NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DEMAM TINGGI

Malam itu, bagi Aldi, jarum jam rasanya berjalan seperti siput yang merayap di atas aspal basah. Setelah kembali dari pos ronda dengan sisa-sisa tatapan syok dari Kenan dan Sendy, Aldi langsung mengunci diri di dalam kamarnya. Suasana kamar yang biasanya terasa nyaman kini mendadak terasa pengap dan menjebak.

Ia merebahkan tubuh bongsornya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang putih polos dengan mata melotot lebar. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, memori di ambang pintu rumah Jasmine malam tadi langsung terputar kembali dengan kualitas super jernih di dalam kepalanya. Sialnya, indra pengecap dan penciumannya seperti sengaja mengunci ingatan itu rapat-rapat. Aroma wangi sabun mandi yang segar dan sisa kelembutan bibir beraroma ceri milik sang Bu RT rasanya masih menempel dengan nyata, membuat jakun Aldi naik turun berulang kali karena gugup.

"Aduh, bodoh... bodoh banget lu, Aldi," umpatnya pada diri sendiri sembari membalikkan posisi tidurnya ke kanan, lalu berubah lagi menghadap ke kiri.

Gelisah. Selimut kainnya ditendang hingga menumpuk di ujung kasur, namun beberapa menit kemudian ia merasa kedinginan dan menariknya kembali. Rasa bersalah yang teramat sangat bercampur dengan debaran insting mudanya bergejolak hebat di dalam dada. Ia takut setengah mati kalau besok pagi Jasmine akan melaporkan insiden memalukan itu kepada Pak RW, atau lebih buruk lagi, menganggap dirinya sebagai pemuda kurang ajar yang memanfaatkan situasi.

Sepanjang malam, Aldi tidak bisa tidur sama sekali. Ketika azan subuh berkumandang dari masjid komplek, matanya masih terjaga dengan guratan-guratan merah karena kelelahan berpikir. Gabungan antara kurang tidur yang ekstrem sejak malam kerja bakti, kelelahan fisik karena mengecat jalanan, serta guncangan mental pasca-insiden ciuman tidak sengaja itu akhirnya membuat pertahanan tubuh Aldi runtuh total.

Pukul tujuh pagi, matahari sudah mulai meninggi, memancarkan sinarnya yang cerah menembus gorden jendela kamar Aldi. Di luar pagar, terdengar suara klakson motor matic yang sangat khas.

Telolet... telolet...

Itu suara klakson motor Sendy. Sesuai dengan janji mereka di kantin kemarin, hari ini mereka bertiga harus berangkat bareng lagi karena ada kelas pagi yang tidak kalah penting, sekaligus agenda untuk mencetak dan menjilid tugas kelompok komunikasi yang sudah mereka selesaikan di pos ronda semalam.

Kenan yang dibonceng oleh Sendy langsung turun dari motor dan melangkah masuk ke halaman rumah Aldi yang pagarnya sudah terbuka. Begitu sampai di depan pintu utama, Kenan mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. "Permisi... Bunda Baren! Aldi-nya udah siap belum, Bun? Ini udah jam tujuh lewat, ntar telat jilid tugasnya!"

Pintu depan kemudian terbuka, menampilkan sosok Bunda Baren yang mengenakan celemek masak dengan wajah yang tampak agak cemas. "Eh, Mas Kenan sama Mas Sendy. Itu lho, Mas... dari tadi subuh Aldi dipanggil-panggil gak nyaut. Pas Bunda cek ke kamarnya, ternyata badannya panas banget, demam tinggi katanya. Gak bisa bangun dari kasur."

Kenan dan Sendy seketika saling berpandangan. Di dalam otak mereka berdua, sebuah kesimpulan yang sama langsung tercetak dengan sangat jelas: Ini pasti efek samping dari insiden bibir semalam.

"Walah, si Bedul tumbang beneran, Nan," bisik Sendy pelan sambil menyenggol lengan Kenan.

"Boleh kami izin nengok ke kamarnya sebentar, Bun?" tanya Kenan sopan kepada Bunda Baren.

