NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Penyadapan Pertama

​Reno menelan ludah dengan sangat kasar saat mendengar pertanyaan jebakan dari gadis idamannya tersebut.

​Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang tidak karuan, merasa seperti seorang tersangka utama yang baru saja tertangkap basah oleh detektif handal.

​Ia berusaha keras mengatur napasnya agar tidak terlihat sedang menyembunyikan kepanikan yang luar biasa hebat.

​{Gawat, kalau Luna tahu aku mengendalikan alat peretas berbahaya ini, dia pasti akan langsung melaporkanku ke pihak berwajib kampus karena dianggap teroris digital.}

​"Tentu saja bukan aku, mana mungkin mahasiswa berotak pas-pasan sepertiku bisa meretas sistem audio kampus yang sangat rumit itu."

​Ia memaksakan sebuah tawa hambar yang terdengar sangat canggung, tangannya sibuk menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

​Luna memiringkan kepalanya sedikit, masih menatap lekat-lekat ke arah mata Reno dengan tatapan penuh selidik yang luar biasa mematikan.

​"Lalu kenapa kamu tersenyum sangat puas saat suara rekaman Dika diputar secara memalukan dari pengeras suara tadi?"

​Reno buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi sok datar, berusaha keras menyembunyikan kebanggaan yang sempat terpancar jelas beberapa detik lalu.

​"Siapa juga yang tidak senang melihat pria sombong itu akhirnya mendapatkan balasan setimpal atas kesombongannya selama ini."

​Ia menggeser posisi berdirinya dengan kikuk, mencoba membangun benteng pertahanan alibi yang kuat di hadapan gadis cerdas ini.

​"Seluruh mahasiswa di kantin ini juga menertawakannya, jadi wajar saja kalau aku ikut tersenyum lega melihat penderitaan musuh alaminya para pria biasa."

​Gadis cantik itu menghela napas pelan, perlahan menurunkan kedua lengannya yang sedari tadi bersilang menyudutkan posisi Reno.

​"Kebetulan yang sangat aneh, setiap kali Dika mencoba mencari gara-gara denganku, selalu saja ada mesin elektronik di sekitarnya yang mendadak rusak."

​Reno mundur selangkah secara perlahan, berniat mencari jalan aman untuk segera melarikan diri dari sesi interogasi mendadak yang sangat mengancam nyawanya ini.

​"Mungkin saja karma digital itu memang nyata dan sedang bekerja secara otomatis untuk menghukum orang-orang yang terlalu sombong."

​Ia segera membalikkan badan tanpa menunggu balasan sanggahan dari Luna, setengah berlari menyusuri deretan meja kantin menuju pintu keluar.

​Telinganya masih bisa menangkap dengusan pelan dari Luna, namun kakinya tetap melangkah kencang menjauhi area berbahaya tersebut tanpa sudi menoleh ke belakang.

​{Aku harus segera bersembunyi di kosan sebelum insting tajam Luna benar-benar membongkar identitas rahasia konyolku sebagai peretas dadakan ini.}

​||||

​Beberapa jam kemudian, waktu sore sudah merayap naik menggantikan keramaian kampus dengan ketenangan di area pemukiman padat penduduk.

​Reno membaringkan punggungnya di atas kasur tipis yang berada di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter miliknya.

​Suara baling-baling kipas angin tua di sudut kamar terdengar sangat bising, berputar kasar menyerupai deru mesin helikopter yang akan segera hancur.

​Ia menatap langit-langit kamar yang mulai mengelupas catnya, mencoba menenangkan sistem sarafnya yang dipaksa bekerja ekstra keras sepanjang hari ini.

​Kejadian di kantin tadi benar-benar menguras seluruh sisa energinya, apalagi ia harus menahan diri agar tidak keceplosan di depan Luna.

​Seorang pemuda bertubuh sedikit gempal sedang duduk lesehan di karpet, sibuk menggerakkan tetikus komputer dengan sangat fokus.

​Radit menatap layar monitor laptop bututnya dengan mata memicing, berusaha menyelesaikan sebuah desain spanduk warung pecel lele pesanan pelanggan setianya.

​Sahabat karib Reno itu sengaja datang ke kamar kosnya untuk menumpang koneksi internet gratis yang biasa mereka retas dari ruko sebelah.

​"Kamu yakin benda hitam tanpa merek itu benar-benar bisa meretas semua alat elektronik di kota ini dari jarak jauh?"

​Reno menoleh ke arah sahabatnya itu, menggeser posisi tidurnya menjadi sedikit miring agar bisa melihat layar laptop Radit yang menampilkan aplikasi desain.

​"Aku baru saja membuat Dika kabur terbirit-birit dari kantin kampus hanya dengan menekan satu tombol virtual di layar ponsel aneh ini."

​Radit menghentikan pergerakan tangannya di atas tetikus, memutar tubuh gempalnya untuk menghadap langsung ke arah pinggiran ranjang Reno.

​"Kalau benda itu memang sehebat ceritamu, kenapa kamu tidak mencoba menguji sejauh mana batas kemampuan peretasannya malam ini juga?"

​Reno menarik keluar ponsel misterius itu dari saku kemejanya, menatap permukaan bodi logam hitam yang terasa sangat dingin di genggamannya.

​"Sistem kecerdasan buatan di dalamnya terus-menerus mengancam akan membunuhku dari dalam kalau aku tidak mau menuruti perintah gilanya."

​Layar ponsel hitam itu secara otomatis menampilkan barisan teks berwarna biru yang bergerak naik dengan sangat cepat tanpa adanya sentuhan jari.

