NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah

​Angin malam tahun 2042 berdesir kencang, menampar permukaan kain hoodie hitam yang dikenakan oleh Arkana Wijaya. Di bawah kungkungan kabut tebal berwarna hijau keunguan, pemuda berusia dua puluh tahun itu menjelma menjadi sesosok bayangan yang mustahil ditangkap oleh mata fana. Setiap kali ujung sepatunya menapak di puncak gedung pencakar langit atau pipa pembuangan vertikal, sebuah hentakan Qi Primordial perak keemasan meredam gelombang akustik secara mutlak.

​Jarak sepuluh kilometer yang biasanya membutuhkan waktu hampir setengah jam di tengah kemacetan Jakarta Barat, kini terpangkas drastis. Dengan fondasi Spirit Gathering Tingkat Satu Puncak yang baru saja ia konsolidasikan, kapasitas paru-paru dan daya ledak otot kaki Arkana telah bermutasi ke level yang mengerikan. Ia melompat dari satu atap gedung ke atap lainnya dengan bentangan jarak belasan meter sekali melayang, bergerak seperti burung elang purba yang sedang memburu mangsanya di tengah kegelapan siber kota.

​Dari ketinggian, Arkana bisa melihat kawasan perumahan elite Puri Indah sudah kehilangan kemilau teknologinya. Lampu-lampu jalanan pintar yang biasanya memproyeksikan hiasan holografik kini mati total. Sistem pertahanan udara domestik—termasuk drone penjaga perimeter swasta—tampak tergeletak di atas jalanan aspal dengan sirkuit yang hangus terbakar.

​"Mereka menggunakan EMP (Pulsa Elektromagnetik) tingkat tinggi atau jaring mantra pemutus energi untuk melumpuhkan seluruh teknologi di kawasan ini," batin Arkana, matanya berkilat dingin di balik bayangan tudung kepalanya. "Benar-benar pergerakan yang terorganisir. Mereka sengaja menciptakan zona buta informasi sebelum melancarkan penyerangan."

​Arkana mendarat tanpa suara di atas kanopi sebuah rumah mewah berlantai tiga. Menggunakan indra pendengarannya yang telah diperkuat oleh energi spiritual, ia langsung memfokuskan sensor biologisnya ke arah rumah di ujung kluster—kediaman sepupu Dani.

​BANG! BANG!

​Suara hantaman logam berat bergema memecah kesunyian malam. Di halaman depan rumah bergaya futuristik tersebut, tiga orang pria bermantel jubah hitam panjang sedang berdiri mengelilingi sebuah pintu baja tebal yang tertanam di lantai tanah—pintu masuk menuju bunker perlindungan bawah tanah milik keluarga tersebut.

​Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular di sepanjang lehernya, sedang memegang sebuah palu gada godam berukuran masif. Anehnya, palu gada itu diselimuti oleh riak energi berwarna merah redup yang kotor. Setiap kali palu itu dihantamkan ke pintu baja, lapisan pelindung siber pada pintu tersebut retak, memercikkan bunga api elektrik yang sia-sia.

​"Sialan, pintu bunker ini menggunakan baja komposit militer standar tinggi! Berapa lama lagi kita harus membuang waktu di sini?" gerutu pria bertubuh kekar itu, napasnya terengah-engah sejenak setelah melayangkan pukulan ketiga.

​"Cepat selesaikan, rongsokan!" sahut seorang pria lain yang tampaknya bertindak sebagai pemimpin penculikan ini. Pria itu berdiri dengan tangan bersedekap di dada, sepasang matanya yang sipit memancarkan aura dingin yang kejam. "Sinyal pengacau elektromagnetik yang dipasang oleh klan kita hanya bisa bertahan sepuluh menit lagi sebelum divisi respons militer pemerintah mendeteksi keganjilan di distrik ini. Target di dalam bunker memiliki tingkat adaptasi spiritual sebesar dua puluh persen. Bagi klan kuno kita, anak itu adalah kuali kultivasi atau benih pelayan yang sangat berharga. Jangan sampai bajingan dari Biro Keamanan merebutnya!"

​Mendengar percakapan tersebut dari atas atap, mata Arkana semakin menyipit. Informasi dari memori Cincin Kaisar Abadi kembali terbukti benar. Di balik fasad dunia modern yang memuja kecerdasan buatan, ternyata ada faksi-faksi kuno yang menyebut diri mereka sebagai Klan Kuno. Mereka telah menyembunyikan eksistensi mereka selama ribuan tahun masa kekosongan energi, dan begitu fajar kebangkungan Qi tiba, mereka langsung bergerak seperti buaya kelaparan untuk memonopoli manusia-manusia berbakat.

​"Orang-orang ini... basis kultivasi mereka paling tinggi hanya berada di ranah Body Tempering Tingkat Lima atau Enam," Arkana menganalisis aliran energi di dalam tubuh ketiga penyerang tersebut dengan pandangan batinnya. "Hanya pemimpin mereka yang hampir menyentuh batas luar ranah Spirit Gathering, tetapi energinya sangat dangkal dan tidak murni. Melawan mereka tidak akan membuang banyak waktu."

​Di bawah tanah, di dalam bunker yang pengap, Dani sedang memeluk erat sepupunya, seorang gadis remaja berusia enam belas tahun bernama Lisa yang terus menangis ketakutan. Setiap kali suara hantaman dari atas terdengar, debu-debu halus jatuh dari langit-langit beton bunker, mengikis harapan hidup mereka.

​"Kak Dani... pintunya gak bakal bertahan lama," bisik Lisa dengan tubuh yang gemetar hebat. Di atas lengan kulitnya, tampak beberapa guratan urat nadi berwarna biru kehijauan yang sesekali memancarkan cahaya redup—tanda bahwa tubuhnya sedang dipaksa beradaptasi dengan partikel energi spiritual alam semesta secara drastis.

​Dani menggigit bibirnya hingga berdarah, menggenggam erat sebuah pipa besi berkarat yang ia temukan di sudut ruangan. "Jangan takut, Lisa. Arkana bilang dia bakal ke sini. Kalau pintu itu jebol, Kakak yang bakal maju duluan." Meskipun Dani sendiri tahu betapa mustahilnya seorang mahasiswa biasa seperti dirinya atau Arkana melawan monster-monster berjubah hitam di luar sana, ia menolak untuk menyerah begitu saja.

​KREEEET... BOOM!

​Engsel baja bagian atas pintu bunker akhirnya menyerah, melengkung ke dalam akibat hantaman konstan dari palu bertenaga Qi. Pria kekar bertato ular itu tertawa seringai penuh kemenangan. "Jebol juga! Anak tikus di dalam, bersiaplah untuk keluar!"

​Namun, tepat ketika pria kekar itu hendak melayangkan hantaman terakhir untuk meruntuhkan seluruh pintu, sebuah tekanan udara yang sangat dingin dan masif mendadak jatuh dari langit malam. Tekanan itu begitu berat, seolah-olah sebuah gunung tak kasat mata baru saja dijatuhkan di atas kluster perumahan tersebut.

​Pria pemimpin berjubah hitam itu adalah yang pertama merasakan bahaya. Wajahnya berubah drastis, instingnya menjerit keras. "Mundur! Ada serangan dari atas!"

​SHAAAT!

​Sesosok bayangan hitam jatuh dari kegelapan kabut dengan kecepatan yang melampaui batas kecepatan suara bebas. Arkana mendarat dengan satu lutut bertumpu pada tanah, tepat di tengah-tengah ketiga orang berjubah hitam tersebut. Gelombang kejut yang dihasilkan dari pendaratannya begitu kuat hingga aspal beton di bawah kakinya langsung retak menjalar seperti jaring laba-laba dalam radius tiga meter, menciptakan embusan angin kencang yang melemparkan debu dan kerikil ke udara.

​Pria kekar bertato ular yang posisinya paling dekat dengan titik pendaratan bahkan tidak sempat mengangkat palu gadanya.

​BUM!

​Arkana yang masih dalam posisi setengah berlutut, mengayunkan tangan kanannya dalam gerakan menyapu secara horizontal. Pukulan telapak tangan terbuka yang dilapisi oleh Qi Primordial perak keemasan itu menghantam telak tulang kering kaki pria kekar tersebut.

​KRAAAK!

​Suara patahan tulang yang mengerikan bergaung di udara. Pria kekar itu bahkan tidak sempat berteriak ketika tubuhnya yang berbobot hampir seratus kilogram terputar di udara seperti gasing hancur, sebelum akhirnya terjerembap keras ke tanah dengan kaki kanan yang melengkung ke arah yang salah. Ia langsung pingsan akibat syok rasa sakit yang luar biasa.

​"Siapa kau?!" teriak sang pemimpin jubah hitam, wajahnya dipenuhi rasa tegang dan tidak percaya. Kecepatan dan daya hancur yang baru saja ditunjukkan oleh sosok misterius bertudung hitam ini berada di luar nalar ranah manusia biasa yang ia ketahui.

​Arkana tidak menjawab dengan kata-kata. Di bawah bayangan tudung jaketnya, sepasang mata peraknya berkilat dingin. Tubuhnya bergerak lagi, kali ini meninggalkan beberapa bayangan samar di posisi semula akibat kecepatan yang terlalu tinggi.

​Pria jubah hitam kedua, yang berdiri di sisi kiri, mencoba menarik sebuah belati siber gelombang pendek dari pinggangnya. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh gagang senjata, sebuah tinju perak sudah berada satu sentimeter di depan wajahnya.

​"Pukulan Roda Langit!" Arkana mengalirkan energinya dalam bentuk getaran frekuensi tinggi melalui buku-buku jarinya.

​BOOM!

