Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Langkah Angin!"
"Swosh! Swosh! Swosh!"
Bayangan Hao Qi berkelebat di antara kilatan parang. Setiap kali ia muncul di belakang seorang preman, satu cengkeraman atau satu tepukan keras di titik vital sudah cukup untuk membuat lawannya tumbang.
"Bruk! Brak! Ugh...!"
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, tujuh pria bertubuh kekar itu sudah bergelimpangan di atas lantai beton yang dingin, mengerang kesakitan atau pingsan total. Tak satu pun dari ujung parang mereka berhasil menyentuh ujung baju Hao Qi.
Hao Qi berdiri di tengah lautan tubuh yang tumbang, membersihkan sedikit debu dari bahu jaketnya. Ia menoleh ke arah Gao yang kini berdiri sendirian di dekat mobil van.
"Hahaha!"
"Nah, Paman Gao. Anak buahmu sepertinya kurang latihan. Sekarang tinggal kita berdua. Kau mau pilih pilihan ketigaku tadi?" Hao Qi bertanya dengan senyum cerah.
Gao menggertakkan giginya dengan keras. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia akhirnya menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukanlah manusia biasa.
"Pantas saja Bos Zhao menyuruhku turun tangan secara langsung," Gao berdesis tajam. Ia perlahan melepaskan jaket kulitnya dan membuangnya ke tanah.
Hao Qi menyipitkan matanya sedikit. Pendengarannya menangkap suara detak jantung Gao yang tiba-tiba melambat, namun tarikan napasnya menjadi sangat panjang dan dalam.
"Ini... Sebuah aliran energi?" Hao Qi membatin.
Benar saja. Tubuh Gao perlahan memancarkan hawa yang sedikit berbeda. Otot-otot di lengannya terlihat mengembang tipis, dan urat-uratnya menonjol keluar. Ada lapisan energi yang sangat tipis dan redup melapisi kedua kepalan tangannya.
"Kau memang cepat, Bocah," Gao mengambil kuda-kuda bertarung yang kokoh. "Tapi kecepatan saja tidak cukup melawan praktisi beladiri Qi. Aku sudah melatih Tinju Batu Pemecah Tulang selama sepuluh tahun! Akan kuhancurkan kepalamu!"
"Wush!"
Gao melesat maju. Kecepatannya jauh berbeda dari anak buahnya. Ia tiba di depan Hao Qi dalam satu tarikan napas dan langsung melontarkan pukulan lurus yang mengarah tepat ke dada Hao Qi. Angin dari pukulannya berdesir tajam.
"Hoo... lumayan juga," Hao Qi bergumam pelan.
Ia tidak menggunakan Langkah Angin untuk menghindar. Ia ingin menguji seberapa kuat praktisi Qi di dunia nyata ini dibandingkan dengan dirinya.
Hao Qi menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menangkisnya.
"Brak!"
Pukulan Gao menghantam lengan Hao Qi. Suara benturannya terdengar seperti dua batu besar yang saling beradu.
"Ugh!"
Hao Qi terdorong mundur sejauh dua meter. Sepatunya menggesek lantai beton hingga meninggalkan bekas goresan. Ia menurunkan lengannya yang sedikit kebas.
"Hahaha! Bertenaga sekali, Paman Gao! Tapi sepertinya Qi milikmu masih terlalu tipis," Hao Qi tertawa sambil mengibaskan kedua lengannya. Ia tidak terluka sedikit pun. Tubuhnya yang ditempa Pil tingkat rendah terlalu keras untuk dihancurkan oleh Qi yang belum matang.
Mata Gao terbelalak. Pukulan penuh tenaganya, yang biasanya bisa menghancurkan batu bata, bahkan tidak membuat pemuda ini memuntahkan darah?!
"M-monster macam apa kau ini?!" Gao mulai merasa gentar.
"Giliranku, Paman Gao."
Senyum Hao Qi perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi fokus yang sangat tajam. Energi hangat dari perutnya kali ini tidak mengalir ke kaki, melainkan memusat dengan sangat padat ke lengan kanannya.
Sensasi kesemutan yang familiar merambat ke punggung tangannya. Tulang-tulangnya berderak pelan menahan energi yang ingin meledak.
"Langkah Angin!"
"Swosh!"
Hao Qi melesat ke depan. Di mata Gao, Hao Qi seolah menghilang dan langsung muncul tepat di hadapannya.
