NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Teman Baru Lyra di Perpustakaan, Arka

Udara sejuk dari pendingin ruangan menyapa kulit Lyra begitu ia melangkahkan kaki ke dalam perpustakaan SMA Bangsa.

Tap-tap..

Baginya, ruangan dengan deretan rak buku tinggi dan aroma kertas usang ini adalah tempat pelarian terbaik dari hiruk-pikuk sekolah.

Hari itu, langit di luar jendela tampak mendung, menggantungkan rintik hujan yang sesekali membentur kaca.

kriet.....

Lyra menarik salah satu kursi kayu di sudut favoritnya, tepat di samping jendela besar yang menghadap ke taman belakang sekolah.

Di atas mejanya, sudah tertumpuk dua buku tebal tentang sejarah dunia dan sebuah novel fiksi ilmiah klasik.

Lyra adalah tipe siswi yang memiliki imajinasi yang luas.

Selama bersekolah di SMA Bangsa, ia kadang menghabiskan waktu istirahatnya sendirian ditemani lembaran-lembaran halaman buku.

Teman-temannya juga memiliki kesibukan lain, jadi Lyra tetap membaca buku di perpustakaan walaupun tidak ada yang menemaninya.

Baginya, buku adalah teman bicara yang paling jujur.

_______________

Sore itu, suasana perpustakaan sangat sepi. Hanya ada Bu Rina, sang pustakawan, yang sibuk menyusun buku di rak paling depan.

Lyra membuka novelnya dan mulai tenggelam dalam alur cerita.

Ia sedang asyik membaca ketika sebuah suara tiba-tiba memecah konsentrasinya.

"Maaf, apa kursi ini kosong?" tanya sebuah suara berat bernada ramah.

Lyra mendongak dengan cepat. Di hadapannya berdiri seorang pemuda berpostur tinggi dengan seragam yang sedikit dikeluarkan dan ransel tersampir di satu bahu.

Ia tersenyum hangat, menampilkan deretan gigi yang rapi.

Lyra baru pertama kali melihat pemuda itu, mungkin ia adalah siswa pindahan yang beberapa hari lalu sempat menjadi perbincangan hangat di mading sekolah.

"Oh, iya. Kosong," jawab Lyra singkat, sedikit salah tingkah.

Ia merapikan barang-barangnya yang berserakan di atas meja untuk memberikan ruang.

"Terima kasih. Aku Arka," ujar pemuda itu sambil menarik kursi dan duduk di seberang Lyra.

Buk!

Arka meletakkan sebuah buku tebal bersampul biru tua di atas mejanya.

"Aku baru pindah minggu lalu, dan jujur saja, aku masih bingung mencari tempat yang tenang untuk membaca di sekolah ini. Tempat ini lumayan bagus, ya." Lyra mengangguk pelan.

"Ya, perpustakaan ini memang tempat paling tenang. Di sini jarang ada yang datang selain aku dan beberapa siswa yang sedang mendapat hukuman."

"Hahaha...."

Arka tertawa pelan mendengar ucapan Lyra. Tawanya renyah dan menular.

"Kalau begitu, aku beruntung bisa menemukan tempat ini dan bertemu dengan teman yang tepat."

Percakapan singkat itu rupanya menjadi awal dari kedekatan mereka.

Tanpa disengaja, Arka ternyata memiliki selera bacaan yang hampir sama dengan Lyra. Keduanya menyukai buku-buku fiksi ilmiah dan sejarah.

________________

Sejak hari itu, sudut perpustakaan yang tadinya hanya menjadi saksi bisu kesendirian Lyra, berubah menjadi arena diskusi yang hangat.

Di saat waktu santai yaitu saat istirahat atau sepulang sekolah, mereka akan selalu bertemu di meja yang sama.

Mereka saling bertukar rekomendasi buku, membahas teori-teori ilmiah dari novel yang mereka baca, hingga menceritakan hal-hal konyol yang terjadi di kelas masing-masing.

Lyra yang biasanya sendirian membaca buku di perpustakaan, kini menemukan seseorang yang bisa mengimbangi jalan pikirannya.

Sementara Arka, merasa menemukan teman diskusi yang sangat kritis dan berwawasan luas.

Kedekatan mereka tentu saja tidak luput dari perhatian teman-teman sekolah.

Banyak yang mulai berbisik-bisik melihat Lyra kini akrab dengan siswa baru yang populer.

Namun, keduanya tidak terlalu memedulikan pandangan orang lain.

