Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BARA DI BALIK LAYAR.
Sinar matahari London yang lembut menyusup melalui jendela ruang makan mansion Henry, menciptakan suasana hangat yang begitu menenangkan. Fardan duduk di kursi makan dengan setelan kasual, wajahnya tampak jauh lebih segar dan tenang dibandingkan beberapa hari yang lalu. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, menemani obrolan ringan keluarga kecil tersebut.
Fardan meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap Henry dengan tatapan hormat. "Ayah, jika diizinkan, saya ingin membawa Alisha dan Ghifari kembali ke Indonesia. Saya sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawab di perusahaan, dan saya ingin memulai hidup baru bersama mereka di sana."
Henry terdiam sejenak, ia menyesap tehnya sebelum menjawab. "Aku memahami tanggung jawabmu, Fardan. Namun, keputusan terakhir ada di tangan Alisha. Dialah yang akan menjalani kehidupan itu, dan dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk batinnya."
Alisha yang sedang menyuapi Ghifari mendadak terhenti. Guratan keraguan muncul di wajah cantiknya. Bayangan masa lalu saat ia diusir dan disiksa secara mental di mansion keluarga Raffansyah kembali melintas seperti film pendek yang menyakitkan. "Aku masih belum siap jika harus kembali ke rumah itu, Fardan. Terlalu banyak luka di setiap sudut ruangannya."
Henry yang menyadari trauma anak angkatnya segera menengahi. "Alisha, Ayah sudah memikirkan hal itu. Ayah memiliki sebuah mansion di Jakarta yang interiornya sangat mirip dengan rumah kita di sini. Itu adalah hadiah pernikahan untuk kalian. Ayah juga ingin kau memegang kendali atas perusahaan cabang kita di Jakarta."
Fardan sempat ingin menolak karena merasa sebagai suami ia harus memberikan tempat tinggal, namun Henry segera memotongnya. "Fardan, anggaplah ini jalan tengah. Memaksanya kembali ke mansion lamamu hanya akan membangkitkan luka. Biarlah tempat baru ini menjadi lembaran putih bagi kalian."
Demi kebahagiaan istri dan anaknya, Fardan akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, Ayah. Saya akan mengikuti saran Ayah demi kenyamanan Alisha."
Sore harinya, jet pribadi milik Henry sudah bersiap di landasan pacu. Perjalanan udara menuju Indonesia terasa sangat berbeda bagi Fardan. Kali ini, tidak ada lagi rasa putus asa atau kesedihan, melainkan harapan yang meluap. Sesampainya di Jakarta, sebuah iring-iringan mobil mewah sudah menunggu mereka. Mereka langsung dibawa menuju kawasan elit di mana mansion hadiah dari Henry berdiri megah.
"Sistem keamanannya luar biasa, Bunda. Aku sudah memeriksa enkripsi gerbangnya, bahkan peretas kelas atas pun akan kesulitan masuk," ucap Ghifari sambil menatap tabletnya saat mobil memasuki halaman rumah yang asri.
Malam itu, suasana mansion terasa sangat hidup. Alisha memilih untuk memasak makan malam sendiri meskipun Henry sudah menyiapkan pelayan yang sangat cekatan. Ia sedang mengaduk sup krim kesukaan Fardan saat sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Fardan, aku sedang memasak. Nanti supnya tumpah," protes Alisha lembut, meski wajahnya merona merah.
Fardan justru semakin mempererat pelukannya dan menyandarkan dagunya di bahu Alisha. "Biarkan saja sebentar. Aku sangat merindukan aroma masakanmu dan suasana seperti ini. Terima kasih, Alisha, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk merasakan surga dunia ini lagi."
Alisha tersenyum, ia membalikkan tubuhnya dan merapikan kerah baju Fardan. "Aku juga merindukan ini. Sekarang duduklah, makanannya hampir siap."
Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat. Ghifari berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan bersedekap di dada, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan menyelidik yang lucu.
