"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roman mulai waspada
"Iya, tapi tadi dia senyum pada Kenanga, kenapa juga dia begitu" gerutu Sigit membuat semuanya terkekeh.
"Dengan Sahara juga dia begitu, pasti karena dia berpikir kalau perempuan tidak mungkin membahayakan, kecuali Radiah dan Radini" ungkap Dimas
••••••••••
Roman sudah sampai di rumahnya, beberapa penjaga melihatnya dengan heran karena pulang dengan motor yang berbeda, bahkan ada yang mengira Roman sudah mengganti motor bututnya dengan motor baru yang lebih bagus.
"Dimas bilang di depan pintu" gumam Roman melihat sekeliling dan memastikan di sana tidak ada siapapun. Dia lalu mengeluarkan bungkusan kain putih yang tadi dia masukkan ke dalam tas dan menyimpan itu tepat di tengah lawang pintu rumah Radiah dalam keadaan terbuka supaya jarum itu menunjukkan siapa yang sudah meneluhnya.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Roman sempat terkejut karena dia lancar membaca basmallah tanpa merasa kesakitan di bagian tenggorokannya.
Srak.
"Ya ampun!" kaget Roman saat harum jarum itu melesat ke dalam rumah Radiah dan Roman segera mengambil kain itu supaya tidak ada yang tahu
"Aakhhh! leherku!" pekik suara yang di kenali Roman.
Roman langsung berlari dan menuju ke arah suara, tapi matanya langsung terbelalak karena ternyata yang berteriak adalah Radini yang memegangi lehernya dengan banyak jarum menancap di sana.
"Ra... Radini..." gumam Roman mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam.
"Nyai, nyai kenapa?" tanya Hatta khawatir
"Kang mas, sepertinya ada yang mengirimkan teluh padaku, mungkin itu Kenanga karena saat itu aku menamparnya" jawab Radini
"Tapi nyai, Kenanga itu tidak mungkin melakukan itu, dia perempuan baik" ucap Hatta
"Kenapa kang mas membelanya terus!" kesal Radini
"Bukan membelanya, tapi aku kenal Kenanga dari lama, sebelum kamu pulang ke sini, dia pendatang saat itu dan dia tidak pernah macam macam, dia bahkan sering di ganggu mantan suaminya dulu" jawab Hatta
"Mantan suami?" tanya Radini penasaran
"Iya, mantan suaminya sebelum menikah dengan Sigit, tapi aku juga tidak tahu berapa lama mereka menikah, aku hanya tahu Sigit itu adalah suami ke dua Kenanga tapi mereka saling mencintai" jawab Hatta membantu Radini mencabut jarum jarum di lehernya dengan pelan pelan.
"Siapa nama suaminya dan dari mana asalnya?" tanya Radini tapi yang menjawab adalah Luca yang membantu Radini menyembuhkan luka dalamnya.
"Dirga dari kampung Dara, sekarang laki laki itu sudah bertaubat dan punya dua istri" bisik Luca melirik Roman yang sekarang mendatarkan wajahnya karena di sana ada Radiah juga.
"Kang mas tidak tahu, mungkin orang jauh atau orang kota" jawab Hatta merangkul Radini supaya duduk dan Hatta bisa leluasa mengobati leher Radini.
"Kenapa laki laki itu sekarang terlihat bersih dari guna guna Radini, apa dia melakukan sesuatu" gumam Luca mendekati Roman.
"Kenapa kamu pakai motor baru? kamu menghamburkan uang kamu untuk beli motor?" tanya Radiah
"Tidak ibu, itu motor bengkel Dimas, motor ayah mogok di jalan tadi jadi Roman bawa ke bengkel, kebetulan Roman buru buru ke tempat bandar untuk mengambil uang hasil panen kapol, ini uangnya dan catatannya ada di dalam amplop itu Bu" jawab Roman memberikan amplop coklat pada Radiah.
"Bagaimana panen tahun ini?" tanya Radiah
"Meningkat hampir lima puluh persen Bu, kebetulan harga kapol juga sedang naik" jawab Roman.
"Bagus, pergilah" ucap Radiah senang.
