Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dua bulan berlalu sejak malam hujan itu, dan tanpa benar-benar disadari banyak hal perlahan berubah di dalam rumah besar milik keluarga Pratama.
Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada hubungan manis seperti pasangan lain. Namun, di antara Harsa dan Arsyi jarak itu mulai menipis sedikit demi sedikit.
Suara tangisan kecil Melodi sudah menjadi alarm alami setiap pagi. Kadang disusul suara Arsyi yang panik mencari botol susu, atau suara Mbak Sari yang tergesa membawa air hangat. Dan anehnya Harsa mulai terbiasa dengan semua itu. Bahkan, beberapa kali pria itu terbangun lebih dulu hanya karena mendengar suara Melodi.
“Dia nangis dari tadi?” tanya Harsa suatu pagi sambil keluar dari kamar dengan kemeja kerja yang belum dikancing sempurna.
Arsyi yang sedang menggendong Melodi langsung menoleh.
“Baru bangun,” jawabnya pelan.
Melodi yang melihat Harsa langsung mengoceh kecil sambil menggerakkan tangan mungilnya.
Harsa mengernyit kecil.
“Dia kenapa?”
Arsyi tertawa pelan.
“Mau digendong.”
“Aku?”
Arsyi mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Kayaknya sekarang Melodi hafal suara Kak Harsa.”
Harsa terlihat ragu beberapa detik. Namun, akhirnya ia melangkah mendekat dan menerima bayi kecil itu dengan hati-hati. Dan saat Melodi benar-benar diam di pelukannya Arsyi tidak bisa menahan senyum kecilnya. Pemandangan seperti itu dulu terasa mustahil. Hubungan mereka memang belum seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Harsa kini mulai pulang tepat waktu. Kalau pun terlambat, ia akan memberi kabar singkat. Dan yang paling terasa pria itu selalu makan malam di rumah.
Malam itu misalnya. Arsyi baru selesai menata meja makan ketika suara mobil Harsa terdengar memasuki halaman. Refleks ia menoleh ke arah jam dinding. Jam tujuh malam tepat, tidak terlalu larut. Pintu rumah terbuka beberapa menit kemudian. Dan Harsa masuk sambil melonggarkan dasinya.
“Aku pulang.”
Kalimat sederhana itu membuat Mbak Sari tersenyum kecil dari dapur. Karena dulu Harsa jarang sekali mengucapkannya. Arsyi yang berdiri di dekat meja makan ikut menoleh.
“Iya.”
Harsa menghentikan langkah sesaat.
Tatapannya jatuh pada meja makan yang sudah penuh dengan masakan hangat.
“Ada sup?” tanyanya.
Arsyi mengangguk kecil.
“Kak Harsa bilang minggu lalu suka yang ini.”
Pria itu terdiam sesaat.
Namun, juga tidak lagi dipenuhi ketegangan seperti dulu. Sesekali Harsa bertanya tentang Melodi. Kadang Arsyi menceritakan tingkah bayi itu seharian. Dan tanpa sadar percakapan kecil seperti itu mulai menjadi kebiasaan.
“Aku besok mungkin pulang agak malam,” ujar Harsa sambil meletakkan sendoknya.
Arsyi mengangguk pelan. “Ada meeting?”
“Iya.”
“Hm … nanti aku simpan makan malamnya.”
Jawaban sederhana itu membuat Harsa menatap Arsyi beberapa detik lebih lama.
Lalu pria itu berkata pelan,
“Aku usahain nggak terlalu malam.”
Arsyi sedikit terdiam. Karena dulu Harsa tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
Setelah makan malam selesai, Harsa bahkan mulai terbiasa membantu menggendong Melodi ketika Arsyi membereskan meja.
Meski caranya masih kaku.
“Lehernya ditahan, Kak,” ujar Arsyi sambil menahan tawa kecil.
“Aku udah tahan.”
“Belum.”
“Ini udah.”
Arsyi akhirnya tertawa pelan. Dan suara tawa itu membuat Harsa tanpa sadar ikut tersenyum tipis.
Harsa mulai terbiasa pulang karena ada seseorang yang menunggunya.
Sementara bagi Arsyi meski pria itu belum sepenuhnya menjadi miliknya setidaknya sekarang Harsa mulai melihat keberadaannya.
