Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Perubahan Seraphina tidak terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada pertengkaran besar yang membuat seluruh rumah berubah tegang dalam satu malam. Semuanya berjalan perlahan, nyaris tidak terlihat jika hanya diperhatikan sekilas. Namun bagi orang-orang yang hidup bersamanya setiap hari, perubahan itu mulai terasa semakin jelas dari hari ke hari.
Dan yang paling berbeda adalah satu hal sederhana.
Seraphina berhenti peduli.
Pagi itu ruang makan kembali dipenuhi suasana yang sama seperti biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar di sisi ruangan, memantul lembut di meja panjang yang sudah dipenuhi sarapan. Aroma kopi hangat bercampur dengan roti panggang dan suara pelan alat makan yang sesekali bersentuhan.
Darius duduk di tempat biasanya sambil membaca berita bisnis di tablet. Wajahnya tampak santai, sesekali mengernyit kecil saat membaca sesuatu yang menarik perhatiannya. Lysandra duduk beberapa kursi darinya sambil memilih foto di ponsel, terkadang tersenyum sendiri ketika melihat hasil editannya. Sementara Kael terlihat sibuk memeriksa dokumen kerja, jemarinya bergerak cepat membalik halaman tanpa banyak bicara.
Seraphina duduk bersama mereka.
Tenang.
Diam.
Tanpa mencoba memulai percakapan seperti biasanya.
“Ayah, aku mau pergi ke acara gala minggu depan,” ujar Lysandra sambil tersenyum manis. “Aku sudah lihat gaun yang cocok, tapi harus custom.”
Biasanya sebelum Darius sempat menjawab, Seraphina sudah lebih dulu tertarik membahas detail acara itu. Ia akan menanyakan tema gala, warna gaun, siapa desainer yang cocok, bahkan memanggil stylist langganan hanya untuk memastikan semuanya sempurna.
Namun sekarang, ia hanya mengangkat cangkir tehnya perlahan lalu menyesapnya tanpa bereaksi.
Darius menjawab santai, “Kalau memang perlu, beli saja.”
Lysandra tersenyum puas. “Aku juga mau tambah kartu akses buat pembayaran.”
Kali ini matanya mengarah langsung pada Seraphina. Karena selama ini, semua urusan seperti itu selalu melewati ibunya. Tidak pernah sulit. Tidak pernah ditolak.
Namun Seraphina hanya meletakkan cangkirnya kembali ke meja dengan gerakan tenang.
“Gunakan limit yang sudah ada.”
Nada suaranya datar. Tidak kasar, tetapi juga tidak mengandung kelembutan yang biasanya selalu membuat permintaan Lysandra terasa mudah dipenuhi.
Lysandra langsung mengernyit kecil. “Tapi itu tidak cukup.”
“Kalau begitu sesuaikan pengeluaranmu.”
Jawaban itu membuat suasana meja makan berubah sunyi selama beberapa detik. Bahkan Darius akhirnya mengangkat kepala dari tabletnya untuk melihat mereka bergantian.
“Ibu serius?” tanya Lysandra, kali ini nadanya terdengar tidak percaya.
Seraphina menatapnya sebentar. Tatapannya tetap tenang, tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun justru ketenangan itu terasa asing.
“Ada masalah?”
Lysandra membuka mulut seolah ingin membalas, tetapi akhirnya hanya menghela napas pelan lalu bersandar kesal di kursinya. Biasanya ibunya akan segera melunak setelah melihat ekspresi seperti itu. Biasanya percakapan seperti ini tidak akan berlangsung lama.
Sekarang Seraphina justru kembali menikmati sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Darius memperhatikan itu sekilas sebelum akhirnya berkata, “Kamu lebih ketat sekarang.”
Seraphina tersenyum tipis.
“Hanya lebih teratur.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada usaha mencairkan suasana atau membuat semua kembali nyaman seperti biasanya. Ia benar-benar terlihat tidak peduli.
Dan itulah yang mulai membuat Lysandra merasa tidak nyaman.
---
Hari-hari berikutnya perubahan itu semakin terasa. Bukan perubahan besar yang mencolok, melainkan hal-hal kecil yang perlahan menghilang tanpa mereka sadari.
Seraphina berhenti menanyakan jadwal mereka. Ia tidak lagi mengingatkan jam makan, tidak lagi bertanya apakah mereka pulang larut atau tidak. Pesan-pesan panjang yang dulu selalu ia kirim pada Kael untuk mengingatkannya istirahat perlahan berhenti muncul.
Ia juga tidak lagi memanggil dokter pribadi hanya karena Lysandra mengeluh sedikit pusing. Tidak lagi duduk menunggu di ruang tengah saat anak-anaknya belum pulang sampai malam. Bahkan perhatian kecil seperti memastikan mereka membawa jaket ketika cuaca dingin pun menghilang begitu saja.
Semua hal yang dulu terasa biasa…
Kini perlahan lenyap.
Dan anehnya, Seraphina justru merasa lebih tenang.
Awalnya ia sempat merasa ada ruang kosong yang muncul di dalam dirinya. Kebiasaan bertahun-tahun tidak mudah hilang begitu saja. Namun semakin hari berlalu, ia mulai menyadari sesuatu.
Selama ini, dirinya hidup hanya untuk memperhatikan orang lain.
Memikirkan mereka.
Mengurus mereka.
Mengkhawatirkan mereka.
Sampai tanpa sadar, ia melupakan dirinya sendiri.
Dan sekarang, ketika semua itu mulai ia lepaskan satu per satu, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
---
Siang itu Kael datang ke ruang kerja Seraphina membawa beberapa dokumen proyek baru. Ruangan itu tenang seperti biasa, dipenuhi aroma kertas dan kopi yang mulai dingin di sudut meja.
“Ibu, aku butuh tanda tangan untuk proyek baru.”
Seraphina menerima map itu tanpa banyak bicara lalu mulai membacanya dengan teliti. Kael berdiri di depan meja sambil memperhatikan wajah ibunya diam-diam.
Biasanya Seraphina akan langsung mengajukan banyak pertanyaan. Ia akan membahas risiko investasi, potensi keuntungan, hingga detail kecil yang bahkan sering membuat Kael sendiri merasa lelah menjawabnya.
Hari ini berbeda.
Seraphina hanya membaca beberapa halaman sebelum menutup map itu kembali.
“Ada beberapa bagian yang belum jelas,” katanya tenang.
“Aku bisa jelaskan.”
“Tidak perlu sekarang. Tinggalkan saja.”
Kael sedikit mengernyit.
“Aku butuh persetujuan hari ini.”
“Kalau begitu tunggu sampai aku selesai memeriksanya.”
Nada suaranya tetap stabil. Tidak tinggi, tidak emosional, tetapi cukup jelas menunjukkan bahwa pembicaraan itu selesai.
Kael tidak langsung bergerak. Tatapannya terus tertuju pada Seraphina beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Ibu sengaja menjauh dari kami?”
Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.
Seraphina mengangkat kepala perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang terasa aneh.
Dan lagi-lagi Kael merasakan sesuatu yang berbeda dari mata ibunya.
Tidak ada kehangatan di sana.
Tidak ada perhatian yang dulu selalu muncul bahkan ketika mereka sedang berdebat.
Yang ada hanyalah ketenangan dingin yang sulit dijelaskan.
“Kamu terlalu banyak berpikir,” jawab Seraphina.
Kael terdiam sejenak sebelum akhirnya meletakkan map itu di meja lalu pergi tanpa bicara lagi.
Begitu pintu tertutup, Seraphina kembali fokus pada pekerjaannya. Tangannya bergerak membuka dokumen lain, seolah percakapan tadi tidak meninggalkan pengaruh apa pun.
Namun jauh di dalam dirinya, sebuah suara perlahan semakin jelas.
Ia mulai memisahkan semuanya.
Perannya sebagai ibu.
Dan kenyataan yang sebenarnya.
Dulu setiap kali melihat mereka, hatinya selalu bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat bekerja. Sekarang ia memaksa dirinya melakukan sebaliknya.
