah yang berubah dari tegang menjadi sangat terkejut. Ia menutup telepon, lalu menatap ke arah Aura dan pengacara Vanguard secara bergantian.
"Nyonya Bratadikara," kata ketua dewan dengan suara yang jauh lebih hormat dari sebelumnya. "Kami baru saja menerima laporan langsung dari tim inspeksi Interpol di lapangan. Kapal MV Bratadikara Prime telah diperiksa secara sukarela. Hasil pemindaian fisik dan termal menyatakan bahwa seluruh muatan kapal bersih dari material berbahaya. Tidak ada nuklir, tidak ada senjata. Manifes yang berada di server pabean resmi dinyatakan sebagai data korup akibat malafungsi sistem eksternal."
Aura menarik napas lega dalam diam, merasakan gelombang kemenangan yang manis menjalar di dadanya. Namun, wajahnya tetap mempertahankan ekspresi dingin seorang pengacara yang belum selesai mengesekusi lawannya.
Aura menoleh ke arah pengacara Vanguard Maritim yang kini wajahnya telah kehilangan seluruh rona darahnya.
"Sesuai dengan hukum acara internasional pasal dua belas, karena laporan Anda terbukti merupakan fabrikasi informasi yang membahayakan keamanan maritim, maka dengan ini saya secara resmi menyerahkan draf gugatan kriminal atas nama Bratadikara Group kepada kejaksaan agung regional," ucap Aura sambil menghempaskan sebuah berkas tebal bermeterai internasional tepat di depan wajah sang lawan. "Permainan Anda selesai, Tuan-tuan."
Sore harinya, helikopter privat klan kembali mendarat di helipad Menara Bratadikara di bawah siraman cahaya matahari terbenam yang berwarna merah keemasan. Devan melangkah keluar dari helikopter, pakaian taktisnya masih sedikit basah oleh cipratan air laut. Dari arah helikopter satunya yang baru saja mendarat dari Singapura, Aura melangkah turun dengan keanggunan yang sama seperti saat ia pergi.
Mereka berdua berjalan mendekat di tengah deru angin baling-baling yang mulai melambat. Tanpa memedulikan Bram, Kenzo, atau para pengawal yang berdiri di sekitar helipad, Devan langsung menarik Aura ke dalam dekapannya yang sangat erat. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Aura, menghirup dalam-dalam aroma cendana yang selalu menjadi penenang jiwanya.
"Lo hebat, Good Girl," bisik Devan, suaranya yang berat dipenuhi rasa bangga yang tak terhingga. "Lo menghancurkan mereka di ruang sidang sebelum Interpol sempat mengeluarkan satu peluru pun."
Aura membalas pelukan Devan dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang masih berdegup kencang oleh sisa adrenalin. "Dan kamu melakukan hal yang benar di laut, Dev. Kamu memilih kedamaian daripada konfrontasi. Itu adalah draf keputusan terbaik yang pernah kamu ambil."
Dari pintu akses helipad, Gavinandra kecil tiba-tiba berlari keluar, diikuti oleh Nyonya Rahma yang tersenyum lega. Gavin langsung memeluk kedua kaki orang tuanya dengan erat. "Ayah! Ibu! Badainya sudah pergi?"
Devan melepaskan pelukannya dari Aura, lalu berlutut untuk mengangkat Gavin ke dalam gendongannya, sementara tangan kirinya tetap merangkul pinggang Aura dengan posesif.
"Badainya sudah lewat, Jagoan," kata Devan sambil menatap langit Jakarta yang kini kembali bersih dan terang di atas mereka. "Dan selama Ayah dan Ibu berdiri bersama, tidak akan ada satu pun badai di dunia ini yang bisa meretakkan dinding rumah kita."
Aura tersenyum, menyatukan jemarinya dengan jemari Devan di atas punggung kecil Gavinandra. Konflik internasional itu mungkin telah berakhir, namun bagi mereka, itu hanyalah sebuah pembuktian lagi bahwa aliansi antara kekuatan perlindungan mutlak dan kecerdasan hukum yang murni adalah sebuah mahakarya yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh apa pun di semesta ini.