Harsa juga mulai terbiasa melihat Arsyi berada di kehidupannya.
Di dapur saat pagi. Di ruang keluarga sambil menggendong Melodi. Atau tertidur di sofa karena kelelahan menjaga bayi mereka. Dan anehnya kehadiran itu mulai terasa normal.
Hari Minggu pagi itu, suasana rumah terlihat lebih sibuk dari biasanya.
Arsyi sedang mempersiapkan tas kecil berisi perlengkapan Melodi di ruang keluarga. Popok, susu, tisu basah, baju ganti semuanya diperiksa berulang kali.
Sementara Melodi yang kini sudah berusia lebih dari dua bulan berada di stroller kecil sambil mengoceh pelan.
“Oek oek …”
Arsyi tersenyum kecil lalu membungkuk.
“Iya, iya. Tante—” Ia langsung berhenti sendiri. Lalu tersenyum canggung kecil. Sudah dua bulan, namun kadang dirinya masih belum terbiasa.
“Mama siapin dulu ya, Sayang.”
Kalimat itu terdengar pelan. Namun, cukup membuat seseorang yang baru turun tangga berhenti melangkah. Pria itu berdiri beberapa anak tangga di atas sambil memperhatikan Arsyi. Tatapannya diam beberapa detik. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
“Mama?” tanyanya pelan.
Arsyi langsung menoleh cepat. Wajahnya memerah seketika.
“A-aku cuma…”
“Bagus.” Harsa memotong pelan sambil melanjutkan langkah turun.
Arsyi terdiam. Sementara Harsa mendekati stroller Melodi lalu menunduk kecil.
“Melodi hari ini imunisasi ya?” tanyanya pelan pada bayi kecil itu.
Melodi langsung menggerakkan tangannya kecil-kecil. Harsa tersenyum tipis dan pemandangan itu entah kenapa membuat dada Arsyi terasa hangat.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Harsa sambil mengambil tas bayi dari sofa.
Arsyi mengangguk kecil.
“Sudah.”
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah tadi sama Melodi.”
Harsa mengernyit kecil. “Sama Melodi?”
Arsyi tertawa pelan.
“Maksudnya sambil nyusuin Melodi.”
Harsa mengangguk kecil, lalu tanpa sadar berkata,
“Kamu kelihatan capek.”
Arsyi sedikit terkejut. Karena biasanya Harsa tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.
“Enggak kok,” jawabnya pelan.
Namun Harsa justru berkata lagi,
“Nanti habis imunisasi kita makan dulu di luar.”
Arsyi berkedip pelan.
“Hah?”
“Kamu pasti bosan di rumah terus.”
Kalimat itu sederhana. Namun, cukup membuat Arsyi diam beberapa detik.cKarena ini pertama kalinya Harsa mengajaknya pergi bukan karena kebutuhan. Tapi karena keinginan sendiri.
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung cukup tenang.
Melodi tertidur di car seat bayi di belakang, sementara Arsyi duduk di kursi penumpang depan. Sesekali Harsa melirik ke arahnya. Dan kini suasana canggung itu tidak lagi terlalu menyiksa.
“Melodi bakal nangis nggak ya nanti?” tanya Arsyi pelan sambil melihat ke belakang.
“Pasti.”
Arsyi langsung menoleh cepat. “Kak!”
Harsa tertawa kecil.
Tawa kecil yang jarang sekali keluar sejak kematian Nadin.
“Namanya juga imunisasi.”
Arsyi menghela napas pasrah.
“Kasihan nanti.”
Harsa meliriknya sekilas.
“Kamu lebih panik daripada anaknya.”
“Aku takut dia sakit.”
“Nanti malam paling demam sedikit.”
Arsyi langsung terlihat semakin khawatir. Dan melihat ekspresi itu Harsa justru tersenyum kecil lagi.
“Kalau panik begitu terus, nanti yang capek kamu sendiri.”
Arsyi menunduk kecil.
“Namanya juga ibu…” Kalimat itu keluar begitu saja dan kali ini Harsa tidak bercanda. Ia justru diam beberapa detik. Lalu melirik Arsyi lebih lama.
Sementara Arsyi sendiri baru tersadar dengan ucapannya. Wajahnya langsung memanas.
