Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang di Gerbang Akademi
Retakan pada penghalang utama Akademi Arclight semakin melebar. Energi sihir yang biasanya membentuk kubah pelindung di langit kini bergetar tidak stabil, seperti kaca yang hampir pecah.
CRACK.
Suara retakan itu terdengar jelas bahkan sampai ke koridor dalam akademi.
Para siswa yang berada di halaman mulai mundur dengan wajah panik. Banyak dari mereka belum pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya.
Di udara di atas gerbang utama, Kael mengangkat tangannya tinggi.
Energi hitam besar berkumpul di telapak tangannya seperti bola badai.
Di belakangnya, anggota Ordo Umbra membentuk lingkaran sihir besar untuk memperkuat serangan itu.
Di dalam ruang instruktur, Gareth melihat layar sihir dengan ekspresi serius.
“Kalau serangan itu mengenai penghalang…”
Salah satu instruktur menyelesaikan kalimatnya.
“…perisai akan runtuh.”
Mira langsung menoleh ke Ren.
“Kita harus melakukan sesuatu!”
Ren menatap layar sihir beberapa detik.
Ia bisa merasakan energi Kael dari jarak ini.
Jauh lebih kuat dibanding saat mereka bertarung di hutan.
Nyra bersandar di dinding sambil menyeringai.
“Sepertinya pertarungan besar akhirnya datang.”
Lilia menatapnya tajam.
“Ini bukan permainan.”
Nyra hanya mengangkat bahu.
Selene berdiri diam beberapa langkah dari Ren.
Matanya tertuju pada layar sihir.
“Dia serius.”
Ren bertanya pelan.
“Kael?”
Selene mengangguk.
“Dia tidak akan berhenti.”
Di layar sihir, Kael akhirnya melepaskan serangannya.
“Umbra Nova.”
Bola energi hitam raksasa melesat ke arah penghalang akademi.
BOOOOOOOOOOM.
Benturan itu mengguncang seluruh wilayah akademi.
Gelombang energi menyebar seperti badai.
Beberapa menara di pinggir akademi bahkan retak karena tekanan itu.
Para siswa menjerit panik.
Di langit, penghalang sihir akhirnya pecah seperti kaca raksasa.
CRAAAAASH.
Potongan energi biru jatuh seperti hujan cahaya.
Seorang instruktur berteriak.
“Penghalang runtuh!”
Gareth langsung mengangkat tangannya.
“Semua unit pertahanan ke gerbang utama!”
Beberapa instruktur langsung melompat keluar dari jendela dengan sihir terbang.
Sementara di halaman akademi, para penjaga sihir mulai membentuk garis pertahanan.
Ren mengepalkan tangannya.
“Jadi ini benar-benar terjadi.”
Mira menepuk bahunya keras.
“Kalau mereka ingin kamu…”
Ia tersenyum penuh semangat.
“…mereka harus bertarung dengan kita dulu.”
Aria terlihat gugup tetapi tetap mengangguk.
“Aku akan membantu sebisaku.”
Nyra berjalan menuju pintu keluar dengan santai.
“Aku tidak akan melewatkan pertarungan seperti ini.”
Lilia mengikuti dari belakang.
“Kita harus melindungi para siswa lain.”
Selene berhenti di samping Ren.
“Kamu tahu mereka akan fokus padamu.”
Ren mengangguk.
“Ya.”
Selene menatapnya dengan mata tajam.
“Jangan mati.”
Ren sedikit tersenyum.
“Tidak ada rencana seperti itu.”
Beberapa detik kemudian mereka semua berlari menuju gerbang utama akademi.
Di luar tembok besar akademi, pasukan Ordo Umbra mulai turun ke tanah.
Jumlah mereka lebih dari dua puluh orang.
Semua mengenakan jubah hitam dengan simbol bulan gelap di dada.
Energi sihir gelap menyelimuti mereka seperti kabut.
Kael mendarat di depan gerbang yang rusak.
Ia menatap bangunan akademi dengan senyum santai.
“Tempat yang indah.”
Salah satu anggota Ordo Umbra bertanya.
“Haruskah kita menghancurkannya?”
Kael menggeleng pelan.
“Tidak perlu.”
Matanya bersinar merah.
“Kita hanya datang untuk satu orang.”
Gerbang akademi terbuka.
Gareth keluar bersama beberapa instruktur senior.
Energi sihir besar langsung muncul di sekitar mereka.
“Kael.”
Suara Gareth terdengar seperti petir.
“Ini wilayah Akademi Arclight.”
Kael tersenyum.
“Aku tahu.”
Ia menunjuk ke arah akademi.
“Serahkan Ren Valen.”
Gareth menjawab tanpa ragu.
“Tidak.”
Kael menghela napas kecil.
“Sayang sekali.”
Ia mengangkat tangannya.
Anggota Ordo Umbra langsung menyebar.
“Kalau begitu…”
Ia tersenyum lebar.
“…kita ambil sendiri.”
BOOM.
Pertarungan langsung meledak.
Instruktur akademi dan penyihir Ordo Umbra bertabrakan di depan gerbang.
Ledakan sihir menerangi langit.
Api.
Es.
Petir.
Energi gelap.
Semua bercampur dalam kekacauan besar.
Ren dan kelompoknya tiba di halaman tepat saat pertempuran dimulai.
Mira langsung berseru.
“Gila… ini benar-benar perang.”
Nyra terlihat sangat bersemangat.
“Bagus.”
Aria langsung membuat lingkaran sihir.
“Nature Shield!”
Perisai hijau besar melindungi beberapa siswa yang masih berada di halaman.
Lilia mengangkat tangannya.
“Ice Rain.”
Puluhan tombak es jatuh dari langit ke arah pasukan Ordo Umbra.
Selene melompat ke depan dengan kecepatan tinggi.
Energi bayangan muncul di tangannya.
Salah satu penyihir Ordo Umbra mencoba menyerangnya.
Selene menghindar dan memukulnya dengan serangan bayangan.
BOOM.
Penyihir itu terpental beberapa meter.
Nyra juga langsung menyerang.
“Shadow Fang!”
Makhluk bayangan besar muncul dan menerkam dua anggota musuh sekaligus.
Mira melepaskan gelombang api besar.
“Flame Storm!”
Api menyapu area pertempuran seperti badai.
Ren berdiri beberapa detik di tengah halaman.
Ia melihat semua temannya bertarung.
Instruktur akademi.
Para siswa.
Semua mempertaruhkan nyawa mereka.
Karena dia.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari udara.
“Ren!”
Ren menoleh.
Kael melayang di udara beberapa meter di atas tanah.
Ia menatap langsung ke arah Ren dengan senyum lebar.
“Akhirnya kita bertemu lagi.”
Energi gelap besar muncul di sekeliling tubuhnya.
“Sekarang tidak ada hutan.”
Matanya bersinar merah terang.
“Tidak ada yang akan mengganggu kita.”
Ren mengangkat tangannya perlahan.
Energi hitam mulai muncul lagi di sekitar tubuhnya.
Angin di halaman akademi berputar lebih kuat.
Kael tertawa kecil.
“Itu dia.”
Ia mengangkat tangannya.
Energi hitam besar berkumpul seperti badai.
“Datanglah, pewaris Valen.”
Langit di atas akademi mulai menggelap oleh energi sihir.
Ren mengepalkan tangannya.
Kekuatan di dalam dirinya mulai bangkit sepenuhnya.
Karena ia tahu satu hal sekarang.
Pertarungan melawan Kael…
Akan menentukan nasib seluruh akademi.