Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Langkah Kecil di Hyde Park
Angin musim semi di Hyde Park berembus membawa aroma rumput basah dan bunga lime yang baru mekar. Matahari sore yang pucat menggantung di langit London, memberikan rona keemasan pada permukaan Serpentine Lake.
Alya menarik napas panjang. Kakinya gemetar, namun ada kekuatan baru yang menjalar dari otot-otot yang selama berbulan-bulan terasa lumpuh. Ia melepaskan pegangan tangan Arka dari lengannya.
"Aku bisa sendiri, Arka," protes Alya halus. Suaranya tidak lagi mengandung racun atau ketakutan, hanya sebuah penegasan akan kemandirian yang mulai tumbuh kembali.
Arka segera mengangkat kedua tangannya ke udara, mundur satu langkah dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. "Aku tahu. Aku hanya berjaga."
"Kau terlihat seperti pengawal yang terlalu cemas," goda Alya sambil menyeret langkahnya menuju kursi kayu yang berjarak lima meter di depan.
"Aku memang pengawalmu. Sekarang dan seterusnya," sahut Arka pelan. Suaranya berat, namun ada nada tulus yang membuat Alya sempat terhenti sejenak sebelum duduk di kursi kayu itu dengan helaan napas lega.
Arka segera duduk di sampingnya, memastikan jarak mereka cukup dekat untuk ia bertindak jika Alya merasa pusing, namun cukup jauh agar Alya tidak merasa terintimidasi. Di depan mereka, Arsenio tertidur lelap di dalam stroller hitam yang elegan. Napas bayi itu teratur, sesekali bibirnya mengerucut kecil dalam tidurnya.
"Dia sangat mirip denganku saat tidur," gumam Arka, matanya tak lepas dari putranya.
Alya terkekeh, sebuah bunyi yang masih terdengar asing namun indah di telinga Arka. "Jangan terlalu percaya diri. Hidung dan matanya jelas-jelas milikku. Dia hanya meminjam dagumu yang keras kepala itu."
"Keras kepala? Kupikir kau menyebutnya 'tegas' minggu lalu," Arka menoleh, menatap profil samping wajah Alya yang kian segar.
"Itu sebelum aku tahu dia menangis selama dua jam hanya karena ingin digendong sambil melihat lampu gantung. Itu murni keras kepala darimu, Arka."
Arka tertawa rendah. "Baiklah, aku mengaku kalah. Tapi setidaknya dia akan memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."
Hening sejenak di antara mereka. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti di mansion dulu, melainkan keheningan yang nyaman. Alya mengamati orang-orang yang melintas—sepasang kekasih yang tertawa, seorang pelari dengan anjing *golden retriever*-nya, dan anak-anak kecil yang mengejar burung merpati.
"Arka?"
"Ya, Al?"
"Reno bilang kau benar-benar memindahkan semua operasional ke sini. Apakah itu tidak merepotkanmu? Maksudku, Jakarta adalah pusat segalanya bagimu."
Arka menyandarkan punggungnya, menatap langit. "Teknologi membuat segalanya mudah. Dan sejujurnya? Aku mulai menyukai ritme di sini. Di Jakarta, setiap sudut jalan mengingatkanku pada ambisi yang salah. Di sini, aku hanya seorang ayah yang sedang belajar berjalan lagi, sama sepertimu."
Alya menoleh, menatap pria yang dulu ia benci dengan seluruh jiwanya. "Kau belajar berjalan?"
"Secara metaforis, ya. Belajar menjadi manusia yang layak untuk duduk di sampingmu tanpa membuatmu gemetar ketakutan."
Alya terdiam sebentar, lalu jemarinya bergerak memainkan ujung syal wolnya. "Warna kamarnya... aku tidak suka biru tua."
Arka mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan perpindahan topik yang tiba-tiba. "Kamar Arsenio? Reno bilang kau ingin tema nautika."
"Itu ide Reno. Aku ingin warna yang lebih hangat. Mungkin abu-abu muda dan krem? Dengan sentuhan kayu alami. Aku ingin dia merasa tenang, bukan merasa sedang berada di dalam kapal selam."
Arka tersenyum lebar. "Abu-abu dan krem. Dicatat. Besok aku akan meminta orang-orang interior mengganti semuanya. Bagaimana dengan furniturnya?"
"Jangan yang terlalu kaku. Aku ingin ada rak buku besar di satu sisi dinding. Aku ingin dia tumbuh dengan cerita, bukan hanya dengan angka dan laporan bisnis."
"Kau ingin dia menjadi pembaca?" tanya Arka lembut.
"Aku ingin dia memiliki imajinasi. Dunia ini sudah cukup keras, Arka. Aku tidak ingin dia hanya melihat hitam dan putih seperti... seperti yang kita lalui."
Arka mengangguk pelan. "Dia akan memiliki semua buku yang dia inginkan. Aku bahkan akan membangun perpustakaan pribadi untuknya jika itu yang kau mau."
