"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24(RRM)
Nina akhirnya kembali keruang kerjanya,Nina nampak duduk terdiam diruang kerjanya.Tiba-tiba saja Nina menangis, memorinya mengingat kembali kejadian 5 tahun yang lalu.
"Aku benar-benar bodoh,kenapa aku tidak menyelamatkan adikku lebih dulu." gumam Nina yang merasa bersalah tak bisa menyelamatkan adiknya.
Sudah lama ia dihantui rasa bersalah,"Jika saja aku melindungi adik dan Mama tak akan seperti ini." Penyesalan yang begitu besar untuk dia rasakan.
Tapi kini berubah dengan jawaban yang selama ini dia cari,"Lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian." Rasa dendam mulai membelenggu diri Nina.
"Tok... tok..."Terdengar suara ketukan dari arah pintu ruang kerjanya.
"Masuk." Nina mencoba menghapus air matanya.
Lukas dan Milano masuk menghampiri Nonanya,"Semuanya sudah kami bereskan Nona." ucap Lukas yang seketika terdiam melihat wajah lain dari Nonanya.
"Bagus,cukup disini pekerjaan kita.Besok sore aku usahakan kesini lagi.Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua." Nina langsung bangkit dari tempat duduknya.
Nina pergi meninggalkan mereka berdua,"Sepertinya Nona habis menangis." ucap Lukas yang melihat jelas perubahan wajah dari Nonanya.
"Wajarlah jika Nona menangis,sudah lama Nona mencari kebenaran kematian keluarganya.Dan hari ini semuanya terungkap,pasti sangat berat menerima kebenaran yang harus beliau terima." ucap Milano sembari menghela nafas pelan-pelan.
"Semoga Nona kuat menghadapinya." ucap Lukas yang tahu betul rasa sakit yang Nonanya pendam.
Nina pun akhirnya pulang kembali menuju kostnya, terlihat Nina sedang menahan tangisannya.Sehingga kedua matanya memerah menangis mengingat tragedi yang pernah terjadi pada dirinya.
"Mereka harus membayar semuanya,aku tak akan diam lagi." batin Nina yang benar-benar emosi dan tak terima kematian orang-orang yang dicintai Nina.
Akhirnya Nina sampai ditempat kostnya, Nina tak menyadari jika dilokasi depan kost sudah ada Lina dan Airin ditambah juga dengan kehadiran Andra dan Yogi ditempat itu.
Nina berjalan tak memperdulikan kehadiran mereka.Tapi dari Airin menangkap sesuatu pada wajah Nina.
"Nina kenapa?" tanya Airin yang tidak sengaja melihat wajah Airin yang berubah.
"Mana aku tahu, seperti orang habis menangis." jawab Lina yang melihat perubahan ekspresi dari Nina sendiri.
"Apa kalian berdua ada lagi masalah, sampai-sampai Nina seperti itu?" bisik Yogi kepada Andra.
"Masalah apa, kami baik-baik saja."jawab Andra yang sama sekali tidak memiliki masalah apapun dengan Nina.
"Lalu kenapa Nina seperti itu?" Tanya balik Yogi yang penasaran Apa memang keduanya memiliki masalah.
"Aku juga tidak tahu." Andra mulai kebingungan ada apa dengan Nina, Bukannya dia baru saja pulang dari kerja dan kenapa tiba-tiba Nina pulang dalam keadaan begitu.
Nina tiduran di tempat tidurnya,tatapannya fokus kearah foto yang sengaja ia simpan di dalam tasnya.
"Mama ,adik maafkan kakak.Jika kejadian itu kakak tidak pergi pasti kalian akan tetap hidup disamping kakak." Nina menangis mengingat begitu besar kesalahannya tidak melindungi mereka.
Hati Nina hancur hingga ia menyalakan dirinya sendiri, Tiba-tiba saja ponsel Nina berdering.
"Halo."
"Halo Nina, keadaan kamu baik-baik saja kan?" tanya Andra yang terdengar begitu khawatir dengan kondisi Nina di malam itu.
"Aku baik-baik saja." jawab Nina yang mencoba menghapus air matanya.
"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Andra yang mencoba bertanya perihal pekerjaan Nina.
