Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Deru Mesin dan Rak Buku Fiksi
Matahari sore Yogyakerto mulai merendah, memancarkan cahaya jingga keemasan yang menyilaukan. Udara panas sisa siang hari masih terasa menguap dari permukaan aspal. Di sebuah gang kecil yang agak tersembunyi, tak jauh dari SMA Taruna Citra, Rama Arsya Anta sedang melakukan ritual pergantian wujudnya. Seragam putih abu-abunya yang rapi sudah ia lipat asal dan masukkan ke dalam tas. Kemeja itu kini digantikan oleh kaus oblong hitam polos dan jaket kulit andalannya. Kacamata minusnya yang tebal kembali masuk ke dalam sarungnya, membebaskan pandangan elangnya yang tajam.
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, si anak emas kesayangan guru telah lenyap. Sebagai gantinya, sang pemimpin The Ghost kini berdiri tegap di samping motor sport hitam legamnya yang tersembunyi di balik terpal usang.
Rama menyisir rambut klimisnya ke belakang menggunakan jari-jarinya secara kasar, membiarkannya berantakan tertiup angin sore. Ia memakai helm full-face-nya, menstarter motor hingga suara raungan mesin membelah kesunyian gang, dan melesat menuju perempatan jalan yang telah disepakati.
Dari kejauhan, Rama sudah bisa melihat sosok gadis itu. Nayla berdiri di dekat tiang lampu merah halte bus. Ia masih mengenakan kardigan peach dan rok abu-abu panjangnya, dengan ransel ransel yang menggantung di satu bahu. Jilbab ungunya berkibar pelan. Gadis itu terlihat sangat kontras dengan hiruk-pikuk jalanan kota, seperti sebuah anomali yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam dunia gelap Rama.
Rama menepikan motornya tepat di depan Nayla. Suara knalpot racing yang bising membuat beberapa orang di halte menoleh dengan tatapan terganggu, tapi Rama tidak peduli. Ia membuka kaca visor helmnya, menatap Nayla yang sedang sibuk mengipasi wajahnya dengan sebelah tangan.
"Lama banget sih lo, Babu. Keburu meleleh gue di sini nungguin lo ganti baju," gerutu Nayla tanpa basa-basi, meski tangannya langsung terulur menerima helm cadangan yang disodorkan Rama.
"Bawel. Udah bagus gue mau nganterin," balas Rama dingin. "Buruan naik. Helmnya diklik yang benar, gue nggak mau tanggung jawab kalau kepala lo menggelinding di jalan."
Nayla mendengus sebal, tapi tetap menuruti instruksi Rama. Ia memakai helm bogo berwarna hitam doff yang kebesaran di kepalanya itu, lalu dengan sedikit susah payah memanjat jok belakang motor sport Rama yang lumayan tinggi.
"Pegangan," perintah Rama saat ia merasakan jok belakangnya sedikit amblas karena beban tubuh gadis itu.
"Nggak usah modus deh lo nyuruh-nyuruh gue peluk. Gue pegangan besi belakang aja," tolak Nayla judes.
Rama tersenyum sinis di balik helmnya. "Terserah. Tapi jangan nangis kalau lo nyungsep ke belakang."
Tanpa memberikan aba-aba lebih lanjut, Rama langsung memutar tuas gas dalam-dalam. Motor hitam itu melesat cepat, membelah kemacetan sore Yogyakerto dengan kelincahan yang membuat jantung Nayla nyaris melompat dari kerongkongan. Gadis itu refleks menjerit tertahan dan, mengabaikan gengsinya sepuluh detik yang lalu, langsung memajukan badannya dan mencengkeram erat sisi kanan dan kiri jaket kulit Rama.
"Rama! Pelan-pelan, sinting!" teriak Nayla dari arah belakang, suaranya teredam oleh embusan angin dan deru mesin.
"Katanya nyawa lo mahal! Makanya pegangan yang erat, Majikan!" balas Rama setengah berteriak. Di balik visornya yang gelap, senyum jahil terukir lebar di bibir cowok itu.
