NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Tak lama kemudian, seorang perawat masuk membawa map berisi surat kepulangan.

"Selamat siang, Bu Sulastri. Hasil pemeriksaan terakhir sudah keluar. Semuanya dalam kondisi baik. Ibu sudah diperbolehkan pulang hari ini." Perawat itu menyerahkan beberapa lembar dokumen kepada Angela.

"Silakan menyelesaikan administrasinya di bagian kasir. Untuk obat-obatan, nanti bisa diambil di apotek rumah sakit."

"Baik, Sus. Terima kasih," jawab Angela sopan.

Perawat itu mengangguk sambil tersenyum sebelum berpamitan. Begitu pintu kembali tertutup, Edward langsung berdiri.

"Raymond."

"Iya, Dad?"

"Tolong urus administrasinya." Raymond mengangguk singkat.

"Sudah selesai, Dad," ujar Raymond tenang. "Sebelum Daddy dan Mama datang, Aku sudah melunasi semua biaya rumah sakit."

Ucapan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Angela yang sedang merapikan tas ibunya langsung menghentikan gerakannya.

"Sudah... dibayar?" Raymond menatapnya datar.

"Ya."

"Waktu kapan?"

"Tadi pagi." Angela memandangnya dengan mata membulat.

"Raymond! Kenapa kamu membayarnya tanpa bilang dulu?"

"Bukankah memang harus dibayar?"

"Bukan begitu maksudku!" Angela mengusap dahinya yang mulai pening. "Itu biaya rumah sakit, pasti jumlahnya besar. Aku belum tentu bisa menggantinya." Raymond terlihat bingung.

"Siapa yang memintamu mengganti?" Angela semakin tidak habis pikir.

"Ya tentu saja harus diganti."

"Tidak perlu."

"Tapi—"

"Sudah selesai." Jawaban Raymond yang singkat membuat Angela kehabisan kata-kata.

Bagi Raymond, melunasi tagihan rumah sakit hanyalah perkara sepele.

Namun bagi Angela, uang sebanyak itu bisa membiayai kuliahnya selama bertahun-tahun.

Perbedaan cara pandang itu kembali membuat jurang di antara mereka terasa begitu nyata. Bu Sulastri ikut menatap Raymond dengan rasa sungkan.

"Nak Raymond, Ibu benar-benar berterima kasih. Tapi biaya rumah sakit ini..."

"Ibu." Raymond memotong dengan nada tetap tenang. "Anggap saja sebagai bentuk rasa hormat saya kepada sahabat kedua orang tua saya." Bu Sulastri terdiam, Sulit baginya menolak ketulusan pemuda itu, Edward yang sejak tadi memperhatikan putranya hanya tersenyum tipis. Ia tahu betul sifat anaknya itu, Sekali memutuskan sesuatu, hampir mustahil ada yang bisa mengubah pikirannya.

Diana kemudian mendekati Angela yang masih terlihat gelisah.

"Sudahlah, Nak." Diana mengusap lembut lengan Angela. "Kalau memang kamu merasa tidak enak, anggap saja ini utang budi yang nanti bisa dibalas dengan cara lain."

Angela menundukkan kepala.

"Maaf... kami benar-benar terlalu banyak merepotkan."

"Kamu tidak pernah merepotkan kami." Diana tersenyum hangat. "Keluarga kami sudah menganggap kalian sebagai keluarga sendiri."

Kalimat itu membuat hati Angela terasa hangat, tetapi di saat yang sama juga semakin canggung. Ia masih sulit menerima perhatian sebesar ini.

---

Sekitar tiga puluh menit kemudian, seluruh barang bawaan telah selesai dirapikan.

Raymond membawa koper kecil milik Bu Sulastri di tangan kirinya, sementara Edward membantu membawa beberapa tas berisi buah dan hadiah dari para kerabat.

Diana berjalan menggandeng Bu Sulastri dengan hati-hati. Sedangkan Angela hanya membawa ransel dan sebuah tas kecil berisi obat-obatan. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang luas.

Beberapa perawat dan pasien yang mengenali keluarga Wijaya langsung menundukkan kepala memberi salam.

"Selamat siang, Pak Edward."

"Selamat siang, Bu Diana." Edward membalas dengan anggukan ramah. Begitu keluar dari pintu utama rumah sakit, Angela langsung menghentikan langkahnya. Di pelataran parkir telah berjajar beberapa mobil mewah berwarna hitam mengilap. Di depan masing-masing mobil berdiri para pria berjas hitam yang tampak seperti pengawal profesional. Begitu melihat Edward keluar, mereka serempak membungkukkan badan.

