NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Ibu Naya

Hari semakin sore. Sinar matahari mulai meredup. Orang-orang satu per satu meninggalkan pemakaman.

Ia masih berdiri di belakang orangtua Damar. Ayah Damar berdiri di samping istrinya yang sejak tadi hanya menatap nisan dengan mata sembab.

Suaminya menghela napas panjang, lalu perlahan menggenggam tangan istrinya.

"Mah.... Kita pulang, ya," Ucapnya lembut.

Nada suaranya tenang, tapi itu membuat dada Naya terasa sesak. Ayah Damar mencoba kuat demi orang yang dicintainya.

Istrinya akhirnya mengangguk. Saat berbalik, pandangannya bertemu dengan Naya yang refleks menunduk.

"Naya, kita pulang sama aja, ya. Kita antar pulang, biar kamu tidak pulang sendirian."

Naya mengangkat wajahnya, hati hangat tersentuh oleh perhatian yang sederhana itu.

"Tidak usah, Om. Nanti Naya merepotkan, Naya bisa pulang sendiri."

"Tidak sama sekali. Kamu tidak pernah merepotkan." jawab ibu Damar sambil menepuk lembut bahu Naya.

Mereka berjalan bersama menuju mobil. Naya berjalan di tengah mereka, merasakan perlakuan hangat itu layaknya anak sendiri.

Di rumah, ibu Naya tampak mondar-mandir di ruang tamu. Wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang sejak tadi menggelayut. Jam di dinding sudah menunjukkan waktu yang lewat dari biasanya sementara Naya belum juga pulang.

Biasanya di jam seperti ini, anaknya sudah berada di rumah.

"Ya ampun... Sudah jam berapa ini?" tanyanya sendiri.

Melirik ponselnya, berharap layar itu menyala memberi kabar. Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri, meski perasaan tidak enak terus datang tanpa diminta.

"Tumben sekali Naya belum pulang..... " gumamnya lirih sambil duduk dengan rasa gelisah.

Suara mesin mobil berhenti di depan rumah Naya. Ibu Naya segera bangkit dan melangkah ke arah pintu.

Saat pintu dibuka, ia melihat Naya turun dari sebuah mobil yang tidak dikenalnya. Di belakang Naya, sepasang suami-istri ikut turun sebentar, memastikan Naya benar-benar sampai dengan selamat.

Naya menoleh gugup, ibunya berdiri di depan pintu, "Bu...," sapanya pelan, mencium tangan ibunya.

Ayah Damar memberi anggukan sopan. "Maaf, Bu. Kami hanya mengantar Naya pulang."

Ibu Naya terdiam. Tatapannya berpindah dari Naya ke pasangan di depannya. Ekspresinya kaku, senyumnya tak benar-benar hadir.

Tidak ada jawaban, tidak ada pula ajakan masuk seperti yang biasa dilakukan untuk tamu.

Ibu Damar mencoba tersenyum lembut, "Kami hanya ingin memastikan Naya pulang dengan aman."

Ibu Naya kembali hanya diam. Tatapannya tajam tertuju pada Naya, wajahnya memerah, jelas menahan amarah. Hanya keheningan yang terasa menekan.

Naya langsung menunduk saat menyadari tatapan itu. Dadanya terasa sesak, seolah ia kembali menjadi anak kecil yang tertangkap melakukan kesalahan waktu dulu. Meski sekarang, ia sendiri tidak mengerti apa yang salah.

"Bu... tadi Naya... "

Belum sempat kalimatnya selesai, ibu Naya berbalik lebih dulu. Ia melangkah masuk, meninggalkan pintu terbuka.

Suasana menjadi canggung. Naya berdiri terpaku di teras.

Ayah Damar berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. "Kalau begitu, kami pamit dulu, Nak."

Naya segera menoleh dan mengangguk kecil. "Iya, Om. Terima kasih sudah mengantar. Dan hati-hati..."

Ibu Damar menatapnya pelan, ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya hanya menepuk pelan lengan Naya sebelum kembali masuk ke mobil.

Baru saja pintu tertutup di belakangnya, suara ibu Naya langsung pecah.

"Dari mana saja, kamu? Sudah jam berapa ini?"

Naya tersentak. Suara itu keras, penuh emosi yang sejak tadi ditahan. Ia berdiri kaku di dekat pintu, belum sempat meletakkan tasnya.

"Aku..... "

Belum mendengarkan jawaban Naya, ibunya langsung menanyakan hal lain.

"Dari rumah mereka? Ngapain?" tanya ibunya tajam.

