Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Canggung
BAB 9 — Pagi yang Canggung
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di udara. Suhu ruangan terasa hangat, jauh berbeda dengan udara London yang dingin di luar.
Alena perlahan membuka matanya.
Pandangannya sempat kabur sebentar, belum sepenuhnya sadar. Dia merasakan kasur yang sangat empuk dan selimut tebal yang hangat membalut tubuhnya. Tapi... ini bukan kamarnya.
Ingatan semalam langsung menyerbu masuk ke otaknya secara bersamaan. Malam yang panjang, ciuman panas, sentuhan yang membakar, dan suara desahan yang tak henti. Wajahnya seketika memanas drastis, bahkan sebelum dia sepenuhnya bangun.
Dia berbalik perlahan, dan melihat sosok di sebelahnya sudah kosong. Kasurnya masih terasa hangat, berarti Adrian baru saja bangun.
Alena menarik selimut menutupi dadanya sampai ke dagu, matanya berkeliling melihat sekeliling kamar yang semalam gelap dan misterius, kini terlihat jelas di bawah sinar matahari. Masih rapi, masih elegan, tapi sekarang terasa... penuh kenangan.
Dengan hati-hati, dia turun dari ranjang. Kakinya terasa sedikit lemas dan nyeri, sisa semalam yang membuatnya tersenyum malu sendiri. Dia mencari pakaiannya yang berserakan di lantai, tapi baru saja dia akan mengambilnya, sebuah baju hangat terlempar ke arahnya.
"Pakai ini saja dulu. Pakaianmu masih lembap dan berantakan."
Alena tersentak. Adrian berdiri di ambang pintu kamar, hanya mengenakan celana tidur panjang dan dada bidangnya yang bidang terbuka. Rambutnya masih agak basah dan berantakan, terlihat dia baru saja mandi.
"O...oh... makasih," jawab Alena terbata-bata, langsung menyambar kemeja itu dan memakainya dengan cepat. Itu kemeja flanel milik Adrian, warnanya biru tua, dan ukurannya jauh terlalu besar untuk tubuh Alena. Bahannya tebal dan sangat wangi, beraroma sabun dan parfum pria itu yang khas.
Saat Alena selesai memakai kemeja itu dan mengancingkannya asal, Adrian masuk lebih dalam ke kamar. Matanya menyapu seluruh tubuh gadis itu dari atas ke bawah, menatap lekat-lekat bagaimana kemeja miliknya tergantung longgar di tubuh mungil Alena, hanya menutupi separuh paha gadis itu.
Rahang Adrian mengeras sedikit. Ada kilatan kepemilikan yang sangat jelas di matanya.
"Cocok," ucapnya pelan, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Kau terlihat sangat... menggoda memakai baju milikku. Seperti ini saja nanti kalau di rumah, jangan pakai baju lain."
Alena langsung menunduk malu, pipinya merah padam. "Ish... apaan sih. Canggung banget gini..."
Adrian tersenyum kecil, melihat kegugupan gadis itu justru membuatnya senang. Dia mendekat, mengulurkan tangan mengacak-acak pelan rambut Alena.
"Canggung kenapa? Kita sudah melakukan hal yang jauh lebih 'tidak sopan' daripada ini semalam, Sayang," bisiknya nakal tepat di telinga Alena, membuat gadis itu merinding.
"Aduh! Udah ah! Masak pagi-pagi udah digodain!" Alena mendorong pelan dada bidang pria itu, mencoba lari menjauh menuju ruang tengah. "Kopi dong! Katanya mau bikinin kopi!"
Adrian terkekeh pelan, suara tawanya yang jarang terdengar itu terdengar sangat hangat dan maskulin. "Siap, Nyonya. Sebentar ya."
Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersisian di meja makan kecil yang menghadap jendela besar. Di hadapan mereka masing-masing sudah tersedia secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
Suasananya memang terasa sedikit canggung. Ada tembok tak kasat mata yang muncul lagi, bukan karena mereka asing, tapi karena mereka sadar betapa besar risiko yang mereka ambil. Mereka bukan sekadar pacaran biasa. Ada garis profesional yang sudah mereka langgar habis-habisan.
"Jadi..." Alena memecah keheningan sambil mengaduk kopinya pelan. "Di kampus... gimana dong?"
Adrian meneguk kopinya sedikit, lalu menatap Alena dengan tatapan serius namun tetap lembut.
"Di kampus, aku tetap Dr. Adrian Vale, dan kau tetap mahasiswaku, Alena."
Kalimat itu terdengar dingin, tapi Alena mengerti maksudnya.
"Kita harus jaga jarak. Sangat jauh. Jangan sampai ada yang curiga sedikitpun. Jangan pernah menatapku terlalu lama, jangan pernah bicara padaku kecuali soal pelajaran, dan..." Adrian berhenti sejenak, menatap tajam. "...jangan pernah berharap aku akan bersikap manis di depan orang lain. Aku akan tetap jadi dosen galak yang kau kenal."
Alena mengangguk pelan, sedikit kecewa tapi mengerti. "Iya... aku paham kok. Rahasia besar ini cuma kita berdua yang tau kan?"
"Benar." Adrian meraih tangan Alena di atas meja, menggenggamnya erat. "Dunia luar tidak perlu tahu kalau malam-malamnya kau ada di sini, di pelukanku."
Alena tersenyum kecil, rasa canggungnya perlahan hilang digantikan rasa hangat. "Siap, Pak Dosen."
"Panggil Adrian," koreksi pria itu lembut. "Kecuali di kelas."
Mereka menghabiskan sarapan pagi itu dengan obrolan ringan, sesekali saling meledek dan mengingatkan kejadian semalam yang membuat Alena malu setengah mati. Adrian terlihat sangat protektif dan posesif, setiap kali Alena bergerak dan kemeja itu sedikit terbuka, matanya langsung melotot dan menarik kerah baju gadis itu agar tertutup rapat.
"Jangan kebuka-kesamping dong ah... cuma aku yang boleh lihat."
Waktu berlalu cepat, dan akhirnya Alena harus bersiap kembali ke apartemennya sendiri untuk berganti pakaian kuliah.
Saat berdiri lagi di depan pintu, memakai jaketnya sendiri, Alena menoleh ke arah pria yang bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada.
"Ya udah... aku pergi ya. Makasih kopinya, dan... makasih semalam."
Adrian tidak menjawab langsung. Dia berjalan mendekat, menarik pinggang Alena agar mendekat padanya. Tanpa basa-basi, dia mencium kening gadis itu lama, lalu turun ke bibirnya dengan ciuman singkat tapi manis dan penuh arti.
"Hati-hati di jalan," bisiknya, menatap mata Alena dalam.
Lalu, dengan nada rendah dan penuh otoritas yang khas, dia berbisik tepat di telinga gadis itu sebelum melepaskannya.
"Malam berikutnya... jangan buat aku menunggu lama."