Satu hal lagi yang membuat Hatta heran di rumah itu, hanya perempuan keluarga Sukarna saja yang di dengar di sana, Roman sama sekali tidak di hormat di sana, justru banyak di ejek para pekerja di sana, dan itu membuat Hatta terkejut terlebih saat melihat Roman di perlakukan sama seperti kacung Radiah dan Radini yang lain.
"Kang mas..."
"Iya sayang"
"Kenapa kang mas melihat kak Roman seperti itu?" tanya Radini
"Kak Roman aslinya pendiam ya, aku sering mengajaknya mengobrol sejak kita menikah tapi hanya di jawab seperlunya saja" tanya Hatta
"Kak Roman memang seperti itu, apalagi tiga kakak Radini yang lain, mereka bahkan tidak mengunjungi kami di sini mentang mentang sudah jadi orang kota" jawab Radini mengusap rahang Hatta yang tiba tiba saja membuat Hatta merasa merinding.
"Begitu ya" gumam Hatta tersenyum pada Radini dan mengecup keningnya.
Sementara itu Roman langsung masuk ke dalam kamarnya dengan membawa banyak makanan yang dia beli di warung Sadam dan Gilang sebelum dia pulang, ada banyak kue dan juga nasi bungkus yang di beli Roman karena tiba tiba saja Roman tidak mau memakan makanan yang di hidangkan di rumah itu setelah melihat kalau jarum yang ada di tubuhnya berasal dari Radini.
"Ayah, Ini enak sekali" ungkap Rani memakan kue brownies buatan Kenanga.
"Iya,... ini enak sekali, kamu juga makan nasinya ya, ayah akan beli bermacam macam makanan mulai besok, uang ayah banyak" jawab Roman dan Rani mengangguk.
"Ayah, Lani punya teman sekalang" ungkap Rani di sela sela makannya.
"Teman?" tanya Roman khawatir.
"Iya yah, namanya Algadana dan Anggadana, meleka bilang meleka akan menolong kita supaya bisa kelual dali lumah ini, lihat kutu gaib itu yah, itu milik meleka" jawab Rani menunjuk kutu gaib yang sedang menempel pada boneka miliknya.
"Rani kenapa kamu percaya pada mahluk asing?" tanya Roman khawatir kalau sampai mereka sudah tidak aman lagi berada di sana.
"Meleka bukan makhluk asing ayah, meleka teman Lani" jawab Rani menyuapi Roman.
"Tapi nak, kita tidak bisa gegabah di sini" keluh Roman
"Meleka baik yah, Lani pelcaya meleka kalena meleka ingin mengusil iblis beltanduk itu" ungkap Rani yakin.
"Kamu yakin?" tanya Roman dan Rani mengangguk.
"Baiklah, ayah juga akan percaya pada kamu, tapi ingat satu hal, jangan pernah keluar kamar kalau tidak ada ayah" ucap Roman dan Rani kembali mengangguk.
"Iya ayah" jawab Rani
"Ayah tadi lihat rainbow cake, kamu mau tidak?" tanya Roman
"Mau!" jawab Rani
"Besok ayah akan beli untuk Rani" jawab Roman
"Kamu satu satunya kebagian ayah Rani, kalau kamu tidak ada, ayah mungkin akan tiada nak" batin Roman.
"Ayah, kalau Lani sudah bisa kelual lumah ini, apa boleh Lani ke pasal malam?" tanya Rani
"Tentu saja boleh, kita akan ke pasar malam, kita juga akan ke Jakarta menemui paman paman kamu di sana, kamu akan senang dan punya banyak teman nanti" jawab Roman
"Lani tidak sabal lagi ingin belmain dengan Algadana dan Anggadana, meleka bilang akan ajak Lani ke danau juga" ungkap Rani berbinar
"Tapi nak, siapa mereka sebenarnya?" tanya Roman
"Katanya meleka anak laja yah" jawab Rani
"Anak raja?"
"Laja... Siapa ya Lani lupa, lajaa... Ganda kalau tidak salah"
"Gandra?"
"Nah iya" jawab Rani mengangguk.
"Itu artinya mereka anak anak Sahara" batin Roman