IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Anin yang masih kesal, membanting pintu mobil dengan keras. Gimana nggak kesal kalau di hari pertama jadian, di hari itu juga ia harus menghadapi para mantan pacarnya.
Naufal yang baru duduk langsung melirik. "Waduh… ini pintu mobil yang salah apa ya, Yang?"
Anin meliriknya dengan malas, lantas melipat tangan di dadanya. "Mestinya yang di banting itu kamu!" bentaknya.
Naufal menoleh, "Dih galaknya. Jadi pengen di banting sama kamu Yang. Pasti bakal seru tuh, aku di bawah kamunya di atas." ujarnya sambil menyeringai."when ya...?"
"Ngimpi?!" Anin menoleh tajam. "Pantesan mantan kamu banyak, kelakuan kayak gini."
"Loh, kok nyerempet ke situ lagi?" Naufal pura-pura kaget. "Itu kan masa lalu, sayang. Masa lalu itu untuk dikenang, bukan diungkit."
Anin mendengus. "Dikenang sama kamu mungkin. Soalnya kan stoknya banyak."
Naufal ketawa kecil, entah kenapa ia merasa senang melihat Anin memarahi-nya begini."Ya gimana ya, yang ngantri juga banyak." ujarnya pongah.
"Najis banget sih kamu."timpal Anin.
"Eh tapi yang paling depan sekarang siapa?" Naufa sengaja melirik, tapi Anin langsung buang muka.
"Ogah bangga." tutur Anin kesal. Namun Naufal tetap tersenyum mendengarnya.
Mobil pun berjalan pelan keluar parkiran. Dan kini siap menembus jalan raya.
"Eh tapi serius deh, kamu nggak kepikiran gitu? Tadi kalau kamu marah dikit, terus aku belain kamu… kan seru." ujar Naufal sabil menaik turunkan kedua alisnya.
Anin langsung menoleh cepat. "Seru apaan?! Ini tuh hidup, bukan sinetron!" pekiknya.
"Ya...siapa tahu kan, rating naik." timpal Naufal.
"Hih, bisa-bisanya kamu punya pikiran begitu. Inget kamu tuh dokter, masa nggak malu sama profesi?" imbuh Anin dengan mata melotot.
Naufal langsung angkat tangan. "Iya, iya. Ampun Bu Manajer." dan Naufal semakin yakin, bahwa Anin adalah Albie versi cewek. Dan karna itu juga dia semakin yakin kalau ia tidak akan melepas Anin begitu saja, karna ia sadar dalam hidupnya ia butuh orang seperti Albie untuk mengerem semua kebiasaan buruknya. Dan ia bersyukur telah di pertemukan dengan pacarnya itu.
Anin menghela nafas, "Capek tau nggak sih," gumamnya.
Naufal segera menoleh, "Capek, kenapa sayang?"
"Capek harus ketemu arsip berjalan kamu di mana-mana. Ini tuh hari pertama kita jadian, tapi apa? Aku justru di paksa buat ngladenin cewek-cewek yang masih belum move dari kamu." terang Anin dengan kesal.
Naufal langsung nyengir. "Arsip berjalan… keren juga istilahnya." timpalnya, sambil mengangguk-angguk.
"Lucu ya?" Anin menatap datar.
"Enggak sih… malah serem." timpal Naufal.
Anin memutar bola matanya."Terserah!" ucapnya malas.
"Tapi ya gimana, Yang. Itukan sebelum aku kenal kamu." lanjut Naufal, nada mulai lebih serius tapi masih santai.
"Masalahnya bukan sebelum atau sesudah." timpal Anin.
"Terus?"
Anin menatap lurus ke depan. "Masalahnya… kamu tuh keliatan nyaman banget punya banyak kenangan."
Naufal diam sebentar.
Lalu…
"Ya masa aku harus pura-pura amnesia?"
Anin langsung nengok. "Minimal jangan bangga!" bentak nya. Hingga Naufal pun terkejut.
"Oke, itu salah,"Naufal langsung angkat tangan lagi.
"Aku terlalu keren soalnya, jadi susah direndahin." tuturnya.
Anin refleks nyubit lengan Naufal. Sudah sangat muak dengan segala kepongahan pacarnya.
"Aduh! Ih sakit, Yang!" keluh Naufal yang meringis kesakitan. "Kamu tuh, love language kamu begini ya? Wah kamu punya bibit psikopat ternyata."Imbuhnya.
"Biar kamu tahu rasa!" bentak Anin, dengan mata mendelik kesal.
Naufal meringis, tapi kemudian malah tertawa.
"Aku tuh bukan cemburu sama mereka, Aku cuma nggak mau jadi salah satu dari list panjang kamu itu." tutur Anin pelan.
Naufal langsung menoleh. "Eh, siapa bilang kamu sama dengan mereka? nggak akan, kamu itu beda. Dan kamu bisa pegang omongan aku. Karna sebanyak aku bertemu sama mereka, aku nggak pernah kepikiran buat hidup lama dengan ikatan pernikahan. Tapi sama kamu, aku pengen kita nikah, punya anak, membangun keluarga kecil kita sampai nanti kita sama-sama tua." terang Naufal yang terdengar sangat serius dan menggebu-gebu.
Mendengar ucapan Naufal harusnya Anin merasa senang, tapi entah kenapa di hatinya justru merasa khawatir. Apa yang di khawatirkan Anin?
Tentu saja dengan keadaan keluarganya, karna sejauh ini Naufal tidak pernah tahu bagaimana keadaan keluarganya. Lantas Anin pun berfikir, kalau Naufal tahu dari latar belakang seperti apa ia berasal apa mungkin laki-laki ini masih menggebu-gebu untuk tetap menikahinya? Entahlah, Anin sendiri tidak tahu jawabannya. Dan itu semakin menambah kekhawatiran di hatinya.
"Sayang, kenapa diem?" tanya Naufal penasaran.
Anin menggeleng, ia masih belum punya nyali untuk menceritakan semuanya. Pasalnya ia masih belum siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Bisa saja setelah ini ia di tinggalkan, lagian siapa juga yang mau bertahan dengan perempuan berlatar keluarga berantakan–pikirnya.
Naufal menoleh lagi padanya, ia bukan pria bodoh. Ia sudah cukup banyak pengalaman mengahadapi mood para perempuan. Dengan mudah Naufal menebak, bahwa kini Anin tengah dalam kekhawatiran. Masalahnya ia tidak cukup pintar untuk menebak penyebab kekhawatiran itu. Lantas ia pun berinisiatif untuk menghibur kekasihnya itu.
"Sayang, kamu laper nggak? Kita makan di restoran itu yuk!" Ajak nya.
Anin menoleh ke arah restoran yang Naufal tunjuk. Restoran Padang yang masakannya selalu membuat Anin selera. Lantas ia pun mengangguk setuju.
"Ya udah yuk kita makan!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