“Aku maksudnya—”
“Kamu memang ibunya.” Harsa memotong pelan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Mobil Harsa akhirnya memasuki halaman parkir Rumah Sakit Kasih Ibu pada Minggu pagi itu.
Suasana rumah sakit cukup ramai.
Beberapa keluarga terlihat duduk di area taman kecil depan gedung, sementara para perawat berlalu-lalang dengan pakaian putih rapi.
Harsa turun lebih dulu dari mobil. Lalu berjalan memutar untuk membuka pintu belakang. Dengan hati-hati ia melepas sabuk car seat Melodi yang masih tertidur pulas.
“Dia masih tidur,” gumam Arsyi pelan sambil ikut mendekat.
Harsa mengangguk kecil. “Bagus, semoga bangunnya nanti pas selesai.”
Arsyi langsung menatapnya.
“Kak Harsa kira imunisasi nggak sakit?”
Harsa tertawa kecil.
“Sedikit.”
“Sedikit menurut Kak Harsa itu sakit.”
“Ya memang sakit.”
Arsyi langsung menghela napas panjang.
Sementara Harsa justru menahan senyum melihat ekspresi istrinya itu. Mereka berjalan masuk ke lobby rumah sakit bersama.
Melodi berada di gendongan Harsa pagi itu, sementara Arsyi membawa tas perlengkapan bayi di sampingnya.
“Selamat pagi, Pak Harsa.”
Harsa mengangguk sopan. “Pagi.”
Perawat itu kemudian melirik Arsyi dan Melodi sambil tersenyum hangat.
“Ini Dedek Melodi ya? Wah, makin besar sekarang.”
Arsyi sedikit terkejut.
“Kenal?” bisiknya pelan pada Harsa.
“Hm,” jawab pria itu singkat. “Dulu Nadin kontrol di sini.”
Kalimat itu membuat Arsyi terdiam sesaat.
Namun, sebelum suasana berubah canggung, perawat tadi sudah kembali berbicara.
“Sudah daftar imunisasi, Pak?”
“Sudah online semalam.”
“Baik, sebentar saya cek dulu.”
Perawat itu memeriksa data di komputer, lalu kembali tersenyum.
“Sudah masuk, Pak. Dokter anaknya sudah standby.”
Ia lalu berdiri dan menunjuk ke arah lorong sebelah kanan.
“Mari, Pak Harsa. Langsung ke ruang imunisasi anak saja.”
Harsa mengangguk.
“Terima kasih.”
Mereka berjalan mengikuti perawat melewati lorong rumah sakit. Melodi mulai terbangun kecil di gendongan Harsa. Mata bulat bayi itu berkedip pelan sebelum akhirnya mengoceh kecil.
“Oek…”
Arsyi langsung mendekat sedikit.
“Bangun ya, Sayang?”
Harsa melirik Arsyi sekilas dan tanpa sadar langkahnya melambat agar wanita itu bisa berjalan sejajar dengannya.
Sepanjang lorong, beberapa perawat tampak menyapa Harsa cukup ramah.
“Pagi, Pak.”
“Pak Harsa sehat?”
Harsa hanya membalas singkat seperti biasanya. Namun, Arsyi mulai sadar suaminya cukup dikenal di rumah sakit itu. Dan baru kali ini ia benar-benar mengerti alasan sebelumnya. Karena dulu tempat ini adalah bagian dari kehidupan Harsa dan Nadin. Mereka akhirnya tiba di depan ruang imunisasi anak.
Perawat tadi membuka pintu lebih dulu.
“Silakan masuk, Pak.”
Harsa melangkah masuk sambil masih menggendong Melodi.
Sementara Arsyi mengikuti di belakang dengan sedikit gugup. Ruangan itu cukup nyaman dengan warna-warna lembut dan beberapa gambar kartun di dinding.
Namun, tetap saja Arsyi terlihat tegang. Harsa yang menyadarinya langsung menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Aku takut dia nangis…”
“Kamu yang mau imunisasi atau Melodi?”
Arsyi langsung menatapnya kesal kecil.
“Kak Harsa malah becanda.”
Harsa tersenyum tipis, dan entah sejak kapan melihat Arsyi seperti itu terasa jauh lebih hidup dibanding rumah yang dulu selalu sunyi.
lanjut thorrrr