"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Baru dan Kenangan Lama
POV Zhira
Hidupku kini terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda. Di kampus, aku adalah Mahasiswi Zhira yang cerdas, aktif, dan disegani teman-teman serta dosen. Tapi begitu matahari terbenam, aku berubah menjadi pelayan restoran yang sigap, ramah, dan tak kenal lelah.
Fisikku mungkin lelah, tapi hatiku justru merasa lebih tenang. Setiap lembar uang yang kuterima terasa begitu berharga karena itu adalah bukti nyata dari keringat dan air mataku sendiri.
Suatu sore, setelah selesai shift kerja dan membersihkan diri di asrama, aku duduk di meja belajar. Aku membuka dompet kulit lusuhku dan menghitung uang yang ada di sana.
Hari ini gajian. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup lumayan. Aku membaginya menjadi beberapa bagian. Satu bagian untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, satu bagian untuk ditabung, dan satu bagian lagi... untuk dikirim ke rumah.
Jari-jariku menekan tombol di mesin ATM. Transfer berhasil.
Selesai mengirim, aku menghela napas panjang. Entah kenapa, rasa lega bercampur perih selalu menyertai setiap transaksi ini. Aku melakukan ini bukan karena aku kaya, tapi karena itu adalah caraku membuktikan bahwa aku tetap berguna, meski caranya sendiri.
Beberapa bulan berlalu. Prestasiku di kampus semakin menanjak. Karena nilai dan aktifitasku yang bagus, aku terpilih menjadi perwakilan universitas dalam sebuah lomba menulis esai tingkat nasional.
Tema lombanya sangat pas dengan hidupku: "Ketangguhan Hati di Tengah Keterbatasan".
Aku menulis dengan hati yang terbuka. Aku menuangkan semua rasa sakit, air mata, perjuangan, dan juga harapan yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Kata-kata itu mengalir begitu saja seperti air yang menemukan jalannya.
Hingga pada suatu hari yang cerah, pengumuman pemenang diumumkan.
"Dan juara pertama diraih oleh... Zhira Alvina dari Universitas Negeri Jakarta!"
Sorak-sorai teman-teman terdengar memekakkan telinga. Dinda memelukku erat sambil menangis bahagia. "Gue tahu lo pasti bisa! Lo emang hebat, Zhira!"
Aku berdiri di atas panggung, menerima piala dan sertifikat, serta amplop cokelat berisi hadiah uang tunai yang nilainya cukup besar. Mataku berkaca-kaca. Ini bukan sekadar tentang uang atau piala. Ini adalah pengakuan dunia bahwa ceritaku berharga, bahwa perjuanganku layak untuk didengar.
Saat turun dari panggung, hal pertama yang terpikirkan olehku adalah keluarga. Ayah Alvin pasti akan sangat senang mendengar ini. Dan Ibu Zainal... mungkin dengan ini dia akan sedikit melihat ke arahku.
Dengan tangan gemetar, aku menelepon rumah. Telepon tersambung cukup lama sebelum akhirnya diangkat.
"Halo?" suara Ibu Zainal terdengar datar.
"Assalamu’alaikum, Bu. Ini Zhira," sapaku bersemangat. "Bu, Zhira mau kasih kabar baik! Zhira menang lomba menulis tingkat nasional! Dapat juara satu lho, Bu! Dapat hadiah uang juga lumayan banyak!"
Aku menunggu respon antusias atau setidaknya ucapan selamat. Tapi yang kudengar hanyalah hening sejenak, lalu...
"Oh, menang ya. Syukurlah. Uang hadiahnya berapa?" tanyanya tanpa rasa penasaran sedikit pun pada prestasiku, yang dia tanyakan hanya uangnya.
Semangatku seketika redup. "Lumayan banyak, Bu. Cukup buat bayar kebutuhan Zhira dan..."
"Kirimkan sebagian besar ke sini ya! Bimo mau beli sepeda baru, Rara butuh baju seragam baru. Lagian kamu di sana kan sudah bisa cari uang sendiri, pasti kebutuhanmu sudah tercukupi. Kasihan adik-adikmu belum bisa apa-apa," potongnya cepat, langsung membagi habis hasil jerih payahku.
Dadaku terasa sesak sekali. Piala di tanganku terasa berat dan dingin. Jadi selama ini, apa yang kulakukan, sehebat apa pun aku berhasil, di mata mereka hanyalah soal uang? Tidak ada bangga, tidak ada selamat, yang ada hanya tuntutan.
"Iya, Bu. Nanti Zhira kirim," jawabku lemas.
"Ya sudah, jangan lama-lama teleponnya. Mahal," suara ditalakan.
Aku menatap layar ponsel yang gelap. Angin sore berhembus masuk melalui jendela asrama, membuatku menggigil. Dinda yang melihat wajahku pucat langsung mendekat.
"Gimana Ra? Tante Zainal senang kan?" tanyanya penuh harap.
Aku tersenyum tipis, senyum yang paling menyedihkan yang pernah kubuat. "Iya, Din. Dia senang. Senang karena tahu aku dapat uang hadiah."
Dinda tertegun, lalu wajahnya berubah marah dan sedih. "Sialan! Mereka itu... mereka tidak pernah melihat usahamu! Mereka cuma lihat materi doang! Zhira, jangan kasih tahu mereka kalau lo dapat uang banyak! Simpan buat diri sendiri! Lo juga butuh, Ra!"
Aku menggeleng pelan. "Nggak bisa, Din. Itu orang tuaku. Selama ini aku hidup karena mereka, meski caranya salah. Aku harus tetap berbakti. Mungkin memang begini takdirku, harus selalu memberi meski diriku sendiri sedang kekurangan."
Tapi dalam hati, aku berjanji pada diri sendiri. Mulai hari ini, aku akan lebih mencintai diriku sendiri. Aku akan menyisihkan sebagian dari hasil kerjaku untuk masa depanku, untuk tabungan masa depan yang benar-benar menjadi milikku.
Aku memandang piala itu lagi. "Ini milikku. Prestasi ini milikku. Tidak ada yang bisa mengambilnya. Tidak ada yang bisa meremehkannya lagi," bisikku tegas.
Meskipun keluargaku tidak pernah bangga padaku, setidaknya aku bangga pada diriku sendiri. Dan itu sudah cukup untuk membuatku terus melangkah.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, sedih banget ya tapi Zhira makin dewasa dan kuat 💪😢. Gimana Bab 12-nya? Lanjut Bab 13 nanti ya! Kita mau bikin ceritanya makin seru nih! 😊📖