NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pemegang Saham Bayangan

Pagi RUPS tiba lebih cepat dari yang diinginkan siapa pun.

Aditya berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan dasi hitam yang dipinjamkan Alesha—"Kau tidak bisa masuk ruang rapat dengan kaos oblong," katanya sambil menyerahkan jas lengkap. Pedang kayu terpaksa ditinggal di villa. Tapi liontin tetap di balik kemeja, hangat seperti biasa.

Status Host:

· Level: 9 (Alam Bela Diri Tingkat Atas)

· Koin: 8210

· Pusaka: Liontin Surya, Pedang Kayu Matahari

· Skill Aktif: All-Seeing Eye, Silent Step Lv.2, Basic Combat Mastery, Jurus Surya Lv.3, Jurus Matahari Terbit

"Kau sudah siap?" Suara Maya dari balik pintu.

Aditya membuka pintu. Maya berdiri dengan setelan jas hitam—bukan seragam taktis. Cincin Api berkilau di jari telunjuknya, nyaris tidak mencolok kecuali orang tahu apa yang dicari.

"Kau terlihat... rapi," komentar Aditya.

"Kau juga. Hampir kaya manusia normal."

"Terima kasih. Kurasa."

Mereka berjalan ke ruang tengah. Alesha sudah menunggu dengan gaun putih formal—warna yang sama dengan saat Aditya pertama kali menyelamatkannya. Belati Surya tersembunyi di balik blazer-nya, sarungnya dirancang khusus agar tidak mencolok.

"Aturan mainnya sederhana," Alesha membuka briefing. "Aditya duduk di belakangku sebagai asisten. Maya di luar, koordinasi keamanan. Kakek Wijaya akan hadir via video call—dia terlalu lemah untuk datang langsung."

"Mereka akan coba sesuatu," Maya memperingatkan. "Dina bilang polisi di luar bukan untuk membantu."

"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa menyerang duluan. Kita butuh mereka menunjukkan kartunya dulu." Alesha menatap Aditya. "Matamu siap?"

"Selalu."

---

Pradipa Tower lantai 60. Ruang rapat utama adalah aula kaca dengan pemandangan kota Jakarta yang membentang 360 derajat. Meja oval raksasa dari kayu jati bisa menampung 40 orang. Hari ini, 37 kursi terisi—pemegang saham, direktur, dan... Paman Edwin di ujung meja, tersenyum seperti kucing yang baru menelan kenari.

Di sampingnya, seorang pria berjas mahal dengan kacamata bingkai emas. Aditya tidak perlu All-Seeing Eye untuk tahu pria itu bukan pemegang saham biasa. Posturnya terlalu tegak. Matanya terlalu waspada.

All-Seeing Eye diaktifkan.

Nama: Haris Manurung. Jabatan: Pengacara.

Afiliasi: Putra Senja (penasihat hukum tidak resmi).

Level Kultivasi: 6.

Tugas: Memastikan rencana berjalan lancar. Membawa surat kuasa dari "pemegang saham yang berhalangan hadir".

"Alesha," Aditya berbisik saat mereka duduk. "Pengacara di sebelah Paman Edwin itu kultivator level 6. Dia bawa surat kuasa dari pemegang saham yang tidak hadir."

"Berapa suara yang dia bawa?"

All-Seeing Eye menganalisis dokumen dari jarak jauh.

"Delapan persen. Cukup untuk membuat Paman Edwin menang kalau dia dapat semua suara yang ragu-ragu."

Alesha mengepalkan tangannya di bawah meja. Wajahnya tetap tenang.

Rapat dimulai.

---

Satu jam pertama berjalan sesuai skenario. Laporan keuangan. Proyeksi tahun depan. Tepuk tangan sopan di sana-sini. Aditya hampir tertidur.

Lalu Paman Edwin berdiri.

"Hadirin sekalian, saya ingin mengajukan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Alesha Putri Pradipa."

Ruangan berbisik. Beberapa pemegang saham terlihat terkejut—rupanya tidak semua tahu rencana ini.

"Alasannya," Paman Edwin melanjutkan, "selama dua tahun terakhir, kinerja perusahaan stagnan. Proyek ekspansi ke luar negeri gagal. Belum lagi insiden-insiden keamanan yang membahayakan aset perusahaan." Ia menatap Alesha dengan senyum tipis. "Saya punya bukti bahwa Presiden Direktur menyembunyikan kerugian besar dari proyek Marina Bay."

"Omong kosong," bisik Alesha.