"Selamat siang, Tuan." Angela refleks menelan ludah. Ia tahu keluarga Raymond kaya.

Namun setiap kali melihat langsung kehidupan mereka, ia selalu dibuat terdiam.

Sungguh seperti dunia yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya. Seorang sopir bergegas membuka pintu mobil limusin hitam yang berkilau di bawah sinar matahari.

"Silakan, Tuan."

Edward menoleh kepada Bu Sulastri sambil tersenyum.

"Mulai hari ini, anggap saja tidak ada lagi jarak di antara keluarga kita." Kemudian ia mempersilakan Bu Sulastri masuk lebih dulu ke dalam mobil. Angela masih berdiri mematung. Tatapannya perlahan beralih kepada rumah sakit yang mulai menjauh di belakangnya.

Ia sama sekali tidak menyangka, keputusan mengikuti keluarga Wijaya hari ini akan menjadi awal dari rahasia besar yang selama ini disembunyikan kedua keluarga.

Rahasia yang akan mengikat hidupnya dengan Raymond, jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.

Sekitar empat puluh menit kemudian...

Iring-iringan mobil perlahan memasuki kawasan elite tempat keluarga Wijaya tinggal. Petugas keamanan yang berjaga di gerbang utama langsung memberi hormat begitu mengenali kendaraan Edward Wijaya.

Gerbang besi hitam terbuka perlahan, membiarkan mobil melaju menyusuri jalan berpaving yang membelah taman luas nan asri.

Angela memandang keluar jendela.

Pemandangan itu terasa begitu familier.

Ini adalah kedua kalinya ia menginjakkan kaki di kediaman keluarga Raymond. Beberapa waktu lalu, ia pernah datang memenuhi undangan makan malam bersama Bu Sulastri. Saat itu saja ia sudah dibuat kagum oleh kemegahan rumah tersebut.

Kini, ia kembali datang, bedanya, kali ini bukan sekadar bertamu, melainkan tinggal sementara hingga kondisi ibunya benar-benar pulih. Tanpa sadar, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Rasa canggung kembali memenuhi dadanya. Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama mansion keluarga Wijaya.

Beberapa pelayan yang telah menunggu sejak tadi langsung melangkah maju.

"Selamat datang, Tuan."

"Selamat datang, Nyonya."

"Selamat datang, Tuan Muda."

Mereka membungkukkan badan dengan penuh hormat sebelum salah seorang pelayan membuka pintu mobil. Edward turun lebih dulu, disusul Diana. Raymond kemudian keluar sambil mengambil koper kecil milik Bu Sulastri dari bagasi belakang.

"Pelan-pelan, Bu," ucapnya sembari membantu Bu Sulastri turun dari mobil.

"Terima kasih, Nak," balas Bu Sulastri dengan senyum hangat. Angela ikut turun sambil membawa tas berisi obat-obatan. Matanya menyapu halaman depan yang tertata rapi dengan bunga-bunga bermekaran. Meski sudah pernah melihatnya, suasana rumah itu tetap memancarkan kemewahan yang sulit diabaikan.

Namun kali ini, ia tidak lagi merasa kagum, yang lebih mendominasi justru rasa sungkan.

Dalam hati ia terus bertanya-tanya, apakah keputusannya tinggal di rumah keluarga Wijaya merupakan pilihan yang tepat, seolah memahami kegelisahan gadis itu, Diana menghampiri sambil merangkul bahunya dengan lembut.

"Jangan tegang begitu, Angela." Angela menoleh sambil tersenyum canggung.

"Maaf, Tante. Saya hanya, masih merasa tidak enak."

"Untuk apa?"

"Sudah terlalu banyak merepotkan keluarga Om dan Tante." Diana menggeleng pelan.

"Kamu masih menganggap kami orang lain?"

Angela terdiam.

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu, jangan terus mengatakan kata 'merepotkan'." Diana mengusap pelan punggung tangan Angela. "Rumah ini juga rumahmu. Anggap saja kamu sedang pulang."

Ucapan itu membuat hati Angela menghangat. Meski begitu, rasa sungkannya belum juga hilang.

Edward yang telah berdiri di ambang pintu utama tersenyum melihat mereka.

"Sudah, ayo masuk. Bu Sulastri pasti juga sudah lelah."

"Benar," sahut Raymond singkat.

Ia berjalan lebih dulu membawa koper Bu Sulastri menuju lantai dasar, sementara para pelayan membantu membawa barang-barang lainnya. Angela mengembuskan napas pelan sebelum melangkah masuk mengikuti mereka.