Bagi Lyra, Arka adalah jendela dunia baru yang membuatnya berani melihat sisi lain dari masa remajanya.

Sedangkan bagi Arka, Lyra adalah sosok yang cerdas dan menyenangkan, jauh dari kesan membosankan seperti yang sering dikatakan orang-orang.

__________________

Suatu sore, saat hujan turun dengan sangat lebat, mereka terjebak di perpustakaan hingga menjelang jam pulang sekolah.

Bu Rina sudah pulang lebih awal, meninggalkan mereka berdua di ruangan yang mulai temaram.

Hujan di luar seakan menciptakan dinding pemisah yang membuat mereka merasa berada di dunia mereka sendiri.

"Lyra, apa kamu pernah berpikir bagaimana rasanya hidup di masa depan?" tanya Arka tiba-tiba, menatap Lyra dengan sorot mata yang serius namun penuh rasa ingin tahu.

Lyra menutup novelnya dan bersandar di kursi. Ia menatap langit di luar jendela yang kini berwarna kelabu tua.

"Tentu saja. Aku sering membayangkan kita bisa menjelajahi waktu, melihat peradaban manusia ratusan tahun dari sekarang."

"Aku juga," jawab Arka sambil tersenyum.

"Tapi jujur, aku merasa senang hidup di masa sekarang. Karena di masa sekarang, di sekolah ini, aku bisa bertemu denganmu."

Pernyataan Arka yang tiba-tiba membuat napas Lyra tercekat.

Deg.. deg.. deg....

Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Ia menatap Arka, mencari kebohongan di mata pemuda itu, namun ia hanya menemukan ketulusan dan kejujuran.

Wajah Lyra memerah, namun ia mencoba tersenyum.

"Aku juga senang bisa mengenalmu, Arka," balas Lyra dengan suara pelan namun mantap.

Momen di perpustakaan sore itu mengubah segalanya. Persahabatan di antara mereka terasa semakin erat.

Perpustakaan SMA Bangsa bukan lagi sekadar tempat membaca bagi Lyra, melainkan tempat di mana ia menemukan sahabat, teman berdiskusi, dan seseorang yang mengisi hari-harinya dengan warna baru.

Persahabatan mereka di sekolah itu menjadi cerita indah yang akan terus mereka kenang seiring berjalannya waktu.

_______________

kriiiiiiingg.......

Bel istirahat berbunyi nyaring.

Arka tahu Lyra sedang pusing menghadapi ujian matematika di kelasnya.

Tap-tap-tap-tap!

Tanpa berpikir panjang, Arka langsung berlari menuju kantin sekolah sebelum antrean memanjang.

Arka memesan Matcha Boba dengan tingkat kemanisan 50%, persis seperti yang selalu Lyra sukai.

Saat kembali ke kelas Lyra, ia melihat gadis itu sedang menelungkupkan kepala di atas meja, tampak sangat lelah.

Iya, Arka ternyata satu kelas dengan Lyra. Tapi Lyra masih tetap duduk sebangku dengan Rian, temannya.

Tuk, tuk, tuk

Arka mengetuk meja Lyra pelan, lalu menempelkan gelas boba yang dingin ke pipi Lyra.

Lyra tersentak kaget, lalu mendongak dengan cemberut yang langsung berubah menjadi senyuman.

"Dingin, Arka!" seru Lyra sambil memegangi pipinya.

Arka terkekeh, lalu menyodorkan boba tersebut ke depan wajah Lyra.

"Biar otakmu yang kepanasan karena rumus matematika langsung adem lagi."

Lyra menerima boba itu dengan mata berbinar.

"Wah, Matcha Boba! Less sugar?"

"Tentu saja. Kemanisan 50%, tanpa es batu berlebih," jawab Arka bangga sambil melipat tangan di dada.

"Aku tidak mungkin salah pesan."

Lyra langsung menusuk sedotan ke cup boba, meminumnya satu tegukan besar, lalu mengembuskan napas lega.

"Kamu penyelamatku hari ini. Aku benar-benar mau gila melihat angka-angka tadi."

"Makanya, jangan terlalu tegang," Arka mengacak rambut Lyra pelan sambil tersenyum.

"Habiskan bobamu, lalu bersiap untuk pelajaran berikutnya, ya?"

Lyra tersenyum dan mengangguk. Rasa lelah Lyra langsung hilang seketika berkat perhatian kecil dari Arka.

Bersambung~~~

Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗 Lyra banyak teman ges 🤭

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!