“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17.Tidak seperti yang disangka.
Suasana di halaman belakang itu seketika berubah. Tawa riang yang tadi memecah keheningan hutan lenyap seketika, digantikan oleh udara yang terasa berat dan tegang.
Luna ria tidak langsung berdiri menyambut dengan sopan seperti yang diharapkan oleh tamu kehormatan. Ia tetap duduk bersila di atas karpet anyaman itu, namun posturnya berubah. Punggungnya yang tadi santai kini tegak lurus, bahunya rileks namun penuh wibawa. Ia menatap Mr. Gareth dengan tatapan dingin, tajam, dan tanpa ekspresi.
Di belakangnya, Rian, Bimo, dan Lira—tiga remaja desa yang biasanya ceria—seketika berubah menjadi tiga ekor serigala kecil yang siap menerkam. Mereka berdiri rapat di belakang Nona mereka, tangan mengepal kuat, mata melotot tajam menatap Mr. Gareth dan para pelayan yang lain seolah-olah mereka adalah musuh yang baru saja menginjakkan kaki di wilayah terlarang.
Sementara itu, Mr. Gareth yang merasa posisinya terganggu, segera berjalan mendekati sebuah meja kayu tua yang ada di dekat kolam kering. Ia menarik kursi dan duduk dengan sikap angkuh, menampilkan wibawa pelayan utama keluarga bangsawan. Dua orang pelayan pengawal yang bersamanya berdiri tegak di sisi kanan dan kirinya, tangan disilang di dada, wajah datar dan mengintimidasi.
Pertemuan yang aneh ini terjalin. Dua kubu saling berhadapan. Satu sisi duduk di kursi mewah dengan gaya resmi, sisi lain duduk di tanah namun memiliki aura yang jauh lebih berbahaya.
Hening.
Sangat hening. Hanya suara desiran angin yang menerpa dedaunan pohon pinus yang terdengar. Tidak ada yang mau bicara duluan. Mr. Gareth menunggu gadis itu menyapa atau memohon, sementara Luna ria menunggu pria tua itu bicara jujur.
Lima menit berlalu dalam kebisuan yang mematikan. Mr. Gareth mulai merasa tidak nyaman. Tatapan mata gadis itu... mata biru pekat itu tidak berkedip sedikitpun. Ia merasa seolah-olah bukan dia yang sedang menekan, tapi justru dia yang sedang diinterogasi oleh penjahat kelas kakap.
Akhirnya, Luna ria memecahkan keheningan itu dengan suaranya yang rendah namun jelas terdengar.
"Ada apa?"
Singkat. Padat. Tanpa basa-basi. Tanpa sapaan hormat. Tanpa panggilan 'Tuan' atau 'Pak'.
Mr. Gareth terbatuk kecil untuk memberanikan diri. "Hm... Nona Luna ria. Saya datang membawa perintah langsung dari Tuan Lord Valde mar dan Nyonya Lady Seraphina. Mereka memerintahkan saya untuk menjemput Nona kembali ke kediaman utama keluarga Star bron."
Luna ria mengerutkan keningnya tipis. "Menjemputku pulang? Untuk apa? Rumah utama itu bukan rumahku. Dan mereka... mereka bahkan tidak pernah mengunjungiku selama bertahun-tahun. Kenapa tiba-tiba sekarang?"
"Itu..." Mr. Gareth sedikit tergagap. Ia tidak berani menceritakan soal pernikahan dengan Pangeran Kael. Ia takut gadis ini akan menangis atau menolak keras. "Itu urusan keluarga yang sangat penting, Nona. Ada hal besar yang akan terjadi, dan Nona harus hadir di sana sebagai anggota keluarga Star bron. Itu saja."
Ia memutuskan untuk tidak menjelaskan detailnya. Biarlah nanti orang tuanya sendiri yang memberitahu saat mereka sudah sampai di rumah nanti.
Luna ria mendengarkan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman ramah, bukan pula senyuman manis. Itu adalah senyuman sinis, dingin, dan penuh makna. Senyuman yang membuat bulu kuduk Mr. Gareth meremang ketakutan.
"Urusan keluarga penting?" ucap Luna ria pelan, seolah mengeja kata-kata itu. "Jadi... akhirnya mereka butuh aku ya? Setelah menganggapku tidak ada, menganggapku sampah, mengasingkanku di tempat terpencil ini seperti penyakit menular... sekarang mereka butuh aku?"
Ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan namun juga sangat menakutkan.
"Pasti ada alasan besar kenapa tiba-tiba mereka menginginkanku kembali. Alasan yang sangat besar sampai-sampai mereka rela menyuruh kepala pelayan sendiri menjemputku. "
Luna ria mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap tajam ke arah Mr. Gareth.
"Kalian pikir aku masih gadis polos dan bodoh yang bisa dipermainkan seenaknya? Kalian pikir aku akan berlari kencang, menangis bahagia karena akhirnya 'orang tua' menginginkanku?"