​Reno membalikkan bodi ponsel itu dan menunjukkan layar tersebut ke wajah Radit, membuktikan bahwa benda di tangannya ini benar-benar memiliki jiwa sarkastis.

​Radit justru tertawa pelan melihat interaksi konyol itu, wajahnya menunjukkan raut antusias melihat teknologi canggih yang berada jauh di luar nalar manusia biasa.

​"Coba perintahkan asisten virtual galak itu untuk meretas sesuatu yang tidak memiliki wujud fisik secara langsung, seperti menyadap akun media sosial misalnya."

​{Menyadap media sosial seseorang tanpa menyentuh perangkat aslinya sama sekali terdengar seperti sebuah misi bunuh diri secara digital bagiku.}

​Reno memposisikan dirinya menjadi duduk bersila di atas kasur, meletakkan ponsel canggih tersebut di atas pangkuannya dengan tingkat kehati-hatian yang ekstra.

​"Fitur apa yang harus kugunakan untuk meretas akun aplikasi pesan instan milik seseorang dari jarak jauh tanpa ketahuan?"

​Ia berbicara pelan ke arah layar ponsel, merasa sedikit bodoh karena harus meminta petunjuk langsung pada sebuah mesin yang berniat mengakhiri hidupnya.

​Reno menatap Radit yang sedang menganggukkan kepala dengan semangat, seolah memberikan persetujuan penuh untuk menjadi kelinci percobaan dalam eksperimen berbahaya ini.

​"Baiklah, aku akan menggunakan nomor kontak WhatsApp milik Radit sebagai target uji coba penyadapan perdana kita pada malam ini."

​Sebuah kotak pemindai melayang muncul di layar ponsel, meminta masukan data nomor telepon atau identitas digital dari target yang akan disadap.

​Reno mengetikkan deretan nomor ponsel Radit yang sudah sangat ia hafal di luar kepala, lalu menekan tombol eksekusi dengan jari telunjuknya yang sedikit gemetar.

​Angka hitung mundur bergerak menyusut cepat di layar ponsel, mengabaikan seluruh sistem keamanan canggih yang biasanya melindungi data jutaan pengguna aplikasi tersebut.

​||||

​Antarmuka layar ponsel Reno seketika berubah bentuk secara drastis, menampilkan sebuah tiruan antarmuka yang sempurna dari aplikasi pesan instan milik sahabatnya.

​Susunan tata letak ruang obrolan, warna antarmuka, hingga deretan riwayat percakapan yang terpampang di layar benar-benar identik dengan apa yang ada di perangkat asli Radit.

​Reno menelan ludah kasarnya, merasa takjub sekaligus merinding melihat betapa mudahnya benteng pertahanan privasi seseorang dijebol tanpa meninggalkan jejak digital sama sekali.

​"Gila, aku benar-benar bisa melihat seluruh daftar obrolanmu secara langsung tanpa ada keterlambatan proses pemuatan data sedikit pun."

​Radit merogoh saku celana pendeknya dengan tergesa-gesa, mengeluarkan ponsel pintarnya sendiri untuk memastikan kebenaran dari klaim Reno barusan.

​"Coba bacakan pesan masuk terakhirku, aku ingin memastikan benda hitam itu tidak sekadar menampilkan gambar palsu hasil rekayasa kecerdasan buatan belaka."

​Radit dengan sengaja mengetikkan sebuah pesan singkat pada grup keluarganya, mencoba menjebak sistem penyadapan tersebut dengan data yang baru saja ia buat.

​Reno menatap layar ponsel hitamnya, melihat sebuah baris obrolan baru muncul secara instan pada urutan paling atas daftar pesan.

​"Kamu baru saja mengirim stiker jempol berukuran raksasa ke dalam grup arisan keluarga besarmu, kan?"

​Sahabatnya yang bertubuh gempal itu langsung melongo keheranan, mulutnya terbuka lebar menyadari bahwa ponsel tanpa merek itu benar-benar mengkloning akunnya secara utuh.

​"Alat rongsokan itu luar biasa mengerikan, kamu bahkan bisa memata-matai para pejabat negara dengan tingkat akurasi penyadapan sepresisi ini."

​Reno menggeser layar ponselnya ke arah bawah, menyusuri daftar kontak Radit yang sebagian besar dipenuhi oleh nomor para pelanggan desain grafisnya.

​Perhatian Reno tiba-tiba teralihkan oleh sebuah grup obrolan aktif yang menempati posisi cukup atas dengan puluhan notifikasi pesan baru yang belum sempat terbaca.

​Nama grup obrolan tersebut sukses membuat alis kanan Reno terangkat naik karena merasa sangat asing namun entah mengapa terdengar sedikit menyinggung perasaannya.

​{Sejak kapan anak gempal penikmat gorengan ini membuat grup pertemanan rahasia tanpa mengundang diriku yang merupakan sahabat karibnya sejak masa orientasi kampus?}

​Jarinya menekan perlahan ruang obrolan grup tersebut, membuka jendela pesan yang langsung menampilkan rentetan percakapan aktif dari beberapa anggota tak dikenal.

​Reno memiringkan kepalanya mendekati layar, mencoba membaca dengan saksama pesan media gambar yang baru saja dikirimkan oleh Radit ke dalam grup itu siang tadi.

​Kedua bola matanya seketika membelalak hingga batas maksimal, wajahnya memanas menahan kombinasi rasa malu dan amarah yang meledak mendadak.

​Ponsel hitam di genggamannya memproyeksikan deretan huruf kapital yang menjadi bukti pengkhianatan paling kejam dan memalukan dari seorang sahabat.

terpampang sangat jelas di sana.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!