Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Pagi datang lebih cepat dari yang Feryal harapkan. Ia terbangun saat cahaya matahari Bali mulai masuk melalui sela tirai kamar.
Suara burung terdengar samar dari luar, bercampur dengan desiran angin pagi yang tenang.
Namun anehnya, justru ketenangan itu yang membuat dadanya kembali terasa tidak nyaman. Feryal membuka matanya perlahan lalu menatap langit-langit kamar beberapa detik.
Ingatannya langsung kembali pada ucapan mamanya semalam. Besok pagi temani mama ke suatu tempat.
Deg. Ia menghela napas pelan sambil duduk perlahan di tepi tempat tidur. Rambut pendeknya sedikit berantakan setelah tidur semalaman.
Di sampingnya, Bilal masih tertidur miring menghadap ke arahnya. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Feryal memperhatikannya sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum kecil “kenapa?” suara Bilal tiba tiba terdengar serak, Feryal langsung kaget kecil. “Ih, kamu bangun?”
“Dari tadi.” jawab Bilal sambil membuka mata perlahan. “Aku cuma penasaran kenapa istri aku ngeliatin aku kayak lagi observasi penelitian," Feryal mendecih kecil. “Pede.”
Bilal terkekeh pelan lalu bangkit duduk, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah lebih lembut saat melihat wajah Feryal yang kembali terlihat tegang.
“Kepikiran lagi?” tanyanya pelan, Feryal diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Aku takut Bunda bakal ngomong sesuatu yang bikin semuanya berubah.”
Bilal memperhatikannya beberapa saat. Lalu tangannya bergerak pelan merapikan rambut pendek Feryal yang sedikit berantakan di dekat dahinya.
“Kalau memang ada hal besar yang harus dibahas,” ucapnya tenang, “berarti cepat atau lambat tetap akan datang juga.”
Feryal menunduk, “Aku belum siap kehilangan siapa-siapa.” Kalimat itu keluar begitu saja, jujur dan rapuh.
Dan berhasil membuat Bilal ikut terdiam sesaat, Pria itu lalu menghembuskan napas pelan sebelum menggenggam tangan istrinya perlahan.
“Kamu nggak sedang memilih siapa yang harus dibuang, Fey" ucap Bilal. “Tapi rasanya kayak gitu" sahut Feryal.
“Karena kamu terlalu takut semua orang terluka.” Feryal menggigit bibir bawahnya pelan.
Dan Bilal tahu, istrinya sedang berusaha keras menahan pikirannya sendiri agar tidak kembali berantakan.
Tok tok, Ketukan pintu terdengar pelan dari luar. “Kalian udah bangun?” suara Santi terdengar tenang. Refleks tubuh Feryal langsung menegang sedikit.
Bilal menatapnya sebentar lalu mengusap tangannya pelan sebelum berdiri membukakan pintu.
Santi berdiri di depan kamar dengan pakaian yang rapi dan wajah yang sudah siap memulai hari.
Namun sorot matanya masih sulit ditebak seperti biasa “Bunda tunggu di bawah ya,” ujarnya tenang. “Kita pergi habis sarapan."
“Baik, Bun,” jawab Feryal pelan, Santi mengangguk kecil lalu pergi tanpa banyak bicara, dan begitu langkah kaki wanita itu menghilang dari lorong—
Feryal langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan “ya ampun…” Bilal menahan senyum kecil “belum berangkat aja kamu udah panik.”
“Aku serius ini.” sahut feryal sedikit frustasi dibuatnya.
“Iya aku tau" sajut Bilal.
“Tapi Bunda kalau udah mode serius tuh auranya beda." Bilal terkekeh kecil. “Aku juga ngerasa," Feryal langsung melirik cepat. “Nah kan!”
“Oke oke,” Bilal mengangkat tangan pura pura menyerah. “Tapi kita hadapin bareng," beberapa saat kemudian mereka turun ke ruang makan.
Aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruangan. Santi sudah duduk di meja makan sambil membaca sesuatu dari tabletnya. Suasana pagi itu terasa tenang.
Feryal duduk perlahan di kursinya sementara Bilal duduk di sebelahnya.
“Mama mau ajak aku kemana?” tanya Feryal hati hati.
Santi mengangkat pandangan dari tabletnya sebentar “nanti juga tahu.”
Deg. Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Feryal makin menjadi jadi.
Bilal yang menyadarinya diam diam menyenggol pelan tangan istrinya di bawah meja seolah menyuruhnya tenang.
Sarapan berlangsung cukup normal meski tetap ada ketegangan tipis yang terasa di udara. Sampai akhirnya, ponsel Feryal kembali berbunyi.
Nama Kaizan muncul lagi di layar “Insting gue bilang hari ini bakal plot twist.” Refleks Feryal memejamkan mata frustrasi “kenapa sih dia timingnya selalu serem…” gumamnya pelan.
Bilal melirik layar ponsel itu lalu terkekeh kecil. “Kasian juga si Kaizan kalau instingnya kepake terus" Santi yang mendengar nama itu langsung mengangkat alis tipis, “teman kamu?” tanya bunsa Santi.
“Iya Bun,” jawab Feryal cepat. “Teman kampus" Faryal mengangguk palan. “Yang suka sok tau itu?” sahut bunda Santi.
Deg. Feryal langsung membeku, Bilal spontan menunduk menahan senyum. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, suasana meja makan terasa sedikit hidup kembali.