"Mati kau!"
Gao berteriak panik, memaksakan seluruh sisa Qi di tubuhnya ke lengan kanannya, melontarkan pukulan terkuatnya untuk menyambut serangan Hao Qi.
"Tinju Guntur."
Hao Qi berbisik pelan, melepaskan tinju kanannya tepat beradu dengan tinju Gao di udara.
"BUM!!!"
Suara ledakan keras memekakkan telinga meledak di tengah pabrik tua itu. Gelombang kejut dari benturan dua energi itu meniupkan debu beton di sekitar mereka.
"KRAAAK!"
"AARRGHHH!!!"
Jeritan histeris yang sangat menyayat hati terdengar bersamaan dengan suara patahan tulang yang mengerikan.
Lengan kanan Gao dari mulai kepalan tangan, pergelangan, hingga sikunya, melintir dan patah di banyak bagian. Tulang putih bahkan menembus keluar dari kulit sikunya akibat daya tolak yang sangat ekstrem. Tinju Guntur milik Hao Qi benar-benar menghancurkan pertahanan Tinju Batu Gao tanpa sisa.
"Bruk!"
Gao terlempar sejauh lima meter, punggungnya menghantam badan mobil van hitam dengan keras hingga penyok. Tubuhnya merosot ke lantai beton, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Uhuk! Uhuk!"
"T-tanganku... lenganku hancur..." Gao mengerang dengan suara bergetar, matanya dipenuhi teror mutlak saat menatap tangan kanannya yang kini berbentuk seperti kain lap yang diperas.
Hao Qi berjalan perlahan mendekati Gao. Asap tipis mengepul dari kepalan tangan kanannya akibat energi Guntur yang menguap. Wajahnya kembali memancarkan senyum ceria yang polos.
"Wah, maaf Paman Gao. Sepertinya aku pakai tenaga terlalu banyak. Aku baru belajar jurus itu sore ini, jadi belum bisa menakarnya dengan baik," ucap Hao Qi dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
Ia berjongkok di depan Gao yang sedang merintih kesakitan. Hao Qi menepuk pipi Gao dengan pelan menggunakan tangan kirinya.
"Sekarang, mari kita kembali ke obrolan kita tadi. Di mana aku bisa menemukan Bos Zhao yang terhormat itu?"
Gao menelan ludah yang bercampur darah. Ia menatap senyum Hao Qi. Di dunia bawah Jiangjing, ia pernah melihat banyak pembunuh berdarah dingin. Tapi pemuda yang tersenyum ceria setelah meremukkan lengan seseorang ini jauh lebih menakutkan daripada iblis.
"A-aku... aku tidak tahu lokasi pastinya..." Gao terbata-bata menahan sakit.
"Oh? Sayang sekali. Padahal tangan kirimu masih utuh." Hao Qi meraih tangan kiri Gao dengan santai.
"T-tunggu! Jangan patahkan! Argh! Aku akan memberitahumu!" Gao menjerit panik. "Bos Zhao jarang berada di satu tempat! Tapi malam ini... malam ini kemungkinan dia sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa kepala distrik Triad di lantai paling atas KTV Naga Emas! Tempat itu adalah markas utama rahasianya!"
Hao Qi melepaskan tangan Gao dan mengangguk puas.
"Lantai paling atas KTV Naga Emas. Cukup dekat dari sini. Terima kasih atas informasinya, Paman Gao."
Hao Qi berdiri.
"L-lalu... kau akan membiarkan kami pergi?" Gao bertanya dengan putus asa.
"Hahaha! Tentu saja."
Hao Qi tertawa renyah.
"Aku ini orang baik. Tapi, kalian semua akan tidur sebentar di sini sampai pagi. Hitung-hitung menemani nyamuk pabrik."
"Wush!"
Hao Qi menendang pelan pelipis Gao, membuat pria itu langsung kehilangan kesadaran menyusul anak buahnya.
Hao Qi berdiri di tengah kegelapan pabrik. Ia menatap ke arah pusat kota Jiangjing di kejauhan, di mana lampu neon gedung-gedung hiburan malam berpendar terang.
Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang sangat dingin dan tajam.
"Bos Zhao... malam ini, Kerajaan Triad-mu akan runtuh."
Hao Qi berbalik dan melesat menggunakan Langkah Angin, meninggalkan pabrik tua itu dalam keheningan malam.