Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Peluru dan Rahasia
Ruang operasi darurat di dalam mansion berubah menjadi sangat sibuk.
Aurora mengenakan sarung tangan sambil menatap luka tembak di perut Raven. Darah terus mengalir membasahi kemeja hitam pria itu.
"Siapkan alat bedah!" perintah Aurora.
Beberapa pelayan medis segera bergerak.
Leo berdiri di sudut ruangan dengan wajah tegang.
"Tuan, bertahanlah."
Raven masih sadar. Meski wajahnya mulai pucat, sorot matanya tetap dingin.
"Aku tidak akan mati karena satu peluru."
Aurora mendengus kesal.
"Berhenti bicara. Simpan tenagamu."
Raven menatap Aurora sekilas sebelum akhirnya mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengikuti semua instruksi wanita itu.
Aurora mulai membersihkan luka.
"Pelurunya cukup dalam."
Ia menarik napas panjang.
"Aku harus mengeluarkannya sekarang."
Ruangan menjadi sunyi.
Hanya terdengar bunyi alat-alat bedah dan napas semua orang yang tertahan.
Aurora bekerja dengan penuh konsentrasi.
Keringat mulai membasahi dahinya.
Beberapa menit kemudian...
"Tang."
Peluru akhirnya berhasil dikeluarkan.
Aurora langsung menjahit luka Raven dengan rapi.
"Perdarahannya berhenti."
Leo mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Aurora melepas sarung tangannya.
"Dia harus banyak istirahat."
Raven yang masih berbaring menatap Aurora.
"Terima kasih."
Aurora terdiam.
Itu pertama kalinya Raven mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Jangan salah paham," jawab Aurora pelan. "Aku menyelamatkanmu karena aku dokter."
Raven tersenyum tipis.
"Alasanmu tidak penting."
"Yang penting aku masih hidup."
Aurora memutar bola mata, tetapi diam-diam ia merasa lega melihat kondisi Raven membaik.
Menjelang tengah malam...
Aurora hendak kembali ke kamarnya ketika Leo menghampirinya.
"Nona."
"Ada apa?"
"Tuan meminta Anda menemaninya sebentar."
Aurora mengangguk.
Saat memasuki kamar Raven, ia melihat pria itu sedang duduk di balkon sambil memandang langit malam.
"Lukamu belum boleh banyak bergerak."
"Aku bosan berbaring."
Aurora berjalan mendekat.
"Apa dokter selalu harus menghadapi pasien keras kepala sepertimu?"
"Hanya kau yang berani bicara seperti itu kepadaku."
Aurora tersenyum tipis.
Suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian Raven membuka suara.
"Waktu kecil..."
"...aku ingin menjadi pilot."
Aurora menoleh kaget.
"Serius?"
Raven mengangguk pelan.
"Tapi malam pembantaian itu mengubah segalanya."
Aurora tidak menyela.
"Ayah angkatku mengajarkanku satu hal."
"Apa?"
"'Jika dunia memperlakukanmu seperti monster, jadilah monster yang melindungi orang-orangmu.'"
Aurora menatap wajah Raven.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kesedihan yang begitu dalam di balik ketegasan pria itu.
Tiba-tiba...
Brak!
Pintu kamar terbuka keras.
Seorang penjaga berlari masuk dengan napas terengah-engah.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Kami menemukan penyusup yang semalam!"
Raven langsung berdiri meski Aurora berusaha menahannya.
"Lukamu belum sembuh!"
"Ini lebih penting."
Mereka segera menuju ruang bawah tanah.
Di sana seorang wanita bertopeng telah dirantai pada kursi besi.
Begitu Raven mendekat, wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.
Tanpa topeng.
Aurora langsung mengenali wajah itu.
Wanita yang sama dari malam penyerangan.
"Elena..." bisik Raven.
Wanita itu tersenyum sinis.
"Sudah lama tidak bertemu... Kakak."
Ruangan langsung hening.
Leo membelalakkan mata.
"Benar-benar dia..."
Raven melangkah mendekat.
"Kenapa kau bekerja untuk Vittorio?"
Elena tertawa pelan.
"Bekerja?"
"Aku tidak bekerja untuk siapa pun."
"Lalu kenapa menyerangku?"
Tatapan Elena berubah tajam.
"Karena kaulah pembunuh ayahku."
Semua orang membeku.
Raven menggeleng.
"Itu tidak benar."
"Bohong!"
Elena berteriak sambil berusaha melepaskan rantainya.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
Aurora memandang Raven.
Ia bisa melihat keterkejutan yang tulus di wajah pria itu.
Raven benar-benar tidak mengerti tuduhan tersebut.
Belum sempat Elena mengatakan lebih banyak...
Dor!
Suara tembakan memecahkan keheningan.
Kaca jendela ruang bawah tanah pecah.
Seorang penembak jitu dari luar melepaskan peluru tepat ke arah Elena.
Raven bergerak secepat kilat.
Ia mendorong kursi Elena hingga peluru hanya mengenai bahunya.
"Aaargh!"
Leo segera berteriak.
"Lindungi Tuan!"
Para penjaga langsung membalas tembakan ke arah luar.
Raven menatap Elena yang kini terluka.
"Siapa yang ingin membungkam mulutmu?"
Elena menggertakkan gigi menahan sakit.
Tatapannya perlahan mengarah ke arah jendela yang pecah.
Dengan napas yang mulai melemah, ia berbisik,
"...bukan... kau..."
"...orang yang membunuh Ayah... masih hidup..."
Sebelum sempat menyebutkan nama pelakunya, Elena kehilangan kesadaran.
Sementara itu, di sebuah gedung yang menghadap mansion Alvaro, seorang pria misterius menurunkan senapan runduknya.
Ia tersenyum puas.
"Rahasia itu belum boleh terbongkar."
Pria itu kemudian menghilang dalam gelap, meninggalkan pertanyaan yang semakin memperumit masa lalu Raven Alvaro.