NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 30: Defisit Imunitas

​Tubuh manusia itu sebenarnya mirip dengan mesin operasional pabrik. Kalau kamu paksakan berjalan di atas batas maksimal kapabilitasnya tanpa jadwal maintenance yang jelas, mesin itu pasti akan mengalami system crash. Tumbang.

​Dan Sabtu pagi ini, mesin bernama Nara Kusuma resmi mogok kerja.

​Aku membuka mata, atau setidaknya mencoba membuka mata. Kelopakku terasa seberat beton. Suhu di dalam kamarku yang biasanya sejuk kini terasa seperti simulasi padang pasir. Kepalaku berdenyut hebat seakan ada orang yang sedang memukul-mukul paku di dalam pelipisku. Dan tenggorokanku... rasanya seperti baru saja menelan segenggam pecahan kaca.

​Alarm di ponselku berbunyi nyaring pukul 05:30. Dengan sisa tenaga yang ada, aku meraba nakas, mematikan alarm itu, lalu kembali meringkuk di balik selimut tebal.

​Nggak sanggup. Hari ini libur narik data, batinku pasrah.

​Entah berapa lama aku kembali pingsan dalam tidur yang gelisah. Samar-samar, aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Tidak merespons, aku hanya mengerang pelan dan menarik selimut hingga menutupi kepala.

​Suara kenop pintu diputar. Pintu berderit terbuka.

​Langkah kaki yang tegas dan teratur memasuki kamarku, berhenti tepat di samping ranjang.

​"Nara. Ini sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Anda melewatkan jadwal asupan pagi," suara bariton Rayan yang berat dan formal memecah keheningan. "Apakah Pihak Kedua bermaksud melanggar kesepakatan barter logistik harian kita?"

​Aku menyibakkan sedikit selimut dari wajahku. Mataku menyipit menahan silau lampu kamar yang baru saja dinyalakan olehnya. Rayan berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja polo dan celana chino, menatapku dengan dahi berkerut tajam.

​"Nggak usah bawa-bawa Pihak Kedua segala deh pagi-pagi," suaraku keluar serak dan parau, nyaris seperti suara kakek-kakek perokok berat. "Aku lagi error. Mesinku rusak. Ganti aja telurnya sama sereal hari ini. Aku mau tidur."

​Rayan tidak bergerak. Matanya yang tadinya memancarkan kekesalan karena rutinitasnya terganggu, kini berubah drastis saat memindai wajahku.

​"Wajahmu pucat pasi dan bibirmu kering," komentar Rayan. Ia maju satu langkah. Tanpa meminta izin, punggung tangannya yang besar dan dingin menempel di keningku.

​Aku refleks berjengit mundur, tapi sentuhannya terlalu nyaman di tengah suhu tubuhku yang mendidih ini.

​"Suhu tubuhmu jauh di atas batas normal. Kamu demam tinggi," vonis Rayan, nada suaranya seketika berubah tegang. Tangan pria itu segera menjauh dari keningku, beralih merogoh ponsel dari saku celananya.

​"Saya akan menghubungi Kepala Departemen Penyakit Dalam di Rumah Sakit Medistra. Ambulans VIP Adristo Group bisa tiba di lobi bawah dalam waktu kurang dari lima belas menit."

​Aku langsung membelalakkan mata. Rasa pusingku serasa dikalahkan oleh rasa syok mendengar ide gilanya.

​"Rayan, stop! Sumpah deh, kamu tuh lebay banget!" cegahku dengan sisa suara yang ada, memaksakan diri setengah duduk. "Ini cuma demam biasa gara-gara kecapean. Radang tenggorokan. Nggak usah panggil dokter spesialis segala, apalagi ambulans VIP! Dikira aku kena wabah zombie?!"

​Rayan menghentikan jemarinya di atas layar ponsel, menatapku dengan tatapan tidak setuju yang sangat kental. "Demam tinggi bisa menjadi indikasi infeksi virus yang membahayakan fungsi organ. Sebagai Pihak Pertama, saya bertanggung jawab atas keselamatan fisik Anda selama kontrak berlangsung. Tindakan medis preventif adalah keharusan."

​Aku memutar bola mata hingga rasanya mau copot. Menghadapi control freak ini saat sedang sakit ternyata jauh lebih menguras tenaga.

​"Terserah apa kata SOP kamu, tapi aku nggak mau dibawa ke rumah sakit," tolakku keras kepala. "Aku cuma butuh obat penurun panas warung, air putih yang banyak, sama tidur seharian. Udah, itu aja. Nggak usah dibikin ribet, Pak CEO."

​Rayan menatapku tajam, seolah sedang mengkalkulasi tingkat risiko dari keras kepalaku. Setelah beberapa detik adu tatap yang melelahkan, ia akhirnya menurunkan ponselnya.

​"Baik. Jika Anda menolak intervensi rumah sakit, saya yang akan membawa fasilitas medis itu ke sini," putusnya dengan otoritas absolut.

​Sebelum aku sempat protes lagi, Rayan sudah berbalik dan melangkah keluar dari kamarku dengan cepat.

​"Terserah deh. Yang penting jangan panggil dokter bedah ke sini," gumamku pasrah, kembali menjatuhkan kepala ke bantal dan memejamkan mata.

​Di tengah pening yang berputar, otak analitisku sempat mencatat satu anomali kecil.

​Sejak kapan aku berbicara sesantai dan sekurang ajar itu padanya? Kalau dipikir-pikir, beberapa bulan lalu aku masih menyusun kalimat dengan struktur formal yang sangat kaku setiap kali berhadapan dengannya. Aku menata intonasi layaknya staf kepada dewan direksi, memastikan tidak ada satu pun kata kasual yang melewati batas 'Pihak Kedua yang profesional'.

​Tapi barusan? 'Lebay', 'ribet', 'nggak usah'. Aku membuang semua filter birokrasi itu ke tempat sampah begitu saja.

​Dan yang lebih tidak masuk akal... Rayan menerimanya. Pria tiran yang bisa memecat manajer level atas hanya karena salah format presentasi itu, menelan semua omelan bahasa tongkrongan kasualku tanpa mengancam akan membatalkan kontrak satu miliar kami. Garis demarkasi profesionalitas di antara kami benar-benar sudah hancur lebur tanpa aku sadari.

​Tapi karena suhu tubuhku saat ini sedang mendidih, aku memutuskan bahwa aku terlalu lelah untuk membedah fenomena psikologis itu sekarang.

​Empat puluh menit kemudian, kamarku mendadak berubah menjadi instalasi farmasi mini.

​Daniel, asisten yang sepertinya tidak punya hari libur itu, masuk membawa dua tas belanjaan besar berlogo apotek premium dan restoran bintang lima. Wajahnya terlihat prihatin, namun gerakannya tetap efisien layaknya robot.

​"Selamat pagi, Nyonya Nara. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda," sapa Daniel sopan, meletakkan barang-barang itu di atas nakas. "Bapak Rayan menginstruksikan saya untuk membawa supply medis tingkat satu. Ini ada termometer infrared dengan tingkat akurasi klinis, obat penurun panas impor yang aman untuk lambung, sirup radang tenggorokan, dan hydro-gel patch untuk kompres."

​Aku hanya bisa menatap nanar tumpukan barang mahal itu. "Niel... aku cuma minta parasetamol warna merah yang harganya dua ribuan per strip. Ini semua harganya bisa buat modal buka warung."

​"Sebagai tambahan," Daniel mengabaikan keluhanku dan mengeluarkan sebuah mangkuk porselen tertutup dari tas lainnya. "Ini bubur abalon organik dengan kaldu ayam kampung murni dari restoran Pearl. Suhu penyajiannya masih optimal. Bapak Rayan meminta Anda mengonsumsi ini sebelum meminum obat."