​Tinju Arkana menghantam telak rahang pria tersebut. Energi Qi murni meledak, menghancurkan seluruh pelindung energi internal yang dimiliki pria itu dan langsung memutuskan aliran kesadaran di otaknya. Pria kedua itu langsung melesat mundur secara linear, menabrak tembok pagar rumah hingga hancur berantakan menjadi puing-puing bata sebelum akhirnya tidak bergerak lagi.

​Hanya dalam waktu kurang dari tiga detik, dua dari tiga praktisi klan kuno telah dilumpuhkan dengan cara yang sangat brutal dan efisien.

​Sang pemimpin jubah hitam kini berdiri sendirian. Keringat dingin mengucur deras di balik mantelnya. Ia bisa merasakan bahwa pemuda bertudung di depannya bukan sekadar manusia yang mengalami adaptasi acak akibat partikel E-01. Fluktuasi energi perak keemasan yang berputar di sekitar tubuh Arkana terasa begitu murni, begitu agung, dan membawa tekanan hierarki yang membuat Qi kotor di dalam tubuhnya sendiri bergetar ketakutan, seolah-olah seorang pelayan jelata sedang berhadapan dengan kaisar tertinggi.

​"Ka-kau... kau adalah seorang kultivator sejati?!" suara sang pemimpin bergetar hebat, melangkah mundur dengan panik. "Bagaimana mungkin? Warisan teknik sejati di dunia ini seharusnya sudah musnah ribuan tahun lalu! Dari klan kuno mana kau berasal?!"

​Arkana perlahan menegakkan tubuhnya secara penuh, menatap pria itu dengan pandangan datar. "Kau tidak perlu tahu dari mana aku berasal. Yang perlu kau tahu adalah... tempat ini berada di bawah perlindunganku."

​"Bajingan sombong! Jangan mengira kau bisa meremehkan Klan Gagak Hitam!" Terpojok oleh rasa takut, sang pemimpin berteriak histeris. Ia menggigit ujung lidahnya sendiri, menyemburkan seteguk esensi darah murni ke telapak tangannya untuk mengaktifkan teknik terlarang klan secara paksa.

​Aliran energi merah di tubuhnya mendadak melonjak, urat-urat di wajahnya menonjol keluar menjadi hitam pekat. Ia melompat maju, membentuk tangansnya menjadi cakar elang yang siap merobek jantung Arkana dengan lapisan energi korosif yang tajam.

​Menghapi serangan penuh keputusasaan tersebut, Arkana bahkan tidak berkedip. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, membiarkan Cincin Kaisar Abadi di jarinya menyerap sedikit energi alam sekitar untuk memperkuat pertahanannya.

​Ketika cakar hitam pria itu berjarak beberapa sentimeter dari dadanya, Arkana bergerak lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu dengan akurasi yang mutlak, lalu memutarnya ke belakang dengan satu sentakan halus.

​KRETEK.

​"ARRRGH!" sang pemimpin menjerit histeris saat tulang persendian bahunya lepas dari tempatnya.

​Sebelum pria itu sempat terjatuh, Arkana menempelkan telapak tangan kirinya tepat di atas dada sang pemimpin. Energi perak menyembur keluar seperti meriam tak kasat mata, menembus lapisan kulit dan langsung menghantam jalur meridian utama di dada pria tersebut hingga hancur berkeping-keping, menghapus seluruh basis kultivasi yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun dalam sekejap.

​Pria pemimpin itu memuntahkan seteguk darah segar, tubuhnya lemas seperti mi basah dan ambruk ke tanah di depan kaki Arkana. Matanya menatap Arkana dengan tatapan kosong yang dipenuhi oleh keputusasaan mendalam. Basis kultivasinya telah dihancurkan total; ia kini tidak lebih dari seorang cacat fana biasa.

​Arkana mengabaikan musuh yang sudah tidak berdaya itu. Ia berbalik, melangkah mendekati pintu bunker baja yang telah rusak. Menggunakan kekuatan fisiknya yang masif, Arkana mencengkeram pinggiran pintu baja seberat ratusan kilogram tersebut dan menariknya lepas dari engsel beton dengan satu sentakan tangan yang santai, lalu melemparkannya ke samping hingga menimbulkan suara dentuman keras.

​Di dalam kegelapan bunker bawah tanah, Dani yang sedang memegang pipa besi langsung mengarahkan senjatanya ke atas dengan gemetar. Namun, saat cahaya bulan yang menembus kabut menampilkan sosok bertudung hitam yang familier di atas sana, pipa besi di tangan Dani langsung jatuh berdenting ke lantai beton.

​"Ar... Arka?" bisik Dani, matanya terbelalak menatap pemandangan di luar luar bunker yang dipenuhi oleh puing-puing hancur dan tiga monster jubah hitam yang telah terkapar kalah. "Ini... ini beneran lo?"

​Arkana menurunkan tudung jaketnya, menampilkan wajah pemuda dua puluh tahun yang tenang dengan senyuman tipis yang familier. "Gua udah bilang kan, Dan? Gua bakal sampai dalam lima menit. Sekarang, bawa sepupu lo keluar dari sini sebelum pasukan militer datang mengacaukan segalanya."

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!