Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Lantai Kantor
Pagi tidak pernah meminta izin untuk datang, begitu pula kenyataan yang pahit. Di bawah langit Jakarta yang diselimuti kabut tipis polusi, Reza Adijaya melangkah memasuki lobi marmer PT Sinar Surya dengan tubuh yang terasa seberat timah.
Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam yang layu akibat terjaga semalaman. Untuk menebus ibunya dari sekapan manajer restoran kemarin siang, Reza terpaksa menggadaikan jam tangan Rolex kesayangannya—satu-satunya benda pusaka keangkuhannya—dengan harga miring di sebuah toko gadai gelap. Tiga puluh lima juta rupiah lenyap hanya dalam sekali gesek demi menyelamatkan harga diri ibunya yang kini mengurung diri di kamar, menangis histeris meratapi hilangnya Jeng Marni dan antek-antek sosialitanya yang kini memblokir nomor telepon mereka.
Kini, pergelangan tangan kiri Reza terasa kosong dan dingin. Setiap kali ia melirik ke arah kulitnya yang pucat tanpa arloji mewah itu, dadanya terasa seperti dihantam palu godam.
"Selamat pagi, Pak Reza," sapa seorang staf administrasi dengan senyum formal.
Reza hanya mengangguk kaku, nyaris tak kentara. Ia melangkah tergesa-gesa menuju lift khusus eksekutif. Biasanya, ia akan berjalan dengan dada membusung, menikmati setiap tatapan hormat dari para karyawan rendahan. Namun hari ini, ia merasa seolah-olah semua orang sedang menatap kulit lehernya yang berkeringat dingin, atau sedang berbisik tentang rekeningnya yang mati membeku.
Lift berdenting, mengantarkannya ke lantai empat. Saat pintu berdenting terbuka, atmosfer yang menyambutnya terasa berbeda. Biasanya, koridor lantai empat itu tenang dan sunyi, hanya dihiasi suara ketikan papan tik yang berirama. Namun pagi ini, udara di sana terasa elektrik, sarat akan ketegangan yang mendengung pelan.
Staf-staf berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di dekat dispenser air, berbisik dengan kepala saling mendekat. Begitu melihat sosok Reza, mereka bubar seketika dengan wajah-wajah yang mendadak dipasang tanpa ekspresi.
Reza mengernyitkan dahi. Langkahnya berbelok ke ruang kerjanya. Baru saja ia meletakkan tas kerja kulitnya di atas meja, pintu ruangannya langsung terbuka tanpa ketukan.
Rian masuk dengan wajah pucat dan mata yang membelalak cemas.
"Za! Kamu sudah dengar?" tanya Rian setengah berbisik, matanya melirik ke kiri dan ke kanan sebelum menutup pintu rapat-rapat.
Reza menghela napas kasar, merasa sisa-sisa kesabarannya yang tipis telah menguap. "Dengar apa, Rian? Jika ini soal pinjaman uang kemarin, aku sudah menyelesaikannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Bukan! Bukan soal itu!" Rian mengibaskan tangannya cepat, mengabaikan ketegangan pribadi di antara mereka demi berita yang jauh lebih besar. "Ini soal pemegang saham pengendali kita. Atmadja Group. Pagi ini, tepat pukul delapan, memo internal dari pusat baru saja dirilis ke seluruh jajaran direksi."
Jantung Reza berdegup kencang mendengar nama 'Atmadja Group'. Nama itu kini terasa seperti kutukan yang bergaung di kepalanya sejak kemarin. "Memo apa?"
"CEO lama kita, Pak Hermawan, telah resmi mengundurkan diri per hari ini karena alasan kesehatan. Dan konsorsium keluarga Atmadja telah menunjuk pengganti langsung dari lingkaran utama keluarga mereka," Rian menelan ludah, suaranya bergetar oleh kegembiraan bercampur ngeri. "Dia adalah pewaris tunggal dinasti Atmadja yang selama ini disembunyikan dari publik. CEO baru ini... dia dikabarkan akan melakukan perombakan massal. Dan tebak apa? Dia sedang dalam perjalanan ke kantor cabang kita hari ini untuk peninjauan langsung!"
Reza terpaku di kursinya. Badai di kepalanya yang semula berpusat pada masalah uang pribadinya kini mendadak bergeser.
Pewaris tunggal keluarga Atmadja...
