Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanan Pertama di Dunia Iblis
Aelora baru menyadari dirinya benar-benar lapar ketika perutnya berbunyi cukup keras untuk didengar semua orang di kamar.
Orin yang sedang menyusun pakaian berhenti dengan satu gaun masih tergantung di tangannya. Eirna menoleh dari meja obat. Bahkan Piko yang tergeletak di samping bantal tampak seperti sedang menatapnya dengan satu mata kancing yang tersisa.
Aelora menarik selimut sampai menutupi perut.
“Itu bukan aku.”
Eirna mengangkat alis. “Lalu siapa?”
“Mungkin suara dari dinding.”
“Dinding istana tidak berbunyi seperti perut kosong.”
Aelora melirik ukiran bulan di langit-langit. “Di tempat ini, patung saja bisa bicara.”
Orin berdeham, tetapi bahunya bergerak seperti sedang menahan tawa.
Eirna mengambil mangkuk bubur dari meja. Permukaannya sudah membentuk lapisan tipis karena terlalu lama dibiarkan dingin.
“Habiskan ini.”
Aelora melihat isinya. Bubur tersebut berwarna abu-abu keunguan, dengan potongan kecil yang menyerupai jamur dan sesuatu yang bentuknya mirip ekor.
“Apa isinya?”
“Gandum malam, jamur bulan, dan kaldu.”
“Kaldu apa?”
Eirna diam terlalu lama.
Aelora mendorong mangkuk menjauh.
“Tidak.”
“Kaldu tulang rusa.”
“Kenapa kau berpikir dulu sebelum menjawab?”
“Saya sedang mengingat.”
“Berarti bukan rusa.”
“Rusa bayangan tetap rusa.”
Aelora memeluk Piko. “Aku mau roti.”
“Roti saja tidak cukup untuk anak yang kekurangan makan.”
“Aku juga mau telur.”
Orin membuka buku catatannya. “Telur apa?”
Aelora menatapnya. “Telur biasa.”
“Kami punya telur burung malam, telur kadal api, telur wyvern kecil, dan telur laba-laba kebun.”
“Laba-laba bertelur untuk dimakan?”
“Bukan untuk dimakan,” kata Orin. “Tapi kepala dapur mungkin bisa memasaknya.”
“Jangan.”
Orin mencoret sesuatu dari bukunya.
Eirna mengusap kening. “Telur burung malam paling mirip telur ayam.”
“Apakah burungnya punya dua kepala?”
“Tidak.”
“Giginya?”
“Burung tidak punya gigi.”
Aelora menatapnya ragu. “Di Nocthara, bunga punya gigi.”
Eirna menyerah. “Orin, bawa dia ke dapur. Biarkan dia memilih sesuatu yang bisa dimakan.”
Orin menoleh cepat. “Sekarang?”
“Kalau tetap di sini, dia akan terus menuduh kita meracuninya.”
“Aku tidak menuduh,” kata Aelora. “Aku hanya hati-hati.”
“Dengan menganggap semua makanan berbahaya?”
“Cara itu membuatku hidup sampai hari ini.”
Kalimat tersebut membuat Orin menutup bukunya.
Eirna tidak membantah. Ia hanya menarik mantel tipis dari ujung ranjang dan menyampirkannya ke bahu Aelora.
“Kau boleh keluar selama tidak jauh dan tidak berjalan sendiri.”
“Aku bisa berjalan.”
“Kakimu masih dibalut.”
“Aku akan pelan-pelan.”
“Kalau sakit?”
Aelora menatapnya datar. “Aku akan bilang.”
Eirna menunggu.
Aelora menghela napas. “Benar-benar bilang.”
“Bagus.”
Orin membantu menurunkan Aelora dari ranjang. Kaki kanannya masih terasa nyeri saat menyentuh lantai, tetapi tidak separah kemarin. Ia memakai sepasang sandal kain yang terlalu besar, sehingga harus mengangkat jari-jari kaki agar tidak terlepas.
“Tidak ada ukuran lebih kecil?” tanyanya.
“Belum,” jawab Orin. “Penjahit istana sedang membuatnya.”
“Mereka cepat sekali.”
“Setelah Yang Mulia menyuruh tiga kali.”
Aelora bisa membayangkan Kael berdiri di depan para penjahit sambil menatap mereka sampai semua orang lupa cara bernapas.
Ia membawa Piko di satu tangan, lalu mengikuti Orin keluar kamar.
Dua penjaga berdiri di depan pintu. Keduanya membungkuk ketika melihat Aelora. Penjaga sebelah kiri bertubuh besar dengan tanduk melengkung ke belakang. Penjaga yang lain memiliki sisik tipis di sekitar matanya dan ekor panjang yang terus bergerak gelisah.
