NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Salep

..

Langkah kaki Rangga terasa agak berat saat menuntun sepedanya berjalan beriringan dengan Tania menyusuri jalanan yang mulai beranjak sunyi. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip suram, bercak merah di sudut bibir tipis Tania tampak semakin jelas. Sisa darah yang mengering di sana membuat rahang tegas wanita itu terlihat semakin dingin, memancarkan aura kaku yang tak tersentuh.

"Neng, tunggu sebentar di sini, ya," kata Rangga tiba-tiba, menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah apotek dua puluh empat jam yang lampunya menyala benderang di pinggir jalan raya.

Tania menghentikan langkah, sepasang mata kelamnya menatap plang apotek itu datar. "Untuk apa?"

"Beli salep luka toh, Neng. Itu bibirmu robek dikit gara-gara si Anisa gendeng tadi. Kalo gak diobatin, nanti infeksi, malah berabe," jawab Rangga, suaranya terdengar cemas dan penuh desakan.

"Tidak perlu," tolak Tania, suaranya kaku dan lugas tanpa intonasi. "Luka sekecil ini akan sembuh sendiri besok pagi. Jangan membuang-buang uang."

Namun, Rangga tampaknya tidak berniat mendengarkan penolakan tersebut. Sifat keras kepalanya bangkit. Pria jangkung itu tetap kekeh melangkah masuk ke dalam apotek setelah menyandarkan sepedanya di tiang listrik. Tania hanya berdiri diam di trotoar, menatap punggung tegap Rangga dari balik kaca bening toko obat itu. Ada letupan aneh yang terasa ganjil di benak Marysa seorang ratu mafia yang biasa mengelola transaksi miliaran won kini harus menyaksikan seorang penyapu jalanan dengan seragam oranye kusam memperjuangkan sebuah salep demi dirinya.

Beberapa menit kemudian, Rangga kembali dengan sebuah kantong plastik kecil di tangannya. Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan hingga sampai di depan pintu kayu kontrakan petak milik Tania yang bercat hijau kusam yang sudah mengelupas.

"Sini, tak obatin sekalian," Rangga menahan lengan kemeja flanel Tania saat wanita itu hendak berbalik membuka pintu. Dia mengeluarkan tube salep kecil dan merobek kemasannya dengan gigih. "Duduk dulu, Neng. Aku beneran merasa bersalah sama kamu,"

Tania menatap tube salep itu, lalu menatap mata sipit Rangga yang tampak sangat tulus di bawah keremangan lampu teras. Menyadari pria ini tidak akan menyerah, Tania akhirnya mengembuskan napas pendek dan duduk di bangku kayu panjang yang reyot.

Rangga perlahan mendekatkan tubuhnya, jongkok dihadapannya, membungkuk sedikit agar tingginya sejajar dengan Tania. Jarak di antara mereka terkikis hingga menyisakan kepungan aroma keringat khas dan sisa ciu yang samar. Jemari tangan Rangga yang kasar bergerak dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti kulit porselen putih di hadapannya.

Saat ujung jarinya yang teroles salep menyentuh sudut bibir Tania, Rangga mendadak tertegun.

Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat seluruh detail wajah Tania dengan sangat jelas. Di balik ekspresi dinginnya yang sewarna es batu, ada raut wajah yang tampak begitu lugas, tajam, namun di saat yang sama menyimpan kesan datar yang menyerupai keluguan. Struktur wajahnya mirip Orang Asia Timur, benar-benar terlihat sangat cantik dan rapuh secara bersamaan, membuat debaran jantung Rangga kembali berdegup dengan ritme yang gila di dalam dadanya. Rangga menelan ludah dengan susah payah, menepuk pelan pipinya sendiri di dalam hati agar tidak hilang kendali.

Tania yang menyadari tatapan intens pria itu segera berdehem pelan, memutus kontak mata mereka. "Sudah selesai?"

"Eh... iya, udah, Neng," Rangga menarik tangannya dengan canggung, wajahnya memerah padam. Dia buru-buru memasukkan sisa salep ke kantong celananya. "Anu... makasih ya, udah mau tak diobatin."

