"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI LUBANG KAKTUS
Ruang tengah kediaman Dirgantara kini benar-benar berubah menjadi pusat komando taktis. Cahaya dari enam monitor layar lebar memantul di wajah Arkananta yang tampak sangat maskulin dengan rahang yang mengeras. Ia telah menanggalkan kemeja formalnya, menyisakan kaus dalam hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh saat ia memeriksa laras senjata taktisnya. Di sampingnya, Aletta duduk dengan postur tegak, jari-jarinya bergerak secepat kilat di atas *keyboard* mekanik yang mengeluarkan suara ketukan ritmis—sebuah simfoni perlawanan.
"Mas Arkan, aku sudah masuk ke *subnet* mereka," bisik Aletta. Matanya yang biasanya ceria kini berkilat dengan kecerdasan yang dingin. "Marco menggunakan protokol enkripsi hantu. Dia mengira dia tidak terlihat, tapi dia lupa kalau aku yang menulis basis data untuk sistem 'Desert Storm' itu empat tahun lalu di Rusia."
Arkan meletakkan senjatanya di meja kayu jati, lalu berdiri di belakang Aletta. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu istrinya, memberikan kehangatan dan kekuatan yang sangat dibutuhkan Aletta saat ini. "Apa yang kau butuhkan dariku, Al? Selain memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa masuk lewat pintu depan?"
Aletta mendongak sejenak, menatap mata hitam Arkan yang penuh dengan api protektif. "Aku butuh akses ke satelit komunikasi Dirgantara-7. Aku perlu lonjakan daya sebesar 200 terabit per detik untuk melakukan *Brute Force* ke server pusat mereka di pelabuhan. Tapi itu akan membuat seluruh jaringan internet di area Jakarta Barat mati selama tiga menit."
Arkan menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang sangat percaya diri. "Hanya tiga menit? Lakukanlah. Aku akan menanggung semua tuntutan kerugian dan keluhan pelanggan besok pagi. Uang bisa dicari, tapi ketenangan istriku adalah prioritas mutlak."
Arkan segera meraih ponsel satelitnya, menghubungi direktur teknis Dirgantara Telecom. "Yudha, aktifkan Protokol Gerhana. Sekarang. Jangan tanya kenapa, cukup lakukan dan hapus log aktivitasnya setelah selesai."
Di sisi lain kota, di sebuah gudang tua di Pelabuhan Tanjung Priok yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer karatan, Marco berdiri di depan deretan layar monitor. Tato kaktus di pergelangan tangannya tampak berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. Ia adalah pria dengan wajah yang dipenuhi bekas luka siber—bukan luka fisik, melainkan tatapan mata yang sudah terlalu banyak melihat kegelapan internet.
"Dia masuk, Bos," lapor salah satu anak buah Marco yang mengenakan *hoodie* hitam. "Little Needle mencoba menembus pintu belakang. Dia menggunakan algoritma 'Kaktus Berduri' miliknya yang lama."
Marco tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh dengan rasa haus akan tantangan. "Gadis pintar. Dia pikir dia bisa menggunakan trik lama untuk mengalahkanku. Aktifkan *Firewall* Kraken. Biarkan dia merasa seolah-olah dia sedang menang, lalu kunci dia di dalam *sandbox* kita. Aku ingin melihat wajah suaminya yang sombong itu saat seluruh aset perusahaannya menguap dalam hitungan detik."
Kembali ke kediaman Dirgantara.
"Dia memancingku, Mas!" seru Aletta. Layar monitornya mendadak dipenuhi oleh gambar tentakel hitam yang mulai melilit barisan kodenya. "Itu *Firewall* Kraken. Kalau aku terus menekan, dia akan melacak balik lokasi fisik kita melalui alamat IP satelit."
Arkan membungkuk, wajahnya sejajar dengan Aletta. "Lalu apa rencanamu? Kita tidak bisa mundur sekarang."