Aelora berhenti.
“Kenapa kalian membungkuk?”
Keduanya saling pandang.
“Karena Nona adalah tamu Raja,” jawab penjaga bertanduk.
“Aku bukan bangsawan.”
“Orin menyuruh kami bersikap sopan.”
Orin memandang langit-langit seperti tidak terlibat.
Aelora melanjutkan perjalanan.
Lorong istana tidak seramai sebelumnya, tetapi beberapa pelayan masih memperlambat langkah saat melihatnya. Ada yang tersenyum kecil. Ada pula yang langsung menyingkir ke dinding, seolah takut anak manusia dapat meledak tanpa peringatan.
Seorang pelayan perempuan membawa tumpukan seprai. Tanduk kecil di dahinya tertutup pita merah muda.
“Selamat pagi,” kata Aelora.
Pelayan itu terkejut sampai seprai paling atas jatuh.
Aelora membungkuk untuk mengambilnya, tetapi Orin lebih cepat.
“Maaf,” kata pelayan tersebut. “Saya tidak menyangka Nona akan menyapa.”
“Memangnya manusia tidak menyapa?”
“Katanya manusia meludah kalau melihat iblis.”
Aelora berpikir tentang orang-orang di Asteria. “Sebagian memang begitu.”
“Apakah Nona akan meludah?”
“Tidak.”
Pelayan itu tampak lega.
“Kalau aku marah, paling aku menggigit,” tambah Aelora.
Wajah pelayan tersebut kembali pucat.
Aelora tersenyum kecil. “Aku bercanda.”
Orin menatapnya sambil menyerahkan seprai. “Anda belajar terlalu cepat dari Raja.”
Mereka turun melalui tangga belakang menuju lantai bawah. Semakin dekat ke dapur, udara menjadi hangat dan penuh bau makanan. Aelora mencium roti panggang, bawang, daging, rempah manis, dan sesuatu yang sedikit gosong.
Perutnya kembali berbunyi.
Orin pura-pura tidak mendengar kali ini.
Dapur Istana Bulan Merah jauh lebih besar daripada seluruh rumah lama Aelora. Tiga tungku api menyala di satu sisi. Panci-panci besar tergantung dari kait besi. Meja panjang memenuhi tengah ruangan, dikelilingi pelayan yang memotong sayuran, mengaduk adonan, dan mencabuti bulu unggas berwarna biru.
Begitu Aelora masuk, semua kegiatan berhenti.
Pisau berhenti di atas talenan.
Sendok berhenti di dalam panci.
Seorang juru masak yang sedang membawa sekarung tepung bahkan berdiri dengan satu kaki masih terangkat.
Kepala dapur muncul dari balik tungku. Ia lelaki bertubuh pendek dan lebar, dengan kulit merah gelap dan kumis tebal yang ujungnya terbakar sedikit.
“Anak manusia,” katanya.
Aelora mengangguk. “Kepala dapur.”
Lelaki itu melirik Orin. “Dia tahu siapa saya?”
“Semua orang bilang kepala dapur suaranya paling keras,” jawab Aelora.
Beberapa juru masak menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum.
Kepala dapur mengusap kumis. “Nama saya Bram.”
“Aelora.”
“Saya tahu.”
“Tentu saja.”
Bram mengamati sandal yang terlalu besar, perban di kaki, dan boneka rusak yang dibawanya. Wajah kerasnya sedikit melunak.
“Katanya Nona tidak suka bubur.”
“Aku belum mencobanya.”
“Lalu bagaimana tahu tidak suka?”
“Warnanya terlihat sedih.”
Bram berkedip.
“Bubur tidak punya perasaan.”
“Kalau punya, bubur tadi pasti ingin dibuang.”
Salah seorang juru masak tertawa, tetapi langsung berpura-pura batuk ketika Bram menoleh.
Kepala dapur melipat kedua tangan. “Kalau begitu, apa yang biasa dimakan anak manusia?”
“Roti. Telur. Sup ayam.”
“Sup ayam?”
“Ya.”
Bram melihat unggas biru yang sedang dicabuti bulunya.
“Itu burung rawa,” kata Orin cepat.
“Rasanya seperti ayam?”
“Lebih asin,” jawab Bram. “Dan kadang masih menjerit setelah dipotong.”
Aelora perlahan mundur.
“Itu bercanda,” kata Bram.
“Benar?”
Bram tidak menjawab.
Aelora menatap Orin.
Orin berbisik, “Saya juga tidak tahu.”
Bram menunjuk bangku dekat meja. “Duduk. Saya buatkan sesuatu.”
Aelora naik ke bangku dengan bantuan Orin. Kakinya menggantung jauh dari lantai. Piko ia letakkan di pangkuan, menghadap meja seperti turut menunggu makanan.
Bram mengambil dua butir telur bercangkang kelabu. Ia memecahkannya ke dalam mangkuk. Isinya berwarna kuning pucat seperti telur biasa, tanpa gigi atau mata tambahan.
Aelora mengembuskan napas lega.
“Kau kira apa yang akan keluar?” tanya Bram.
“Entahlah. Nocthara aneh.”
“Bagi kami, anak manusia yang takut telur juga aneh.”
Aelora mengakui itu masuk akal.
Bram mengocok telur dengan sedikit susu, garam, dan daun hijau yang berbau segar. Setelah itu ia menuangkannya ke atas wajan datar. Api di bawah wajan berwarna ungu, tetapi telur matang seperti biasa.
Di sisi lain, seorang juru masak muda mulai menguleni adonan roti. Ia memiliki telinga panjang seperti kelelawar, dan setiap kali Bram mengangkat suara, kedua telinganya tertekuk ke bawah.
Aelora memperhatikan tangannya.
“Kenapa rotinya hitam?”
“Karena tepung gandum malam,” jawab juru masak itu.
“Apakah rasanya pahit?”
“Tidak. Sedikit manis.”
“Boleh aku mencoba?”
Juru masak itu melihat Bram sebelum memotong sepotong kecil roti yang baru keluar dari oven. Ia mengoleskan mentega di atasnya, lalu menyodorkannya kepada Aelora.
Roti itu hangat, kulit luarnya renyah, bagian dalamnya lembut. Rasanya sedikit manis seperti madu, meski tidak diberi gula.
Mata Aelora membesar.
“Enak?”
Ia mengangguk sambil masih mengunyah.
Juru masak bertelinga kelelawar tersenyum bangga.
Bram meletakkan telur dadar di atas piring. Bentuknya tidak sempurna, tetapi baunya membuat perut Aelora kembali menuntut perhatian.
“Coba.”
Aelora memotong bagian kecil menggunakan garpu. Telurnya lembut dan tidak terasa aneh. Bahkan daun hijau di dalamnya memberi rasa segar yang ia sukai.
“Ini juga enak.”
Bram mengangkat dagu. “Tentu saja.”
“Lebih enak dari bubur.”
“Itu bukan pencapaian besar,” gumam Orin.
Bram melotot kepadanya.
Aelora makan perlahan pada awalnya. Namun setelah beberapa suap, ia mulai lupa menjaga sikap. Potongan roti berikutnya dimasukkan terlalu cepat sampai pipinya mengembung.
Orin meletakkan segelas air di dekatnya.
“Pelan-pelan.”
Aelora menelan. “Aku pelan.”
“Tidak.”
Ia hendak mengambil roti lagi, tetapi tangannya berhenti di tengah jalan.
Kebiasaan lama muncul tanpa diminta.
Aelora mematahkan potongan roti menjadi dua, lalu menyelipkan satu bagian ke dalam saku mantel.
Bram melihatnya.
“Kenapa disimpan?”
Aelora menutup saku. “Untuk nanti.”
“Masih ada satu keranjang.”
“Mungkin nanti tidak ada.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Juru masak bertelinga kelelawar menoleh ke arah rak roti. Bram membersihkan tenggorokan dan pura-pura sibuk membalik telur yang sebenarnya sudah matang.
Orin menarik kursi dan duduk di samping Aelora.
“Di istana selalu ada makanan.”
Aelora memandangnya.
“Bahkan malam?”
“Terutama malam. Banyak penghuni istana tidak tidur pada malam hari.”
“Kalau aku lapar, boleh datang ke sini?”
“Panggil pelayan. Makanan akan dibawakan ke kamar.”
Aelora menatap roti di sakunya, lalu mengambilnya kembali. Ia tidak memakannya, tetapi meletakkannya di atas piring.
“Baik.”
Orin tidak tersenyum terlalu lebar. Aelora menyukai itu. Orang dewasa sering tersenyum berlebihan saat mereka merasa kasihan, seolah senyum dapat membuat seorang anak lupa bahwa dirinya sedang dikasihani.
Bram menuangkan sup bening ke mangkuk kecil. Potongan kentang dan wortel mengambang di dalamnya.
“Ini sup sayur,” katanya. “Tidak ada ekor.”
Aelora mencium aromanya.
“Tidak ada laba-laba?”
“Tidak.”
“Burung yang masih menjerit?”
“Tidak.”
“Bunga bergigi?”
Bram mendesah. “Hanya kentang, wortel, bawang, dan kaldu rusa bayangan.”
Aelora mengambil sendok.
Ia baru menyuap sekali ketika pintu dapur terbuka. Kael masuk bersama dua penjaga.