"Bunda, kenapa Ayah jadi lebih manja seperti anak kecil?" tanya Ghifari dengan polos namun menohok. "Aku saja yang benar-benar anak kecil tidak semanja itu pada Bunda."
Tawa Fardan dan Alisha pecah seketika. Fardan melepaskan pelukannya dan menghampiri putranya, lalu menggendong bocah itu dengan gemas. "Kau ini protes saja. Ayah hanya sedang menunjukkan rasa sayang pada Bunda."
"Rasa sayang tidak harus membuat Bunda sulit bergerak saat memasak, Ayah. Itu tidak efisien secara mekanis," balas Ghifari dengan gaya bicaranya yang terlalu dewasa untuk usianya.
Makan malam berlangsung dengan penuh tawa. Fardan merasa hidupnya kembali utuh. Namun, ketenangan itu terusik saat mereka baru saja selesai makan. Fardan berniat membawa Ghifari ke kamar untuk menemaninya tidur sebentar, namun ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Nama Dewa muncul di layar. Fardan segera mengangkatnya, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang mendesak.
"Halo, Dewa. Ada apa?" tanya Fardan dengan nada serius.
"Tuan, maaf mengganggu waktu Anda, tapi keadaan di perusahaan induk sedang kritis. Beberapa aset besar kita bermasalah secara hukum dan administratif," lapor Dewa di seberang telepon dengan suara yang terdengar panik.
Fardan mengernyitkan dahi. "Bagaimana bisa? Siapa yang berani menyentuh aset-aset itu saat aku tidak ada?"
"Setelah saya selidiki melalui jalur belakang, ternyata ada pengalihan dana besar-besaran. Otak di baliknya adalah paman Anda sendiri, Tuan Rendra, adik dari Ibu Ratna," jawab Dewa lirih.
Wajah Fardan seketika mengeras. Ia tidak menyangka bahwa setelah ia membereskan ibu dan kakaknya, kini justru sang paman yang mencoba menusuknya dari belakang. Pengkhianatan keluarga seolah tidak ada habisnya mengejar hidupnya.
"Terus pantau pergerakannya, Dewa. Jangan lakukan tindakan gegabah sebelum aku sampai di kantor besok pagi," perintah Fardan sebelum menutup teleponnya.
Alisha yang menyadari perubahan ekspresi suaminya mendekat dengan cemas. "Ada apa, Fardan? Apakah ada masalah serius?"
Fardan mencoba tersenyum untuk menenangkan Alisha, meski matanya memancarkan amarah yang tertahan. "Hanya masalah kecil di kantor, Sayang. Paman Rendra sepertinya mencoba bermain-main dengan aset perusahaan. Tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kedamaian kita kali ini."
Ghifari yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu kamar perlahan membuka tabletnya. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. "Paman Rendra? Oh, jadi dia orangnya. Dia baru saja mengirim email terenkripsi ke sebuah bank di luar negeri," gumam Ghifari pelan.
Bocah itu menatap ayahnya yang sedang berbicara dengan ibunya. Ghifari tahu ayahnya akan bertindak tegas, namun ia memutuskan untuk memberikan bantuan kecil secara rahasia. Dengan beberapa ketukan, Ghifari berhasil masuk ke dalam sistem pribadi paman Ayahnya itu dan mulai mengunduh semua bukti kecurangan yang ada.
"Selamat datang di dunia nyata, Ayah. Biar aku bantu membereskan tikus-tikus ini agar Bunda tidak perlu merasa cemas lagi," bisik Ghifari sambil tersenyum miring, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Fardan saat sedang merencanakan sesuatu yang besar.
Malam yang seharusnya penuh ketenangan itu kini mulai diselimuti oleh awan gelap konflik baru. Fardan menyadari bahwa untuk melindungi keluarga kecilnya, ia harus kembali menjadi singa yang tak kenal ampun di dunia bisnis. Namun kali ini, ia tidak lagi berjuang sendirian. Ia memiliki Alisha sebagai kekuatannya, dan seorang putra jenius yang siap melindunginya dari balik layar digital
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya