Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.
Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalanan ke pegunungan es abadi
Hari berikutnya, Ryn meninggalkan Desa Lembah Kabut Abadi bersama Zarathos dan dua orang pengawal setia yang dipilih oleh Kakek Lorian. Tujuannya pertama adalah Pegunungan Es Abadi, tempat di mana dipercaya salah satu bagian dari Pedang Keseimbangan tersimpan.
Perjalanan menuju utara sangat sulit. Suhu udara turun drastis hingga di bawah titik beku, dan jalan yang mereka lalui penuh dengan es dan batu licin. Di sepanjang jalan, mereka juga harus berhati-hati terhadap makhluk-makhluk es yang hidup di sana, seperti Naga Es dan Raksasa Batu yang berjalan perlahan namun sangat kuat.
Sepanjang perjalanan, Ryn terus berlatih. Ia tidak hanya melatih kekuatan fisik dan energinya, tetapi juga mempelajari teknik bertahan hidup di lingkungan ekstrem. Ia mulai memahami bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh lebih kuat.
Suatu hari, saat mereka sedang beristirahat di dalam gua yang terlindung dari angin, mereka mendengar suara gemuruh yang besar dari arah atas gunung.
"Ada sesuatu yang bergerak di atas sana," kata salah satu pengawal, bernama Gareth. "Itu bukan hanya angin atau batu yang jatuh."
Ryn berdiri dan mengeluarkan indranya. Ia bisa merasakan aura yang sangat besar dan tua yang turun menuju tempat mereka.
"Itu bukan makhluk biasa," kata Ryn dengan serius. "Aku merasakan energi yang sama dengan yang ada di Area Terlarang, tapi jauh lebih dingin dan tajam."
Tiba-tiba, dari celah di dinding gua, sebuah makhluk raksasa muncul. Itu adalah Naga Es, makhluk mitologi yang dikatakan sudah punah sejak ribuan tahun lalu. Tubuhnya sepanjang lima puluh meter, bersisik tebal berwarna putih kebiruan, dan memiliki mata berwarna biru terang yang memancarkan hawa dingin yang bisa membekukan darah.
Naga itu mengaum keras dan menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan ingatan lama.
"Ini adalah penjaga," kata Zarathos pelan. "Dia tidak menyerang tanpa alasan. Dia sedang menunggu seseorang yang memiliki darah yang sama seperti tuannya dulu."
Ryn melangkah maju perlahan, tanpa mengeluarkan senjata atau energi yang berbahaya.
"Saya datang bukan untuk melawan," kata Ryn dengan suara yang tenang namun bisa didengar oleh naga itu. "Saya mencari bagian dari Pedang Keseimbangan. Saya tidak ingin menyakiti siapa pun."
Naga Es menatap Ryn lama sekali. Ia menggerakkan kepalanya dan aroma dingin yang tadinya mengancam perlahan berubah menjadi lebih tenang.
Setelah beberapa saat, naga itu bergerak dan menunjuk ke arah puncak gunung yang tertutup awan tebal.
"Dia memberi tahu kita jalan," kata Gareth dengan heran. "Dia sebenarnya adalah penjaga yang setia."
Mereka melanjutkan perjalanan dan berkat bimbingan naga es itu, mereka berhasil melewati jalur-jalur berbahaya yang seharusnya mustahil dilalui.
Setelah berjalan selama tiga hari hingga puncak tertinggi Pegunungan Es Abadi, mereka menemukan sebuah kuil kecil yang dibangun dari es murni. Di tengah kuil itu terdapat sebuah pedang pendek yang terbuat dari logam berwarna perak yang bersinar dengan cahaya biru dingin.
Itu adalah Bagian Pedang Keseimbangan yang Pertama.
Saat Ryn mendekat dan menyentuh pedang itu, seluruh kuil bergetar dan suara kuno terdengar dari seluruh arah:
"Hanya mereka yang memiliki hati untuk keseimbangan boleh mengambil ini. Kekuatan ini bukan untuk dijadikan alat kekuasaan, melainkan alat untuk menjaga keseimbangan."
Ryn mengambil pedang itu dan menyimpannya ke dalam Cincin Penyimpanan. Begitu ia menyentuhnya, ia merasakan aliran energi baru yang masuk ke dalam tubuhnya, memperkuat kekuatannya dan membuka ingatan baru tentang cara menggunakan bagian dari pedang itu.
"Selamat," kata Zarathos. "Sekarang kamu sudah memiliki satu bagian dari senjata legendaris itu. Dan kamu telah membuktikan bahwa kamu layak menerimanya."
Namun saat mereka hendak turun dari gunung, tiba-tiba langit menjadi gelap. Dari kejauhan, mereka melihat kelompok besar pengawal dari Persekutuan Dewa sedang bergerak menuju puncak gunung.
"Mereka sudah tahu," kata Gareth dengan wajah cemas. "Kita harus pergi segera."
Ryn mengangguk. Ia tahu bahwa berkat keberhasilan ini, musuhnya akan semakin agresif. Namun ia tidak menyesali apa yang telah ia lakukan. Ia telah mengambil langkah pertama dalam misinya yang sebenarnya.
Mereka turun dari gunung dengan cepat, dibantu oleh naga es yang kembali muncul dan membuka jalan aman bagi mereka.