"Oh, boleh, Mas. Masuk aja langsung, itu anaknya lagi gegoleran kayak kasur gulung di dalam. Bunda mau buatin bubur sama kompresan dulu di dapur ya," jawab Bunda Baren mempersilakan kedua sahabat anaknya itu masuk.

Kenan dan Sendy melangkah cepat menuju kamar Aldi yang terletak di bagian tengah rumah. Begitu pintu kamar dibuka, pemandangan di dalam benar-benar memprihatinkan. Aldi tampak meringkuk di bawah selimut tebalnya sampai ke dada. Wajahnya yang biasa tegap dan penuh wibawa sebagai Ketua Karang Taruna kini tampak pucat pasi, bibirnya kering, dan sepasang matanya sayu menatap kedatangan kedua temannya.

Sendy langsung melangkah mendekat dan dengan kurang ajarnya langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Aldi. "Anjir! Ini mah bukan anget lagi, Dul! Ini sih bisa buat matengin telor ceplok! Lu demam parah begini gara-gara mikirin bibir Bu RT semalaman ya?"

"B-berisik lu, Sen..." sahut Aldi dengan suara yang sangat serak dan parau. Badannya reflek menggigil pelan ketika hawa angin dari luar kamar masuk. "Kepala gue... rasanya kayak mau pecah."

Kenan menarik kursi belajar Aldi dan duduk di sebelah ranjang. Ekspresi wajahnya yang semula ingin meledek langsung berubah menjadi prihatin melihat kondisi fisik sahabatnya yang benar-benar drop. "Lu gak tidur sama sekali ya semalam, Al? Makanya, otak lu jangan dipakai buat rekreasi pikiran yang aneh-aneh. Kalau udah kejadian kecelakaan kayak gitu, ya udah, yang penting lu udah minta maaf langsung kemarin."

Aldi mengembuskan napasnya yang terasa panas dari hidung. "Gue... gue gak bisa tenang, Nan. Gue takut Bu Jasmine tersinggung terus benci sama gue. Tiap kali gue merem, rasanya muka dia langsung kelihatan jelas banget di depan mata gue. Sumpah, gue ngerasa bersalah banget."

"Halah, Dul, namanya juga gak sengaja jatuh. Kecuali lu sengaja melompat sambil monyongin bibir dari jarak lima meter, baru itu namanya kriminal," celetuk Sendy berusaha menghibur dengan gaya banyulannya yang khas, yang hanya dibalas dengan tatapan lemah penuh dendam dari Aldi.

Kenan menepuk lengan Aldi yang terbungkus selimut. "Ya udah, hari ini lu gak usah masuk kuliah dulu. Biar tugas kelompoknya gue sama Sendy yang urus sampai beres ke meja dosen. Lu fokus istirahat, minum obat dari Bunda Baren, jangan mikirin bu Jasmine dulu buat hari ini. Paham?"

"Thanks ya, Nan, Sen... Maaf gue malah ngerepotin kalian hari ini," bisik Aldi pelan, matanya sudah mulai terasa sangat berat karena efek suhu tubuhnya yang naik.

"Santai aja kayak sama siapa aja lu, Dul. Yang penting ntar kalau lu udah sembuh dan beneran nikah sama Bu Jasmine, gue dapet jatah jadi seksi konsumsi yang makanannya paling banyak ya!" Sendy sambil terkekeh geli.

Setelah berpamitan dengan Bunda Baren di depan dan memastikan tugas kelompok aman di tangan mereka, Kenan dan Sendy akhirnya pamit pergi meninggalkan rumah Aldi untuk mengejar jam kuliah pagi.

Sepeninggalan teman-temannya, suasana kamar kembali hening. Aldi menarik selimutnya hingga menutup seluruh kepalanya, mencoba mencari posisi paling nyaman untuk meredakan denyutan di pelipisnya. Namun, di dalam kegelapan di balik selimut itu, bayangan wajah terkejut Jasmine dengan rona merah di pipinya kembali muncul, membuat pemuda yang sedang demam tinggi itu hanya bisa pasrah membiarkan jantungnya kembali berdegup kencang di tengah rasa sakit badannya.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!