Naya menunduk takut, "Bukan, Bu. Tadi aku dari pemakaman." jawabnya pelan.

"Pemakaman?" ulang ibunya tajam. "Dan kamu diantar pulang sama mereka? Hah? "

Nada Suaranya meninggi, membuat suasana rumah berubah tegang. Napasnya naik turun, menahan amarah dan kekhawatiran yang bercampur jadi satu.

"Kamu pikir ibu tidak khawatir? Telepon juga tidak ada! Tiba-tiba pulang dengan orang itu!"

Naya menunduk semakin dalam. Jemarinya saling menggenggam, berusaha menahan gemetar.

"Mereka cuma mengantar Naya, Bu... tadi kebetulan bertemu,"

"Kebetulan?" potong ibunya cepat. "Kenapa sih kamu selalu berhubungan dengan keluarga itu? Semakin dekat!"

Kalimat itu membuat Naya terdiam. Dadanya rasanya sesak. Ia tahu kemarahan ibunya bukan sekadar soal pulang terlambat, tapi ada luka lama yang masih tersimpan.

"Ibu tidak mau dan tidak pernah suka kamu semakin terikat dengan mereka." lanjut ibunya, suaranya mulai bergetar.

Suara itu terdengar sampai ke dalam kamar.

Ayah Naya muncul di ambang pintu dengan langkah lemah. Wajahnya masih pucat. Tangannya berpegangan pada dinding.

"Ada apa ini?" tanyanya pelan, suaranya serak.

Naya langsung menoleh, terkejut.

"Ayah... " Naya berlari mendekati ayahnya, takut ayahnya terjatuh.

"Anak Bapak ini keterlaluan, tidak bisa dibilangin. Dan barusan pulang diantar keluarga itu!" Nada suaranya masih dipenuhi emosi.

Naya menunduk dalam, ayahnya menghela napas pelan. Ayahnya melangkah sedikit lebih dekat kepada istrinya meski jelas tenaganya terbatas.

"Sudahlah, Bu... Naya pasti tidak bermaksud apa-apa," katanya lembut, mencoba menenangkan.

Ucapan itu justru membuat ibu Naya semakin tersulut.

"Selalu begitu! Bapak sama aja, selalu membelanya!" suaranya bergetar, antara marah dan terluka.

"Bukan membela, Bu. " jawab ayah Naya pelan, mencoba tetap tenang meski napasnya terdengar berat.

"Jadi apa?" potongnya cepat. Bibirnya bergetar menahan emosi yang akhirnya tumpah. "Oh.... masih keingat masa lalu? masa lalu Bapak sama perempuan itu? Iya?"

Ucapan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Naya mengangkat kepala dengan kaget. Ia menatap ayahnya, lalu ibunya. Tidak mengerti bagaimana hal itu tiba-tiba berubah arah. Tapi Naya tak berani bertanya.

Ayah Naya terdiam sesaat. Wajahnya menunjukkan kelelahan, bukan hanya karna sakit, tapi juga karna tuduhan yang terasa lama tersimpan.

"Itu nggak ada kaitannya! Jangan bawa hal itu lagi, Bu... " ucapnya lirih.

"Kenapa? balas ibu Naya, suaranya semakin meninggi. " Sejak dulu, Bapak selalu lunak kalau menyangkut dia! Sekarang dia mau merebut Naya?"

Tangannya gemetar. Air matanya mulai jatuh.

Ucapan ibunya semakin membuat Naya bingung dan penuh pertanyaan. Tapi situasi itu tak memungkinkan untuk dia bertanya.

Ibu Naya mengusap air matanya dengan kasar. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah cepat menuju kamar.

Naya berdiri diam, melihat langkah ibunya itu.

Rasa bersalah perlahan memenuhi pikirannya. Ia menoleh pada ayahnya yang masih berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk.

"Ayah... " suaranya lirih.

Naya kembali mendekat pada ayahnya, lalu memeluknya. Tangannya menggenggam punggung ayahnya erat.

"Maaf.... gara-gara Naya jadi begini," bisiknya pelan.

Tangan ayahnya yang masih lemah, mengusap kepala putrinya perlahan, penuh kasih sayang.

"Bukan salah kamu, Nak" ujarnya lembut. "Ibu cuma.... banyak pikiran."

Naya tidak langsung melepaskan pelukan itu.

Ayahnya lalu menepuk pelan baju putrinya, "sudah..... Kamu istirahat aja. Hari ini pasti melelahkan, kan?"

Naya melepaskan pelukan itu perlahan. Melangkah menuju kamarnya dengan langkah pelan.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!