Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex²⁴
Keesokan harinya.
"Baik, kau boleh pergi."
Serena yang sedari tadi berdiri di depan meja kerja Dirga menggenggam map di tangannya sedikit lebih erat.
Menunggu pria itu selesai berbicara dengan asistennya.
"Tuan... apakah laporan saya sudah benar?"
Dirga mengangkat pandangannya dari berkas yang ada di hadapannya.
Tatapan datarnya membuat Serena langsung menegakkan tubuh.
"Masih jauh dari kata memuaskan."
Jantung Serena terasa sedikit jatuh.
Padahal ia sudah memeriksa laporan itu berulang kali sebelum menyerahkannya.
"Menurutku baru sekitar dua puluh persen dari yang aku harapkan."
Dirga menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Tapi karena suasana hatiku sedang cukup baik hari ini, aku akan memberimu kesempatan untuk memperbaikinya."
Serena menundukkan kepala.
"Terima kasih, Tuan."
Dirga tidak memberikan jawaban.
Pria itu sudah kembali mengalihkan perhatiannya ke layar laptop, seolah Serena tidak lagi berada di ruangan itu.
Serena menggigit bibirnya pelan sebelum berbalik dan melangkah keluar.
Sesaat setelah pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.
Entah berapa lama lagi ia harus menghadapi sikap Dirga yang terus mencari kesalahannya.
Serena berjalan menyusuri koridor sambil menarik napas panjang.
Pikirannya masih dipenuhi oleh laporan yang baru saja dikembalikan Dirga ketika tanpa sengaja bahunya bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk.
"Kalau jalan pakai mata, bisa nggak sih?" bentak wanita itu dengan nada kesal.
Serena tersentak dan segera mundur satu langkah.
"Ah, maaf. Saya tidak sengaja."
Wanita itu hanya menatapnya sekilas sebelum mendecakkan lidah.
"Ck."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung pergi meninggalkan Serena.
Serena tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat.
Biasanya ia tidak akan terlalu memikirkan hal seperti ini.
Namun entah kenapa, hari ini semuanya terasa lebih menyakitkan dari biasanya.
Ia menunduk sambil menggenggam map di tangannya erat-erat.
Sepertinya semesta memang sedang tidak berpihak padanya.
Di ruangannya, Dirga tampak fokus meneliti tumpukan dokumen yang harus ia tandatangani sebelum menghadiri rapat sore nanti.
Suasana tenang itu tiba-tiba terganggu oleh dering ponselnya.
Dirga melirik layar ponsel yang tergeletak di samping laptopnya. Nama Lyora tertera di sana.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkatnya.
"Halo, sayang."
"Dirga..." suara Lyora terdengar ragu dari seberang sana.
"Ada apa?" tanya Dirga sambil tetap menatap layar laptopnya. "Aku sedang cukup sibuk."
"Maaf. Sepertinya aku menghubungimu di waktu yang tidak tepat."
Dirga menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Kalau begitu kenapa menelepon?"
"Aku cuma ingin memberitahumu kalau malam ini aku akan menghadiri pesta ulang tahun temanku." Lyora terdengar bersemangat.
"Aku ingin kamu ikut denganku."
Dirga mengembuskan napas pelan.
"Sepertinya sulit. Hari ini jadwalku penuh."
"Aku mohon, Dirga." Nada suara Lyora langsung melemah.
"Hanya sekali ini saja. Aku ingin mengenalkanmu kepada teman-temanku."
Dirga terdiam.
Sebenarnya ia tidak tertarik menghadiri acara seperti itu.
Namun sebelum sempat menjawab, Lyora kembali berbicara.
"Oh ya, kalau bisa ajak juga Serena dan Zayn."
Kali ini perhatian Dirga benar-benar teralihkan dari pekerjaannya.
Matanya menyipit tipis.
Entah mengapa sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
"Dirga?"
Lyora memanggilnya karena tidak mendapat jawaban.
"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa."
"Aku akan datang."
Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia duga sendiri.
Lyora langsung tersenyum lebar di balik sambungan telepon.
"Benarkah?"
"Hm."
"Kalau begitu nanti aku tunggu di apartemenku."
"Baik."
Setelah itu panggilan pun berakhir.
Dirga meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
Jari telunjuknya mengetuk permukaan meja secara perlahan.
Tatapannya kosong mengarah ke depan.
Namun jauh di dalam pikirannya, sebuah rencana mulai terbentuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