"Tidak ada ,hanya sedikit lelah saja." jawab Nina yang akhirnya menutupi kesedihannya yang selama ini ia pendam.
"Begitu, aku kira kamu sakit atau ada masalah." jawab Andra yang diam-diam khawatir dengan kondisi Nina.
"Tidak ada." jawab Singkat Nina, yang malas mengobrol dengan Andra.
"Ya sudah, Lebih baik kamu istirahat saja.Jika tidak enak badan jangan paksa masuk kerja." Sekali lagi Andra mengingatkan Nina,ia tak ingin jika Nina nantinya jatuh sakit.
"Iya." jawab singkat Nina yang lebih cuek.
Akhirnya sambungan telepon terputus,tampak Nina begitu kesal dengan sikap Andra yang selalu mengatur hidupnya.
Pagi hari
Pagi-pagi Nina sudah disibukkan dengan pekerjaan di depan laptop,ia membaca beberapa laporan dari Milano.
"Sepertinya Milano sudah menyelesaikan tugasnya." gumam Nina yang perlahan-lahan tugas yang seharusnya ia selesaikan kini semua clear diselesaikan oleh Milano.
Nina menoleh kearah jam,"Aku harus bersiap sekarang." Nina segera bersiap untuk berangkat kerja di pagi itu.
Setelah Nina sudah siap barulah Nina bergegas keluar dari kamarnya.
"Nina." Sapa Airin yang sudah berdiri disamping Nina.
"Airin." sapa balik Nina yang melihat kehadiran Airin yang sudah pulang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Airin pada Nina.
"Baik-baik saja." jawab Nina dengan santai.
"Beneran baik-baik saja?" tanya Airin yang dengan hati-hati bertanya.
"Memangnya ada apa?" tanya balik Nina sembari mengerutkan dahinya.
"Hanya merasa ada yang aneh saja sama kamu." jawab Airin yang menggaruk-garuk kepalanya.
"Aneh apa maksudmu?" tanya Balik Nina pada Airin.
Airin pun menceritakan semuanya,dan ekspresi Nina hanya terdiam,"Saat itu aku sedang kelelahan,dari pagi sampai malam pekerjaanku menumpuk." Nina memakai alasan itu agar tak terlalu di curiga oleh mereka tentang apa yang sedang ia alami.
"Kalau lelah istirahat,jangan paksa badan kamu.Jika kamu sakit bagaimana." Airin langsung mengungkapkan rasa kasihan pada Nina.
"Aku sudah baik-baik sekarang,jadi tak perlu khawatir tentang itu." jawab Nina yang saat itu sedang memakai helm dan pergi menuju tempat kerjanya.
"Ya sudah, hati-hati dijalan." ucap Airin yang sama juga sudah rapi dengan baju kerjanya.
Akhirnya mereka berpisah,Nina pergi menuju tempat kerjanya.Seperti biasa Nina masuk langsung dicecar pertanyaan dari teman-teman kerja Nina yang saat itu dirinya baru saja masuk kerja.
"Begitu ya, kami kira kamu sakit." ucap salah satu rekan kerja dari Nina.
"Tidak, keluargaku ada yang sakit aku harus menjaga." Nina akhirnya membuat alasan tentang dirinya.
Seperti biasanya,Nina mengerjakan pekerjaan yang biasanya ia lakukan.Tanpa Nina sadari dari belakang ada teman-kerja Nina yang saat itu sedang mengobrol sesuatu.
"Benar-benar gila tuh orang,untungnya Pak Manager kita tidak tergoda dengan si landak itu." ucap salah satu dari mereka.
"Landak apa?" tanya balik Nina pada mereka.
"Itu Nin,berita hot tentang Pak Manager kita." Seketika Nina mengernyit dahinya.
"Berita apaan?"
"Kamu itu lupanya, Nina kan belum tahu kejadian itu." seketika wanita itu tersadar.
"Oh iya,aku lupa." ucap wanita itu yang langsung menceritakan semua kejadian yang kemarin terjadi.
Nina hanya terdiam dan mendengar penjelasan dari mereka,"Seorang wanita,kamu bilang cantik." Nina masih mencerna apa yang mereka katakan.