Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Jarak yang Memendek
Setelah melalui cuti, kesibukan segera menyambutnya kembali. Avara harus lagi-lagi bersitegang dengan data-data yang perlu dia proses dan input, berkeliaran dari ruangannya yang masih disesaki para iblis dan ruang kerja Fulqentius yang masih menyediakan meja bagi jiwanya yang tak kenal lelah. Pekerjaannya menumpuk, tapi baik tim IT-nya maupun Fulqentius sudah memperingatkannya agar tidak berlebihan dalam bekerja.
Ruangan yang semula direncanakan akan dihibahkan untuk mereka, sampai sekarang belum siap, entah karena apa. Jadi mau tak mau rutinitas membuat mereka tetap bertahan, yang secara khusus bagi Avara mendukungnya untuk terus hilir-mudik ke beberapa tempat.
Namun mulai hari itu, Avara tidak sendirian. Ada banyak iblis lain yang berlalu-lalang di seantero istana, dan mungkin di seluruh ibu kota. Beberapa minggu lagi akan diadakan festival yang biasa digelar setiap tahun sekali. Bisa dibilang itu festival paling megah yang diselenggarakan di kerajaan iblis.
Sebagai seorang raja, pekerjaan Fulqentius semakin bertambah seiring mendekatnya hari festival, membuatnya semakin jarang keluar ruangan dan lebih sering bersama tumpukan dokumen daripada apapun juga. Oriole tidak lebih senggang daripada tuannya, dia harus mengecek banyak hal di istana dan berkomunikasi dengan banyak iblis di ibu kota.
Keramaian ini tentu berpengaruh juga pada beban kerja Avara yang bertambah. Dia memastikan bahwa logistik masih berjalan lancar, tidak peduli semakin bertambahnya para iblis yang memasuki ibu kota di hari-hari belakangan. Di tengah kesibukan persiapan festival inilah, segel identitas sangat berguna untuk bisa mengatur dengan baik lalu-lalang para iblis di sekitar ibu kota dan terutama di istana. Avara mungkin tidak tahu, tapi Fulqentius sangat bersyukur pada keberadaan sistem itu.
Pada hari-hari yang luar biasa sibuk itu, Avara tidak bisa leluasa bergerak ke sana-ke mari, jadi sebagian besar waktunya habis di dalam ruangan Fulqentius, di meja besar yang sementara menjadi meja kerjanya. Dia menjadi teman bagi sang raja iblis di tengah kesibukan yang menjerat diri mereka masing-masing. Dalam kesunyian di antara gaduhnya persiapan di luar sana, Avara dan Fulqentius bertahan dengan dua tangan yang tak pernah berhenti bergerak.
Pada satu hari setelah Fulqentius melalui malam-malam lembur seorang diri, Avara mendatanginya dengan membawa sebuah pena dalam kotak kayu. Dia bilang itu sebuah artefak sihir yang bisa membantu pekerjaan Fulqentius sehari-harinya, terutama soal menyalin tandatangan yang biasa harus dia ulang beratus-ratus kali untuk beratus-ratus berkas yang menunggu.
"Jadi aku tidak perlu lagi tandatangan 400 dokumen karena pena ini akan membantuku?"
"Selamat datang di otomatisasi," ujar Avara, merentangkan tangan.
Avara menjelaskan bahwa artefak itu murni buatan tim-nya yang prihatin karena pekerjaan sang raja iblis seolah tak ada habisnya. Mereka ingin Fulqentius bisa menghemat banyak waktu sehingga bisa menggunakannya untuk urusan yang lain.
Dengan raut tertegun, Fulqentius memerhatikan contoh penggunaan pena yang ditunjukkan Avara, dalam diam tersentuh oleh perhatian yang diberikan para anak buahnya.
"Selamat tinggal cara manual," tukas Avara setelah selesai menjelaskan pula instruksi pada Fulqentius, dengan senyum lebar yang berkembang tanpa dia sadari.
"Selamat tinggal cara manual," ulang raja iblis, turut tersenyum saat menimang artefak pena itu.
Dengan perasaan senang yang mungkin baru dirasakannya dalam sekian tahun sekali, Fulqentius mulai mempergunakan pena itu, dengan cepat menyelesaikan ratusan lembar berkas yang membutuhkan persetujuannya. Dari meja tempatnya bekerja, Avara memperhatikan diam-diam, merasa bahagia telah memberikan sedikit kemudahan untuk atasannya.
Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama karena pada menit berikutnya Avara sudah menghela napas berat, berkali-kali mengeluh tanpa kata.
"Ada apa?" Fulqentius memastikan.
Avara hampir membaringkan kepalanya ke atas meja sebelum menjawab, "Tidak adakah sihir yang bisa memperbaiki apa yang sudah kita tulis?"
Gadis itu sudah sepenuhnya menyerah dan tidak berharap apa-apa saat Fulqentius menjawab, "Ada."
Seketika Avara mengangkat kembali wajahnya hanya untuk menjumpai sang raja iblis mengambil tempat duduk di sebelahnya, mencuri pandang pada berkas yang dia maksud ingin diperbaikinya. Avara mengerjap, tidak mengira akan menemui sebuah jawaban untuk keluhannya yang sambil lalu.
"Benar-benar ada sihir untuk itu?"
Fulqentius mengangguk. "Bagian mana yang ingin kau perbaiki?"
Avara menunjuk sebuah frasa yang dia coret di buku laporannya. Dia menyampaikan kalau ingin bagian itu dihapus seolah-olah tak pernah ada kesalahan sebelumnya di sana.
Maka Fulqentius merapal sebuah mantra sambil mengusap coretan Avara, membuatnya lenyap tanpa bekas, mengundang wajah melongo si gadis yang dengan mudah terkesan.
"Bagaimana bisa?" kejar Avara. "Bagaimana caranya? Apakah aku juga bisa melakukannya? Apakah sihir ini bisa digunakan untuk media lain?"
Fulqentius senang mendapati antusiasme Avara terhadap sihir kecil yang tergolong sepele baginya, tapi segera tertegun menjumpai kepala yang semula tergeletak lemas itu condong ke arahnya, mengejarnya untuk sebuah penjelasan dan jawaban. Belum lagi mata berbinar yang tak sabar ingin menemukan keajaiban itu.
Jadi sang raja iblis mengajarinya sihir untuk menghapus tulisan yang telanjur diguratkan di kertas atau media serupa, pelan-pelan membuat Avara menghapal mantra untuk bisa merapalkannya. Mereka tahu belaka bahwa bisa jadi mana seorang manusia seperti Avara tidak cukup kuat untuk menjalankan sebuah sihir sederhana, tapi mereka enggan berdiam diri. Terutama Avara, dia bersikeras untuk bisa langsung menguasai sihir itu saat itu juga.
Entah semangat atau kekeraskepalaan Avara, yang jelas Fulqentius tertarik untuk mendekatkan jarak tempatnya duduk dengan si gadis, menaruh sepenuhnya perhatian padanya, hingga Avara berhasil menghapus sedikit ujung tulisan yang dia inginkan. Senyum lebar Avara adalah hal pertama yang baru membuat Fulqentius menyadari jarak mereka yang memendek, meski tak mampu membuatnya segera menarik diri. Alih-alih, sang raja iblis justru merasa ingin terus-menerus berada di sanaーnyaman, dan merasa benar.
"Apakah ini artinya aku bisa melakukan sihir yang lain?" Avara belum berhenti tersenyum.
"Kita lihat saja," tukas Fulqentius, ikut tersenyum tanpa sadar.
Agaknya, tidak ada ruginya sang raja iblis berbagi tempat dengan orang lain.