NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Ruang latihan

Di dunia hiburan Korea Selatan, nama Kim Namjunho tak pernah terlepas dari sorotan. Ia adalah leader sekaligus, rapper utama grup idol ternama SOLIX, grup yang dalam satu dekade terakhir menempati posisi puncak industri musik global.

Di mata publik, Junho adalah sosok yang tenang, kharismatik, dan selalu mengedepankan tanggung jawab—sifat yang membuatnya diakui sebagai tulang punggung grup.

SOLIX sendiri dikenal sebagai grup dengan citra kuat, elegan, sekaligus penuh energi. Sebagai pemimpin, Junho tidak hanya menjaga harmoni antar-anggota, tetapi juga kerap menjadi penengah dalam konflik internal maupun penghubung antara grup dan pihak agensi. Banyak penggemar menilai bahwa tanpa ketegasan sekaligus kebijaksanaan Junho, SOLIX mungkin tak akan bertahan sekuat sekarang.

Namun, kehidupan Junho tak berhenti pada panggung megah dan sorak-sorai penonton. Di balik cahaya sorotan itu, ia adalah seorang pria berusia tiga puluh dua tahun yang lahir dan tumbuh dalam keluarga konglomerat—keluarga Kim, salah satu keluarga kaya raya di Korea.

Meski kehidupannya tampak serba cukup sejak kecil, jalan yang ia tempuh sebagai idol bukanlah pilihan yang diterima dengan mudah oleh keluarganya. Sang ayah, Kim Daejung, pengusaha besar dengan pandangan tradisional, menganggap dunia hiburan terlalu “rendah” untuk martabat keluarga mereka. Bahkan hingga kini, kendati Junho telah menjadi ikon internasional, restu penuh dari keluarga itu masih belum sepenuhnya ia dapatkan.

Malam setelah acara penghargaan internasional di mana ia diminta menjadi juri tamu, Junho pulang rumah orang tuanya namun karena pembicaraan nya malam itu dengan orang tua nya yang membuat nya tidak nyaman dia memilih kembali lagi ke penthouse modernnya di Gangnam.

Lantai tinggi itu memberikan pemandangan kota Seoul yang berkilau, seakan kontras dengan perasaan kosong yang sesekali menghampirinya. Ia melepas jaket hitam elegan yang ia kenakan, menaruhnya rapi, lalu duduk sendirian di ruang tamu.

Pikirannya masih dipenuhi banyak hal— terutama wajah-wajah penulis muda yang tampil di panggung tadi. Namun ada satu sosok yang berbeda, yang entah mengapa membuatnya lebih lama teringat: Nala Aleyra Lareina, penulis muda dari Indonesia yang baru saja menerima penghargaan.

Ia tidak bersikap berlebihan seperti kebanyakan orang yang baru menapaki panggung internasional. Cara Nala menundukkan kepala dengan hormat, berbicara dalam bahasa Inggris yang lugas namun sopan, dan ekspresi matanya yang jujur meninggalkan jejak di benak Junho.

Junho menyalakan lampu meja kecil, membuka buku catatan kulit yang selalu ia bawa. Biasanya halaman-halaman itu berisi draf lirik, kutipan sastra, atau sekadar kalimat pendek yang muncul dari kepalanya di waktu senggang. Kali ini, ia menuliskan sebuah catatan sederhana:

“I just wrote about loneliness. About… feeling like the world doesn’t want you. It’s something I’ve known for a long time. (Aku hanya menulis tentang kesepian. Tentang… perasaan bahwa dunia tidak menginginkanmu. Itu sesuatu yang sudah lama aku kenal.) "

Kalimat yang di ucapkan wanita itu sebelum nya, entah kenapa sejak pertama melihat buku yang di tulis Nala hati nya seolah memanggil nya, dan meminta nya untuk memilih itu.

Sebagai seorang seniman, Junho tahu betul kapan dirinya tersentuh oleh sesuatu yang tulus. Dan malam itu, ia menyadari—untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak dalam rutinitas idol, ia merasakan percikan ketertarikan terhadap dunia yang berbeda dari panggung musik.

Bukan ketertarikan personal semata, tetapi sebuah rasa ingin tahu yang semakin kuat: siapa sebenarnya Nala? Bagaimana ia menulis? Dari mana datangnya keberanian seorang perempuan muda untuk membawa namanya hingga ke panggung internasional?

Junho menyandarkan tubuhnya ke sofa, menghela napas panjang. Baginya, pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Mungkin, ada sesuatu yang akan bermula dari sini—bukan sekadar antara seorang idol dan penulis, melainkan antara dua seniman yang mencari makna dari karya masing-masing.

"Kenapa wajah nya selalu terbayang-bayang?" Ujar nya kesal, tapi juga bingung tidak mengerti dengan perasaan nya sendiri.

☾ ── ❖ ── ☾

Mentari pagi menembus jendela besar penthouse milik Kim Namjunho, menyoroti interior yang didominasi warna putih dan abu muda—tenang, rapi, namun terasa dingin seperti pemiliknya. Di luar, langit Seoul tampak jernih. Tapi bagi Junho, pagi bukanlah awal yang tenang, melainkan permulaan dari serangkaian rutinitas yang tak pernah benar-benar berhenti.

Ia bangun dengan gerak malas, menarik napas panjang sebelum melangkah menuju balkon. Dari sana, pemandangan kota yang hidup di bawah sana tampak begitu kecil—seolah seluruh dunia berputar terlalu cepat, sementara ia sendiri hanya penonton yang tak pernah boleh keluar dari panggungnya.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian kasual rapi—kaus hitam polos, jaket kulit tipis, dan topi—Junho berangkat menuju gedung LYNX Entertainment, agensi besar yang menaungi grupnya, SOLIX.

Begitu memasuki gedung kaca menjulang itu, aroma khas parfum campur mesin kopi langsung menyambutnya. Suara langkah staf yang terburu-buru berpadu dengan panggilan telepon, dentingan lift, dan potongan melodi yang terdengar dari ruang latihan di lantai bawah.

Dinding-dinding dipenuhi poster SOLIX, dan juga beberapa boy group dan girl group lain nya, layar besar menampilkan jadwal promosi, dan papan digital mencatat update proyek terbaru.

“Junho-ssi, jadwal pagi ini latihan koreografi di studio tiga, lalu meeting album solo jam sebelas, dan terakhir rapat untuk ide mu itu, pengajuan mu sudah di setujui,” kata Lee Soojin, asisten pribadinya, sambil menyerahkan tablet berisi rundown.

Junho hanya mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang meski pikirannya jauh melayang.

Ruang latihan sudah ramai saat ia tiba. Musik berdentum pelan dari speaker besar di sudut ruangan, cermin panjang memantulkan bayangan para member SOLIX yang sedang berlatih.

Jinwoo terlihat bercanda dengan Hoseung di tengah ruangan, Yoohan fokus memutar ulang musik di laptopnya sambil mengernyitkan dahi, sementara Jihwan melatih vokal di pojok, sesekali menarik napas panjang untuk menjaga stabilitas nada.

Begitu Junho masuk, pintu kaca tertutup pelan di belakangnya. Beberapa kepala spontan menoleh.

“Leader kita akhirnya datang. Aigoo, aura bintang masuk!” seru Taeyang dengan tawa kecil.

Junho tersenyum tipis, meletakkan tasnya di sofa dekat dinding.

“Aku tidak terlambat, kan?” tanya Junho, menatap maknae kesayangannya itu.

“Untukmu, lima menit tetap tepat waktu, Leader privilege, arasseo?” sahut Kiyoon, si maknae, sambil terkekeh.

“Tentu saja bagi Kiyoon, Junho hyung itu segalanya,” ledek Taeyang, membuat semua orang tertawa—terutama Hoseung yang memang terkenal paling positive vibe, bahkan tawanya terdengar paling keras.

“Hari ini setelah selesai latihan, hyung ingin makan bersama kita?” tanya Taeyang, berjalan mendekati Junho sambil menyampirkan handuk ke lehernya, Junho menggeleng pelan.

“Aku ada rapat untuk proyek soloku,” ujarnya singkat. Jihwan langsung menyahut, matanya membulat penasaran.

“Apa hyung dan Yoohan hyung berkolaborasi? Dia juga ada rapat untuk proyek solonya?” tanya nya, namun saat Junho hendak menjawab, tetapi tiba-tiba seorang staf wanita masuk ke ruangan sambil membawa clipboard.

“Teman-teman, lima menit lagi mulai latihan penuh. Bersiap, ya,” ujarnya tegas namun ramah.

“Apa kali ini akan ditayangkan?” tanya Yoohan, menoleh cepat.

“Untuk YouTube kalian. Jadi buat semenggemaskan mungkin, jinjja. Fans suka itu.” Staf itu mengangguk, Hoseung langsung terkekeh.

“Tenang, kita punya Jihwan, Kiyoon, juga Taeyang. Kalau mereka bertiga sudah mulai bertingkah, fans auto melting.” Ia menepuk bahu Junho dengan akrab, suaranya renyah seperti biasa.

“Yah, tapi kalau Junho-hyung senyum sedikit saja, semua view naik dua kali lipat,” balas Kiyoon cepat, membuat ruangan kembali pecah oleh tawa.

“Aigoo, benar itu!” sahut Taeyang dramatis.

Junho hanya menggeleng pelan, separuh malu, separuh lelah. Lampu ruangan memantulkan kilau tipis di wajahnya yang masih menyisakan bekas kurang tidur.

“Kalian ini benar-benar…” ujarnya lirih.

Namun, senyum kecil tetap muncul di ujung bibirnya—senyum yang tanpa sadar memang selalu membuat semua mata kembali tertuju padanya. Dan di balik cermin besar ruang latihan itu, leader SOLIX berdiri dengan tenang. Profesional. Terkendali.

Meski pikirannya, entah kenapa, sesekali masih teringat pada sorot mata seorang perempuan di atas panggung malam itu.

Beberapa staf mulai menyiapkan kamera. Cahaya lampu sorot dinyalakan, sementara lantai studio memantulkan refleksi tubuh-tubuh yang siap bergerak. Cermin besar di sepanjang dinding membuat semuanya terasa ganda—tujuh sosok pria dengan napas teratur, berdiri membentuk formasi yang sudah tertanam dalam otot mereka setelah bertahun-tahun berlatih.

“Mulai dari bagian chorus,” ujar salah satu koreografer, suaranya lantang tapi hangat. “Junho, jaga tempo. Jinwoo, tolong kontrol energimu di bagian transisi,” ujar nya.

Musik menggema, dentuman bass mengisi udara. Dalam sekejap, suasana berubah—candaan hilang, berganti keseriusan. Tubuh-tubuh itu bergerak dalam harmoni yang nyaris sempurna: hentakan kaki, ayunan tangan, putaran yang tajam namun elegan. Keringat mulai mengalir, tapi tak satu pun berhenti.

Junho memimpin tanpa kata. Ia tak banyak bicara, tapi setiap gerakannya memberi arah—setiap sorot matanya cukup untuk menegaskan kapan mereka harus lebih kuat atau lebih halus. Aura leader itu alami, bukan dipaksakan.

Di sela musik, terdengar tawa kecil Jihwan yang salah langkah, disusul teriakan kecil dari Kiyoon yang hampir tersandung.

“Yah, aku bukan robot, hyung!” seru maknae itu sambil tertawa, membuat suasana kembali mencair.

"Kau diam," ledek Jihwan yang membuat para Hyung tertawa melihat tingkah kedua maknae itu.

“Cut dulu, Ambil lima belas menit istirahat,” ujar koreografer.

Begitu musik berhenti, Hoseung langsung menjatuhkan diri ke lantai, terengah tapi masih sempat bercanda.

“Kalau kamera menyala terus, aku minta bonus visual. Hyung berikan wajah tampan mu untuk ku,” ujar nya sembari menatap Jinwoo yang mendengus sebal.

"Tidak boleh, ini aset lahir," ujar nya yang membuat Taeyang menyahuti.

"Memang nya kenapa?" Tanya nya meskipun nafas nya masih terengah dia bertanya dengan wajah bingung.

"Karena itu melanggar hak asasi Seo Jinwoo," jawab semua orang serentak, tawa mereka kembali pecah di ruangan tersebut. 

Yoohan berjalan mendekati Junho yang duduk di pinggir ruangan dia membuka botol air mineral sambil menatap Junho.

“Junho, kau terlalu fokus. Ada yang kau pikirkan?” tanya nya yang membuat junho menatap pantulan dirinya di cermin. Nafasnya masih cepat, tapi matanya... ada sesuatu yang jauh di dalam sana—lelah, namun sekaligus hidup.

“Tidak ada, mungkin hanya... sedikit banyak hal yang berputar di kepala,” ujarnya akhirnya, meneguk air. Hal itu membuat Yoohan mengangkat alis.

“Album solo, atau sesuatu yang lain?” tanya nya yang membuat Junho menatapnya sekilas, seolah hendak menjawab, tapi bibirnya hanya menegang sebelum akhirnya tersenyum samar.

“Entahlah, mungkin keduanya,” jawab nya.

Yoohan menatapnya lama, lalu hanya menepuk bahu Junho pelan. Seolah dia memberikan kekuatan pada pria yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.

“Kalau memang ‘keduanya’, tulis saja dalam lagu. Dunia akan lebih mudah memahami lewat musikmu,” ujar nya namun Junho tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil—karena di dalam pikirannya, bayangan seorang gadis bergaun sederhana di panggung penghargaan semalam kembali muncul. Suaranya, matanya, bahkan senyum gugupnya.

"Apa pembahasan rapat sore nanti? Apa ada proyek album grup baru?" Tanya Yoohan yang membuat Junho menggeleng.

"Aku ingin mengangkat seseorang untuk bergabung dengan Tim inti kita," ujar nya.

"Apa? Member baru?" Tanya nya yang membuat Junho menggeleng.

"Bukan member baru, tapi bagian dari tim kreatif penulisan lirik," katanya nya yang membuat Yoohan mengernyit.

Selama ini SOLIX memang memproduksi musik mereka sendiri. Junho dan Hoseung dikenal sebagai songwriter utama, meskipun tetap dibantu tim kreatif. Mendengar ucapan itu jelas mengejutkan. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara staf kembali terdengar memanggil mereka untuk melanjutkan latihan.

Latihan kembali dimulai.

Musik memenuhi ruangan. Untuk beberapa jam berikutnya, Junho kembali menjadi sosok yang dikenal publik—rap presisi, gerak tubuh tegas, aura panggung yang menguasai ruang. Setiap hentakan terasa mantap, setiap lirik dilontarkan dengan kontrol sempurna.

Namun di sela ketukan musik itu, pikirannya sesekali kembali pada satu momen semalam: tatapan mata Nala, suaranya yang gugup namun tulus di panggung penghargaan.

“Astaga, fokuslah… aigoo, aku mohon,” batinnya sambil terus bergerak dan melantunkan potongan-potongan rapnya bergantian dengan member lain.

Satu jam berlalu.

Akhirnya latihan selesai. Semua member bergegas pergi untuk makan siang, sisanya melakukan kegiatan masing-masing. Begitu juga dengan Junho dan Yoohan yang menuju ruang meeting untuk proyek solo mereka masing-masing.

Meeting tersebut berjalan cukup lancar, meski terasa alot. Junho tidak bisa sepenuhnya fokus hari ini. Ia terlihat berbeda—terlalu sering melamun, beberapa kali tidak menyimak pokok pembahasan dari timnya.

Setelah keluar dari ruang meeting, ia masuk ke studionya yang memang berada di lantai yang sama. Dengan langkah tenang, ia duduk di kursi kerjanya. Di hadapannya, laptop dan komputer sudah menyala. Tumpukan kertas penuh coretan berserakan—khas studio seorang seniman profesional.

Tangannya bergerak membuka draf lirik untuk album solonya. Namun saat kursor bergerak, tujuannya beralih tanpa sadar. Ia membuka media sosial, lalu kembali melihat rekaman acara penghargaan itu. Tangannya seolah bergerak tanpa bisa ia kendalikan—seakan hati yang mengambil alih logika.

Video malam penghargaan itu diputar.

Momen saat ia menyerahkan trofi kepada Nala. Saat perempuan itu menunduk sopan dengan senyum gugupnya. Cahaya lampu panggung memantulkan kilau di rambutnya.

Junho memutar video itu berulang kali.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hingga tanpa sadar, kepalanya terkulai pelan di atas meja kerja.

Dan layar laptop masih menampilkan potongan adegan itu, berulang dalam diam.

════ ⋆★⋆ ════

Sementara itu, di sisi lain kota Seoul yang sedang cerah, Nala dan Davin berjalan santai menyusuri jalanan dekat kawasan Bukchon Hanok Village. Udara musim gugur terasa lembut, menyelip di antara dedaunan yang mulai menguning. Langit biru membentang tanpa awan, dan aroma kopi dari kafe-kafe tradisional memenuhi udara.

“Sudah berapa kali kita berkeliling tempat ini? Aku rasa kamu hanya mencari alasan supaya bisa jalan-jalan,” ujar Davin sambil menatap Nala yang sibuk mengambil foto bangunan hanok di depan mereka.

“Kalau aku bilang iya, apa kamu marah?” jawab Nala ringan, senyumnya kecil tapi tulus.

Ia tampak berbeda dari malam sebelumnya—gaun formal telah berganti dengan coat krem lembut dan syal putih yang membingkai lehernya. Sederhana, tapi entah kenapa auranya justru memikat.

“Tidak marah, hanya saja aku mulai curiga, jangan jangan kamu mulai riset untuk novel baru mu? ” tanya nya menatap Nala lekat.

“Bisa jadi, aku memang sedang ingin menulis tentang pria yang menyebalkan, dan kamu tokoh utamanya,” sahut Nala sambil mengangkat kamera ponselnya.

“Lho, kok aku menyebalkan?” Davin tertawa kecil, tapi akhirnya ikut tersenyum.

"Terserah aku, lagipula aku yang menulis nya," jawab Nala yang membuat Davin mendengus sebal.

“Ya sudah, aku terima peran itu asal ending-nya bahagia,” jawab nya.

Setelah selesai berpoto dan melihat lihat daerah itu, kini langkah mereka berlanjut ke arah sungai Cheonggyecheon. Airnya memantulkan kilau cahaya matahari sore yang mulai condong. Di sepanjang jalan, turis-turis berfoto, beberapa pasangan duduk di tepi jembatan kecil sambil berbincang pelan. Nala berhenti sejenak, memandangi permukaan air yang beriak lembut.

“Rasanya aneh ya, kemarin malam aku masih berdiri di panggung itu. Sekarang… semua terasa seperti mimpi,” guman Nala pelan.

Davin menatapnya sebentar sebelum menjawab.

“Kalau mimpi itu indah, jangan buru-buru bangun. Nikmati saja dulu, siapa tahu ada bagian lain dari mimpi itu yang belum kamu lihat,” ujar nya yang membuat Nala tersenyum samar.

“Kamu tahu, aku bahkan belum sepenuhnya percaya kalau aku sempat bicara langsung dengan semua orang dan terutama idola ku sendiri. Aku kira aku akan pingsan di atas panggung,” ujar nya mengingat malam penghargaan itu.

“Menyenangkan melihat wajah mu merah seperti kepiting rebus,” balas Davin cepat. Nala menunduk malu, pipinya memerah.

“Aku gugup, Mas. Otakku berhenti bekerja waktu itu,” ujar Nala yang membuat Davin tertawa lepas.

“Tapi justru itu yang bikin pidatomu berkesan. Orang-orang suka sesuatu yang jujur. Kamu tidak berusaha sempurna tapi tulus,” jawab nya sembari tersenyum.

Angin berhembus lembut, menerbangkan beberapa helai daun kering yang jatuh di sekitar mereka. Nala mengangkat wajahnya, menatap langit Seoul yang tenang. Mereka berdua diam cukup lama di sana sampai akhir Nala kembali membuka pembicaraan.

“Kalau begitu... kita ke Namsan Tower?” tanya nya yang membuat Davin terkekeh pelan.

“Ke Namsan? Kamu mau pasang gembok cinta?” goda Davin setengah bercanda.

“Cinta sama siapa? Sama laptop?” Nala menimpali cepat, membuat Davin tertawa sampai menunduk.

