Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Lantai gudang Blok C di pelabuhan lama itu adalah hamparan semen tua yang menyimpan ribuan rahasia kelam. Permukaannya tidak pernah benar-benar rata, banyak bagian yang telah terkelupas, menyisakan lubang-lubang kecil yang kini terisi oleh genangan oli hitam pekat dan rembesan air laut yang asin. Bagi orang dengan kondisi kaki yang sehat, lubang-lubang itu mungkin hanya rintangan kecil yang bisa dilompati dengan mudah. Namun, bagi Agus, setiap jengkal ketidak teraturan di lantai itu adalah jebakan maut yang siap merobek sisa-sisa kekuatannya.
Agus baru saja meletakkan peti ketiga di atas bak truk fuso yang bermesin menderu rendah. Ia berdiri terpaku sejenak di samping ban truk yang setinggi pinggangnya. Dadanya naik-turun dengan irama yang kacau. Napasnya tersengal, mengeluarkan bunyi menciit tipis dari tenggorokan yang terasa sangat kering, seolah-olah ia baru saja menelan segenggam pasir pantai. Ia menyeka pelipisnya menggunakan punggung tangan yang sudah menghitam oleh perpaduan debu karat, oli, dan sisa-sisa semen dari pekerjaan sebelumnya.
Rasa sakit di pergelangan kaki kirinya kini telah berubah karakter. Jika sebelumnya terasa seperti tusukan jarum, kini sensasinya menyerupai bara api yang ditempelkan secara permanen di atas daging yang terbuka. Setiap kali ia mencoba mengatur napas, denyut di kakinya seolah olah ikut berdetak, mengirimkan gelombang panas yang menjalar hingga ke sumsum tulang belakang. Agus mencoba memindahkan tumpuan berat badannya sepenuhnya ke kaki kanan, namun otot paha kanannya sudah mulai bergetar karena kelelahan yang dipaksakan selama berjam-jam.
"Jangan berhenti, Pincang! Truk ini harus penuh dalam tiga puluh menit kalau kamu masih mau pulang bawa uang!" bentakan itu datang dari seorang pria berkaos singlet bolong yang bertugas menata barang di atas bak truk. Suaranya kasar, bersaing dengan suara deburan ombak yang menghantam dermaga di luar sana.
Agus tidak menjawab. Lidahnya terasa terlalu kaku untuk sekadar mengeluarkan satu kata. Ia berbalik perlahan, menyeret kaki kirinya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Sret... sret... sret... Bunyi gesekan telapak sandalnya yang tipis di atas semen gudang terdengar sangat menyedihkan di tengah kesunyian interior gudang yang luas dan pengap. Cahaya dari lampu bohlam yang tergantung di langit-langit setinggi sepuluh meter itu bergoyang-goyang ditiup angin laut yang masuk melalui ventilasi kecil, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding-dinding lembap.
Bau karat besi di dalam gudang ini begitu pekat, seolah olah Agus sedang mengunyah logam. Ia melangkah menuju tumpukan peti selanjutnya di sudut yang lebih gelap. Setiap langkah yang ia ambil adalah sebuah perhitungan matematis yang melelahkan ia harus memastikan kakinya tidak mendarat di atas genangan oli atau kerikil tajam. Ia sampai di depan sebuah peti kayu yang ukurannya tidak terlalu besar, mungkin hanya seukuran kotak perkakas, namun ia tahu dari berat peti-peti sebelumnya bahwa isinya adalah baja murnibsuku cadang mesin kapal yang dilingkupi oleh minyak pelindung.
Agus membungkuk perlahan. Gerakan ini memaksa sendi pergelangan kakinya untuk menekuk pada sudut yang paling menyiksa. Ia memejamkan mata rapat-rapat, giginya beradu hingga rahangnya terasa pegal. Ia meraba celah di bawah peti itu, mencari pegangan bagi jari jarinya yang mulai lecet. Permukaan kayu peti itu kasar, penuh dengan serat-serat tajam yang siap menusuk kulit.
Satu... dua... tiga... angkat!
Agus mengerang tertahan. Suaranya tertelan oleh kebisingan mesin truk di luar. Saat peti itu berpindah ke pundak kanannya, ia merasa tulang belikatnya seolah-olah hendak remuk. Beban itu langsung menekan seluruh persendiannya, memaksa tulang belakangnya untuk melengkung. Ia bisa merasakan urat-urat di lehernya menegang sekeras kawat baja. Pandangannya sempat memutih selama beberapa detik, namun ia memaksakan diri untuk tetap sadar.