"Biarkan dia bicara dulu," bisik Aditya. "Aku sedang memindai."

All-Seeing Eye: Dokumen yang dipegang Paman Edwin adalah palsu. Tanda tangan digital tidak cocok dengan audit asli. Sumber pemalsuan: Haris Manurung.

"Paman Edwin," Alesha berdiri, suaranya tenang tapi menusuk. "Sebelum Anda melanjutkan, boleh saya lihat dokumen itu?"

"Dengan senang hati." Edwin menyerahkan map tebal.

Alesha membukanya, matanya menyapu halaman-halaman itu dengan kecepatan seorang polymath. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Lalu ia tersenyum.

"Anda bilang ini hasil audit?"

"Tentu. Ditandatangani oleh auditor independen."

"Menarik." Alesha mengangkat dokumen itu. "Karena saya baru saja menerima email dari auditor yang sama. Mereka bilang, tanda tangan digital di dokumen ini tidak cocok dengan database mereka. Dengan kata lain..." ia melempar dokumen itu kembali ke meja, "...ini palsu."

Ruangan gempar.

"Ini—ini fitnah!" Edwin tersedak. "Kau tidak bisa—"

"Haris Manurung," Aditya tiba-tiba berdiri, menatap pengacara di samping Edwin. "Anda yang memalsukan dokumen ini. Berapa Paman Edwin membayar Anda?"

"SAYA TIDAK—"

"Aku bisa lihat tanda tangan digital Anda di metadata file. Mau saya tunjukkan sekarang?"

Haris pucat. Tangannya gemetar. Ia menatap Edwin, lalu menatap Alesha, lalu—tanpa sepatah kata—bangkit dan berjalan keluar ruangan.

Paman Edwin ternganga.

"Tadi kita bicara soal mosi tidak percaya," Alesha duduk kembali, menyilangkan kaki. "Ada yang ingin melanjutkan?"

---

Pukul 14.00, rapat berakhir. Mosi tidak percaya ditolak dengan 55% suara. Paman Edwin meninggalkan ruangan dengan wajah merah padam, diiringi bisikan-bisikan para pemegang saham lainnya.

Aditya dan Alesha berdiri di balkon lantai 60, menatap kota yang mulai diselimuti awan sore.

"Kita menang," kata Alesha.

"Untuk sekarang."

"Aku tahu. Tapi setidaknya Paman Edwin tidak bisa bergerak lagi secara legal."

"Masih bisa secara ilegal. Polisi di luar tadi tidak jadi bertindak karena rencananya gagal. Tapi mereka masih di bawah kendali Jenderal itu." Aditya menyandarkan punggung ke pagar kaca. "Dan Radit masih di luar sana."

Ponsel Alesha berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo?"

"Alesha Putri Pradipa." Suara di seberang—berat, metalik, tidak manusiawi. Suara yang belum pernah Aditya dengar, tapi membuat liontin di dadanya bergetar. "Selamat atas kemenanganmu hari ini."

"Siapa ini?"

"Aku adalah pemilik 20% saham yang kau cari. Namaku Helios."

Alesha menatap Aditya dengan mata terbelalak. Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye, mencoba melacak panggilan.

Sumber panggilan: Tidak terdeteksi (terlindungi artefak level tinggi).

Nama "Helios": Kemungkinan samaran.

Catatan: Suara telah dimodifikasi. Niat: Tidak terdeteksi.

"Apa maumu?" tanya Alesha.

"Aku ingin membantu. Kalian melawan Sang Pengumpul, bukan? Kita punya musuh yang sama."

"Kenapa baru muncul sekarang?"

"Karena sekarang kalian baru menarik perhatianku. Aditya dengan Liontin Surya-nya. Maya dengan Cincin Api. Dan kau dengan Belati Surya." Jeda. "Tiga pusaka dalam satu kelompok. Itu belum pernah terjadi dalam 100 tahun."

Aditya mengambil alih panggilan. "Kalau kau benar-benar sekutu, kenapa sembunyi-sembunyi?"

"Karena Sang Pengumpul juga mencari aku. Dan ini bukan waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri." Suara itu berhenti sejenak. "Tapi aku akan beri kalian petunjuk. Pusaka keempat—Tameng Bumi—disimpan di kompleks militer di luar kota. Dijaga oleh Jenderal yang bekerja untuk Sang Pengumpul."

"Jenderal bintang dua."

"Ya. Namanya Jenderal Purnama. Dan dia akan hadir di acara amal Kepolisian besok malam. Sendirian."

Panggilan terputus.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!