​Aku menghela napas panjang, kepalaku semakin berdenyut melihat kelebihan kapasitas logistik ini.

​"Bilang sama bosmu, bubur abalon segala macam ini rasanya bakal hambar juga di lidah orang sakit. Duitnya mending dipakai beli bubur ayam gerobak di depan gang, sisanya bisa buat nraktir satpam se-gedung ini," gerutuku sambil berusaha duduk bersandar pada headboard ranjang.

​"Komentar Anda sudah saya catat, Nyonya. Namun instruksi Bapak Rayan bersifat mutlak," jawab Daniel sambil membungkuk sopan. "Saya pamit undur diri."

​Begitu Daniel keluar, sosok lain menggantikannya masuk. Rayan.

​Ia menarik kursi ergonomis Herman Miller yang ia belikan untukku, menggesernya hingga berada tepat di samping ranjangku, lalu duduk di sana sambil memangku laptopnya.

​Aku mengerutkan kening. "Kamu ngapain duduk di situ? Hari ini kan Sabtu. Ruang kerjamu yang segede lapangan golf itu ada di Sayap Barat, Rayan."

​Rayan membuka layar laptopnya tanpa menoleh padaku. Matanya langsung fokus pada deretan grafik saham.

​"Saya sedang memonitor pergerakan pasar Eropa," jawabnya datar.

​"Iya, tapi kenapa harus di kamarku?" tanyaku heran, suaraku masih serak.

​"Karena saat ini, aset perusahaan yang berada di ruangan ini sedang mengalami defisit imunitas," balas Rayan dengan nada yang sangat rasional dan tak terbantahkan. "Saya tidak mentoleransi adanya kerusakan permanen pada inventaris perusahaan. Memantau kondisi Anda secara langsung adalah langkah manajemen risiko."

​Aku mendengus lemah. Manajemen risiko pantatmu, batinku. Dia cuma nggak mau ngaku kalau dia panik melihatku sakit.

​"Terserah. Kalau ketularan, jangan nyalahin aku," kataku akhirnya.

​Aku meraih mangkuk bubur abalon yang harganya tidak masuk akal itu, memaksakan diri menelan beberapa suap meski tenggorokanku menolak, lalu meminum pil impor yang dibawakan Daniel. Setelah menempelkan plester kompres dingin di kening, aku kembali meringkuk di bawah selimut.

​Suara ketikan keyboard dari laptop Rayan menjadi semacam white noise yang anehnya membantuku terlelap lebih cepat. Ritmenya konstan, stabil, dan entah kenapa... memberikan rasa aman.

​Sore harinya.

​Aku terbangun dari tidur yang sangat panjang. Keringat membasahi leher dan punggung kemeja piyamaku, namun rasa berat di kepalaku sudah jauh berkurang. Suhu ruangan terasa lebih sejuk.

​Kamar ini temaram. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan.

​Aku mengerjapkan mata, mencoba memfokuskan pandangan.

​Rayan masih ada di sana. Pria itu menaruh laptopnya di atas nakas, menyandarkan punggungnya pada kursi Herman Miller itu, dan tertidur dengan kepala sedikit menunduk. Lengan kemejanya digulung asal, menampilkan urat-urat kokoh di lengannya.

​Ini adalah pemandangan paling tidak masuk akal sejak aku tinggal di sini. CEO Adristo Group, pria yang jadwalnya dikelola dalam hitungan menit, menghabiskan hari Sabtunya tertidur di kursi kamarku, menunggui rekan bisnisnya yang sedang sakit radang tenggorokan.

​Aku bergerak sedikit, berusaha membetulkan posisi selimutku. Gesekan kain itu rupanya cukup untuk membangunkan insting waspadanya.

​Rayan langsung membuka mata. Ia menegakkan punggungnya, mengerjap sekali, lalu menatapku.

​"Kamu sudah bangun," suaranya sedikit serak khas orang yang baru terjaga.

