Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 17
Matahari sore mulai tenggelam, meninggalkan warna ungu kemerahan yang tampak seperti luka di langit barak Eldersheath.
Di lapangan, pemandangan jauh lebih mengerikan.
Ratusan kadet masih berdiri—atau setidaknya mencoba berdiri—dengan tangan yang gemetar hebat memegang pedang kayu.
Suara *wush... wush...* yang tadinya bertenaga, kini terdengar seperti sapuan lidi yang tak berdaya.
Sudah tiga jam berlalu sejak mereka mulai mengayunkan pedang dalam posisi kuda-kuda rendah.
Satu per satu, kadet bertumbangan.
Seorang bocah dari keluarga cabang di barisan belakang tiba-tiba matanya berputar ke atas, pedang kayunya terlepas, dan ia jatuh berdebam ke tanah dengan busa tipis di bibirnya.
"Bawa dia ke ruang medis!" teriak Gilios tanpa rasa iba sedikit pun.
"Setelah dia bangun dan bisa melihat jarinya sendiri, seret dia kembali ke sini! Dia berhutang lima ratus ayunan padaku!"
Para pelayan medis berlarian membawa tandu, mengangkat tubuh-tubuh mungil yang pingsan karena kelelahan ekstrem.
Bagi anak berusia delapan tahun, stamina mereka memiliki batas yang sangat jelas,
namun Gilios seolah sengaja ingin menghancurkan batas itu berkali-kali sampai tidak ada yang tersisa selain insting bertahan hidup.
Ilwa masih bertahan. Giginya terkatup begitu rapat hingga rahangnya terasa pegal.
Setiap kali ia mengayunkan pedang, rasa sakit yang menusuk menjalar dari ulu hati ke seluruh rongga dadanya.
*Aura-Lock* bereaksi terhadap kontraksi otot yang terus-menerus; belenggu mana itu seolah-olah mengencang, mencekik paru-parunya.
"Sialan... tubuh ini benar-benar sampah," umpat Ilwa dalam hati.
Pandangannya sempat mengabur, namun ia segera menggigit lidahnya sendiri agar rasa sakit fisik membangunkannya dari ambang pingsan.
"Latihan selesai!" seru Gilios tiba-tiba. "Letakkan senjata kalian ke rak dengan rapi. Kalian punya waktu satu jam untuk membersihkan diri sebelum makan malam. Bubar!"
Mendengar instruksi itu, lapangan seketika sunyi. Tidak ada sorak sorai.
Yang ada hanyalah suara pedang kayu yang dijatuhkan secara lemas.
Kebanyakan kadet bahkan tidak sanggup berjalan menuju ruangan mereka; mereka merangkak di atas debu, menyeret kaki yang terasa seperti batangan timah.
Ilwa menarik napas dalam-dalam, menekan rasa sakit di dadanya, dan berjalan dengan langkah yang diseret menuju asrama kadet.
---
Malam jatuh dengan udara yang menusuk tulang.
Di dalam aula makan barak yang berdinding batu dingin, cahaya obor menari-nari di dinding, menciptakan bayangan panjang yang muram.
Para kadet sudah duduk di meja kayu panjang yang kasar.
Di depan mereka, tersaji menu makan malam yang disediakan oleh dapur militer.
Bukan daging panggang yang empuk, bukan roti putih dengan selai, dan bukan pula sup krim kental yang biasa mereka santap di kediaman mewah mereka.
Di piring logam yang dingin itu, hanya tersedia dua potong roti gandum hitam yang keras seperti batu,
seonggok sayuran hijau pahit yang direbus tanpa bumbu, dan semangkuk sup bening yang hanya berisi beberapa potongan tipis umbi-umbian dan sisa-sisa lemak hewani.
"Apa-apaan ini?! Ini makanan manusia?!" teriak seorang kadet berambut pirang, wajahnya memerah karena jijik.
"Aku tidak bisa memakan ini! Ini bahkan lebih buruk dari makanan anjing pemburu ayahku!"
"Lihat sup ini... ini hanya air garam yang diberi warna!" sahut kadet lain sambil mengaduk mangkuknya dengan sendok kayu.