Aletta menyeringai nakal, sebuah binar jenaka muncul di tengah ketegangan. "Kita tidak mundur, Mas. Kita pakai 'Umpan Bebek'. Mas Arkan, ingat tidak folder 'LOVE' yang tadi?"
Arkan langsung menegang, wajahnya memerah sedikit. "Al, jangan bilang kau mau mengirim folder memalukan itu ke server peretas paling berbahaya di dunia?"
"Bukan isinya, Mas! Tapi aku akan membungkus folder itu dengan virus 'Trojan Duck'. Saat Marco mencoba mendekripsi data 'rahasia' milik CEO Dirgantara yang sangat 'berharga' ini, sistemnya akan menganggap itu adalah data penting. Begitu folder itu terbuka di server mereka... *BOOM!* Sir Lancelot versi digital akan menghancurkan seluruh *hard drive* mereka dari dalam."
Arkan terdiam sejenak, lalu ia tertawa rendah. "Kau benar-benar gila, Aletta. Tapi aku suka idemu. Kirimkan saja. Anggap saja itu adalah hadiah pernikahan dari kita untuk Marco."
Aletta menekan tombol *Enter* dengan penuh kemenangan. Di layar monitor, sebuah ikon bebek kuning kecil tampak terbang menembus lilitan tentakel Kraken.
Pukul 23:30 WIB. Di gudang pelabuhan.
"Dapat! Kita mendapatkan folder tersembunyi dari server pribadi Arkan Dirgantara! Namanya 'LOVE_VAULT_DECRYPTED'," teriak anak buah Marco kegirangan.
Marco mendekat, matanya berbinar. "Buka. Mari kita lihat apa yang disembunyikan si Serigala sombong itu. Mungkin nomor rekening rahasia atau bukti suap politik."
Begitu Marco menekan tombol *Open*, layar monitor raksasa di depannya tidak menampilkan angka atau dokumen. Sebaliknya, muncul gambar Sir Lancelot—si bebek asli—yang sedang memakai kacamata hitam dengan tulisan besar di bawahnya: **"KWEK! KWEK! ANDA BARU SAJA DI-BEBEK-KAN!"**
Seketika, seluruh lampu di gudang itu meledak. Percikan api keluar dari unit pemrosesan data. Seluruh layar monitor berubah menjadi biru, lalu hitam permanen.
"Sialan! Dia menghancurkan sistem kita!" teriak Marco dalam kegelapan. "Cepat! Ambil senjata! Mereka pasti sedang menuju ke sini!"
Di luar gudang, deru mesin mobil sport Arkan terdengar membelah kesunyian malam pelabuhan. Arkan turun dari mobil dengan gerakan yang sangat taktis dan maskulin, memegang senjata dengan mantap. Ia mengenakan jaket kulit hitam, tampak seperti malaikat maut bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Aletta keluar dari kursi penumpang, membawa laptop portabel yang terhubung ke koneksi satelit. "Sistem mereka sudah mati total, Mas. Sekarang mereka buta dan tuli. Marco ada di dalam, di koordinat 12.5."
Arkan menoleh ke arah Aletta, ia menarik pinggang istrinya dan mengecup keningnya dengan sangat cepat namun penuh perasaan. "Tetap di belakang mobil. Jangan keluar sampai aku memanggilmu. Ini adalah bagian 'otot', bukan 'otak'."
"Mas Arkan... hati-hati. Marco punya banyak trik fisik juga," bisik Aletta penuh kekhawatiran.
Arkan tidak menjawab, ia hanya memberikan senyum tipis yang sangat menenangkan sebelum menghilang ke dalam bayang-bayang gudang.
Suara tembakan pertama terdengar memecah malam. Aletta memejamkan mata, tangannya gemetar memegang laptop. Ia bisa mendengar suara benturan fisik, geraman rendah Arkan yang sangat maskulin saat menjatuhkan lawan, dan teriakan frustrasi anak buah Marco.
Sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun bagi Aletta akhirnya berlalu. Keheningan kembali menyelimuti pelabuhan.
"Al, masuklah," suara Arkan terdengar lewat *earpiece* Aletta.
Aletta berlari masuk ke dalam gudang yang berasap. Di tengah ruangan, di bawah satu lampu darurat yang masih menyala, ia melihat Arkan berdiri tegak. Napasnya sedikit memburu, kemeja dalamnya sedikit robek di bagian bahu, memperlihatkan goresan kecil yang justru menambah kesan jantan pada dirinya. Di bawah kakinya, Marco tergeletak tidak berdaya dengan tangan terborgol ke tiang besi.
"Hutangmu sudah lunas, Marco," ucap Arkan dingin, menatap pria yang dulu pernah dianggap Aletta sebagai keluarga. "Jangan pernah kembali ke Jakarta. Karena kali ini aku hanya mematahkan egomu. Lain kali, aku akan memastikan kau tidak punya tangan untuk menyentuh *keyboard* lagi."
Aletta mendekat, ia menatap Marco dengan pandangan sedih namun tegas. "Kaktus memang punya akar, Marco. Tapi aku sudah menemukan tanah yang lebih baik untuk tumbuh. Dan tanah ini punya serigala yang sangat galak untuk menjagaku."
Marco hanya bisa meringis kesakitan, ia tidak berani menatap mata Arkan yang penuh dengan aura membunuh.
Arkan menarik Aletta ke dalam pelukannya, melindunginya dari pemandangan gudang yang hancur itu. Mereka berjalan keluar menuju mobil, diiringi oleh suara sirine polisi yang mulai mendekat—polisi yang dipanggil oleh Yudha atas instruksi Arkan.
Saat mereka kembali ke dalam mobil, Arkan menyandarkan kepalanya di kemudi sejenak, mengembuskan napas panjang yang penuh kelegaan.
"Mas Arkan... kau terluka?" tanya Aletta cemas, meraba bahu Arkan yang berdarah sedikit.
Arkan menangkap tangan Aletta, mencium telapak tangannya dengan lembut. "Hanya goresan kecil, Al. Rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan rasa takutku kehilanganmu."
Aletta tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arkan. "Jadi... Operasi Lubang Kaktus sukses?"
"Sangat sukses. Terutama bagian 'Trojan Duck'-nya. Kurasa Marco akan bermimpi buruk soal bebek kuning selama sisa hidupnya," Arkan tertawa kecil, suara tawa yang sangat maskulin dan penuh kebahagiaan.
Mereka pun melaju membelah malam Jakarta yang mulai terang oleh fajar. Ancaman masa lalu Aletta akhirnya terkubur bersama puing-puing gudang di pelabuhan. Di rumah, Sir Lancelot mungkin sedang menunggu sarapan, dan 'Bambang Raksasa' tetap berdiri tegak menjaga ruang kerja.
"Mas Arkan," panggil Aletta saat mereka hampir sampai di rumah.
"Ya?"
"Besok... boleh tidak kita tidak membicarakan soal siber, peretas, atau saham? Aku cuma mau kita kencan di taman bunga yang tidak ada durinya."
Arkan mengecup puncak kepala Aletta sambil tetap fokus menyetir. "Janji, Kelinci Kecil. Kita akan pergi ke tempat yang paling indah di dunia. Hanya ada kau, aku, dan tidak ada satu pun kabel internet di sana."
**Namun, kedamaian mereka tidak akan bertahan lama. Saat mereka sampai di depan rumah, sebuah amplop hitam tergeletak di depan pintu. Amplop itu bukan dari Marco, melainkan dari pengadilan tinggi. Isinya adalah sebuah surat panggilan atas nama Arkananta Dirgantara terkait pembukaan kembali kasus kematian ayahnya.**
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx