Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mempan
Tiga minggu sejak kunjungan terakhirnya ke rumah Ustad Salim, Pak RT Bambang kembali lagi. Tapi kali ini, kondisinya jauh lebih buruk.
Tubuhnya yang tambun dulu kini kurus mengerikan. Tulang rusuknya mulai terlihat di balik kemeja batik lengan panjang yang kini kebesaran. Wajahnya pucat seperti kertas, dengan dua lingkaran hitam di bawah mata yang cekung, seperti dua lubang menganga di tengah wajahnya yang pucat.
Matanya—jika dulu matanya selalu bersemangat, kini hanya menyisakan tatapan liar yang bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa henti, seperti orang yang selalu merasa sedang diikuti.
Bibirnya kering pecah-pecah, dan sesekali bergerak-gerak sendiri, membisikkan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia datang malam itu. Hampir pukul 21.00. Hujan gerimis turun tipis, membuat jalanan komplek perumahan basah dan licin. Pak RT tidak menggunakan payung. Kemeja batiknya basah di pundak, rambutnya yang mulai menipis basah menempel di kulit kepala.
Sepatu kets yang ia kenakan berlumpur. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya satu: ia harus sampai ke rumah Ustad Salim. Cepat.
Sampai di teras rumah Ustad, ia tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Ustad Salim sedang duduk di ruang tamu, membaca Al-Qur'an setelah selesai sholat Isya. Wajah Ustad Salim yang tenang berubah serius ketika melihat Pak RT berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang mengenaskan.
"Pak RT? Ya Allah, Bapak..." Ustad Salim berdiri, meletakkan Al-Qur'an dengan hormat di atas rak kecil, lalu menghampiri Pak RT yang berdiri di pintu sambil terengah-engah.
"Kok Bapak basah kuyup? Ayo masuk, Pak."
Pak RT melangkah masuk dengan kaki gemetar. Sepatu ketsnya yang basah meninggalkan jejak lumpur di lantai keramik rumah Ustad.
Ia tidak meminta maaf. Ia tidak peduli. Ia duduk di kursi rotan yang ia tuju, tubuhnya jatuh ke kursi itu seperti karung beras yang tidak memiliki tulang.
"Ustad... tidak mempan," bisiknya. Suaranya parau, nyaris tidak terdengar. "Rajahnya... rajahnya tidak mempan."
Ustad Salim mengernyit. Ia mengambil kursi di hadapan Pak RT, duduk dengan posisi menghadap langsung pada pria yang terlihat seperti mayat berjalan itu.
"Apa maksud Bapak? Bukankah Bapak bilang seminggu yang lalu kondisinya mulai membaik?"
Pak RT menggeleng. Gelengan yang cepat, panik, seperti orang yang sedang berusaha mengusir sesuatu dari dalam kepalanya. "Itu hanya... itu hanya dua hari, Ustad. Dua hari. Lalu kembali lagi. Lebih parah. Jauh lebih parah."
Tangannya yang gemetar merogoh saku celana, mengeluarkan selembar kertas kuning yang sudah kusut—rajah yang diberikan Ustad Salim tiga minggu lalu.
Kertas itu basah karena air hujan, tintanya mulai luntur, beberapa ayat sudah tidak terbaca dengan jelas.
"Sudah tidak bisa, Ustad. Rajah ini sudah tidak bisa. Saya coba bawa ke mana-mana. Saya tidur dengan rajah ini di dada. Saya mandi wajib setiap hari. Saya sholat tepat waktu. Tapi tetap... tetap saja... setiap malam..."
Ia tidak melanjutkan. Matanya yang liar itu menatap ke sudut ruangan rumah Ustad, ke tempat yang gelap di antara rak buku dan dinding. Ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak dilihat oleh Ustad Salim. Bayangan hitam.
Bayangan yang mengikuti ke mana pun ia pergi. Bayangan dengan dua titik merah di tempat mata seharusnya berada. Bayangan dengan tiga huruf hitam di jidatnya yang menyala seperti bara api.
Ustad Salim mengikuti pandangan Pak RT. Di sudut ruangan, hanya ada rak buku. Tidak lebih. Tapi ia merasakan ada yang berbeda.
Udara di ruangan itu terasa lebih berat dari biasanya. Seperti ada tekanan yang tidak terlihat. Seperti ada sesuatu yang hadir di antara mereka, berdiri di sudut itu, menatap.
"Pak RT," Ustad Salim menoleh kembali ke hadapannya. "Malam ini saya akan meruqyah Bapak. Langsung. Di sini. Saya akan bacakan ayat-ayat suci. Saya akan usir apa pun yang mengganggu Bapak."
Mata Pak RT membelalak. "Di sini? Di rumah Ustad? Tapi... tapi apa tidak... apa tidak berbahaya?"