Begitu memasuki foyer utama, udara sejuk langsung menyambut mereka. Langit-langit yang menjulang tinggi dihiasi lampu kristal berukuran besar, sementara lantai marmer berwarna putih mengilap memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi.

Meski Angela sudah pernah datang ke rumah itu, ia tetap tidak terbiasa dengan suasana yang begitu megah.

"Bi Rini," panggil Diana.

Seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu segera menghampiri.

"Iya, Nyonya."

"Tolong siapkan kamar tamu di sayap timur. Pastikan semua kebutuhan Bu Sulastri tersedia, termasuk obat-obatan dan makanan yang sudah dianjurkan dokter."

"Baik, Nyonya."

"Untuk sementara, Bu Sulastri tidak boleh terlalu banyak beraktivitas," tambah Edward. "Kalau ada apa-apa, segera hubungi dokter keluarga."

"Baik, Tuan."

Bi Rini segera memberi isyarat kepada dua pelayan lain untuk membawa koper dan barang-barang Bu Sulastri ke lantai dua.

"Bu, mari saya antar ke kamar," ucap Diana sambil menggandeng tangan sahabatnya.

"Maaf ya, Diana. Aku benar-benar merepotkan." Diana menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap Bu Sulastri dengan lembut.

"Kalau kamu masih mengatakan itu lagi, aku bisa marah." Bu Sulastri tersenyum kecil.

"Baiklah... terima kasih."

"Begitu dong." Keduanya pun berjalan menuju tangga, diikuti seorang pelayan yang membawa tas berisi obat-obatan.

Sementara itu, Angela masih berdiri di ruang tengah. Tatapannya mengikuti sang ibu hingga menghilang di ujung koridor.

Baru setelah memastikan ibunya baik-baik saja, ia mengembuskan napas lega.

"Kamu juga ikut." Suara Raymond membuat Angela menoleh.

"Hah?"

"Kamarmu." Angela mengedip beberapa kali.

"K-kamarku?" Raymond mengangguk singkat.

"Mama sudah menyiapkannya." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menaiki tangga. Angela hanya bisa mendesah pelan sebelum mengejarnya.

"Raymond, tunggu!" Pria itu menghentikan langkahnya sesaat.

"Apa?"

"Aku sebenarnya bisa tidur di sofa atau di kamar Ibu saja."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena kamar tamu masih banyak."

Jawaban singkat itu membuat Angela kehilangan bahan untuk membantah.

"Dasar kers kepala," gerutunya sebal. Lalu, ia mengikuti langkah Raymond.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah kamar tamu yang berada tidak jauh dari kamar Bu Sulastri.

Raymond membuka pintunya.

"Masuk." Angela melangkah masuk perlahan.

Kamar itu jauh lebih luas daripada seluruh kontrakan yang ia tinggali selama ini. Tempat tidur berukuran king size berdiri di tengah ruangan, dilengkapi sofa kecil di dekat jendela, lemari pakaian besar, meja belajar, serta balkon yang menghadap taman belakang.

"Ini... kamar tamu?" gumam Angela hampir tak percaya.

"Ya."

Angela terkekeh pelan.

"Kalau ini disebut kamar tamu, kamarku di kontrakan lebih pantas disebut gudang."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Raymond tampak sedikit terangkat, membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

"Kalau ada yang kurang, bilang saja."

"Nggak... ini sudah lebih dari cukup." Raymond mengangguk.

"Kalau begitu, istirahatlah." Ia hendak pergi lalu kembali bersuara, " Kalau perlu apa-apa, kau bisa memanggilku. Kamarku ada di sebelah." Angela mengangguk . Raymond hendak pergi , tiba-tiba Angela berseru memanggilnya.

"Raymond." Pria itu menoleh.

"Terima kasih." Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

"Tidak perlu." Setelah mengucapkan dua kata itu, Raymond menutup pintu perlahan dari luar. Angela menatap daun pintu yang kini tertutup rapat.

Entah kenapa, di balik sikap dinginnya, ia mulai menyadari bahwa Raymond selalu menunjukkan perhatian melalui tindakan, bukan kata-kata.

---

Sementara itu, di ruang kerja Edward yang berada di lantai bawah.

Ruangan yang didominasi rak buku dan aroma kopi itu terasa tenang. Edward menuangkan secangkir teh hangat ke dalam cangkir porselen favorit Diana, lalu meletakkannya di hadapan sang istri.

"Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu?" tanyanya sambil ikut duduk di sofa.

