NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Jaket Hitam Bergambar Tengkorak

Samar Alvaro mendengar suara isak tangis. Tidak begitu jelas, bahkan hanya terdengar seperti suara rintihan. Alvaro menajamkan pendengarannya. Lalu segera berlari ke kamar Zivanna. Dia menemukan gadis itu meringkuk sambil mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya dengan air mata sudah membanjiri pipinya.

"Zi... Bangun!" Alvaro mengusap pipi Zivanna dengan lembut. "Itu cuma mimpi," lanjutnya.

Zivanna membuka matanya. Seperti biasa, dia linglung selama beberapa saat baru kemudian memeluk Alvaro lalu kembali menangis sampai kesulitan bernafas. "Tolong aku, Al. Aku tidak kuat," ucapnya putus asa.

"Sebenarnya kamu mimpi apa, Zi?"

"Aku... Aku mimpi diper***a," jawab Zizi terbata. "ini bukan pertama kalinya," lanjutnya.

"Astaga... " Alvaro hampir tidak bisa berkata-kata.

"Terkadang aku hanya melihat tetapi terkadang seperti aku sendiri mengalaminya. Itu tidak seperti mimpi. Rasanya begitu nyata, seperti sebuah memori yang terekam jelas di otakku."

Keesokan harinya...

Semua orang berkumpul di ruang makan, termasuk Alvaro yang masih berada di sana karena di tahan oleh Minah. Kebetulan hari ini dia mengambil cuti. Jadi dia tidak menolak ketika Minah mengajaknya untuk sarapan bersama dan bisa berada di sana lebih lama.

Zivanna sudah bangun. Dia juga sudah duduk di meja makan dengan wajah murung dan lingkaran hitam di sekitar mata yang semakin hari terlihat semakin cekung. Orang asing pun akan iba jika melihat kondisi Zivanna, apalagi orang yang setiap hari bersamanya.

Zivanna sarapan tanpa banyak bicara. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah jalan-jalan, menyusuri tempat-tempat familiar yang sering muncul dalam mimpinya.

"Nek, aku mau jalan-jalan," kata Zivanna setelah menghabiskan makanannya, dengan terpaksa.

"Jalan-jalan lagi? Apa tidak capek? Kemarin kamu jalan kaki sampai kecamatan."

Zivanna menggelengkan kepalanya. "Nggak, Nek. Aku malah suka. Buktinya tadi malam aku malah nggak demam."

Eh... Benar juga.

"Tapi Rani nggak bisa menemanimu. Dia aku suruh belanja lalu menyiapkan bingkisan sembako yang akan dibagikan untuk warga yang ikut mencari kamu tadi malam."

"Aku sendirian nggak apa-apa, Nek. Kemarin juga sendirian. Aku sudah tahu semua jalan di desa ini."

"Nggak boleh sendirian. Jalan-jalannya nanti sore aja ya, Zi. Nunggu Rani selesai dengan pekerjaannya."

"Aku maunya sekarang, Nek. Mumpung udaranya masih segar."

"Duh ... Anak ini!" Minah kebingungan. Membiarkan Zivanna jalan-jalan lagi sendirian bukanlah pilihan yang tepat. Tetapi saat ini semua orang sedang sangat sibuk. Budi juga masih harus mengurusi panen jagung.

"Kalau saya yang menemani Zizi jalan-jalan boleh nggak, Nek?" Alvaro menawarkan diri.

"Apa nggak merepotkan? Kamu mengantar dia pulang malam-malam saja nenek sudah merasa nggak enak karena sudah mengganggu waktu istirahatmu. Sekarang malah mau menemani dia jalan-jalan."

Alvaro tersenyum. "Nggak apa-apa, Nek." Setelah itu menoleh kearah Zivanna. "Kamu nggak keberatan kan, Zi?" Zivanna menyetujuinya.

"Ya sudah kalau begitu. Nenek merasa tenang kalau dia ada yang menemani."

Alvaro dan Zivanna bergegas pergi. Alvaro yang tidak tahu jalan hanya mengikuti Zivanna.

"Kita mau kemana?" tanyanya setelah cukup jauh meninggalkan rumah.

"Ke desa Suka Sari, ke rumahnya bibi gorengan," jawab Zivanna tenang.

"Bibi gorengan siapa?"

"Bibi yang jual gorengan di depan puskesmas, temannya Ayu. Masa kamu nggak tahu?"

"Oh... Memangnya kamu tahu rumahnya? Sudah pernah ke sana?"

"Belum." Zivanna mengangkat bahunya acuh.

"Lalu? Bagaimana mau ke sana kalau belum tahu rumahnya?"

"Aku memang belum pernah ke rumahnya, tapi aku tahu jalannya," terang Zivanna. Alvaro mengernyit tidak mengerti.