Ustad Salim tersenyum. Senyum yang tenang, senyum yang penuh keyakinan. "Tidak ada yang perlu ditakuti, Pak RT. Tidak ada yang bisa masuk ke sini jika Allah tidak mengizinkan. Dan jika Allah mengizinkan, berarti ada hikmah di baliknya. Saya siap."
Ia bangkit, berjalan ke kamar, dan keluar beberapa saat kemudian dengan mengenakan pakaian yang berbeda. Koko putih lengan panjang yang bersih dan rapi, sarung batik coklat yang dililitkan hingga di atas mata kaki, dan peci putih di kepalanya. Penampilan seorang ustad yang siap melakukan ruqyah.
Di tangan kanannya, ia membawa sebuah cawan kecil berisi air putih yang sudah ia baca doa. Di tangan kirinya, sebotol minyak zaitun yang sudah dibacakan ayat-ayat suci.
Ia meletakkan semuanya di atas meja kecil di hadapan Pak RT. Lalu ia mulai membaca surat Al-Fatihah, dan duduk bersila di hadapan Pak RT.
"Pak RT, Bapak duduk bersila. Pejamkan mata. Fokus pada suara saya. Jangan takut. Saya di sini. Allah bersama kita."
Pak RT mengangguk pelan. Ia duduk bersila di kursi rotan, memejamkan matanya dengan susah payah. Tubuhnya masih gemetar. Napasnya masih tidak teratur.
Ustad Salim mulai membaca.
"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin..."
Suaranya merdu, mengalun pelan, memenuhi ruangan. Ayat-ayat suci keluar dari mulutnya dengan lancar, dengan penghayatan, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang lebih kuat dari firman Allah. Ia membaca Al-Fatihah, lalu Ayat Kursi, lalu surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas. Diulang-ulang. Berkali-kali.
Suaranya semakin lama semakin tegas, semakin keras, seperti sedang melawan sesuatu yang tidak terlihat.
Pak RT merasakan sesuatu. Dadanya yang sesak mulai terasa sedikit lega. Getaran di sekujur tubuhnya mulai mereda. Napasnya mulai teratur. Ia merasakan kehangatan—bukan kehangatan yang aneh seperti di rumahnya, tapi kehangatan yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya ingin menangis.
"Ya Allah... ya Allah..." bisiknya. Air mata mulai mengalir di pipinya yang cekung.
Ustad Salim terus membaca. Suaranya semakin keras. Getarannya semakin kuat. Ruangan itu terasa penuh. Penuh dengan sesuatu yang tidak terlihat. Penuh dengan kehadiran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dan kemudian, sesuatu berubah.
Lampu di ruang tamu itu berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu menyala kembali seperti biasa.
Ustad Salim tidak berhenti membaca. Ia terus melanjutkan, tidak peduli dengan lampu yang berkedip, tidak peduli dengan angin dingin yang tiba-tiba bertiup di ruangan tertutup itu.
Tapi Pak RT melihatnya.
Di sudut ruangan, di tempat yang sama, bayangan hitam itu muncul lagi. Tidak perlahan. Tidak pelan. Muncul tiba-tiba, seperti tercipta dari ketiadaan. Lebih hitam dari malam. Lebih gelap dari kegelapan itu sendiri. Tingginya menjulang, hampir menyentuh langit-langit ruangan yang rendah.
Di kepalanya, dua tanduk melengkung menjulur ke atas. Dan di wajahnya yang tidak berbentuk itu, dua titik merah menyala seperti bara api yang tidak pernah padam. Dan di jidatnya—Ya Tuhan, di jidat bayangan itu—tiga huruf hitam menyala terang: ك ف ر. Kafarro.
Stempel yang sama yang ia lihat di dahi Rafiq.
"USTAD!" teriak Pak RT.
Tapi Ustad Salim tidak bisa mendengarnya. ia tidak bisa berhenti. Mulutnya terus bergerak, terus membaca ayat-ayat suci, tapi suaranya... suaranya mulai berubah.
Tidak lagi merdu. Tidak lagi tegas. Suaranya seperti terhalang oleh sesuatu. Seperti ada dinding tebal di antara mulutnya dan telinga mereka.
Ustad Salim terus membaca. Tapi darah mulai menetes dari hidungnya. Setetes. Dua tetes. Jatuh ke koko putihnya yang bersih, menciptakan noda merah di dada.
Pak RT berteriak. "Ustad! Ustad, darah! Ustad keluar darah!"
Ustad Salim tidak berhenti. Ia terus membaca, meskipun suaranya mulai tersendat, meskipun napasnya mulai terengah-engah, meskipun kepalanya terasa seperti akan pecah.
Ia tahu ada yang salah. Ia merasakannya. Ada sesuatu yang menekan dadanya, menekan kepalanya, menekan seluruh tubuhnya.
Seperti ada tangan raksasa yang meremasnya dari segala arah.
Ia terus membaca.
Dan kemudian, sesuatu memukulnya.
Ustad Salim tidak tahu dari mana pukulan itu datang. Tidak ada yang terlihat. Tidak ada yang menyentuhnya secara fisik. Tapi tiba-tiba tubuhnya terpental ke belakang, terbang di udara sejauh dua meter, dan jatuh ke lantai dengan suara keras.
Koko putihnya yang bersih kini berlumuran darah—dari hidungnya, dari telinganya, dari sudut mulutnya. Darah mengalir deras, membasahi kerah putihnya yang berubah menjadi merah.
"USTAD!" Pak RT berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa duduk di kursinya, membeku, dengan mata terpaku pada Ustad Salim yang terbaring di lantai.
Darah terus mengalir dari hidung dan telinga Ustad Salim. Wajahnya yang tadinya tenang kini pucat kebiruan. Bukan pucat biasa. Biru. Membiru. Seperti tubuhnya kekurangan oksigen. Seperti ada sesuatu yang menghisap seluruh kehidupan dari tubuhnya.
Tiba-tiba Pak RT seperti di seret dari hadapan ustad salim ke arah berlawanan, pak RT tidaj bisa berteriak, tidak ada suara yang keluar seperti tercekik, kemudian tubuhnya terhantam ke tembok lalu keseret ke atas.
Tubuhnya menggantung di tengah tembok, kakinya terkulai. Ia merasakan seperti mau mati, kehabisan nafas kemudian tubuhnya jatuh terjerembab ke Lantai.
Pak RT menoleh ke sudut ruangan. Ke tempat di mana bayangan hitam itu berdiri, menatap mereka berdua dengan mata merah yang menyala.
Dan bayangan itu tertawa.
Tidak ada suara. Tidak ada getaran. Tapi Pak RT mendengar tawa itu di dalam kepalanya. Tawa yang dingin. Tawa yang mengejek.
Tawa yang mengatakan: "Kau pikir ayat-ayat itu bisa menghentikanku? Aku bukan jin. Aku bukan setan. Aku adalah sesuatu yang lebih tua. Lebih gelap. Dan sekarang, aku ada di dalam dirinya. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku."
Bayangan itu perlahan memudar. Menjadi samar. Menjadi tipis. Dan akhirnya lenyap, seperti tidak pernah ada.
Api lilin biru itu berubah kembali menjadi jingga. Normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Pak RT masih terduduk dengan nafas tersengal menahan sakit di lehernya, tubuhnya tidak bisa bergerak. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Ia menatap Ustad Salim yang terbaring di lantai dengan darah di mana-mana.
"Ustad... Ustad..." bisiknya dengan suara parau. "Ustad... maafkan saya... maafkan saya..."
Dari luar, suara azan Subuh mulai berkumandang. Fajar telah tiba. Tapi bagi Pak RT, malam itu tidak pernah berakhir.
---
Sementara itu, di rumah kecil di pinggir desa,
Rafiq duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka di depannya. Layar laptop menyala dengan daftar nama yang dikirim Hendri. Tujuh nama. Tujuh alamat. Tujuh perempuan hamil empat bulan.
Ia membaca satu per satu. Jari telunjuknya bergerak pelan di atas nama-nama itu.
Siti karisma, 28 tahun, alamat Perumahan Mutiara Indah Blok C12, kota Bandung. Usia kandungan 17 minggu.
Dewi Kartika, 31 tahun, alamatan Perumahan Citra Harmoni Blok B5, Kabupaten Bandung Barat. Usia kandungan 18 minggu.
Rina Andriani, 25 tahun, Kp. Cipatat RT 02 RW 05, Desa Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Usia kandungan 16 minggu.
Dan seterusnya. Tujuh nama. Tujuh perempuan yang tidak mengenalnya. Tujuh calon ibu yang tidak tahu bahwa mereka sedang dalam bahaya. Bahaya yang tidak bisa mereka bayangkan.
Rafiq tersenyum. Ia tutup laptop, berdiri, dan berjalan ke jendela. Di luar, matahari mulai terbit. Sinar jingga keemasan menyinari pohon beringin di belakang rumah, menyinari bayangan-bayangan hitam yang masih bergelantungan di dahan-dahannya.
"Besok," bisiknya. "Besok kita mulai."
Ia menatap telapak tangannya. Tangannya yang dulu terangkat dalam doa. Tangannya yang dulu memegang Al-Qur'an. Tangannya yang kini akan memegang sesuatu yang jauh berbeda.
Ia mengepalkan tangannya.
Tiga huruf di dahinya menyala.