NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kupu-kupu

Ruang kerja itu kembali sunyi, namun bukan keheningan kosong seperti sebelumnya. Kini, udara di dalamnya terasa padat, dipenuhi oleh gema peringatan yang baru saja diterima Melvin dan bayangan yang menyeruak naik ke permukaan.

Melvin masih berdiri di ambang jendela ruang kerjanya, menatap keluar ke arah danau yang sama tempat ia berdiri beberapa saat lalu. Angin pagi yang tadi menyapu wajahnya seolah masih meninggalkan jejak dingin di kulitnya, bercampur dengan getaran aneh yang sempat merambat melalui tubuhnya saat makhluk itu muncul.

Kupu-kupu itu.

Ingatan itu berputar jelas di benaknya, tajam dan tak terbantahkan, meski akal sehatnya berteriak bahwa itu mustahil.

flashback on*

Saat ia berdiri kaku di tepi danau, menatap kelinci putih yang kini menjadi satu-satunya sisa kehadiran Gaby di pulau itu, udara di sekitarnya tiba-tiba berubah. Suhu turun drastis, bukan karena angin, melainkan karena sesuatu yang lain. Cahaya biru lembut, berpendar seperti kunang-kunang raksasa, muncul dari balik rumpun tanaman air.

Seekor kupu-kupu. Namun bukan kupu-kupu biasa. Sayapnya memancarkan cahaya biru neon yang seolah terbuat dari cairan bintang, berdenyut pelan mengikuti irama yang tidak dikenal. Ia terbang mendekat, gerakan sayapnya tidak menimbulkan suara, hanya meninggalkan jejak partikel cahaya yang larut dalam udara.

Melvin, yang biasanya tidak percaya pada hal-hal di luar logika, justru terpaku. Instingnya berteriak bahaya, namun kakinya seolah tertanam di tanah.

Kupu-kupu itu melayang tepat di depan wajahnya, jaraknya begitu dekat hingga Melvin bisa melihat pola rumit pada sayapnya yang terus berubah, seperti peta galaksi mini. Lalu, sebuah suara terdengar. Bukan suara yang masuk melalui telinga, melainkan langsung bergema di dalam tengkoraknya, jernih dan penuh otoritas, namun anehnya terdengar sedih.

"Lepaskan dia, Melvin."

Pria itu tersentak, matanya membelalak. "Siapa... apa kau?" bisiknya, suaranya serak.

"Aku adalah penjaga keseimbangan. Ikatan yang kau paksa padanya telah retak. Dia bukan milikmu untuk dikurung. Biarkan Gaby bebas, atau konsekuensinya akan jauh lebih gelap daripada sekadar kehilangan," suara itu melanjutkan, setiap kata terasa seperti pukulan palu kecil di dada Melvin.

"Tidak," desis Melvin, rahangnya mengeras. Rasa takut yang sempat muncul seketika digantikan oleh gelombang obsesi yang lebih besar. "Dia milikku. Aku yang melindunginya. Aku yang menjaganya dari dunia yang kejam ini. Tidak ada yang berhak mengambilnya dariku, bahkan bukan kekuatan aneh sepertimu!"

Kupu-kupu itu diam sejenak, cahaya birunya berkedip lebih cepat, seolah merasakan keteguhan hati Melvin yang berbahaya. "Kau salah mengartikan perlindungan dengan kepemilikan, manusia. Cintamu adalah sangkar baginya. Jika kau terus memaksakan kehendakmu, kau tidak hanya akan kehilangan tubuhnya, tapi juga jiwanya. Dan kali ini, aku tidak akan bisa mencegah apa yang akan terjadi padamu."

"Aku tidak peduli dengan ancamanmu," balas Melvin dingin, tatapannya menantang cahaya biru itu. "Aku akan menemukannya. Aku akan menghancurkan apapun yang menghalangi jalanku, termasuk kau."

Cahaya biru itu tampak meredup sejenak, seolah menghela napas. "Sangat disayangkan. Maka, bersiaplah. Karena perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Dalam sekejap, kupu-kupu itu melesat ke atas, meninggalkan jejak cahaya yang membentuk spiral sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan partikel kecil dan lenyap ditelan angin pagi.

Kini, Melvin kembali sendiri di tepi danau. Kelinci putih itu masih merumput, tidak menyadari drama supranatural yang baru saja terjadi. Namun, dada Melvin terasa sesak. Peringatan itu nyata. Ancaman itu nyata. Dan itu hanya membuatnya semakin bertekad.