Diana menerima cangkir itu, tetapi bukannya langsung minum, ia justru melirik ke arah pintu, seolah berharap Angela tiba-tiba muncul.

"Kalau menurutku..." gumamnya.

"Hmm?"

"Sekarang."

Edward yang baru saja menyeruput teh hampir tersedak.

"Batuk... batuk... sekarang?"

"Iya."

"Diana, mereka baru saja sampai."

"Terus kenapa?" balas Diana tanpa merasa bersalah. "Justru mumpung mereka masih sama-sama di rumah."

Edward memijat pelipisnya pelan.

"Kamu ini memang tidak sabaran."

"Bukan tidak sabaran." Diana mengerucutkan bibir. "Aku cuma takut keburu ada gadis lain yang merebut Raymond."

Edward terkekeh kecil.

"Siapa yang berani merebut anak kita? Wajah Raymond saja sudah cukup membuat orang takut mendekat."

"Itu dia masalahnya!" Diana menunjuk suaminya dengan kesal. "Kalau terus memasang wajah sedingin kulkas, kapan dia punya istri?"

Edward tak mampu menahan tawanya.

"Kalau dipikir-pikir... ada benarnya juga."

Diana menghela napas panjang.

"Aku sudah lama menginginkan Angela menjadi menantuku. Gadisnya sopan, penyayang, pekerja keras, dan yang paling penting..." Ia tersenyum lebar. "Aku cocok sekali dengannya."

Edward menatap istrinya penuh geli.

"Yang mau menikah itu Raymond, bukan kamu."

"Memangnya kenapa? Calon ibu mertua juga punya hak memilih calon menantu."

Edward hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil.

"Dari dulu kamu memang keras kepala."

"Bukannya keras kepala."

"Lalu?"

"Disebut punya insting."

"Insting?"

"Iya." Diana mengangguk mantap. "Percaya deh, Raymond cuma cocok sama Angela."

Edward menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Kalau Raymond menolak bagaimana?"

Diana tersenyum penuh percaya diri.

"Biar saja dia jual mahal sekarang."

"Memangnya kamu punya rencana?"

"Tentu."

Diana menyipitkan mata sambil tersenyum jahil.

"Kalau mereka sering dipertemukan, lama-lama juga pasti tumbuh rasa."

Edward menatap istrinya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas.

"Pantas saja sejak tadi kamu sengaja menyuruh Raymond mengantar Angela ke kamar."

"Ya iyalah." Diana terkekeh tanpa merasa bersalah. "Masa calon pengantin jalan sendiri-sendiri?"

"Kamu benar-benar tidak bisa diselamatkan."

"Aku ini sedang membantu masa depan anak kita."

Edward kembali menggeleng pelan. Meski mulutnya mengomel, ia tidak bisa memungkiri bahwa diam-diam ia juga berharap janji yang pernah dibuat bersama sahabatnya itu benar-benar menjadi kenyataan.

Ia melirik jam dinding.

"Baiklah."

"Nanti setelah makan malam..."

Edward tersenyum tipis.

"Sudah saatnya Raymond dan Angela mengetahui janji yang telah kita buat bertahun-tahun lalu."

Diana langsung meletakkan cangkir tehnya dengan wajah berbinar.

"Akhirnya!"

Tatapan penuh antusias itu membuat Edward hanya bisa menghela napas pasrah.

Entah mengapa...

Ia merasa istrinya jauh lebih bersemangat dibandingkan dua orang yang akan dijodohkan nanti.

Sore mulai merambat turun.

Cahaya matahari yang semula terang perlahan berubah menjadi semburat jingga, menerobos jendela-jendela besar mansion keluarga Wijaya. Suasana rumah terasa tenang. Para pelayan berlalu-lalang dengan langkah ringan, menyiapkan makan malam sesuai instruksi Diana.

Di kamar tamu sayap timur, Bu Sulastri sudah tertidur lelap setelah meminum obat. Napasnya terdengar teratur, membuat Angela yang sejak tadi menemaninya akhirnya merasa sedikit lega.

Ia menyelimuti tubuh ibunya hingga sebatas dada, lalu mengusap pelan punggung tangan wanita yang telah membesarkannya seorang diri itu.

"Cepat sembuh ya, Bu," bisiknya lirih.

Angela kemudian keluar dari kamar tanpa menimbulkan suara. Begitu pintu ditutup perlahan, ia mengembuskan napas panjang.

"Syukurlah..."

Setidaknya untuk saat ini, kondisi ibunya benar-benar sudah membaik.

"Angela."