Pikiran Reza berputar cepat. Sebagai seorang manajer menengah yang ambisius, ia tahu betul bagaimana hukum rimba korporasi bekerja. Pergantian kekuasaan di tingkat atas bisa berarti dua hal: bencana pemecatan massal, atau peluang emas untuk mendaki tangga karier yang lebih tinggi.
Jika ia bisa menarik perhatian sang pewaris baru hari ini, menunjukkan dedikasi dan kinerjanya yang tanpa cela selama tiga tahun ini, ia mungkin tidak hanya bisa menyelamatkan posisinya. Ia bahkan bisa meminta intervensi langsung untuk memulihkan fasilitas perbankannya yang kemarin dibekukan secara sepihak oleh divisi legal Atmadja Group atas tuduhan pelanggaran kontrak yang tidak ia pahami.
"Siapa nama CEO baru itu, Rian?" tanya Reza, suaranya mendadak dipenuhi energi baru yang haus akan kekuasaan. Keputusasaan di wajahnya perlahan tersapu oleh ambisi yang kembali membakar dadanya. "Apakah dia salah satu putra mahkota yang lulus dari Harvard itu? Atau salah satu kerabat jauh dari keluarga cabang?"
"Tidak ada yang tahu namanya, Za. Pihak pusat menutup rapat semua informasi detail. Bahkan foto profilnya di database perusahaan masih kosong. Mereka hanya menuliskan inisial: A. N. A.," jawab Rian menggelengkan kepala gundah. "Tapi satu hal yang pasti, dia dikenal sangat dingin dan tidak kenal ampun. Beberapa kepala divisi di anak perusahaan sektor energi kabarnya langsung dicopot kemarin malam hanya karena keterlambatan laporan sepuluh menit."
Reza berdiri, merapikan kemeja birunya yang terasa agak longgar karena ia kehilangan nafsu makan sejak kemarin. Ia berjalan ke arah cermin kecil yang tergantung di sudut ruangannya. Dengan jemarinya, ia menyisir rambut klimisnya yang mulai sedikit berantakan, mencoba mengembalikan wibawa seorang eksekutif muda yang sukses.
"Inisial A. N. A...." Reza bergumam pada bayangannya sendiri di cermin. "Siapa pun dia, dia tetaplah manusia yang bisa dipengaruhi oleh hasil kerja yang nyata. Sinar Surya cabang logistik adalah salah satu penyumbang profit terbesar tahun ini. Dia tidak akan bisa mengabaikan prestasiku."
Reza berbalik, menatap Rian dengan tatapan yang kembali angkuh. "Rian, kumpulkan semua kepala divisi di ruang rapat utama sekarang. Pastikan semua berkas presentasi kuartal ini bersih dari kesalahan. Dan bersihkan lobi utama! Jangan sampai ada debu sekecil apa pun ketika mobil rombongan pusat tiba."
"Baik, Za. Aku segera urus," jawab Rian cepat, kembali ke mode tunduknya yang biasa begitu melihat aura kepemimpinan Reza kembali pulih.
Setelah Rian keluar, Reza melangkah ke jendela kaca besarnya yang menghadap ke jalan raya utama di bawah. Di kejauhan, ia bisa melihat arus lalu lintas Jakarta yang padat dan bising. Di bawah sana, orang-orang kecil merangkak seperti semut untuk bertahan hidup.
Reza tersenyum tipis, sebuah senyuman pongah yang dipaksakan untuk menutupi ketakutan finansialnya yang masih menggerogoti ulu hatinya.
"Naya..." bisik Reza tiba-tiba, menyebut nama wanita yang ia buang dua malam lalu dengan nada meremehkan. "Lihat aku sekarang. Di saat kamu mungkin sedang menangis kelaparan di emperan toko atau mengemis di kampung, aku bersiap menyambut penguasa tertinggi negeri ini. Kita memang ditakdirkan hidup di dunia yang berbeda, Naya. Dan tempatmu memang selamanya ada di bawah kakiku."
Reza menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya membusung kencang. Ia merapikan kerah kemejanya sekali lagi, lalu melangkah keluar dari ruangannya dengan langkah-langkah lebar yang penuh percaya diri yang palsu.
Di luar gedung, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah baru saja melewati gerbang masuk PT Sinar Surya, melaju perlahan bagai naga hitam yang siap menuntut takhtanya kembali.