"Aku akan merebutnya kembali," gumamnya pada angin, suaranya rendah namun penuh determinasi besi. "Tidak ada kekuatan di dunia ini, baik ilmiah maupun magis, yang bisa menghalangiku."

flashback off*

Kini, berada di dalam ruang kerjanya yang hangat, Melvin membiarkan dirinya tenggelam sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengumpulkan bahan bakar dari memori-memori yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Ia menutup mata, dan seketika, ruang kerja mewah itu menghilang. Digantikan oleh bayangan samar-samar dari masa lalu, saat Gaby masih ada di sini, di pulau ini, dalam "keamanan" yang ia ciptakan.

flashback on*

Cahaya matahari sore yang keemasan menembus jendela besar ruang tengah. Gaby duduk di sofa empuk, kakinya melipat ke samping. Di pangkuannya, kelinci putih yang sama sedang tidur pulas, telinganya sesekali bergerak-gerak. Wajah Gaby tenang, namun ada kekosongan di matanya yang selalu membuat dada Melvin sesak.

Ia ingat bagaimana Gaby sering menghabiskan berjam-jam hanya menatap keluar jendela, atau membelai kelinci itu tanpa berkata-kata. Saat Melvin mendekat dan mencoba mengajaknya bicara tentang buku, tentang taman, tentang masa depan mereka, Gaby hanya akan tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

"Apakah kamu bahagia di sini, Gaby?" tanya Melvin suatu kali, suaranya berusaha terdengar ringan meski hatinya cemas.

Gaby menoleh perlahan, menatapnya dengan mata yang dalam dan sulit dibaca. "Aku... aku tidak tahu, Melvin. Di sini aman. Kamu baik padaku. Tapi..." Ia terhenti, jarinya berhenti membelai bulu kelinci.

"Tapi apa?" desak Melvin lembut, duduk di sebelahnya.

"Tapi rasanya seperti... aku sedang menahan napas," bisik Gaby, suaranya hampir tak terdengar. "Seolah-olah aku menunggu sesuatu yang belum datang. Atau seseorang."

Melvin merasa dadanya diremas. "Aku di sini, Gaby. Aku selalu di sini untukmu."

Gaby hanya menggeleng pelan, kembali menatap keluar jendela. "Bukan itu yang kumaksud, Melvin. Ada bagian dari diriku yang... hilang. Dan aku merasa, suatu hari nanti, bagian itu akan datang menjemputku."

Saar itu, Melvin tidak mengerti. Ia mengira itu hanya efek dari trauma masa lalu Gaby, sesuatu yang bisa ia sembuhkan dengan waktu dan kasih sayang (atau lebih tepatnya, kontrol) yang ia berikan. Ia tidak menyadari bahwa Gaby berbicara tentang takdir, tentang ikatan yang melampaui dinding-dinding tebal yang ia bangun.

Kenangan itu berlanjut. Senyum tipis Gaby saat hujan turun. Cara ia memegang cangkir teh dengan kedua tangan seolah mencari kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh sistem pemanas ruangan tercanggih sekalipun. Tatapan kosongnya yang seolah menembus realitas, mencari sesuatu yang hanya bisa ia lihat dalam mimpinya.

Dan kini, Melvin sadar. Kupu-kupu biru itu. Cahaya pendar yang membawanya pergi. Itu mungkin "sesuatu" yang dinanti-nantikan Gaby. Bagian dari dirinya yang hilang.

Tapi Melvin menolak menerimanya.

flashback off*

"Kau salah, Gaby," bisik Melvin pada kenangan yang memudar. Matanya terbuka kembali, menatap layar monitor yang kini menampilkan peta kota dengan titik-titik pencarian yang mulai menyebar. "Bagian yang hilang itu adalah aku. Dan aku akan memastikan kau menyadari itu, sekalipun aku harus menarikmu paksa kembali dari ujung dunia sekalipun."

Jemarinya menari cepat di atas keyboard, mengaktifkan protokol pencarian tingkat tinggi. Wajahnya yang tadi sempat diliputi kerinduan, kini kembali menjadi topeng es yang tak tertembus. Ketenangan di ruang kerjanya bukan lagi tanda kesedihan, melainkan ketenangan badai sebelum pecah.

Perburuan telah dimulai. Dan Melvin tidak akan berhenti sampai Gaby kembali ke dalam dekapan posesifnya, atau sampai dunia di sekitar mereka hancur berkeping-keping dalam usahanya.

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!