Tania hanya mengangguk pendek, tidak banyak bicara seperti biasanya. Sifat kaku dan pembawaannya yang emosional namun tertutup rapat membuat atmosfer di teras itu terasa begitu sunyi.

Rangga yang ingin mencairkan suasana kemudian tersenyum kecil, mencoba menawarkan sesuatu yang lain. "Neng, mau es krim gak? Di warung depan kayaknya masih buka. Kita ngobrol bentaran kalau mau,"

Tania menatap Rangga sesaat, lalu mengangguk kaku. Keingintahuan psikologisnya tentang bagaimana manusia di kota ini hidup membuatnya tidak menolak. Mereka akhirnya berjalan ke warung madura terdekat, membeli dua buah es krim batangan, lalu duduk di atas pembatas beton selokan besar.

Rangga membuka bungkus es krimnya, menggigitnya sedikit sembari menatap langit malam Jakarta yang tanpa bintang. Rasa penasarannya pada Tania yang terlalu misterius memaksanya untuk membuka diri terlebih dahulu, berharap wanita itu mau berbagi sedikit tentang dunianya.

"Neng... kamu pasti bingung ya, kenapa aku bisa jadi playboy gak jelas kayak gini di kampung?" Rangga membuka obrolan, suaranya mendadak melunak, kehilangan nada jenaka yang biasa dia pamerkan.

Tania diam, menikmati rasa manis dingin di lidahnya, namun telinganya mendengarkan dengan saksama.

"Semua itu... berawal dari ibuku sendiri," tutur Rangga, seulas senyum pahit terukir di sudut bibirnya. Ada kilat kesedihan dan emosi kelam yang melintas di matanya yang sipit. "Dia itu... tukang selingkuh, Neng. Pandai bener berbohong. Kerjanya cuma memeras uang ayah yang waktu itu masih sehat kerja jadi kuli panggul. Sampai akhirnya, beberapa tahun lalu, ibu pergi gitu aja bawa sisa tabungan kami bersama selingkuhan barunya. Sekarang... ayahku sakit di rumah. Lumpuh total akibat stroke, bahkan buat bicara aja susah bener."ucapannya keluar begitu saja dari bibirnya.

Rangga mengembuskan napas panjang, meremas bungkus plastik es krimnya. "Makanya aku gak pernah percaya sama yang namanya cinta atau komitmen perempuan. Bagiku, hubungan itu cuma buat bersenang-senang aja, biar gak baper, biar gak sakit kaya ayah."

Mendengar cerita itu, sisi terdalam dari jiwa seorang Marysa yang selama ini beku dan dipenuhi oleh kekejaman dunia mafia mendadak tersentil. Ada rasa ingin tahu yang kuat yang tiba-tiba bangkit di dalam dadanya. Kehancuran keluarga akibat pengkhianatan adalah sesuatu yang sangat dia pahami di dunia bawah tanah Seoul.

Tania menoleh, menatap Rangga dengan pandangan matanya yang tajam dan datar. "Aku ingin melihat ayahmu. Sekarang juga. Malam ini."

Rangga tersentak, menatap Tania dengan ekspresi tidak percaya. "Loh? Sekarang, Neng? Ini udah tengah malam, rumahku berantakan banget..."

"Saya tidak peduli. Antar saya sekarang," potong Tania, nadanya mutlak tanpa bantahan. Keluguan ekspresinya yang bercampur dengan ketegasan alami seorang pemimpin membuat Rangga akhirnya menyerah. Pria jangkung itu mengiyakan, merasa wanita di hadapannya ini benar-benar unik dan sulit ditebak.

Rumah kecil milik Rangga terletak di ujung gang buntu, beratap seng gelombang yang sebagian sudah berkarat. Di dalam ruang tengah yang pengap dan hanya diterangi oleh sebuah lampu pijar lima watt yang kuning suram, bau minyak kayu putih sereh dan kain lembap tercium pekat.