Mr. Gareth menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah siap. Ia pikir gadis ini akan menolak. Ia pikir Luna ria akan marah, akan menangis, akan mengatakan dia tidak mau kembali ke tempat yang penuh dengan rasa sakit itu. Ia bahkan sudah mempersiapkan kata-kata bujukan halus dan ancaman halus jika gadis itu menolak.
"Tapi Nona... itu orang tua Nona. Nona tidak bisa menolak kewajiban—"
"Tentu saja aku mau kembali."
Potongan kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Luna ria. Sangat tenang. Sangat santai.
Mr. Gareth terbelalak. Mulutnya menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"A-apa? Nona... mau?"
"Ya," jawab Luna ria tegas, senyum sinisnya masih mengembang. "Aku mau pulang. Justru aku penasaran. Permainan apa lagi yang akan mereka mainkan kali ini? Apa yang membuat gadis emas mereka, Lae ria, tidak bisa melakukannya sehingga mereka harus memanggilku, si anak cacat ini?"
Ia berdiri perlahan dari duduknya. Rian, Bimo, dan Lira langsung maju selangkah, siap siaga.
"Master, serius? Master mau kembali ke tempat mereka yang membuang master?" tanya Bimo dengan nada khawatir. "Di sana banyak orang jahat, master. Mereka tidak sayang sama master."
Tapi sebelum menjawab pertanyaan Bimo, Luna ria memerintahkan Ivy untuk memberikan tempat istirahat untuk mereka.
"Ivy, bawa mereka ke kamar tamu. Biarkan mereka beristirahat sebentar, aku mau bicara dengan mereka bertiga dulu. "
"Baik nona. "
Ivy lalu mempersilahkan Gareth dan kedua pelayannya ke kamar tamu seperti perintah Luna ria.
Setelah mereka pergi, Luna pun berbicara pribadi dengan ketiga muridnya.
Luna ria menoleh ke arah murid-muridnya, dan seketika tatapan dinginnya melembut sedikit. Ia menepuk bahu Bimo pelan.
"Tenang saja. Kalian pikir master kalian ini bodoh. Aku pergi karena aku ingin melihat sendiri,keinginan mereka sebenarnya keluarga. Aku ingin melihat wajah mereka yang sudah menelantarkan ku."
"Lalu kami bagaimana master, jika master pergi kami seperti tidak punya pegangan. "
"Siapa bilang aku akan meninggalkan kalian? Tentu saja kalian ikut aku. "
"Apa boleh master?. "
"Tentu, kalian sudah aku anggap keluarga ku sendiri. "
Mereka bertiga berwajah sedih, menjadi bersemangat dan langsung pergi untuk bersiap ikut dengan Luna ria.
Luna hanya berdiri sambil tersenyum melihat mereka bertiga pergi dengan semangat, lalu dirinya menatap kearah villa dengan serius.
Sudah beberapa bulan aku berada di dunia sihir ini, dan sekarang aku harus kembali ke keluarga Luna ria,batin Luna.
Luna ria pun berjalan masuk kedalam villa.
Setengah jam kemudian.
Suasana di dalam villa menjadi sibuk. Namun bukan kesibukan yang panik, melainkan kesibukan yang teratur dan tenang.
Luna ria tidak membawa banyak barang. Ia hanya mengambil sebuah koper kulit tua yang cukup besar. Di dalamnya ia masukkan pakaian-pakaiannya yang sederhana, beberapa buku catatan tebal berisi gambar dan sketsa aneh, serta kotak kayu kecil berisi benda-benda koleksinya yang tidak berharga bagi orang lain, tapi sangat berharga baginya.
Ivy sibuk membantu mengemas, matanya berkaca-kaca. "Nona... kita benar-benar akan pergi ya? Tapi aku khawatir ada maksud dari menyuruh nona kembali."
“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Star born. ”
jawab Luna ria sambil tersenyum.
"Tapi nona, aku khawatir maksud mereka tidak baik"
"Ivy, dengarkan aku," kata Luna ria sambil memegang kedua bahu pelayan setianya itu. "Apa nonamu sekarang seperti gadis yang mudah ditindas seperti dulu."
"Tidak,nona sudah berubah."
"Bagaimana pun juga keluarga Star born itu keluarga ku, dan aku pulang kesana bukan dengan mudah menuruti permintaan mereka"
Senyum licik menghiasi wajah cantik Luna, melihat ekspresi Luna ria membuat bulu kuduk Ivy berdiri.
"Sepertinya aku salah mengkhawatirkan nona, justru sekarang aku lebih mengkhawatirkan keluarga Star born. " Gumamnya pelan.
Kepergian Luna ke rumah Star born, bukan menjadi gadis penurut tetapi gadis yang mau mengobrak-abrik keluarga Star born.