NovelToon NovelToon
Kau Renggut Bahagia Ku ( Pembalasan )

Kau Renggut Bahagia Ku ( Pembalasan )

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkunci Di Toilet

"Eh aku kebelet pipis nih, tunggu ya sebentar!" ujarnya cepat sebelum berlari ke arah toilet di belakang kamar Dewi. Tanpa berlama-lama, ia masuk dan mengunci pintu dari dalam seperti biasa.

Setelah selesai, ia membuka kunci dari dalam dan mencoba menarik pintunya. Tapi tak bisa. Pintu seolah terkunci dari luar dengan kuat.

"Hai... Dewi! Noer ..... tolongin dong! Pintu ini terkunci, gue ga bisa buka!" ujarnya sambil mengetuk pintu. Suaranya tertutup oleh suara musik dari serial yang mereka tonton. Kedua temannya tidak mendengar sama sekali, masih sibuk membahas adegan yang sedang berlangsung di layar.

Anggelina melihat sekeliling ruangan toilet yang kecil. Lampunya berkedip-kedip akibat daya listrik yang tidak stabil. Suhu di dalam tiba-tiba jadi sangat dingin. Ia mendengar suara angin yang aneh di luar, lalu tiba-tiba melihat sekelibat bayangan tipis yang melintas cepat di balik celah bawah pintu. Rasa takut mulai merambah ke seluruh tubuhnya.

Tanpa pikir panjang, ia menggedor pintu dengan sangat kencang berkali-kali. Kayu pintu mengeluarkan suara dentuman yang keras, tapi musik dari ruang tamu tetap lebih keras. Ia ingin teriak sesuka hati agar teman-temannya mendengar, tapi mulutnya tiba-tiba seperti terkunci tidak bisa mengeluarkan suara apapun selain napas yang terengah-engah.

"Aduh, Anggel kok lama ya di toilet?" gumam Dewi sambil menatap arah belakang kamar, matanya masih sedikit terpaku ke layar TV.

"Boker kali ya," jawab Noer santai sambil mengemil keripik singkong yang masih banyak di mangkuknya, tangan kanannya terus mengambil keripik satu per satu ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba Dewi sedikit menyipitkan telinga. Ada suara gedoran yang sangat kecil, jauh lebih pelan dari suara musik TV yang sedang berlangsung. "Noer, coba kecilin suara TVnya dong. Gue kayak mendengar sesuatu nih," katanya dengan nada sedikit khawatir.

Noer mengangguk dan segera meraih remote untuk mengecilkan volume TV hingga hampir tidak terdengar. Barulah kedua teman itu jelas mendengar suara gedoran pintu yang terus datang dari arah toilet.

"Anggel! Anggelina!" mereka berteriak serentak sebelum langsung berlari ke arah toilet.

Sesampainya di depan pintu, mereka memanggil lagi dengan suara lebih keras. "Anggel! Kamu baik-baik saja kan?!" teriak Dewi sambil mengetuk pintu.

Di dalam, Anggelina yang baru saja bisa mengeluarkan suara kembali segera menjawab dengan nada terengah-engah. "Tolongin gue buka pintunya cepat! gue takut banget!"

Dewi mencoba memutar pegangan pintu dan dengan mudah membukanya ternyata tidak terkunci sama sekali dari luar. Pintu hanya macet akibat kusutnya engsel kayu yang sudah tua.

Segera setelah pintu terbuka, Anggelina yang sudah menahan ketakutan langsung melompat ke arah kedua teman nya, memeluk mereka erat dan menangis deras. Air matanya mengalir deras di pipinya, badan masih menggigil karena rasa takut yang baru saja dialaminya.

Mereka pun memapah Anggelina kembali ke ruang tv, menurunkannya di kursi tempat ia duduk tadi. Anggel masih erat menempel pada sisi kanan Dewi, tangannya menggenggam lengan teman itu dengan kuat.

"Gue takut, Dew..." ucapnya dengan suara masih sedikit bergetar, matanya masih merah karena menangis.

Dewi mengusap-usap punggung Anggel dengan lembut. "Udah, udah... kamu aman sekarang ya. Takut apa sih kamu?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Noer juga segera mengambil gelas air putih dan menghampirkan ke depan Anggel. "Minum dulu deh, biar badan kamu tidak menggigil lagi," katanya dengan nada lebih tenang dari sebelumnya.

Anggel mengambil gelas dan meneguk airnya perlahan. Setelah itu ia mendongak ke arah kedua temannya, bibirnya sedikit bergetar. "Tadi... emm... gak jadi deh, besok aja cerita nya. Udah malem, kita tidur aja ya," ujarnya sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.15.

Dewi mengangguk paham dan mengusap kepala Anggel. "Oke deh, kamu kan juga capek dan ketakutan. Kita matiin TV aja ya, besok kamu bisa cerita kapan kamu siap. ," katanya lembut."kita ke kamar yuk".

Noer langsung berdiri untuk mematikan TV dan lampu ruang tamu, hanya menyisakan satu lampu kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!