NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PASAR KARAT DAN JIWA YANG TENGGELAM

Langkah Haidar terhenti di ujung lorong transisi yang lembap. Sinyal di telinganya berdenging, tapi bukan karena gangguan mesin. Dari balik gerbang baja yang miring di depan sana, sebuah gelombang suara merayap masuk—suara yang sangat ia kenali, namun terasa sangat salah di tempat seperti ini.

​Riuh.

​Itu adalah suara ribuan manusia. Suara tawar-menawar yang sengit, teriakan pedagang, dan deru kerumunan yang berdesakan. Untuk sekejap, jantung Haidar berdegup kencang. Suara itu begitu identik dengan suasana jam sibuk di pusat kota Olyntia, sesaat sebelum kecelakaan itu memutus segalanya.

​"Sersan, kau dengar itu?" bisik Haidar, tangannya refleks meraba gagang belati hitamnya. "Ada kehidupan di depan sana. Manusia... banyak sekali."

​Sersan tidak menoleh. Punggungnya yang tegak tetap bergerak maju dengan presisi seorang prajurit. "Jangan tertipu oleh volumenya, Haidar. Itu bukan suara kehidupan. Itu adalah suara keputusasaan yang tidak tahu cara untuk diam. Mereka tidak sedang hidup; mereka sedang tenggelam."

​Saat mereka melewati gerbang, pemandangan itu menghantam Haidar.

​Sebuah aula raksasa yang luasnya tak terukur, dipenuhi oleh kepulan uap kuning dan ribuan sosok yang berdesakan di antara lapak-lapak rongsokan. Cahaya lampu merkuri yang berkedip-kedip memberikan kesan menyakitkan pada mata. Riuh itu memang nyata, tapi hampa. Orang-orang berteriak mempromosikan barang rongsokan, namun mata mereka putih kelabu, tak ada binar di sana.

​Inilah Pasar Karat.

​Haidar berjalan melewati kerumunan itu dengan rasa mual. Ia menyaksikan seorang pria paruh baya menyerahkan sebuah botol kaca kecil berisi cahaya redup—memori tentang wajah istrinya—kepada seorang pedagang. Sebagai gantinya, si pedagang memberikan setetes cairan hitam pekat: Pelumas Niskala.

​Dengan tangan gemetar, pria itu mengoleskan minyak itu ke engsel lututnya yang mengeluarkan bunyi derit memekakkan telinga setiap kali bergerak. Begitu minyak menyentuh logam, bunyi itu hilang, berganti dengan desah lega yang hampa. Pria itu kini bisa berjalan lancar, meski ia baru saja kehilangan alasan kenapa ia harus terus berjalan.

​"Mereka lebih memilih lupa siapa diri mereka, daripada harus merasakan perihnya engsel yang terkunci karat," suara bariton Sersan memecah lamunan Haidar. "Ayo. Jangan berhenti."

​Langkah mereka terhenti di sebuah sudut paling sunyi. Di sana, seorang pria tua dengan kacamata retak duduk tenang di balik meja penuh rongsokan arloji. Pak Hadi. Berbeda dengan jiwa-jiwa yang tenggelam di luar sana, tatapan Pak Hadi tajam, seolah ia bisa melihat menembus lapisan imajinasi dunia ini.

​"Eksekutor baru," Pak Hadi terkekeh, suaranya seperti gesekan amplas. "Masih segar, masih penuh emosi. Kau tahu, Nak? Di sini, emosi adalah bahan bakar yang paling dicari The Watcher."

​Haidar mengernyit. "Kami hanya lewat, Pak Tua. Kami punya urusan dengan penguasa kota ini."

​Pak Hadi mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah hingga hampir tertelan keriuhan pasar. "Urusan? Atau kau sedang diantar menuju sebuah jebakan?"

​Mata Pak Hadi melirik tajam ke arah Sersan yang berdiri memunggungi mereka—sosok yang terlalu tenang, terlalu sigap, dan tidak pernah terlihat lelah sedikit pun.

​"Berhati-hatilah dengan 'pemandu' yang tidak pernah merasa lelah," bisik Pak Hadi. "Apakah dia membantumu pulang, atau dia hanya sedang memastikan 'aset' miliknya sampai ke tangan The Watcher dengan selamat? Seorang penggembala juga akan menyelamatkan dombanya dari serigala, tapi bukan karena dia sayang pada domba itu... melainkan karena dia tidak ingin kehilangan dagingnya saat sampai di pasar nanti."

​Pak Hadi kemudian memberikan sebuah baut emas kecil kepada Haidar. "Simpan ini. Jika suatu saat 'frekuensi' kalian tidak sejalan, gunakan ini untuk melihat apa yang ada di balik baja."

​Haidar merasakan getaran aneh saat menerima baut itu. Ia menoleh ke arah Sersan. Bayangan Sersan di bawah lampu merkuri terlihat sangat familiar, mengingatkannya pada sesuatu yang pernah ia lihat di kamar Kinaya.

​"Haidar! Waktu kita habis!" komando Sersan dengan tegas. "The Watcher sudah mulai menutup gerbang Sektor Perakitan. Kita harus bergerak sekarang!"

​Haidar menyimpan pemberian Pak Hadi, lalu mengikuti langkah Sersan. Namun, suara riuh pasar di belakangnya kini terdengar seperti jeritan orang-orang yang terkubur hidup-hidup. Ia mencengkeram boneka beruang di sakunya, sementara benih keraguan mulai tumbuh di hatinya. Apakah Sersan benar-benar kawannya, atau hanya bagian dari sistem yang sedang menggiringnya?

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!