"Bagaimana mereka mengharapkan kita berlatih seperti monster jika memberi makan kita seperti tawanan perang?"
"Aku merindukan masakan koki rumah..." rintih seorang anak kecil yang mulai terisak, air matanya jatuh ke dalam sup tawarnya.
"Aku ingin pulang. Aku tidak mau berada di sini lagi."
Suara keluhan dan makian memenuhi aula makan.
Mereka, yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya, merasa dihina oleh menu tersebut.
Bahkan Leo, yang biasanya menjaga martabat, hanya menatap piringnya dengan rahang yang mengeras, tampak sangat tertekan oleh kondisi barak yang kumuh.
Namun, di sudut meja yang paling gelap, Ilwa duduk diam.
Tanpa mengeluh, ia mengambil potongan roti gandum hitam yang keras itu.
Ia mencelupkannya ke dalam sup tawar agar sedikit melunak, lalu memakannya dengan tenang.
"Manja sekali mereka," pikir Ilwa sinis sambil mengunyah roti yang terasa seperti pasir di mulutnya.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalunya sebagai Albus.
Ia teringat saat ia melakukan ekspedisi ke Wilayah Terlarang di utara benua untuk memburu Naga Es.
Selama tiga minggu, ia terjebak dalam badai salju abadi tanpa persediaan makanan.
Saat itu, ia terpaksa memakan daging serigala liar yang sudah membeku dan membusuk, atau mengunyah akar pohon yang pahit dan beracun hanya untuk mendapatkan sedikit cairan.
Ia bahkan pernah meminum darah monster mentah-mentah agar mananya tidak benar-benar kering.
Baginya, sup bening dan roti gandum ini masih jauh lebih baik daripada makan tanah atau memakan kawan sendiri di tengah pengepungan pasukan sekutu 50 tahun lalu.
"Diam kalian semua!"
*Brakk!*
Pintu aula makan terbuka lebar. Gilios masuk dengan langkah berat, wajahnya tampak lebih menyeramkan di bawah cahaya obor yang temaram.
Ia membawa tongkat kayu panjang yang ia hentakkan ke lantai setiap kali melangkah.
"Aku mendengar suara-suara sumbang dari sini!" gertak Gilios.
"Kalian mengeluh soal makanan?! Dasar sampah tidak berguna! Jika kalian tidak mau makan, katakan sekarang! Aku akan dengan senang hati mengambil piring kalian dan membiarkan kalian kelaparan sampai latihan besok subuh!"
Suasana seketika menjadi sunyi senyap.
Para kadet menundukkan kepala, memegang sendok mereka dengan tangan gemetar.
"Dengarkan aku baik-baik!" Gilios berdiri di tengah aula, matanya menyapu satu per satu wajah para kadet.
"Makanan ini adalah nutrisi yang cukup untuk membuat kalian tetap hidup dan bergerak. Kami tidak sedang mengadakan pesta dansa! Di medan perang, kau akan beruntung jika bisa menemukan bangkai kuda untuk dimakan! Jadi, tutup mulut kalian, makan apa yang ada di depan kalian, atau aku akan menghukum kalian dengan lari seratus putaran malam ini juga!"
Gilios mengumpat pelan, kata-kata kasar keluar dari mulutnya saat ia melihat beberapa anak masih ragu-ragu.
"Makan sekarang, bajingan kecil! Atau aku sendiri yang akan menjejalkan roti itu ke kerongkongan kalian!"
Mendengar ancaman itu, para kadet tidak punya pilihan lain.
Dengan wajah yang masam dan air mata yang ditahan, mereka mulai menyuapkan makanan tawar itu ke mulut mereka.
Suara denting sendok logam yang beradu dengan piring kini menjadi satu-satunya suara di aula tersebut.
Ilwa terus makan dengan kecepatan yang stabil.
Di tengah kebisingan batin para kadet lain yang meratapi kemewahan mereka, Ilwa hanya fokus pada satu hal: mengumpulkan energi.
Ia tahu bahwa hari ini barulah permulaan. Penyakit di dadanya masih berdenyut sakit, namun dengan setiap suap roti yang ia telan, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa penderitaan ini akan ia bayar tuntas suatu hari nanti.
Gilios berdiri di pintu, memperhatikan mereka dengan tangan bersedekap.
Matanya sempat bertemu dengan mata Ilwa yang tenang dan dingin.
Pria tua itu sedikit mengernyit, merasa aneh melihat seorang bocah berumur delapan tahun bisa makan dengan begitu tenang di tengah "neraka" yang ia ciptakan, seolah-olah bocah itu sudah terbiasa dengan kegelapan dunia sejak lahir.
"Habiskan, lalu tidur!" perintah Gilios sebelum berbalik pergi. "Besok, aku tidak akan sesabar hari ini!"
Malam di barak Eldersheath baru saja dimulai, namun bagi para kadet, ini adalah malam terpanjang dalam hidup mereka.
Di bawah selimut yang kasar dan tipis, mereka akan memimpikan rumah,
sementara Ilwa akan menggunakan malamnya untuk bermeditasi, meretakkan belenggu *Aura-Lock* miliknya sedikit demi sedikit dalam kegelapan.
Malam itu, aula makan yang suram perlahan-lahan kosong.
Para kadet, dengan langkah yang menyeret dan bahu yang merosot, berjalan menuju asrama.
Di barak Eldersheath ini, terdapat satu kebijakan yang cukup manusiawi di tengah kurikulum neraka milik Gilios: setiap kadet diberikan kamar kecil pribadi.
Ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter dengan dinding batu dingin, satu tempat tidur kayu keras, dan sebuah meja kecil.
Privasi ini bukan diberikan untuk kenyamanan, melainkan agar para kadet bisa meratapi penderitaan mereka tanpa harus terlihat oleh orang lain.
Ilwa masuk ke kamarnya, mengunci pintu kayu yang berderit, dan langsung duduk bersila di atas lantai batu yang dingin, alih-alih merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Ia memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak, seolah-olah ada bongkahan es yang membeku di paru-parunya—reaksi akut dari *Aura-Lock* terhadap latihan fisik hari ini.
"Satu hari selesai. Masih ada ribuan hari lagi," batinnya tenang.
Ia mulai menarik napas dengan pola khusus, memaksa sirkuit mananya yang tersumbat untuk berputar secara mikroskopis, membasuh luka-luka ototnya dengan energi murni.
---
Tiga bulan kemudian...
Waktu seolah-olah dipacu oleh cambuk Gilios. Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan.
**Tiga bulan** telah berlalu sejak Ilwa pertama kali menginjakkan kaki di barak ini. Selama itu pula, tidak ada satu pun instruksi tentang sihir tingkat tinggi atau teknik pedang yang indah.
Setiap hari, jadwal mereka tetap sama: lari dengan beban batu saat fajar, kuda-kuda statis di bawah terik matahari siang, dan ribuan ayunan pedang kayu di sore hari.
Gilios adalah penguasa mutlak.
Jika ada kadet yang mengeluh tentang telapak tangan mereka yang berdarah atau kram otot yang tidak kunjung hilang,
Gilios hanya akan menghampiri mereka dan berteriak tepat di depan wajah mereka.
"Kau mengeluh karena ototmu sakit?! Itu tandanya kau masih hidup, brengsek! Jika kau ingin tidak merasakan sakit, pergilah ke kuburan klan dan gali lubangmu sendiri!"
Kata-kata kasar itu menjadi lagu pengantar tidur bagi para kadet.
Mereka yang tadinya adalah anak-anak bangsawan yang harum dan lembut, kini berubah menjadi sosok-sosok yang kusam, dengan kulit yang terbakar matahari dan mata yang penuh dengan keletihan kronis.
Namun, di tengah penderitaan massal itu, Ilwa mengalami perubahan yang paling signifikan. Tubuhnya yang mungil kini tampak lebih padat dan kokoh.
Berkat meditasi tanpa henti setiap malam, ia berhasil menggunakan mananya untuk mempercepat regenerasi sel-sel ototnya.
Meskipun penyakit *Aura-Lock* masih sering memberikan serangan jantung mendadak yang menyakitkan, frekuensinya mulai berkurang.
Ilwa telah belajar bagaimana caranya bergerak tanpa memicu "alarm" di sirkuit mananya sendiri.
---
Pagi ini, kabut tipis menyelimuti lapangan latihan.
Ratusan kadet berdiri berbaris dengan tubuh yang tampak lebih tegap namun wajah yang sangat lelah.
Di depan mereka, Gilios berdiri diam. Tidak ada teriakan pagi ini. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Tiga bulan," suara Gilios memecah keheningan, kali ini volumenya lebih rendah namun tetap berwibawa.
"Kalian telah bertahan selama tiga bulan di bawah asuhanku. Kebanyakan dari kalian masih terlihat seperti sampah di mataku, tapi setidaknya kalian adalah sampah yang mulai mengeras."
Para kadet hanya diam, tidak berani menunjukkan ekspresi apa pun.
"Aku baru saja menerima perintah resmi dari kediaman utama," lanjut Gilios sambil mengeluarkan sebuah surat bersampul emas.
"Patriak Robert telah memutuskan bahwa latihan dasar kalian akan segera berakhir dalam waktu dekat."
Seketika, bisikan-bisikan tertahan pecah di barisan.
"Akhirnya..."
"Kita bisa pulang? Benarkah kita akan segera pulang?"
Wajah-wajah yang tadinya kusam kini tampak bercahaya oleh secercah harapan.
Mereka membayangkan tempat tidur yang empuk, makanan yang layak, dan pelayan yang akan memijat kaki mereka yang bengkak.
Namun, Ilwa tetap diam.
Ia menyipitkan matanya, memperhatikan raut wajah Gilios yang tampak sinis. "Robert tidak mungkin melepaskan mereka begitu saja setelah meminta Gilios melatih mereka sekeras ini. Pasti ada udang di balik batu," batin Ilwa waspada.
"Jangan senang dulu, kalian para bocah ingusan!" bentak Gilios, membungkam kegembiraan mereka seketika.
"Kalian pikir Patriak akan membiarkan kalian pulang hanya karena kalian sudah bisa mengayunkan kayu? Jangan konyol. Latihan ini memang akan selesai, tapi ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap kadet sebelum kalian diizinkan menginjakkan kaki kembali ke rumah utama."
Seorang kadet dari barisan depan, yang sudah tidak tahan dengan rasa penasaran, memberanikan diri bertanya dengan suara gemetar.
"I-izin bertanya, Instruktur Gilios... Apa syarat yang harus kami penuhi agar bisa lulus dari sini?"
Gilios menyeringai tipis—sebuah pemandangan yang jarang terjadi dan biasanya menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Syaratnya? Heh. Kalian terlalu tidak sabar. Syarat-syarat itu akan kuberitahu besok pagi di sini, di tempat yang sama."
Gilios melambaikan tangannya dengan malas. "Sekarang, semuanya bubar! Kembali ke asrama dan bersihkan diri kalian. Gunakan waktu ini untuk merenung, karena jika kalian gagal memenuhi syarat besok, kalian mungkin akan menghabiskan sisa hidup kalian di barak ini!"
Dengan satu perintah itu, barisan pun bubar. Para kadet berjalan kembali menuju asrama dengan perasaan yang campur aduk antara senang dan takut.
Mereka saling berdiskusi di sepanjang jalan, menebak-nebak apakah besok akan diadakan ujian duel, tes kekuatan mana, atau mungkin sesuatu yang lebih ekstrem.
Ilwa berjalan sendirian di paling belakang. Ia menyentuh kalung perak di lehernya, merasakan detak jantungnya yang kini jauh lebih stabil.
"Besok, ya?" pikirnya sambil menatap ke arah bangunan utama di mana Aris dan Robert mungkin sedang mengawasi.
"Apapun syaratnya, aku harus lulus" dengan tekadnya.
Malam itu, barak Eldersheath dipenuhi oleh keheningan yang berbeda.
Bukan keheningan karena kelelahan, melainkan keheningan dari badai yang sedang bersiap untuk menerjang keesokan harinya.
Ilwa duduk di kamarnya, memejamkan mata, dan mulai memfokuskan mananya lebih dalam dari biasanya.
Ia tahu, esok hari adalah garis penentu apakah sandiwaranya sebagai anak cacat akan berlanjut, ataukah ia harus mulai menunjukkan taringnya yang sebenarnya.
Bersambung...