Rama mengemudikan motornya dengan lincah, menyelip di antara deretan mobil dan bus kota. Setiap kali motor itu sedikit miring saat menikung, cengkeraman tangan Nayla di jaket Rama semakin mengerat. Dari balik tebalnya jaket kulit itu, Rama bisa merasakan getaran ketakutan bercampur kekesalan dari gadis di belakangnya. Namun, entah kenapa, bukannya merasa terbebani, Rama malah menikmati momen ini. Sensasi saat ujung helm Nayla sesekali membentur punggungnya membuat aliran darahnya berdesir aneh. Ini jauh lebih mendebarkan daripada balapan liar melawan musuh bebuyutannya di jalanan bypass.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di pelataran parkir Toko Buku Cakrawala, sebuah toko buku terbesar yang berlokasi di pusat kota. Rama mematikan mesinnya, dan seketika itu juga Nayla langsung turun dari motor dengan kaki yang terlihat sedikit gemetar.
Gadis itu melepas helmnya dengan kasar dan langsung memukul lengan Rama cukup keras. "Lo kalau mau mati bunuh diri, jangan ngajak-ngajak gue! Jantung gue rasanya mau copot tahu nggak?!"
Rama tertawa pelan, tawa serak yang khas dan sangat berbeda dari tawanya saat menjadi anak teladan. Ia merapikan rambutnya dan menaruh helm di atas tangki motor. "Siapa suruh gengsi nggak mau pegangan dari awal? Lagian, itu hitungannya gue bawa motor paling santai. Kalau lo ikut gue balapan, lo mungkin udah pingsan di putaran pertama."
"Dih, bangga banget jadi preman aspal," cibir Nayla sambil merapikan jilbab ungunya yang sedikit miring akibat angin. "Awas lo ya pulangnya ngebut lagi, gue mogok makan siomay selamanya."
"Loh, bagus dong. Berarti utang gue lunas, kan?" Rama menaikkan sebelah alisnya.
Nayla hanya mendelik tajam, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kaca otomatis toko buku. Rama menghela napas, menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengekor di belakang gadis itu.
Begitu pintu kaca terbuka, embusan AC yang dingin langsung menyambut mereka, mengusir gerah akibat polusi jalanan. Aroma khas kertas baru dan tinta cetak memenuhi udara. Rama memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, berjalan santai mengikuti langkah Nayla. Toko buku ini cukup luas, dengan deretan rak kayu yang menjulang tinggi menampilkan ribuan judul dari berbagai genre.
Sebagai siswa yang selalu dituntut juara, Rama tentu sering ke toko buku. Tapi destinasinya selalu jelas: rak buku referensi, rak bank soal ujian, atau rak buku sains. Namun kali ini, Nayla justru menariknya melewati deretan buku-buku berat itu, terus melangkah menuju sudut ruangan yang didominasi warna-warna pastel cerah. Rak novel dan fiksi.
Nayla langsung sibuk menyusuri rak dengan mata berbinar. Tangannya lincah menyentuh punggung-punggung buku tebal bersampul indah.
"Lo mau nyari buku apaan sih sampai rela naik motor rongsokan gue?" tanya Rama, menyandarkan bahunya di ujung rak sambil menatap heran ke arah puluhan novel bergenre fantasi dan romansa yang berjajar rapi.
"Gue lagi nyari kelanjutan novel seri yang gue baca minggu lalu," gumam Nayla tanpa mengalihkan pandangannya dari rak. "Ceritanya seru banget, Ram. Genrenya isekai gitu, tentang cewek biasa yang tiba-tiba masuk ke dunia magis, terus dia ketemu sama cowok dingin tapi ternyata aslinya bucin. Sama sedikit bumbu romansa kerajaan yang bikin baper."
Rama mendengus tak percaya. "Buku khayalan tingkat tinggi begitu lo baca? Pantas aja kelakuan lo suka di luar nalar. Nggak ada manfaatnya sama sekali."
Nayla menoleh sekilas, memutar bola matanya malas. "Semua buku itu ada manfaatnya, Bos Besar. Tergantung gimana cara otak lo mencernanya. Dari cerita fiksi kayak gini, gue belajar gimana cara berimajinasi dan lari dari realita yang membosankan. Lo pikir cuma motor modifan lo doang yang bisa jadi pelarian?"
Kata-kata itu lagi-lagi menohok tepat di titik lemah Rama. Ia terdiam, tak bisa membantah. Nayla benar. Jika ia bisa menemukan kedamaian dengan mempertaruhkan nyawa di aspal yang keras, apa salahnya jika gadis ini menemukan kedamaian di antara lembaran kertas yang menceritakan dunia antah-berantah?
"Ah, ini dia!" pekik Nayla pelan, wajahnya semringah saat menemukan buku yang ia cari.
