NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Dingin: Rahasia Sang Istri Pengganti

Dinikahi Tuan Muda Dingin: Rahasia Sang Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Araya Lin dipaksa menjadi pengantin

pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.

Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.

Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Hitung Mundur di Lantai 45

Jarum jam besar bergaya klasik di dinding ruang kerja Arkanza terus berdetak. Sudah hampir satu jam Araya duduk diam di sofa, memainkan ujung gaunnya yang terkena tumpahan teh. Di balik poni yang menutupi wajahnya, matanya terus melirik ke arah pintu dan jam secara bergantian.

​Waktunya bergerak.

​Araya menarik napas panjang, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata andalannya. Ia berdiri perlahan, memeluk tas kecilnya di dada.

​"T-tuan Arkanza..." panggilnya dengan suara sekecil cicitan tikus.

​Arkanza yang sedang fokus membaca dokumen tidak mengalihkan pandangannya.

"Bicara."

​"Gaunku... lengket karena teh tadi. Rasanya sangat tidak nyaman. B-bolehkah aku pergi ke toilet sebentar untuk membersihkannya?"

​Barulah Arkanza mengangkat wajahnya. Mata elangnya menatap tajam ke arah noda cokelat di gaun krem Araya. Pria itu menghela napas kasar, tampak terganggu dengan hal-hal sepele seperti ini.

​"Ruang istirahat ada di lorong sebelah kanan," ucap Arkanza dingin. Pria itu melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. "Aku beri waktu tepat sepuluh menit. Jika dalam sepuluh menit kau belum kembali ke sofa ini, aku akan menyuruh penjaga menyeretmu kembali."

​"B-baik, Tuan. Terima kasih!" Araya menunduk dalam-dalam lalu bergegas keluar dari ruangan itu dengan langkah tertatih-tatih, seolah berlari pun ia tak sanggup.

​Namun, begitu pintu kayu jati raksasa itu tertutup di belakangnya dan ia berbelok ke lorong toilet yang sepi, postur tubuh Araya berubah seratus delapan puluh derajat. Bahunya tegak, langkah kakinya menjadi seringan angin dan cepat. Wajah lugunya menghilang tak berbekas, digantikan oleh sorot mata tajam seorang predator yang bersiap memburu mangsanya.

​Ia masuk ke dalam bilik toilet dan segera mengunci pintu. Dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan ponsel modifikasinya.

​"Sepuluh menit. Cukup untuk turun ke lantai empat puluh lima dan kembali," gumamnya.

​Jemarinya bergerak kilat di atas layar hitam. Ia menyambungkan perangkatnya ke penyadap yang tadi ia pasang di meja Arkanza, menjadikannya jembatan untuk masuk ke sistem keamanan utama lantai ini.

​[Membajak CCTV Lorong... Mengaktifkan rekaman loop 10 menit... Berhasil.]

​Araya tersenyum miring. Di layar monitor ruang keamanan di lantai bawah, sosoknya tidak akan pernah terlihat keluar dari toilet ini.

​Ia tidak bisa menggunakan lift utama maupun lift karyawan karena membutuhkan kartu akses ID. Satu-satunya jalan adalah tangga darurat. Bagi gadis lemah dari keluarga Lin, menuruni lima belas lantai mungkin akan membuatnya pingsan. Tapi bagi "Z" yang terlatih secara fisik dan mental, ini hanyalah pemanasan ringan.

​Araya membuka pintu tangga darurat dan mulai berlari menuruni anak tangga dengan kecepatan luar biasa. Napasnya teratur, gerakannya sunyi tanpa suara pantofel yang bergesekan dengan beton. Sesekali ia melirik layar ponselnya yang menampilkan hitungan mundur.

​Tujuh menit tersisa.

​Lantai 55... Lantai 50... Lantai 46... dan akhirnya, Lantai 45.

​Araya mendorong pintu tangga darurat perlahan. Lorong lantai empat puluh lima sangat berbeda dengan lantai lainnya. Tidak ada jendela kaca, pencahayaannya redup, dan suasananya sedingin lemari es raksasa. Ini adalah ruang arsip fisik yang menyimpan rahasia terbesar Aditama Group yang tidak berani mereka digitalisasi.

​Ia melangkah mendekati pintu baja kokoh di ujung lorong. Di sana, terdapat panel keamanan tingkat tinggi: pemindai sidik jari dan retina. Level 5.

​"Pemindai biometrik ganda. Arkanza benar-benar paranoid," desis Araya.

​Ia tidak kehabisan akal. Araya mengeluarkan sebuah alat kecil peretas hardware dari tasnya, lalu membongkar paksa casing bawah panel tersebut menggunakan jepit rambutnya. Ia menyambungkan kabel alatnya langsung ke sirkuit utama panel keamanan.

​[Bypass Enkripsi... Memasukkan algoritma paksa... 3... 2... 1...]

​Klik.

​Suara kunci mekanis yang terbuka terdengar seperti alunan melodi indah di telinga Araya. Pintu baja itu bergeser terbuka sedikit.

​Araya melirik waktunya. Empat menit tersisa. Ia harus bergegas masuk, mencari rak tahun 1998, dan memotret dokumennya.

​Ia menyelinap masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi deretan rak arsip menjulang tinggi itu. Bau debu dan kertas tua langsung menyergap penciumannya. Araya menyalakan senter kecil dari ponselnya, menyusuri nomor tahun di setiap rak dengan langkah cepat nan waspada.

​"1995... 1996... 1998. Ini dia!" matanya berbinar di kegelapan.

​Namun, tepat saat tangannya hendak menarik sebuah map tebal berwarna merah dengan label 'Sengketa Lahan 1998', seluruh bulu kuduknya berdiri. Insting bertahannya menjerit peringatan keras.

​Tap... Tap... Tap...

​Suara langkah kaki yang berat dan mantap terdengar menggema dari ujung lorong rak. Ada seseorang di dalam ruang arsip gelap ini selain dirinya. Dan langkah kaki itu, perlahan namun pasti, mengarah lurus kepadanya.

​Araya menahan napasnya. Jantungnya berdegup gila. Jika ia tertangkap basah di lantai terlarang ini dengan dokumen rahasia di tangannya, riwayatnya benar-benar akan tamat hari ini juga.

1
Anonim
Ceritanya Bagus! /Heart/
Susilawati 1978
serru, lanjut
Anonim
Lanjut
Anonim
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!