"Kamu bingung kan, Al? Sama. Aku sendiri juga bingung. Makanya aku malas menjelaskan pada orang-orang. Mimpi-mimpiku juga seperti itu. Aku sendiri bingung lalu bagaimana aku akan menceritakannya? Bisa-bisa aku hanya akan dianggap gila," kata Zivanna dengan nada yang mengandung sedikit kekecewaan.

"Aku tahu semua jalan di desa ini padahal aku baru tinggal di sini selama beberapa hari. Rumah bibi gorengan ini aku juga tidak tahu, tapi kalau aku menuruti langkah kakiku nanti pasti sampai ke sana. Kalau tidak percaya kita buktikan saja."

Alvaro yang penasaran pun menyetujuinya. Kata-kata Zivanna tidak ada yang masuk akal baginya, meskipun begitu dia tidak berusaha membantahnya.

"Kamu seorang dokter, segala sesuatu pasti bisa dilihat dari sudut pandang medis. Tapi nanti kalau kita benar-benar sampai di rumah bibi gorengan, tolong jelaskan padaku secara logis bagaimana itu bisa terjadi."

"Oke. Kita lihat saja nanti."

Kedua orang itu terus menyusuri jalan. Jika dari rumah menuju kecamatan adalah ke selatan, maka jalan menuju desa Suka Sari adalah sebaliknya. Zivanna dan Alvaro menuju utara, arah yang sama jika akan kembali ke kota asal Zivanna.

Sepanjang jalan ini mereka tidak akan melewati perkebunan tebu. Hanya ada hamparan sawah yang ditanami padi yang sudah setinggi lutut anak-anak, membentang di sepanjang jalan.

Matahari masih bersembunyi di balik bukit menyebabkan hawa dingin enggan pergi.

Kedua orang itu berjalan santai sambil menikmati udara yang begitu segar. Zivanna melepaskan sandalnya lalu berjalan di atas rumput hijau yang tumbuh subur di tepi jalan. Dalam waktu sekejap kaki Zivanna sudah basah oleh embun yang membentuk bulatan kecil di ujung rerumputan. "Kata orang, berjalan tanpa alas kaki di atas rumput berembun begini menyehatkan. Apa itu benar?"

"Umumnya sehat karena memberikan efek relaksasi, menyegarkan, dan merangsang titik saraf kaki, sekaligus memperkuat otot kaki. Secara psikologis, itu menenangkan diri," terang Alvaro sambil mengamati kaki Zivanna yang kini sudah sedikit kotor karena terkena tanah basah akibat embun yang menetes.

"Wah... Dokter memang beda, ya? Tahu banyak hal." Zivanna tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Tampan dan pintar, benar-benar kombinasi yang mantap. Akan menjadi luar biasa jika ditambahi kaya raya di belakangnya.

Tiba-tiba saja Zivanna berhenti lalu meringis.

"Kenapa, Zi?"

Zivanna tidak menjawab dan hanya mengangkat kakinya lalu melihat di telapak kakinya tertancap pecahan kaca (beling) yang lancip dan memanjang.

Alvaro meminta Zivanna untuk duduk. "Tahan, ya!" Karena tidak begitu dalam, Alvaro langsung mencabut pecahan kaca yang menancap di kaki Zivanna. Darah segar menetes, tidak banyak tetapi cukup untuk membuat orang yang tidak biasa melihat luka bergidik.

"Aku nggak apa-apa," kata Zivanna ketika dia melihat Alvaro menatapnya untuk memastikan keadaannya. Gadis itu terlihat begitu tenang seolah luka ini tidak ada artinya.

Kalau dibandingkan dengan luka setelah kecelakaan yang merenggut penglihatan dan juga luka hati ditinggal tunangan, tentu luka kecil karena tertancap beling ini tidak ada apa-apanya bagi Zivanna.

Alvaro celingukan. Dia ingin segera mengajak Zivanna pulang tetapi tidak ada kendaraan dan ini juga sudah jauh dari rumah. "Aku gendong ya? Kalau dipakai jalan aku khawatir lukanya semakin lebar."

Zivanna belum sempat menjawab ketika dari kejauhan terlihat sebuah sepeda motor mendekat. Alvaro seperti mendapat angin. Mungkin dia bisa meminjam sepeda motor itu untuk membawa Zivanna pulang.

Ternyata, tanpa dicegat pun sepeda motor itu berhenti. Tanpa membuka helmnya pengendara sepeda motor itu turun lalu menghampiri Alvaro dan Zivanna yang sedang duduk di pinggiran jalan aspal.

"Kenapa, Dok?" tanya orang itu.

Tadinya Zivanna tidak memperhatikan karena sibuk menyeka darah yang terus menetes di telapak kakinya. Tetapi setelah mendengar suara pengendara motor itu, dia menoleh lalu seketika wajahnya menjadi pucat. Tangannya gemetar dan jantungnya berdetak tidak karuan.

"Jaket hitam bergambar tengkorak?!"

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!