​Ia mencondongkan tubuhnya ke arah ranjang. Tangan besarnya kembali terulur. Kali ini gerakannya jauh lebih pelan dan berhati-hati. Telapak tangannya menyentuh keningku, lalu turun merasakan suhu di pipiku.

​"Keringatmu keluar. Demammu sudah turun drastis," simpul Rayan, tatapan matanya melembut, melepaskan seluruh beban ketegangan yang ia tahan sejak pagi.

​Sentuhan itu berlangsung hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti sebuah aliran listrik statis yang membakar sisa kewarasanku. Di tengah sisa-sisa demam yang membuat logika sinisku lumpuh, mulutku berkhianat. Pertahanan yang selama ini kubangun runtuh oleh pertanyaan yang meluncur begitu saja.

​"Rayan..." panggilku pelan, mataku menatap matanya di tengah cahaya temaram kamar. "Kenapa kamu repot-repot sih?"

​Tangan Rayan yang baru saja akan ditarik kembali, terhenti di udara.

​"Kenapa repot-repot nungguin aku di sini seharian?" lanjutku, suaraku nyaris berbisik. "Beliin obat mahal, makanan enak... Kamu tahu kan, aku ini cuma Pihak Kedua. Di luar kontrak itu, aku cuma orang asing yang kebetulan numpang di rumahmu."

​Rayan terdiam. Sorot matanya menjadi sangat kelam dan dalam, mengunci pandanganku. Ia tidak menjawab dengan jargon korporat. Ia tidak membahas manajemen risiko, inventaris perusahaan, atau mitigasi masalah.

​Perlahan, ia menarik tangannya dan kembali bersandar di kursi.

​"Karena saya benci melihatmu tumbang, Nara," jawabnya.

​Suaranya sangat rendah, sangat jujur, dan tidak memiliki pelindung sama sekali. Untuk pertama kalinya, Rayan melepaskan topeng miliardernya dan berbicara sebagai seorang pria biasa.

​"Saya terbiasa melihatmu berdebat dengan saya, menyindir dengan logika tajammu, dan... tertawa lepas seperti kemarin sore di kedai itu," lanjut Rayan, matanya tidak lepas dariku sedetik pun. "Melihatmu diam dan pucat pagi ini, adalah variabel yang sangat tidak saya sukai."

​Jantungku, yang tadinya sudah mulai berdetak normal karena demam turun, mendadak berpacu di luar kendali. Ruangan ini tiba-tiba terasa kehabisan oksigen.

​Rayan tidak menyatakan cinta yang lebay seperti di drama-drama. Ia tidak mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpaku. Tapi pengakuannya barusan bahwa ia merindukan keberisikanku dan membenci melihatku rapuh adalah jenis validasi yang belum pernah kuterima seumur hidupku.

​Aku menelan ludah, tidak berani membalas tatapannya lebih lama. Aku membuang muka, menarik selimut hingga menutupi separuh wajahku untuk menyembunyikan rona merah yang kuyakin sekarang sedang menjalar di pipiku.

​"Bahasamu tetep aja kayak robot. Variabel apaan coba..." gumamku asal-asalan dari balik selimut, mencoba menetralkan kecanggungan yang fatal ini dengan sisa-sisa lidah kasualku.

​Aku mendengar suara dengusan pelan dari arah kursi. Rayan tertawa kecil sebuah tawa yang sangat maskulin dan lega.

​"Tidurlah lagi," kata Rayan, suaranya kembali tenang. "Kamu butuh pemulihan total. Senin besok, saya tidak mau melihat staf andalan PT Bina Tirta masih merengek minta parasetamol warung."

​"Iya, iya. Bawel banget sih Bos satu ini," balasku pelan dari balik selimut, meski aku tidak bisa menahan senyum tipis yang merekah di bibirku.

​Di luar jendela, langit Jakarta mulai gelap. Tapi di dalam kamar Sayap Timur ini, dinding es terakhir di antara kami akhirnya benar-benar mencair.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!