NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertarungan di dua sisi

Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan ritme yang menegangkan. Di meja hijau, pertarungan hukum antara kelompok Raka dan perusahaan penggugat sudah resmi dibuka. Setiap hari, tim hukum yang dipimpin oleh pengacara terbaik Grup Dirgantara berpacu dengan waktu, menyusun bukti, memeriksa kejanggalan dokumen, serta mengumpulkan keterangan dari para saksi dan mantan pejabat yang bersedia membongkar praktik pemalsuan yang terjadi.

Raka sendiri membagi waktunya antara kantor pusat di kota dan kediaman sementara di pinggir desa, agar ia bisa terus memantau jalannya proses sekaligus memastikan keamanan Laras dan seluruh warga. Kehadirannya yang tenang namun tegas menjadi penopang semangat warga yang mulai merasa ragu kembali saat tekanan dari luar makin terasa.

“Tuan Raka, pihak lawan baru saja mengajukan gugatan balik terhadap desa,” lapor Bimo suatu pagi, wajahnya terlihat lelah setelah begadang meneliti dokumen tambahan. “Mereka menuduh warga menghalangi pembangunan dan merugikan potensi ekonomi daerah, bahkan meminta ganti rugi dalam jumlah yang sangat besar. Tujuannya jelas—membuat warga takut terbebani biaya, lalu memaksa mereka menarik diri.”

Mendengar itu, raut wajah beberapa warga yang mendengar percakapan itu langsung memucat. Angka ganti rugi yang disebutkan nilainya bisa membuat seluruh harta warga habis, bahkan lebih.

Laras yang berdiri di samping Raka segera merasakan ketegangan itu, namun ia tidak mundur. Ia menoleh ke arah pria itu, mencari kepastian yang selama ini selalu ia dapatkan dari pandangannya.

Raka mengangguk tenang, lalu menoleh menghadap kerumunan warga yang mulai berbisik gelisah. “Tenanglah, semuanya. Ini hanyalah taktik mereka untuk menakut-nakuti. Dalam hukum, gugatan semacam itu tidak akan diterima selama kita punya bukti kuat bahwa wilayah ini adalah kawasan lindung dan mereka tidak memiliki hak sah untuk mengelolanya. Saya pastikan—semua biaya proses hukum dan risiko apapun akan ditanggung sepenuhnya oleh Grup Dirgantara. Kalian tidak perlu mengeluarkan satu rupiah pun dari kantong kalian.”

Jawaban itu langsung menenangkan hati mereka. Kepercayaan yang mulai goyah kembali tumbuh, didukung oleh keyakinan yang terpancar dari sosok Raka.

Namun tekanan tidak hanya datang dari jalur hukum. Di luar ruang sidang, gangguan mulai bermunculan secara halus namun terus-menerus. Truk-truk besar lewat berisik melewati jalan desa setiap malam, membuat tidur warga terganggu. Air dari saluran irigasi tiba-tiba tersumbat di beberapa titik, mengancam lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama. Bahkan ada beberapa pedagang yang ditawari uang dalam jumlah besar untuk meninggalkan desa dan tidak memberikan keterangan apa pun.

Suatu sore, saat Laras pulang dari ladang, ia menemukan sebidang tanah milik keluarganya yang dipenuhi tumpukan batu dan sampah. Ia berdiri mematung, perasaan kesal dan marah bercampur aduk. Sebelum ia sempat bertindak, Raka sudah berdiri di sampingnya, menatap pemandangan itu dengan pandangan dingin dan tajam.

“Mereka mulai berani bertindak secara fisik,” gumam Raka, suaranya rendah namun berisi amarah yang ditahan. “Mereka pikir dengan merusak harta benda akan membuat kita menyerah.”

“Mereka tidak main-main, kan?” tanya Laras, suaranya sedikit bergetar namun tetap tegas. “Kalau begini terus, kapan akhirnya?”

“Segera,” jawab Raka mantap. “Semakin mereka bertindak ceroboh, semakin banyak bukti yang jatuh ke tangan kita. Mereka tergesa-gesa karena sadar posisi mereka makin lemah. Itu artinya kita sudah mendesak mereka.”

Malam itu, saat mereka sedang berdiskusi di rumah, telepon Raka berdering dengan nada mendesak. Setelah mendengarkan kabar dari ujung sana, wajahnya langsung berubah serius.

“Ada apa?” tanya Laras segera menyadari perubahannya.

“Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan,” jawab Raka sambil berdiri dan melangkah ke jendela. “Tim hukum kami baru saja diberitahu bahwa salah satu saksi kunci yang bersedia bersaksi tentang pemalsuan dokumen tiba-tiba menarik kembali ucapannya dan menghilang tanpa kabar. Diduga ia ditekan atau disuap dalam jumlah sangat besar.”

Bimo mengangguk setuju. “Dan ada lagi, Tuan. Kantor kami menerima pemberitahuan dari instansi pajak bahwa akan ada pemeriksaan menyeluruh terhadap semua catatan keuangan Grup Dirgantara. Ini bukan hal biasa—mereka berusaha menghentikan kita dari arah lain, memotong sumber daya yang kita miliki.”

Suasana menjadi hening sejenak. Laras menyadari bahwa beban yang dipikul Raka jauh lebih berat daripada yang terlihat. Ia tidak hanya membela desa ini, tapi juga harus melindungi perusahaannya sendiri dari serangan menyeluruh.

“Kamu tidak perlu menanggung ini sendirian, Raka,” ucap Laras lembut namun tegas. “Meskipun kami tidak punya kekuasaan atau uang sebanyak itu, kami punya kesediaan untuk berjuang. Warga bersedia bersaksi, mengumpulkan catatan sejarah desa, dan membuktikan kebenaran dengan cara kami sendiri.”

Raka menoleh, menatap gadis itu dengan pandangan yang semakin dalam dan penuh rasa hormat. “Aku tahu, dan itu sudah menjadi kekuatan terbesarku. Mereka menyerang dengan uang dan kekuasaan, tapi kita menyerang dengan kebenaran dan kesatuan hati. Itu yang tidak bisa mereka beli atau hancurkan.”

Namun di balik ketenangan itu, bahaya lain mulai mengintai dari arah yang tidak terduga. Malam itu, saat Raka kembali ke kediaman sementara di pinggir desa, kendaraannya dicegat oleh sekelompok orang yang menyamar sebagai warga yang marah. Awalnya mereka mengaku kecewa karena merasa kehadiran Raka justru mendatangkan masalah baru, namun saat lebih dekat terlihat, mereka membawa benda keras di balik punggung.

Untungnya, pengawalan yang dikirim Raka bereaksi cepat. Terjadi perdebatan yang memanas, hampir saja berubah menjadi kekerasan sebelum polisi yang sudah diberitahu sebelumnya tiba dan membubarkan kerumunan itu. Setelah diperiksa, terbukti mereka adalah orang luar yang dibayar untuk memancing keributan dan mencoba melukai atau bahkan menculik Raka.

Kejadian itu membuat Laras sangat gelisah saat mendengar kabarnya. Ia menunggu dengan cemas hingga Raka tiba kembali, dan begitu melihatnya, ia segera melangkah mendekat untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya, matanya berkaca-kaca menahan rasa takut. “Ini sudah terlalu berbahaya, Raka. Mereka tidak segan-segan lagi melukaimu.”

Raka mengangkat tangannya dan menepuk bahu Laras dengan lembut, menenangkan kegelisahan itu. “Lihatlah, aku masih utuh. Dan kejadian ini justru memberi kita satu bukti lagi bahwa mereka sudah kehilangan akal sehatnya. Semakin panik mereka, semakin dekat kita dengan kemenangan.”

Namun malam itu, keduanya sama-sama sadar: garis pertarungan sudah semakin sempit. Musuh sudah tidak lagi memakai topeng halus, dan serangan akan datang dari segala arah. Di satu sisi ada ruang sidang yang menentukan hukum, di sisi lain ada pertarungan keselamatan dan keberanian.

Saat duduk berdampingan di teras, menatap bintang yang terlihat samar di balik awan malam, Laras menggenggam tangan Raka. “Apa pun yang terjadi, kita sudah berjanji untuk hadapi bersama. Jangan pernah merasa sendirian, ya?”

Raka membalas genggaman itu dengan erat, merasakan kekuatan baru mengalir masuk lewat sentuhan itu. “Aku tidak akan pernah merasa sendirian lagi, selama kau ada di sampingku. Dan ingat—apapun yang mereka lakukan, mereka tidak akan bisa menghancurkan apa yang kita perjuangkan, selama kita berdiri bersama.”

Di kejauhan, lampu kendaraan bergerak perlahan mengitari pinggiran desa, mengawasi setiap gerak-gerik. Bahaya belum berlalu, namun di tengah ketidakpastian itu, satu hal sudah pasti: ikatan antara Raka, Laras, dan seluruh warga desa kini sudah menjadi benteng yang jauh lebih kuat daripada dinding apa pun.

Dan pertarungan untuk kebenaran ini baru saja memasuki babak yang paling krusial.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!