Berpikir lebih dulu.
Mengingat siapa mereka sebenarnya.
Mengingat bagaimana akhir hidupnya dulu.
Mengingat tatapan dingin mereka ketika tubuhnya tergeletak lemah di lantai tanpa seorang pun bergerak menolongnya.
Ingatan itu cukup untuk menghentikan sisa emosinya setiap kali mulai goyah.
---
Malam itu Seraphina duduk sendirian di kamar sambil memegang sebuah album foto lama yang baru saja ia ambil dari lemari. Lampu kamar menyala redup, menciptakan suasana sunyi yang terasa hampir asing.
Album keluarga.
Dulu benda itu sangat berharga baginya.
Jemarinya membuka halaman pertama perlahan. Foto dirinya dan Darius saat masih muda muncul di sana. Mereka berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar ke arah kamera. Darius terlihat jauh lebih hangat saat itu, sementara dirinya tersenyum tanpa beban.
Halaman berikutnya memperlihatkan Lysandra kecil yang tertawa sambil memegang tangannya erat. Kael berdiri di samping mereka dengan ekspresi canggung khas anak laki-laki seusianya, tetapi tetap terlihat dekat.
Semua tampak sempurna.
Terlalu sempurna.
Seraphina menatap foto-foto itu lama sekali. Dulu hanya dengan melihatnya saja ia sudah merasa hangat. Merasa hidupnya berarti. Merasa semua pengorbanannya tidak sia-sia.
Namun sekarang…
Yang ia rasakan hanyalah jarak.
Seolah wanita di dalam foto-foto itu adalah orang lain. Wanita yang terlalu percaya bahwa keluarganya mencintainya sebesar ia mencintai mereka.
Sudut bibir Seraphina bergerak tipis.
Namun tidak ada kehangatan dalam senyum itu.
Tangannya berhenti di satu foto ulang tahun keluarga beberapa tahun lalu. Mereka berdiri berdampingan sambil tersenyum bahagia. Lysandra memeluk lengannya, Kael berdiri dekat Darius, dan dirinya terlihat begitu hidup di tengah mereka.
Seraphina memandangi foto itu lama.
Lalu perlahan, suara di dalam kepalanya kembali muncul.
“Mereka bukan anakku…”
Kalimat itu terasa berat di dadanya. Namun kali ini ia tidak menghentikannya. Ia membiarkan dirinya mengakui kenyataan yang selama ini terus ia tolak.
“Mereka ancaman.”
Dadanya terasa sesak sesaat setelah menyadari kalimat itu keluar begitu jelas. Namun ia tidak menariknya kembali.
Karena itulah kenyataannya.
Mereka bukan lagi anak-anak kecil yang pernah tidur di pelukannya.
Mereka adalah orang-orang yang melihatnya mati tanpa rasa bersalah.
Dan Seraphina tidak boleh melupakan itu lagi.
Tangannya bergerak mengambil ponsel di meja samping ranjang. Ia membuka galeri yang penuh dengan ratusan foto keluarga.
Liburan.
Perayaan ulang tahun.
Makan malam bersama.
Senyum-senyum palsu yang dulu ia percaya sepenuhnya.
Seraphina menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mulai menghapus semuanya.
Satu per satu.
Jemarinya bergerak tenang tanpa keraguan. Foto demi foto menghilang dari layar, seperti sisa hidup lamanya yang perlahan ia buang.
Ketika akhirnya ia sampai pada foto keluarga terakhir, gerakannya sempat berhenti.
Foto itu adalah favoritnya dulu.
Mereka berempat berdiri bersama sambil tersenyum seperti keluarga sempurna.
Seraphina menatap foto itu sangat lama. Ingatan demi ingatan bermunculan begitu saja, tetapi kali ini tidak lagi mampu mengguncangnya seperti dulu.
Perlahan, ibu jarinya menekan layar.
Delete.
Foto itu menghilang.
Dan kali ini…
Seraphina tidak merasakan apa pun selain ketenangan dingin yang perlahan memenuhi dirinya.