NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElleaNeor

Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.


Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.


Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.


Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.


Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Nenek Lampir

Arsen terdiam.

Yang dikatakan oleh Rose benar. Selama ini Arsen tidak pernah melihat Rose melakukan hal di luar batas, jangankan melukai, melawan ibunya dan Alexa saja tidak berani.

Tetapi Arsen juga tidak bisa mengabaikan ucapan ibu dan adiknya. Mereka berani bicara demikian juga pasti tanpa alasan.

Yvone menatap Arsen, pria ini memang sangat tampan. Pantas saja Renata selalu menempel padanya. Yvone menggeleng pelan, bukan saat memikirkan hal itu.

“Suamiku, kau harusnya berpikir, selama ini Ibu dan Adik Ipar tidak menyukaiku, bisa saja itu akal-akalan mereka untuk membuatmu semakin membenciku,” ujar Yvone. Ia berusaha mengubah suaranya menjadi selembut mungkin.

Mendengar itu, Brighita dan Alexa membulatkan matanya. Tidak terima dengan apa yang dikatakan Yvone.

“Arsen, itu tidak benar. Apa kau ingat setelah dia bangun dari mati suri? Dia juga memelintir tanganmu, hal itu juga yang dia lakukan padaku,” sela Brighita.

Ingatan Arsen terlempar pada beberapa hari yang lalu. Benar juga yang dikatakan oleh ibunya. Tidak hanya itu, Arsen juga merasakan keanehan lain terjadi pada istrinya.

“Kak Arsen, dia juga baru saja mencekik leherku,” adu Alexa lagi sembari mendongak, menunjukkan area lehernya yang memerah.

Yvone melirik sekilas ke arah gadis itu. Benar saja, lehernya memerah akibat cekikan yang ia berikan. Yvone merasa kesal, harusnya ia mencekik sampai mati sekalian.

“Rose, apa benar yang dikatakan oleh Mama dan Alexa?” cecar Arsen.

Yvone memutar bola mata, benar-benar keluarga penuh drama. Sangat membosankan, meski begitu, Yvone terlanjur masuk dalam keluarga ini. Jadi ia harus tetap menjalankan perannya.

Bergelut dengan pikirannya sendiri, Yvone akhirnya menjawab, “Sekalipun aku berkata jujur, percuma saja, suamiku lebih mempercayai ibu dan adiknya.”

“Katakan saja, aku akan mendengarkan apa yang kau katakan,” ujar Arsen.

Renata yang berdiri di belakang Arsen, segera mendekat kemudian membisikkan sesuatu. “Arsen, sudahlah. Kau jangan terlalu menekan istrimu, dia baru saja bangkit dari kematian, mentalnya masih sedikit terganggu.”

Mendengar itu, Yvone membulatkan mata. ‘Wanita ini benar-benar pandai bicara,’ batin Yvone.

“Kak Renata, kenapa kau membela wanita gendut ini. Dia hampir saja membunuhku!” seru Alexa.

Yvone mengepalkan tangannya ketika mendengar sebutan untuknya. Sungguh, bila ini di dunianya, ia sudah mengambil nyawa Alexa dengan cara yang paling menyakitkan. Mengambil bola matanya atau bahkan mengulitinya.

Sialnya ini bukan dunianya, dan ia terjebak di tubuh jelek dan lemah ini.

‘Benar-benar menyebalkan!’

“Alexa, aku yakin Kakak iparmu pasti tidak sengaja,” tegur Renata dengan senyum hangatnya.

Yvone melihat itu, meski terlihat tersenyum, tetapi ia yakin wanita itu menyembunyikan sesuatu di baliknya. Renata tidak sebaik yang ditunjukkannya.

“Yang dikatakan Nona Renata benar,” sahut Yvone. Ia lantas mendekat ke arah suaminya. “Suamiku, kau pasti mempercayai Nona Renata ‘kan?”

Arsen tidak menjawab, melainkan fokus memperhatikan wajah istrinya. Tidak ada yang berubah, hanya saja make upnya terlalu mencolok.

Yvone lantas menatap Renata, “Terima kasih, Nona Renata karena sudah membelaku. Karena kalian baru pulang, sebaiknya beristirahat.”

Setelah mengatakan itu, Yvone lantas berbalik, melangkah menuju ke arah tangga.

“Hei, kau mau ke mana?”

Suara Brighita menghentikan langkahnya. Ia lantas memutar kepalanya ke belakang. “Ada apa lagi?”

“Suamimu baru saja pulang, kau harusnya menyambutnya dan membawakan tasnya.”

Yvone terdiam. Ia tidak tahu bila ada rutinitas semacam itu. Detik selanjutnya, Yvone kembali menghampiri Arsen, lalu meraih tas kerja.

“Biar aku bawakan!” Yvone kembali melangkah cepat menuju kamar.

Sementara Renata terdiam sejenak. Ia memandang punggung Rose yang mulai menjauh.

“Sejak kapan dia memanggilku Nona?”

Yvone melangkah menuju kamar Arsen. Seperti yang dikatakan oleh Sui, bahwa dirinya dan Arsen telah tidur terpisah. Dan yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Rose menyetujuinya?

Yvone memasuki kamar, tidak ada yang mewah di kamar ini, ruangan cenderung monoton karena tidak ada pajangan apa pun. Hanya ada satu bingkai yang diletakkan di atas nakas. Yaitu, foto pernikahan.

Yvone terdiam melihatnya, entah mengapa ia merasa jantungnya berdegup kencang.

‘Perasaan macam apa ini?’ batin Yvone.

“Letakkan saja di situ, Rose,” ucap Arsen yang seketika menyadarkan Yvone.

Yvone lantas meletakkan tas di atas kasur kemudian meninggalkan kamar Arsen tanpa sepatah kata pun. Dan itu membuat Arsen keheran.

Biasanya, wanita itu akan sibuk melayani dirinya saat pulang dari perjalanan bisnis. Membereskan kamar, mengganti seprai dan juga menyiapkan air mandi.

Arsen melihat seprai di ranjang. Masih sama seperti terakhir kali.

“Ada apa dengannya?”

Keluar dari kamar Arsen, Yvone disambut oleh Sui.

“Apa Nyonya sudah menyiapkan air mandi untuk Tuan?”

Pertanyaan Sui membuat Yvone menoleh, “Memangnya aku harus melakukan itu?”

Sui terperangah. “Nyonya, biasanya Anda sendiri yang berinisiatif melakukannya,” balas Sui. “Atau Anda ingin Nona Renata yang melakukannya?”

“Ya biarkan saja,” ucap Yvone acuh tak acuh.

“Nyonya, biasanya Anda yang mengurus semua keperluan Tuan. Saya yakin Tuan pasti akan kesusahan memilih pakaian ganti,” kata Sui lagi.

Mata Yvone terpejam sejenak. Banyak sekali rutinitas di rumah ini yang ia tidak tahu. Terutama menyangkut masalah Arsen. Tetapi jika dipikir, itu hanya masalah sepela saja. Dan Yvone tidak perlu turun tangan.

“Dia sudah dewasa, biarkan dia mandi sendiri dan berganti pakaian sendiri. Ayo kita kembali berolahraga!” ajak Yvone.

Karena Yvone sudah berkata begitu, maka Sui tidak bisa lagi membantahnya.

Hari mulai gelap, Yvone kembali ke kamar setelah seharian berolahraga. Hari ini ia cukup puas karena tubuhnya sudah mulai terbiasa dengan gerakan-gerakan cepat. Keringat yang dikeluarkannya pun mengucur deras. Yvone berharap usahanya tidak sia-sia.

Selesai mandi, Yvone hendak mengenakan pakaian. Namun aktivitasnya terhenti oleh kehadiran seorang pelayan.

“Hei, kenapa kau tidak ketuk pintu dulu?” protes Yvone.

“Maaf, Nyonya, makan malam sudah siap. Tapi sebelum itu, Anda harus meminum obat terlebih dahulu.” Pelayan itu menyodorkan nampan kecil berisi dua butir obat dan segelas air putih.

Rahang Yvone mengeras. ‘Ini pasti ulah si Nenek Lampir itu,’ batin Yvone. Ia segera mendekati pelayan itu lalu berkata, “Aku tidak mau!”

Suara Yvone menggema di ruangan, membuat pelayan di hadapannya seketika ciut. “Ta-tapi…Nyonya…”

“Sudah kubilang ‘kan? Aku tidak mau!” teriak Yvone.

“Ada apa ini?” Suara bariton seorang pria menarik atensi Yvone.

Arsen memasuki kamar. Pria itu terlihat tampan dengan kemeja lengan pendek, dan celana panjang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sepertinya pria itu juga baru selesai mandi. Aroma parfumnya sangat kuat, menggoda kesadaran Yvone.

“Tuan, Nyonya menolak minum obat,” kata pelayan.

“Kau keluarlah, biar aku yang bicara pada Nyonya,” kata Arsen.

Pelayan itu pun mengangguk dan segera meninggalkan kamar. Tinggallah Yvone dan Arsen berada di dalam kamar tersebut. Ruangan menjadi sangat hening. Dan detik itu juga Yvone merasakan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat.

1
Anita Rahayu
upnya yg double dan panjang👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Rai Gojess
beri pengajaran dulu sama keluarga hama itu
Etty Rohaeti
lelaki ga bisa tegas tinggalkan saja
Rai Gojess: bikin geram ni cerita, malas mau bagi hadiah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Tata Hayuningtyas
kelamaan pembalasan nya...ga sat set sat set
Heni Mulyani
lanjut
Tiara Bella
drama bngt....
Lyvia
sumpah gemesQ pingin tak cakar2 tu muka mereka, gsa kelamaan yvone kasih pelajaran aj mereka agar bisa menghargaimu apalagi suamimu yg lemah it 🤬🤬🤬
Ma Em
Yvone buat hukuman untuk Mereka yg sdh memecat Sui asisten setiamu , beri hukuman untuk Brighita , Renata begitu si Arsen yg plin plan itu mau saja disetir sama ibu dan adiknya buat mereka menyesal .
Evi 060989
up
Ma Em
Bagus Rose kamu hrs tegas dan balas semua perbuatan mereka yg selalu merendahkan dan menghina kamu dulu waktu jiwa Rose yg asli .
Sribundanya Gifran
lanjut
Evi 060989
up
Evi 060989
up lg
Rai Gojess
cerai cerai cerai cerai....
Tiara Bella
sui kemana ya apa dia dipecat....
Lyvia
dasar keluarga lucnut semua 😡
Evi 060989
up lg
Dewi Anjani
arsen ga ada tegas2nya,,mau aja di setir sama ibunya
Dewi Habibah
ceritanya bagus
Tiara Bella
akhirnya Rose pulang jg dan menemui Arsen sang suami....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!