NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Halo, Bella

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun matahari tetap muncul seperti hari-hari lain. Bella terbangun lebih awal, bukan karena ingin, tapi karena tidurnya memang tidak pernah benar-benar lelap semalaman. Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, membiarkan dirinya diam sejenak sebelum berdiri.

Dominic masih ada di kamar.

Jarang.

Pria itu duduk di sisi lain ranjang, menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Alisnya sedikit berkerut, seolah sedang membaca sesuatu yang cukup serius.

Bella tidak langsung menyapa. Ia hanya berdiri, memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan.

Beberapa detik kemudian, Dominic berdiri, berjalan ke arah kamar mandi tanpa berkata apa-apa. Ponselnya masih ada di tangannya.

Sampai akhirnya pintu kamar mandi tertutup.

Dan untuk pertama kalinya…

Ponsel itu tertinggal di atas meja.

Bella menatapnya.

Diam.

Tidak bergerak.

Namun pikirannya tidak bisa berhenti.

Ada jarak kecil antara dirinya dan benda itu. Hanya beberapa langkah. Tidak sulit. Tidak juga mustahil.

Tangannya perlahan mengepal.

Ia tahu ini salah.

Ia tahu ini bukan dirinya.

Namun sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang sudah ia tahan sejak lama—mulai mendesak keluar.

Perlahan, Bella melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan meja.

Ponsel itu tergeletak di sana, layar gelap, tampak tenang. Namun bagi Bella, benda itu terasa seperti sesuatu yang hidup.

Menyimpan jawaban.

Atau mungkin… menyimpan luka.

Bella menarik napas dalam.

Lalu, dengan gerakan yang hampir tidak terasa, ia menyentuh layar itu.

Layar menyala.

Tidak terkunci.

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap. Seolah tidak percaya bahwa semuanya semudah ini.

Namun waktu tidak banyak.

Bella menelan ludah, lalu membuka aplikasi pesan.

Nama itu langsung terlihat.

Diana.

Percakapan mereka berada di paling atas.

Jari Bella terasa dingin saat ia menyentuhnya.

Dan dalam satu detik…

Dunia yang selama ini ia coba jaga… runtuh begitu saja.

Pesan-pesan itu tidak panjang.

Tidak juga berlebihan.

Namun cukup.

Cukup untuk membuat semuanya jelas.

“Kamu tadi kenapa nggak lama?”

“Aku kangen kamu yang dulu.”

“Jangan terlalu dingin sama aku, Dom.”

Bella menahan napas.

Matanya bergerak cepat, membaca satu per satu.

Balasan Dominic tidak banyak.

Singkat.

Namun tidak pernah menolak.

“Aku lagi sibuk.”

“Jangan mulai.”

“Nanti aku hubungi.”

Tidak ada kata “berhenti”.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada batas.

Dan itu… lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

Bella menggigit bibirnya pelan.

Tangannya mulai bergetar.

Namun ia belum berhenti.

Ia menggulir ke atas.

Dan di sanalah ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya benar-benar kaku.

Sebuah foto.

Tidak vulgar.

Tidak juga terlalu jelas.

Namun cukup.

Dominic dan Diana.

Duduk berdekatan.

Terlalu dekat.

Dengan senyum yang… tidak pernah Bella lihat ditujukan padanya.

Bella menutup layar ponsel itu dengan cepat.

Napasnya terasa sesak.

Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bergerak.

Tidak bisa berpikir.

Hanya berdiri di tempat, memegang sesuatu yang baru saja menghancurkan dunianya.

Suara air dari kamar mandi masih terdengar.

Dominic masih di dalam.

Dan Bella…

Harus memutuskan dalam hitungan detik… akan menjadi apa setelah ini.

Perlahan, ia meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.

Rapi.

Seolah tidak pernah disentuh.

Ia mundur satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Sampai akhirnya kembali berdiri di posisi awal.

Saat pintu kamar mandi terbuka, Bella sudah duduk di kursi, membelakangi meja. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Dominic keluar sambil mengeringkan rambutnya. Ia melirik sekilas ke arah Bella, lalu mengambil ponselnya tanpa curiga.

“Aku ada meeting pagi ini,” katanya singkat.

Bella mengangguk.

“Iya.”

Hanya itu.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada apa-apa.

Dan justru itu… yang membuat Dominic menoleh sedikit lebih lama dari biasanya.

Namun Bella tidak menatapnya.

Ia hanya duduk diam.

Seolah tidak ada yang berubah.

Hari itu berjalan lambat.

Terlalu lambat.

Bella menghabiskan waktu di rumah, tapi tidak benar-benar melakukan apa-apa. Pikirannya terus kembali ke hal yang sama. Kata-kata itu. Foto itu. Nada percakapan yang terasa begitu… akrab.

Ia mencoba menangis.

Namun air mata itu tidak keluar.

Seolah hatinya sudah terlalu lelah untuk bereaksi.

Menjelang sore, ponsel Bella berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia ragu sejenak sebelum mengangkat.

“Halo?”

“Halo, Bella.”

Suara itu langsung ia kenali.

Diana.

Bella terdiam sejenak.

Namun kemudian menjawab, “Iya.”

“Aku ganggu nggak?”

Nada suaranya santai. Ringan. Seolah mereka adalah teman lama.

Bella menatap kosong ke depan.

“Enggak.”

Diana tertawa kecil di ujung sana.

“Aku cuma mau bilang… jaga Dominic baik-baik ya.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan.

Namun terasa seperti tamparan.

Bella menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

“Maksudnya?”

“Dia itu gampang bosan,” lanjut Diana, masih dengan nada yang sama. “Dari dulu juga begitu.”

Bella menutup matanya sebentar.

Menahan sesuatu yang mulai naik ke permukaan.

“Kalau nggak dijaga…” suara Diana sedikit merendah, “bisa diambil orang lain.”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Bella membuka matanya.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi kosong.

Namun juga tidak marah.

Lebih seperti… sadar.

“Kalau memang mudah diambil,” ucap Bella pelan, “berarti dari awal dia bukan milikku.”

Diana terdiam.

Untuk pertama kalinya.

Bella melanjutkan, suaranya tetap tenang.

“Dan aku tidak tertarik mempertahankan sesuatu yang tidak pernah benar-benar memilihku.”

Tanpa menunggu jawaban, Bella menutup telepon.

Tangannya sedikit gemetar.

Namun wajahnya tetap tenang.

Sangat tenang.

Malam itu, Dominic pulang seperti biasa.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Bukan dari dirinya.

Tapi dari Bella.

Wanita itu tidak menyambutnya.

Tidak juga menghindar.

Ia hanya ada.

Duduk di ruang tengah, membaca buku yang tidak benar-benar ia baca.

“Bella.”

Dominic memanggil.

Bella menoleh.

“Iya?”

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya…

Dominic merasa sesuatu yang aneh.

Bukan dingin.

Bukan marah.

Tapi… jarak.

Yang tidak bisa ia jelaskan.

“Kamu… baik-baik saja?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana.

Namun terlambat.

Bella tersenyum tipis.

“Iya.”

Jawaban yang sama.

Namun maknanya… tidak lagi sama.

END BAB 6

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!