Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Pesta di Atas Luka
Pagi itu, udara di mansion Setiawan terasa lebih menusuk daripada biasanya. Nara terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Di kamar paviliun yang sempit, ia bersujud panjang, memohon kekuatan yang tidak ia miliki jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Bekas cengkeraman Danu di lengannya semalam masih meninggalkan rona merah samar, sebuah stempel kekuasaan yang mengingatkannya bahwa ia sedang berada di wilayah musuh.
Pukul 08.00 WIB, Nara melangkah menuju bangunan utama. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu tua dengan jilbab hitam yang rapi. Tidak ada riasan, namun ketenangan di wajahnya adalah perisai terbaiknya.
Di ruang makan mewah, ia berpapasan dengan Danu yang sedang membaca koran digital sambil menyesap espresso. Pria itu tampak segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung, seolah konfrontasi tengah malam tadi tidak pernah terjadi.
Namun, saat Nara melintas, mata elang Danu sempat melirik ke arah pergelangan tangan Nara, mencari bekas luka yang ia buat sendiri.
"Siapkan mentalmu, Nara," suara Danu datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Karin sudah sangat antusias dengan 'guru kesayangannya'."
Nara berhenti sejenak, tidak menoleh. "Terima kasih atas peringatannya, Pak Danu. Tapi saya di sini untuk mengajar, bukan untuk bertanding."
Danu hanya mendengus sinis. Ia membiarkan Nara berjalan menuju ruang belajar kaca yang terletak di sudut taman belakang sebuah ruangan indah yang hari ini akan berubah menjadi arena eksekusi mental.
Begitu Nara membuka pintu ruang belajar, suara tawa melengking menyambutnya. Aroma parfum mahal yang menyengat memenuhi ruangan, bercampur dengan asap vape rasa buah yang tipis.
Karin tidak sendirian. Di sana, duduk Mawar dan Siska dua kaki tangan setianya dari sekolah. Mereka duduk melingkar di atas sofa beludru, menghadap sebuah meja yang penuh dengan camilan impor dan botol-botol minuman berwarna-warni. Buku pelajaran milik Karin tergeletak di lantai, terbuka dan terinjak oleh ujung sepatu Mawar.
"Wah, lihat siapa yang datang! 'Ustadzah' kita sudah sampai!" teriak Siska sambil bertepuk tangan mengejek.
Karin menyeringai, ia menyandarkan punggungnya dengan gaya ratu. "Nara, kamu telat dua menit. Di rumah ini, keterlambatan berarti hukuman. Tapi karena aku baik hati, hukumanmu akan digabung dengan 'pesta selamat datang' yang sudah kami siapkan."
Nara berjalan tenang, memungut buku yang terinjak itu, membersihkan debu di sampulnya dengan ujung lengan bajunya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Karin, saya di sini untuk memberikan pelajaran privat padamu. Sesuai perjanjian dengan Kakakmu, ini adalah waktu belajar, bukan waktu berkumpul dengan teman-temanmu."
"Oh, ayolah, Bu Guru," Mawar menimpali dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kami juga ingin belajar. Kami ingin belajar bagaimana rasanya menjadi orang miskin yang sok suci. Bisa Ibu ajarkan?"
Ketiganya tertawa terbahak-bahak
Nara membuka bukunya, mengabaikan ejekan itu. "Karin, hari ini kita akan membahas tentang analisis karakter dalam novel. Silakan buka halaman seratus lima."
"Aku malas baca," potong Karin cepat. "Gini aja, daripada baca buku membosankan itu, gimana kalau kita praktek? Kamu bilang kamu mau mengajar karakter? Oke. Sekarang, tunjukkan karakter seorang pelayan yang baik. Ambilkan kami es kopi di dapur, lalu bawa ke sini. Kalau ada satu tetes pun yang tumpah, kamu harus menjilatnya dari lantai."
Nara menatap Karin lurus-lurus. "Saya adalah gurumu, Karin. Bukan pelayanmu."
"Di sini, kamu adalah apa pun yang aku mau!" bentak Karin, suaranya naik satu oktaf. Ia mengambil sebotol air mineral dan menyiramkannya ke atas meja, membasahi buku materi yang baru saja dibuka Nara.
"Ops! Meja ini basah. Bersihkan sekarang, atau aku telepon Kak Danu dan bilang kalau kamu mencaci maki teman-temanku."
Mawar dan Siska bersorak kegirangan. Mereka mulai melempar remahan biskuit ke arah jilbab Nara. "Ayo, bersihkan! Katanya sabar? Katanya beriman? Mana?"
Nara berdiri diam di tengah hujan ejekan dan remahan biskuit. Ia merasa matanya memanas, namun ia menolak untuk menangis di depan serigala-serigala kecil ini. Ia tahu, di balik dinding kaca ini, Danu mungkin sedang menonton melalui kamera pengawas atau berdiri di balkon atas. Ia tahu ini adalah ujian untuk menghancurkan kewibawaannya sebagai guru.
Perlahan, Nara mengambil sapu tangan dari sakunya. Ia mulai mengelap air yang membasahi bukunya dengan gerakan yang sangat tenang begitu tenang hingga tawa ketiga gadis itu perlahan mereda karena merasa tidak mendapatkan reaksi yang mereka inginkan.
Setelah meja itu bersih, Nara tidak pergi. Ia justru duduk di kursi di depan mereka. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan iba bukan tatapan marah.
"Kalian tahu apa yang paling menyedihkan dari seseorang yang memiliki segalanya?" suara Nara mengalun rendah, membuat suasana ruangan mendadak sunyi.
"Apa? Mau ceramah lagi?" cibir Siska.
"Yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang memiliki uang untuk membeli dunia, tapi tidak memiliki cukup harga diri untuk berperilaku sebagai manusia," lanjut Nara.
"Karin, Mawar, Siska... kalian cantik, kalian kaya. Tapi hari ini, di mata saya, kalian terlihat sangat kecil. Kalian mencoba menghina saya dengan air dan remah biskuit, tapi sebenarnya kalian sedang menunjukkan kepada dunia betapa kosongnya jiwa kalian."
Karin berdiri, wajahnya merah padam. "Berani-beraninya kamu—"
"Saya berani karena saya tidak punya beban," potong Nara tegas.
"Kalian takut jika tidak punya pengikut. Kalian takut jika tidak punya uang. Tapi saya? Saya tidak takut kehilangan apa pun selama saya memiliki kebenaran. Sekarang, silakan lanjutkan pesta kalian.
Saya akan menunggu di sini sampai kalian siap menjadi manusia yang ingin belajar. Jika tidak, saya akan mencatat di laporan harian bahwa hari ini pendidikan gagal bukan karena gurunya, tapi karena siswanya memilih untuk menjadi rendah."
Nara melipat tangannya, menutup matanya sejenak untuk berzikir, membiarkan mereka bertiga terpaku dalam kemarahan yang tertahan.
Di lantai dua, Danu berdiri di balik gorden balkon yang sedikit terbuka. Ia menyaksikan seluruh kejadian itu tanpa berkedip. Ia melihat bagaimana adiknya berperilaku seperti monster kecil, dan bagaimana Nara berdiri tegak seperti karang yang dihantam ombak namun tak sedikit pun bergeser.
Ada rasa perih yang aneh di dada Danu saat melihat Mawar melempar kotoran ke jilbab Nara. Seharusnya ia senang melihat Nara menderita. Bukankah itu tujuannya membawa Nara ke sini? Untuk mematahkan sayapnya?
Namun, saat melihat Nara tetap tenang dan justru memberikan "tamparan" verbal yang begitu elegan, Danu merasa malu. Ia malu melihat adiknya sendiri, Karin, tampak begitu kasar dan tidak berkelas dibandingkan dengan wanita yang ia sebut "guru rendahan" itu.
"Tuan Muda," asistennya, Andra, muncul di belakangnya. "Haruskah saya membubarkan mereka? Nona Karin sepertinya sudah keterlaluan."
Danu terdiam lama, matanya masih terpaku pada Nara yang kini sedang duduk dengan mata terpejam, mengabaikan teman-teman Karin yang mulai gelisah karena diacuhkan.
"Tidak perlu," ucap Danu dingin, meski tangannya mengepal kuat di balik saku celananya.
"Biarkan dia bertarung sendiri. Aku ingin tahu, kapan karang itu akhirnya akan pecah."
Namun, di dalam hati, Danu tahu. Nara tidak akan pecah. Justru dialah dan keluarganya yang sedang ditelanjangi oleh keberadaan wanita itu. Danu memutar tubuhnya, berjalan pergi, namun bayangan wajah Nara yang tenang saat dihina terus menghantuinya.
Di ruang belajar, Karin yang merasa kalah karena tidak berhasil membuat Nara menangis, akhirnya membanting gelasnya ke lantai.
"PERGI KALIAN! KELUAR!" teriak Karin pada teman-temannya.
Mawar dan Siska yang ketakutan segera mengambil tas mereka dan lari keluar. Kini, hanya tersisa Nara dan Karin di ruangan yang penuh pecahan kaca itu.
Nara membuka matanya. Ia melihat pecahan kaca di dekat kaki Karin. "Hati-hati, Karin. Pecahan kaca itu tajam. Sama seperti kata-katamu, jika tidak hati-hati, dia akan melukai dirimu sendiri sebelum melukai orang lain."
Karin jatuh terduduk di sofa, air mata amarah mulai mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah di rumahnya sendiri.