"Dengan ku mungkin..." Gumam nya pelan, tanpa Nala sadari.

Setelah mengurus banyak hal akhirnya mereka pun melangkah lagi—dua insan yang sama-sama lelah oleh realitas, tapi hari itu memilih untuk membiarkan diri mereka tertelan oleh hangatnya kota, dan kebetulan kecil yang terasa seperti kebebasan.

Langit sore Seoul tampak cerah dengan sinar matahari yang mulai miring, memantulkan warna keemasan di permukaan kaca gedung-gedung tinggi. Dari kejauhan, Namsan Tower berdiri megah, menjadi saksi ribuan kisah yang pernah diukir di bawahnya—tentang cinta, persahabatan, bahkan perpisahan.

“Sudah lama aku ingin ke sini terakhir kali aku ke Seoul tidak sempat datang kesini,” ujar Nala pelan sambil menatap ke atas menara. Udara dingin musim semi membuat rambutnya sedikit terurai di sisi wajah.

"Nala, ayo kita pasang gembok bersama," ujar Davin yang membuat Nala menoleh sejenak.

"Dengan ku?" Tanya Nala sembari tertawa mendengar penuturan editor nya itu.

"Iya, lalu kau ingin memasang gembok dengan siapa, Junho?" ledek nya yang membuat Nala kembali tersenyum.

"Baiklah, ayo pasang gembok persahabatan," ujar Nala tanpa ragu menarik tangan Davin.

Mereka berjalan menuruni tangga, sesekali berhenti untuk memotret pemandangan. Di tangan Nala, ada dua gembok kecil berwarna biru dan putih—bukan gembok cinta seperti pasangan lain yang mereka lihat di sekitar, tapi bertuliskan huruf kecil di bagian belakang: “for our friendship — N & D.”

“Mau pasang di sini?" Tanya Nala sembari menatap Davin.

"Aku ikut saja, ouh Nala ayo pasang berdekatan. Suatu hari nanti jika kita kembali ke sini kita cari gembok kita," ujar nya yang membuat Nala mengangguk setuju.

Mereka mengunci gembok itu berdampingan di pagar menara, dan dalam diam keduanya menatap ke arah kota Seoul yang terbentang luas di sana.

“Aku berharap persahabatan kita bertahan lama, andai Rani ikut ini pasti lebih menyenangkan," ujar Nala, tatapan nya kosong masih tidak menyangka jika dirinya bisa sampai ke negeri asing itu.

"Kita bisa datang lagi ke sini kapan pun kita mau, ini bukan yang terakhir," ujar nya sembari tersenyum tulus.

Keheningan tiba-tiba datang di antara mereka, hingga akhirnya beberapa saat kemudian, Nala menunduk, menggenggam tangannya pelan.

“Mas, aku mau berdoa sebentar,” ujar nya yang membuat Davin mengangguk dan ikut menunduk, tapi dengan caranya sendiri.

Dua orang dengan keyakinan berbeda, berdiri berdampingan, sama-sama menundukkan kepala—tanpa saling mengubah, hanya saling menghormati.

“Ya Allah, terima kasih karena Kau pertemukan aku dengan orang-orang baik. Lindungi mereka, bahkan ketika aku tidak bisa selalu di sisi mereka. Terimakasih juga sudah mengiringi langkah ku sejauh ini, lindungi aku selalu Yaallahh,” bisik Nala dalam hati nya, sementara Davin menutup mata dan berkata dalam batinnya.

“Tuhan Yesus, terima kasih karena aku bisa mengenal seseorang sebaik dia. Jaga langkahnya, seperti kau jaga hatiku hari ini. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, tapi aku ingin dia selalu bersama ku, aku mohon Tuhan, bantu aku, aku ingin dia untuk ku,” batin nya berkata lirih, mata mereka terpejam cukup lama.

Angin sore berhembus lembut, membawa doa mereka terbang bersama gema tawa para wisatawan lain di sekitar. Tidak ada musik, tidak ada pelukan—hanya dua sahabat yang berdiri di bawah langit yang sama, dengan keyakinan berbeda tapi hati yang serupa.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!