Ia mulai melangkah kembali menuju pintu gudang. Jarak dua puluh meter itu terasa seperti perjalanan lintas benua. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan seorang kuli lain pria paruh baya dengan tato naga yang sudah pudar di lengannya yang kekar. Pria itu membawa dua kotak sekaligus di kedua pundaknya dengan langkah yang mantap. Saat mereka berpapasan, pria itu melirik ke arah kaki Agus yang terbungkus kain perban kusam yang kini mulai basah oleh rembesan darah dan keringat.
"Mati kamu kalau terus begini, Nak. Ini tempat buat orang yang punya nyawa cadangan, bukan buat orang pesakitan sepertimu," bisik pria itu tanpa menghentikan langkahnya, suaranya dingin tanpa ada sedikit pun jejak simpati.
Agus tidak menoleh. Ia tidak punya energi untuk tersinggung. Di dunia kuli panggul malam hari, belas kasihan adalah barang langka yang bahkan lebih mahal daripada upah lima ratus ribu rupiah. Siapa yang kuat, dia akan makan besok pagi. Siapa yang lemah, dia hanya akan menjadi beban bagi rekan-rekannya dan sampah bagi mandor.
Agus terus melangkah, matanya terfokus pada titik cahaya lampu di luar gudang tempat truk menunggu. Di dalam benaknya yang mulai linglung karena rasa sakit, ia mencoba memanggil bayangan Nor Rahma. Ia membayangkan wajah wanita itu saat mereka duduk bersama di taman kota. Ia membayangkan kelembutan suara Rahma saat menanyakan kabarnya. Bayangan itu adalah satu satunya pelampung yang menjaga Agus agar tidak tenggelam dalam lautan keputusasaan malam ini.
Rahma, maafkan aku. Tangan yang sekarang sedang mencengkeram kayu berkarat ini adalah tangan yang sama yang ingin membelai jilbabmu nanti, batin Agus sambil menyeret langkahnya yang semakin berat.
Peti keempat mendarat di bak truk dengan suara benturan kayu yang keras. Agus merasakan keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, membuat kaos singlet nya menempel ketat di kulitnya yang lecet. Ia melihat jam dinding besar yang terpasang di kantor gudang yang berkaca buram dan berdebu. Pukul 10.20 malam.
Jantung Agus berdegup. Baru dua puluh menit berlalu sejak ia mulai memindahkan peti pertama, namun rasanya ia sudah bekerja selama satu siklus hidup yang penuh penderitaan. Waktu di pelabuhan lama ini seolah-olah memiliki hukum fisika yang berbeda ia melambat, merangkak, dan sengaja memperpanjang setiap detik rasa sakit yang dialami oleh para pekerja di dalamnya.
Ia kembali masuk ke dalam kegelapan gudang. Kali ini, Bang Kumis berdiri tidak jauh dari tumpukan kardus besar yang dilapisi oleh plastik tebal. Mandor itu sedang menghitung lembaran uang di bawah cahaya lampu senter, asap rokok kreteknya mengepul di udara yang lembap.
"Gus, ambil kardus yang itu! Itu isinya komponen elektronik dari Singapura. Jangan sampai jatuh atau upahmu malam ini aku potong habis untuk ganti rugi!" perintah Bang Kumis tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari uangnya.
Agus mendekati kardus yang dimaksud. Ukurannya lebih lebar dan lebih sulit untuk dipeluk. Ia mencoba mengangkatnya, menaruh beban itu di depan dadanya karena pundak kanannya sudah terlalu perih untuk menahan gesekan lagi. Namun, saat ia baru melangkah tiga meter, bencana itu terjadi. Kaki kirinya tak sengaja menginjak bagian lantai yang sangat licin oleh tumpahan solar yang belum menguap.
Agh!
Keseimbangan Agus hilang seketika. Ia mencoba menumpu dengan kaki kanannya, namun beban kardus yang besar itu menarik gravitasi tubuhnya ke arah yang salah. Agus jatuh berlutut dengan keras. Kardus elektronik itu menghantam lantai semen dengan suara berdebam yang cukup nyaring, menimbulkan gema di seluruh ruangan gudang.