"Jangan berlebihan," potong Alya cepat. "Cukup rak yang bisa dia jangkau sendiri. Dan satu lagi... aku ingin sekolah yang memiliki taman luas. Bukan sekolah gedung tinggi yang tertutup."
"Ada beberapa sekolah dasar di dekat Richmond yang sangat bagus. Lingkungannya asri. Kita bisa melihat-lihatnya nanti saat dia sudah mulai merangkak."
"Nanti? Itu masih lama sekali, Arka. Dia bahkan belum bisa memegang botolnya sendiri dengan benar."
"Waktu berjalan cepat, Al. Lihatlah, bulan lalu kau bahkan tidak bisa berdiri tanpa menangis kesakitan. Sekarang kau sudah memikirkan pendidikan dasar untuknya."
Alya menatap kakinya. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena tidak memaksaku untuk cepat sembuh. Karena membiarkanku mengambil langkah-langkah kecil ini."
Arka meraih tangan Alya, kali ini ia tidak melepaskannya meskipun Alya sempat kaku sejenak. Ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya. "Kau yang melakukannya sendiri. Aku hanya penonton yang paling bersemangat melihat kemajuanmu."
"Arka, tentang London..." Alya menggantung kalimatnya. "Sampai kapan kita akan di sini?"
"Sampai kau merasa siap. Jika kau ingin menetap di sini selamanya, aku akan membeli rumah permanen di Kensington atau Chelsea. Jika kau ingin kembali ke Jakarta, kita akan kembali sebagai keluarga yang baru. Keputusan ada di tanganmu."
"Keluarga?" Alya mengulang kata itu dengan nada getir yang tipis.
"Aku tahu aku belum pantas menyebutnya begitu," Arka memperbaiki posisinya. "Tapi aku sedang berusaha, Al. Aku tidak meminta dimaafkan dalam semalam. Aku hanya meminta izin untuk tetap berada di orbitmu."
Alya menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Dia mulai bergerak," tunjuk Alya ke arah stroller.
Arsenio menggeliat, tangan kecilnya keluar dari balik selimut. Arka segera berdiri, membungkuk di atas stroller dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah bayi itu terbuat dari kaca yang paling rapuh.
"Hei, jagoan. Sudah bangun?" bisik Arka.
Bayi itu membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum mengeluarkan suara celotehan kecil yang menggemaskan. Arka mengangkatnya, menggendongnya dengan posisi yang sekarang sudah sangat mahir ia lakukan.
"Dia lapar?" tanya Alya.
"Sepertinya dia hanya ingin melihat pemandangan," Arka membawa Arsenio mendekat ke arah Alya. "Lihat, Al. Dia tersenyum padamu."
Alya mengulurkan tangannya, menyentuh pipi lembut putranya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, menghancurkan sisa-sisa es yang membeku di hatinya selama setahun terakhir.
"Halo, sayang," bisik Alya. "Lihat pohon-pohon itu? Itu namanya Hyde Park. Nanti, kalau kakimu sudah kuat, kita akan lari-lari di sana."
"Dan aku yang akan mengejar kalian berdua," tambah Arka, menatap Alya dan Arsenio dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara pemujaan, penyesalan, dan harapan yang membuncah.
"Kau akan kalah," tantang Alya dengan senyum kecil. "Aku akan menjadi pelari yang cepat."
"Aku tidak keberatan kalah darimu, Al. Selama kalian tetap berada dalam pandanganku, aku sudah memenangkan segalanya."
Mereka kembali terdiam, namun kali ini ada semacam kesepakatan tak tertulis yang melayang di udara. Dendam itu mungkin belum sepenuhnya hilang, lukanya mungkin masih meninggalkan bekas parut, namun di sore hari yang tenang di Hyde Park ini, mereka memilih untuk meletakkan senjata.
"Jadi, abu-abu dan krem?" Arka memastikan lagi sambil mengayun pelan Arsenio dalam pelukannya.
"Ya. Dan jangan lupa rak bukunya."
"Dan sekolah dengan taman luas."
"Dan jangan pernah membelikannya mainan senjata-senjataan," tambah Alya tegas.
Arka terkekeh. "Hanya bola, buku, dan mungkin set catur kecil?"
"Catur boleh. Itu melatih otak."
"Baiklah. Masa depan yang cerah untuk Arsenio dimulai dari warna cat kamar."
Alya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata sejenak sambil merasakan kehangatan matahari yang mulai tenggelam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak merasa perlu melarikan diri. Langkah kecil yang ia ambil hari ini bukan hanya tentang berjalan dengan kakinya, melainkan tentang melangkah keluar dari kegelapan masa lalu.
"Arka?"
"Ya?"
"Terima kasih untuk sore ini."
Arka terdiam, menatap wanita di sampingnya dengan binar mata yang redup karena haru. "Sama-sama, Alya. Terima kasih karena sudah mencoba."