NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Gerbang 1%

Udara di dalam Aula Seleksi Nasional terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh kecemasan seratus dua puluh ribu remaja yang berjejal di dalamnya. Suara dengung kecemasan terdengar seperti kawanan lebah di bawah langit-langit beton yang menjulang tinggi. Di tempat ini, mimpi bukan lagi sekadar bunga tidur, melainkan komoditas mahal yang siap diadu sampai hancur. Nexus Academy hanya menyediakan enam ratus kursi. Bagi sisanya, tempat ini hanyalah akhir dari sebuah angan-angan.

Di sudut baris belakang, Atharva Mahendra Prasetya berdiri dalam diam. Posturnya tegap, namun pembawaannya sengaja dibuat tenggelam di antara lautan manusia. Ketika remaja lain sibuk memeriksa catatan menit-menit terakhir atau menggenggam jimat keberuntungan dari orang tua mereka, Atharva hanya menyandang sebuah tas ransel usang yang ritsletingnya sedikit macet. Tidak ada kecupan di kening dari seorang ibu, tidak ada tepukan bangga di bahu dari seorang ayah. Dia datang sendiri.

Di jemarinya, terselip sebuah kartu peserta bernomor 000-001. Nomor yang didapatnya karena menjadi pendaftar pertama, tepat di detik pertama sistem daring Nexus dibuka beberapa bulan lalu. Namun, matanya tidak fokus pada nomor itu. Pandangannya menyapu lambang sekolah sebuah lingkaran geometris dengan garis fraktal rumit yang terukir di podium utama aula.

“Jika kamu berhasil masuk, jangan pernah cari Kakak,” kalimat terakhir Alvaro bergaung kembali di kepalanya. Itu adalah pesan tiga tahun lalu, tepat sebelum kakaknya menghilang tanpa jejak dari asrama Nexus, meninggalkan kamar yang rapi dan sebuah nama yang perlahan dihapus dari arsip keluarga.

Atharva mengembuskan napas perlahan. "Aku tidak mencarimu, Kak," bisiknya pada diri sendiri, suaranya tenggelam dalam riuh aula. "Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu muak."

Beberapa belas meter dari tempat Atharva berdiri, atmosfernya terasa berbeda. Di dekat barisan depan, seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang elegan sedang merapikan kerah kemeja seorang gadis berambut panjang yang diikat kuda.

"Fokus pada logikanya, Kei. Jangan biarkan emosimu mengambil alih seperti saat latihan di rumah," suara Monica Wibisono terdengar tegas, namun ada getaran halus yang menyiratkan kecemasan mendalam.

Keisya Aurellia Wibisono mengangguk pelan. Matanya yang tajam memancarkan kilatan determinasi yang tidak bisa dibantah. "Kei tahu, Mah. Peringkat kedua nasional di try-out kemarin bukan batasan Kei. Hari ini, Kei ambil peringkat pertama."

Monica tersenyum tipis, lalu sedetik kemudian tatapannya meredup saat memandang sekeliling aula. "Tempat ini... masih sama seperti saat ayahmu dulu berjalan di koridornya."

Mendengar kata Ayah, jemari Keisya refleks meremas ujung rok seragamnya. Kematian Jonathan Wibisono dinyatakan sebagai serangan jantung mendadak di laboratorium kampus. Namun, dokumen-dokumen riset yang terkunci di ruang kerja ayahnya, yang sempat Keisya baca sekilas sebelum disita, menunjukkan hal lain. Ada coretan tangan ayahnya yang berulang-ulang menulis satu frasa: Veritas Lux Fortuna. Sesuatu di Nexus Academy telah merenggut nyawa ayahnya, dan Keisya bersumpah akan membedah sekolah ini sampai ke akar-akarnya demi menemukan kebenaran itu.

"Kei masuk dulu, Mah," pamit Keisya begitu lampu aula tiba-tiba meredup.

Tepat pukul delapan pagi, seluruh layar digital raksasa di sekeliling aula menyala serentak, memancarkan cahaya putih keperakan yang benderang. Suara riuh ratusan ribu peserta mendadak senyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam.

Di atas podium, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam tanpa celah melangkah maju. Langkah kakinya bergaung melalui pengeras suara. Wajahnya dingin, tanpa senyum, dengan kacamata berbingkai perak yang memantulkan cahaya lampu. Profesor Adrian Surya Pradana, sang Direktur.

"Selamat pagi, para calon komoditas masa depan," suara Prof. Adrian terdengar flat, namun berwibawa. Tidak ada kata selamat datang yang hangat. "Kalian berada di sini karena kalian merasa pintar. Di sekolah asal kalian, mungkin kalian adalah piala berjalan. Namun di hadapan Nexus, kalian hanyalah angka statistik."