Seketika, suasana gudang menjadi tegang yang mencekam. Pekerjaan kuli lain seolah melambat selama beberapa detik. Bang Kumis langsung menyimpan uangnya ke dalam saku dan berlari menghampiri Agus dengan langkah yang menghentak. Wajahnya yang garang tampak merah padam di bawah cahaya bohlam yang bergoyang. Tanpa peringatan, Bang Kumis mencengkeram kerah kaos Agus yang basah dan menariknya hingga berdiri, memaksa Agus untuk berjinjit dan menahan seluruh rasa sakit di pergelangan kakinya.
"Kamu mau bikin aku rugi, hah?! Sudah aku bilang jangan sampai jatuh! Kamu tahu berapa harga isi kardus ini?!" bentak Bang Kumis tepat di depan wajah Agus. Bau tembakau dan kopi basi dari napas mandor itu menyerbu hidung Agus.
"Maaf, Bang... lantainya licin sekali di sana," ucap Agus parau, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena menahan perih di lututnya yang kini ikut berdarah karena menghantam semen kasar.
Bang Kumis mendorong Agus dengan kasar hingga tubuhnya terbentur pada tumpukan peti kayu di belakangnya. "Satu kali lagi barang itu menyentuh lantai sebelum sampai ke truk, kamu keluar dari sini tanpa uang sepeser pun! Dan jangan harap bisa pulang dengan kaki yang masih utuh kalau kamu berani bikin masalah lagi!"
Agus terengah engah, dadanya terasa sesak seolah olah oksigen di gudang itu telah habis dihirup oleh amarah Bang Kumis. Ia melihat Bang Kumis kembali ke posisinya dengan gerutuan yang tak henti. Teman-teman kuli lainnya hanya menatap sekilas dengan pandangan hampa, lalu kembali memikul beban mereka masing-masing. Di tempat terkutuk ini, Agus menyadari sepenuhnya bahwa ia benar-benar sendirian. Tidak ada yang akan membelanya, tidak ada yang akan membantunya berdiri jika ia jatuh lagi.
Ia meraba pergelangan kakinya yang kini terasa semakin membengkak, kulitnya terasa meregang kencang seolah akan pecah. Rasa panasnya kini sudah menyebar hingga ke tulang kering. Agus mencoba bangkit kembali, menggunakan tumpukan peti di sampingnya sebagai pegangan. Ia memeluk kembali kardus elektronik itu, menekannya kuat ke dadanya, seolah olah kardus itu adalah nyawa bapaknya yang sedang ia lindungi.
Langkahnya semakin melambat, setiap meter terasa seperti satu kilometer pendakian gunung yang terjal. Ia melihat ke arah pintu gudang yang terbuka lebar. Di luar sana, kegelapan pelabuhan tampak begitu pekat dan tak berujung. Hanya suara ombak yang menghantam dermaga yang terdengar konsisten suara alam yang seolah olah sedang menertawakan perjuangan kecil seorang manusia yang tidak punya pilihan.
Pukul 10.45 malam. Satu jam pertama hampir selesai. Agus merasa tubuhnya sudah mencapai batas absolut yang sanggup ia tanggung, tapi ia tahu ia tidak boleh menyerah sekarang. Di dalam saku celananya, ponselnya yang mati terasa dingin, sebuah pengingat bisu akan dunia lain yang bersih, wangi, dan damai, di mana Nor Rahma mungkin sedang menatap langit-langit kamarnya, menunggu balasan pesan dari seorang laki-laki yang saat ini sedang bermandi keringat dan luka di sarang kriminal.
Agus memejamkan matanya sejenak sambil terus menyeret kaki kirinya yang sudah hampir mati rasa. Ia mencium aroma karat, solar, peluh, dan darah yang bercampur menjadi satu. Inilah harga dari lima ratus ribu rupiah yang ia kejar. Inilah harga dari satu malam pengkhianatan terhadap fisiknya sendiri demi memperpanjang napas ayahnya di rumah sakit dan menjaga sedikit martabat yang tersisa di hadapan wanita yang ia cintai. Satu jam telah berlalu, dan masih ada dua jam lagi yang harus ia lalui sebelum fajar menyapa, atau sebelum petugas patroli laut datang merenggut sisa keberuntungan yang sedang ia pertaruhkan malam ini.