Namun, senyum gadis itu perlahan memudar saat menyadari posisi buku tersebut. Novel bersampul biru dongker itu berada di rak paling atas, tepat di sudut yang sangat sulit dijangkau. Nayla menghela napas, lalu mencoba berjinjit. Tangan mungilnya terulur ke atas, jarinya berusaha menggapai ujung buku, namun masih kurang sekitar beberapa sentimeter lagi. Ia melompat kecil, tapi usahanya sia-sia.
Rama yang sedari tadi memperhatikan tingkah gadis itu tak bisa menahan senyum tipisnya. Ia melangkah maju perlahan. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berdiri tepat di belakang Nayla.
Jarak mereka terkikis habis. Nayla yang sedang fokus berjinjit tiba-tiba tersentak pelan saat merasakan hawa hangat dari tubuh tegap yang menjulang di belakangnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau khas jaket kulit dan embusan angin malam langsung menginvasi indra penciumannya, menenggelamkan wangi kertas toko buku.
Rama mengangkat tangan kanannya, dengan mudah melewati kepala Nayla, dan menarik buku bersampul biru dongker itu dari rak atas. Saat ia menurunkan tangannya, dada Rama nyaris bersentuhan dengan punggung gadis itu.
"Ini yang lo cari, kan?" suara serak Rama terdengar sangat dekat, tepat di atas telinga Nayla.
Nayla menelan ludah. Entah kenapa, suhu AC toko buku yang tadi terasa dingin tiba-tiba berubah menjadi sangat panas. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rongga dadanya layaknya genderang perang. Ia perlahan menurunkan kakinya dari posisi berjinjit dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Rama.
Mata mereka bersirobok. Rama menatapnya dengan pandangan intens yang entah sejak kapan menjadi tatapan favoritnya. Cowok itu menyodorkan buku tebal itu ke depan dada Nayla.
"Makanya, kalau dikasih susu waktu kecil itu dihabisin, bukan malah dibuang ke pot tanaman. Biar badannya agak tinggi dikit," ledek Rama memecah kecanggungan, senyum jahil yang sangat menyebalkan kembali terpasang di wajahnya. Ia sengaja mundur selangkah, memberikan jarak agar gadis itu bisa bernapas dengan benar.
Rona merah muda seketika menjalar di kedua pipi Nayla. Ia merebut buku itu dari tangan Rama dengan kasar, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"Enak aja! Ini tuh tinggi ideal buat cewek, tahu! Lo-nya aja yang kelebihan kalsium makanya kayak tiang listrik," omel Nayla cepat, lalu berbalik memunggungi Rama dan berpura-pura sangat sibuk membaca sinopsis di sampul belakang novelnya. "Udah ah, gue mau ke kasir. Lama-lama di sini deket lo malah bikin emosi."
Nayla berjalan setengah berlari menuju meja kasir di ujung ruangan. Di belakangnya, Rama berjalan santai sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa agak panas. Ia menatap punggung gadis berjilbab ungu itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
Ada rasa nyaman yang aneh. Selama ini, Rama selalu merasa hidup di dua dunia yang terpisah secara ekstrem. Terang dan gelap. Sepi dan bising. Suci dan berdosa. Namun, saat bersama Nayla, kedua dunianya itu seolah melebur menjadi satu. Gadis itu tahu keburukannya, mengancamnya, menjadikannya pesuruh, tapi di saat yang sama, Nayla menariknya ke tempat-tempat sederhana seperti ini. Toko buku, tukang bubur, gazebo sekolah. Tempat-tempat biasa yang kini terasa jauh lebih bermakna.
Selesai membayar, Nayla menenteng kantong plastiknya. Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, Rama tiba-tiba merebut kantong kresek berisi novel tebal itu dari tangan Nayla dengan santai.
"Eh, ngapain lo?" protes Nayla kaget.
"Bawain belanjaan lo," jawab Rama acuh tak acuh, berjalan mendahului Nayla menuju area parkir. "Katanya gue babu lo? Kalau babu tugasnya kan bawain barang majikan. Udah, lo jalan aja yang bener nggak usah banyak protes."
Nayla mematung di ambang pintu kaca. Angin sore yang hangat menerpa wajahnya. Ia menatap punggung tegap cowok berjaket kulit hitam yang kini berjalan ke arah motornya itu dengan seutas senyum yang tak bisa lagi ia tahan. Ancaman tentang membongkar rahasia geng motor itu kini terasa seperti sebuah lelucon usang. Yang tertinggal sekarang hanyalah sebuah ikatan kasat mata yang semakin lama semakin mengencang, menarik mereka berdua ke dalam sebuah lintasan baru yang tidak pernah mereka prediksi sebelumnya.