Di atas sebuah kasur busa tipis yang diletakkan di lantai, sesosok pria paruh baya bertubuh kurus kering berbaring dengan selimut usang. Wajahnya tampak sangat lemah, separuh mulutnya tertarik agak miring ke samping akibat kelumpuhan, dan sepasang matanya yang sayu menatap langit-langit kamar dengan kekosongan yang menyedihkan.

Tania berdiri di ambang pintu, menatap kondisi ayah Rangga tanpa berkedip. Di dunia lamanya, kelemahan fisik seperti ini biasanya akan langsung dieliminasi dari sistem klan. Namun di sini, melihat bagaimana pria tua itu bertahan hidup dalam kemiskinan, ada benang emosi yang halus yang bergetar di dalam dada Tania.

Tania membalikkan tubuhnya menghadap Rangga yang berdiri canggung di belakangnya. Dengan raut wajah yang tetap datar, tajam, namun memancarkan aura polos yang aneh, Tania berbicara.

"Saya akan membiayai pengobatan ayahmu di rumah sakit," kata Tania, suaranya terdengar sangat santai seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca esok hari. "Uang gajian saya dari pos kebersihan bulan ini dan bulan-bulan berikutnya akan saya berikan semuanya kepadamu untuk mengurus rumah sakitnya."

Rangga seketika melongo, matanya membelalak lebar mendengar tawaran gila itu. "Hah?! Neng Tania, jangan bercanda! Kamu ini ngomong apa, toh? Kamu baru kerja dua hari, gajinya aja gak seberapa, terus kalau dikasih ke aku semua... kamu sendiri mau hidup pakai apa?!"

"Itu gampang," jawab Tania pendek, mengedikkan bahu kanannya dengan keangkuhan alami yang tak bisa disembunyikan. "Saya bisa mencari pekerjaan lain lagi yang menghasilkan uang lebih banyak. Saya ingin menolongnya. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah mengobatiku dan mengajakku jalan malam ini."

Tania tetap bersikeras dengan keputusannya, membuat Rangga benar-benar bingung sekaligus tersentuh di saat yang sama. Di balik pakaian loaknya, wanita asing ini memiliki ketegasan yang tak bisa ditolak oleh siapa pun. Rangga tidak tahu bahwa bagi seorang Marysa, uang gajinya sebagai penyapu jalanan hanyalah angka hambar, sisa-sisa dana darurat miliknya yang disimpan oleh anak buah setianya, jauh dari cukup untuk membeli seluruh kawasan kumuh ini jika dia mau. Namun malam ini, dia memilih menggunakan alibi uang gajinya demi tetap menjaga penyamarannya di depan pria jangkung itu.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara, perbedaan waktu menempatkan Seoul di titik fajar yang sibuk di pangkalan militer udara Gyeonggi.

Kapten Herry berdiri di landasan pacu yang dingin, mantel hitam panjangnya berkibar ditiup angin malam yang membeku. Di hadapannya, sebuah pesawat jet pribadi milik militer dengan logo sayap perak sedang bersiap melakukan taxiing di sepanjang lintasan pacu.

Di dalam kabin pesawat yang mewah, Jessica Hwang Won sudah duduk dengan segelas sampanye di tangannya, sementara Herry baru saja selesai memasukkan seluruh koper taktisnya ke dalam bagasi pesawat. Esok hari, mereka akan tiba di Jakarta untuk memulai survei lokasi pernikahan VIP yang diminta oleh keluarga Han.

Herry menatap ke arah cakrawala malam yang pekat di atas laut barat Korea. Setiap detail pakaian taktis dan barang bawaan tersembunyi yang dia siapkan di dalam kopernya bukan untuk keperluan pesta pernikahan, melainkan untuk sebuah misi perburuan rahasia. Emosi dingin dan dendam masa lalu yang belum terjawab di kepalanya kini ikut terbang bersamanya membelah samudra, menuju titik takdir yang sama di tanah selatan.

...

Cast

Herry Seung Gi

Marysa Yu Sae

Tania Sae Ning. (Penyamaran Marysa)

Jessica Hwang Won

Arangga Pandega

Ibu Yuni / Yuniansih

Hanya ilustrasi saja...🥰

Jika suka jangan lupa tinggalkan jejak yap...

likenya..... 😘

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!