Layar di belakangnya berubah menampilkan angka 120.000, yang kemudian menyusut drastis dalam animasi grafis menjadi angka 600.

"Hanya satu persen dari sepertiga persen yang akan bertahan di sini. Di meja kalian masing-masing, perangkat ujian telah diaktifkan. Seratus dua puluh soal logika ekstrem. Waktu kalian sembilan puluh menit. Jika otak kalian lambat, silakan berdiri dan keluar dari pintu belakang sekarang juga, sebelum sistem mempermalukan kalian."

Detik itu juga, permukaan meja lipat di hadapan setiap peserta berkedidip, memunculkan layar sentuh transparan yang menampilkan hitung mundur: 03... 02... 01...

Pertempuran dimulai tanpa aba-aba lisan.

Keisya langsung bergerak. Jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang konstan. Soal pertama adalah analisis pola spasial empat dimensi yang dikombinasikan dengan deret Fibonacci non-linear. Rumit bagi orang awam, namun bagi Keisya, ini hanya masalah memisahkan variabel pengganggu.

Di baris lain, seorang pemuda berambut agak acak-acakan dengan jaket denim longgar, Nareswara, tampak menyeringai kecil melihat enkripsi soalnya. Di sebelahnya, Gavin Arsenio Mahardika, sang juara olimpiade fisika, bahkan tidak berkedip, wajahnya sedingin es saat jemarinya mengetuk jawaban demi jawaban tanpa ragu. Di sudut yang berbeda, seorang gadis dengan pembawaan anggun bernama Celine, tampak menarik napas dalam-dalam, menjaga ritme jantungnya agar tetap tenang menghadapi tekanan visual dari layar.

Sementara itu, Atharva tidak langsung menyentuh layarnya. Ia memejamkan mata selama lima detik pertama, membiarkan otaknya memetakan struktur algoritma dari tipe soal yang disajikan. Ketika matanya terbuka, matanya bergerak secepat kilat. Ia tidak melihat soal itu sebagai untaian kata atau angka, melainkan sebagai sebuah jaring laba-laba. Dia tahu persis di titik mana benang itu harus dipotong agar polanya runtuh.

Matematika adalah bahasa alam semesta, dan bagi Atharva, Nexus baru saja mengajaknya mengobrol.

Menit demi menit berlalu seperti siksaan bagi sebagian besar peserta. Terdengar isak tangis tertahan dari beberapa sudut aula. Beberapa remaja mulai memegangi kepala mereka, frustrasi oleh batas waktu yang menyusut kejam di sudut layar. Setiap kali ada peserta yang menyerah dan berdiri, kursi mereka secara otomatis terkunci, dan lampu indikator di atas kepala mereka berubah menjadi merah sebuah tanda eliminasi yang langsung disaksikan oleh ratusan ribu pasang mata lainnya.

Di menit ke-tujuh puluh, Keisya menyelesaikan soal terakhirnya. Napasnya agak memburu. Ia melirik layar monitoring besar di depan untuk melihat live leaderboard yang mulai memunculkan nama-nama peserta dengan akurasi dan kecepatan tertinggi.

Namanya berada di urutan atas: Keisya Aurellia Wibisono – 98.4% Accuracy.

Keisya tersenyum tipis. Puas. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, sebuah nama melesat naik dari baris bawah dengan kecepatan tidak masuk akal, menggeser posisinya dalam sekejap tepat di menit ke-tujuh puluh lima.

Atharva Mahendra Prasetya – 100% Accuracy.

Keisya tertegun. Sempurna? Di ujian logika Nexus yang terkenal memiliki tiga belas soal jebakan tanpa jawaban benar? Siapa orang ini?

Keisya langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula yang masif, mencari pemilik nama itu. Di saat yang sama, entah karena insting atau kebetulan, Atharva yang baru saja meletakkan kedua tangannya di dalam saku jaket, menoleh ke arah barisan depan.

Mata mereka bertemu di antara ribuan kepala yang masih tertunduk stres. Keisya menatapnya dengan tatapan menyelidik penuh intimidasi, sementara Atharva hanya membalasnya dengan tatapan datar, kosong, seolah pencapaian barusan bukanlah hal yang perlu dirayakan.

Di panggung utama, Profesor Adrian memperhatikan pergeseran angka di layarnya. Sebuah senyuman misterius, yang hampir menyerupai seringai tipis, muncul di wajahnya yang kaku.

"Menarik," gumam Prof. Adrian lirih, menatap dua nama yang kini berada di puncak piramida. "Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat melelahkan bagi mereka."

Gerbang satu persen telah terbuka, namun di balik pintu itu, yang menunggu mereka bukan sekadar ruang kelas, melainkan sebuah labirin berdarah yang siap menuntut harga dari setiap ambisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!