Seluruh dapur kembali diam.
Bram menunduk. “Yang Mulia.”
Kael melihat Aelora di atas bangku, piring telur di depannya, tepung menempel di ujung hidung, dan Piko duduk di pangkuan seolah menjadi tamu resmi.
“Aku menyuruhmu beristirahat.”
“Aku sedang makan.”
“Itu bukan beristirahat.”
“Aku duduk.”
Kael tampak ingin membantah, tetapi tidak menemukan bagian yang salah.
Orin berdiri. “Tabib Eirna mengizinkan, Yang Mulia.”
Kael berjalan mendekat dan memeriksa wajah Aelora. “Demam?”
“Masih ada sedikit.”
“Pusing?”
“Tidak.”
“Kakinya?”
“Sakit kalau dipakai berlari.”
“Jadi jangan berlari.”
Aelora mengangguk, meski tidak berniat membuat janji.
Kael melihat isi piringnya. “Makanannya aman?”
Bram tampak tersinggung untuk kedua kalinya hari itu.
“Selama dua ratus tahun saya memasak untuk keluarga kerajaan dan tidak pernah meracuni siapa pun.”
“Lord Harven meninggal setelah jamuan musim dingin.”
“Dia meminum enam botol anggur darah dan jatuh ke perapian.”
“Masih terjadi di dapurmu.”
Bram membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Aelora menahan tawa.
Kael menarik kursi dan duduk di seberangnya. Gerakannya membuat seluruh pekerja dapur semakin gugup. Raja Iblis tidak biasa makan di ruangan belakang bersama para juru masak.
“Bagaimana sidangnya?” tanya Aelora.
“Berisik.”
“Apakah mereka menyuruhku pergi?”
“Ya.”
Sendok Aelora berhenti.
Kael mengambil satu potong roti dari keranjang. “Aku menolak.”
Aelora melihatnya memakan roti itu tanpa meminta izin kepada Bram.
“Apakah mereka marah?”
“Mereka selalu marah kalau keinginannya tidak dipenuhi.”
“Apa mereka akan datang memeriksaku?”
“Tidak tanpa izinku.”
“Kalau diam-diam?”
Kael mengunyah terlebih dahulu sebelum menjawab. “Mereka tidak akan cukup bodoh.”
Orin dan Bram saling pandang.
Aelora memperhatikan mereka. “Kenapa kalian melihat begitu?”
“Tidak ada,” jawab Orin.
Bram menyibukkan diri dengan panci.
Kael mengambil roti kedua.
“Kau lapar?” tanya Aelora.
“Aku belum makan.”
“Kau bisa meminta telur.”
Bram langsung mengambil wajan baru, meskipun Kael belum menjawab.
“Aku tidak perlu—”
Telur sudah dipecahkan.
Kael menatap Bram, tetapi kepala dapur pura-pura tidak melihat.
Beberapa menit kemudian, Raja Iblis duduk di meja dapur kecil bersama seorang anak manusia, makan telur dadar yang bentuknya terlalu bulat. Para juru masak bekerja sambil sesekali melirik, dan Orin mulai membuat daftar makanan yang disukai Aelora.
Untuk sesaat, suasananya terasa biasa.
Tidak ada dewan.
Tidak ada kutukan.
Tidak ada perang yang menunggu di masa depan.
Hanya perut yang mulai kenyang dan ruangan hangat yang berbau roti.
Aelora mengambil sendok sup lagi.
Ujung sendok baru saja menyentuh mangkuk ketika cairan bening di dalamnya berubah warna.
Merah tua merambat dari dasar mangkuk, membentuk lingkaran tipis di antara potongan wortel. Awalnya Aelora mengira itu bumbu. Kemudian garis merah tersebut bergerak sendiri.
Sendok jatuh dari tangannya.
Kael langsung melihat perubahan itu.
“Apa?”
Aelora menunjuk mangkuk.
Semua orang di dekat meja mundur.
Cairan merah berkumpul di permukaan sup, membentuk huruf demi huruf. Bau logam memenuhi udara.
Bram mengambil kain untuk menutup mangkuk, tetapi Kael menahan tangannya.
“Jangan sentuh.”
Tulisan itu selesai terbentuk.
Bahasanya bukan bahasa Nocthara maupun Asteria. Namun Aelora mengenal bentuk hurufnya dari altar-altar Gereja Fajar.
Bahasa Elyrion.
Kael membacanya dengan suara rendah.
“Kembalikan kunci langit.”
Dapur mendadak terasa lebih dingin.
Di pangkuan Aelora, mata kancing Piko berputar ke arah mangkuk.
Lalu satu tetes darah muncul dari sudut mulut boneka itu.