Suara lembut itu membuatnya menoleh.

Diana berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum hangat.

"Bu Diana."

"Bagaimana keadaan ibumu?"

"Sudah tidur. Sepertinya obatnya mulai bekerja."

"Bagus." Diana menghampiri sambil menggandeng lengan Angela.

"Ayo turun. Temani Tante sebentar." Angela sempat ragu.

"Tapi kalau Ibu bangun..."

"Bi Rini menjaganya. Kalau ada apa-apa, dia akan segera memanggilmu." Mendengar itu, Angela akhirnya mengangguk.

"Baik, Tante."

Mereka berdua berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Berbeda dengan ruang tamu yang terlihat formal, ruangan ini terasa jauh lebih hangat. Sofa-sofa besar mengelilingi meja kayu jati, sementara perapian elektrik di salah satu sisi ruangan menambah suasana nyaman.

Edward sudah duduk di sana sambil membaca koran bisnis. Tak jauh darinya, Raymond sedang mengetik sesuatu di laptop dengan wajah serius.

Mendengar langkah kaki mendekat, Edward melipat korannya.

"Nah, Angela. Duduklah."

"Iya, Om." Angela memilih duduk di sofa yang paling ujung. Tanpa sengaja, posisi itu tepat berada di samping Raymond.

Ia melirik sekilas, Pria itu bahkan tidak mengangkat kepala dari layar laptopnya.

Dasar. Kalau bukan kerja, pasti membaca laporan. Apa hidupnya nggak pernah santai?

Belum sempat pikirannya melayang lebih jauh, seorang pelayan datang membawa nampan berisi teh hangat dan aneka kudapan.

"Nona Angela, silakan."

"Terima kasih." Angela mengambil secangkir teh dengan hati-hati.

Diana memperhatikan gadis itu beberapa saat sebelum membuka pembicaraan.

"Angela."

"Iya, Tante?"

"Beberapa hari ini kamu pasti izin kuliah, ya?"

Angela mengangguk.

"Iya. Untung dosen-dosen mengizinkan karena kondisi Ibu."

"Kalau begitu, besok kamu sudah mulai kuliah lagi." Angela tampak ragu.

"Tapi... Ibu..."

"Soal ibumu tidak perlu dikhawatirkan," sela Edward. "Selama berada di rumah ini, ada dokter keluarga, perawat, dan para pelayan yang akan membantu."

"Benar," tambah Diana. "Kamu tinggal fokus kuliah. Tante tidak ingin nilaimu turun gara-gara terus memikirkan ibumu."

Angela menundukkan kepala.

"Terima kasih, Tante." Raymond yang sejak tadi diam akhirnya menutup laptopnya.

"Aku juga berangkat ke kampus besok."

Angela spontan menoleh.

"Oh..." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Diana tersenyum kecil melihat reaksi keduanya.

"Kalau begitu pas sekali." Edward langsung menangkap maksud istrinya.

"Raymond."

"Iya, Dad."

"Mulai besok, kamu antar dan jemput Angela ke kampus." Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Angela yang sedang memegang cangkir, hampir menjatuhkan cangkir teh yang dipegangnya.

"Hah?" Raymond menatap ayahnya beberapa detik.

"Lewat jalur yang sama."

"Itu sebabnya Ayah meminta kamu mengantarnya." Raymond tidak langsung menjawab. Sementara Angela buru-buru menggeleng.

"Tidak usah, Om. Saya bisa naik motor seperti biasa." Edward tersenyum bijaksana.

"Motor kamu masih ada di kontrakan !" sahut Raymond. Angela langsung terdiam mendengar jawaban itu. Benar juga, dia sampai tidak terpikir ke arah sana.

"Sekarang kamu tinggal di rumah kami, selain itu, kuliah Raymond dimulai lebih pagi. Dia tidak akan keberatan." Angela hendak membantah lagi, tetapi Raymond lebih dulu berbicara.

"Baik." Jawabannya singkat. Angela justru melongo.

'Lho... dia langsung setuju?'

Padahal selama ini, Raymond dikenal sebagai orang yang paling tidak suka direpotkan.

Melihat ekspresi bingung Angela, Diana menahan tawanya. Dalam hati, ia semakin yakin.

Meski belum menyadarinya, putranya mulai membuka ruang dalam hidupnya untuk gadis sederhana itu.

Sementara Edward melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

Ia lalu berkata dengan tenang,

"Setelah makan malam nanti... ada satu hal penting yang ingin Daddy dan Mama sampaikan kepada kalian berdua."

Nada suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. Angela menelan ludah.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!