NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Salah Kamu

Ia harus menemui Gavin. Ia harus menemui Ibu Imroh.

"Ma!" seru Devina sambil berlari turun tangga. "Siapkan mobil. Kita harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertunangan gagal yang harus kita selesaikan."

Di dalam mobilnya, Aris melihat Devina keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya sendiri dengan terburu-buru. Ia menyeringai, mengira Devina sedang mengejarnya. Namun, seringai itu memudar saat ia melihat mobil Devina melaju ke arah yang berlawanan dengan jalurnya—menuju ke arah kantor pusat Aryaga Kitchenware.

"Gavin lagi..." desis Aris. "Sepertinya aku harus mempercepat rencanaku untuk menyingkirkanmu, Gavin."

****

Lampu neon di selasar klinik swasta milik keluarga Aryaga berpendar pucat, menciptakan bayangan panjang yang seolah menggambarkan kesuraman nasib yang menimpa para tokoh di dalamnya. Di sebuah kursi tunggu berbahan kulit, Bu Imroh duduk dengan bahu yang merosot dalam. Tubuhnya yang kecil tampak semakin ringkih dibalut selimut rumah sakit yang menutupi gamis lusuhnya.

Langkah kaki Devina terdengar terburu-buru, menggema di koridor yang sunyi. Begitu melihat sosok wanita tua itu, langkahnya melambat. Dada Devina sesak. Ia melihat cerminan kehancuran yang ditinggalkan oleh Aris Wicaksana—seorang ibu yang kehilangan separuh jiwanya.

"Ibu..." suara Devina bergetar, nyaris hilang di tenggorokan.

Bu Imroh mendongak. Matanya yang sembap dan kemerahan menatap wajah Devina yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ada kelelahan yang teramat sangat.

Devina berlutut di depan kaki Bu Imroh, mengabaikan noda debu yang mungkin mengotori celana mahalnya. Ia meraih tangan wanita tua itu, tangan yang kasar karena kerja keras di ladang. "Ibu, maafkan saya... Saya benar-benar tidak tahu kalau Aris sudah memiliki istri. Saya tidak bermaksud menyakiti Salsa."

Air mata Devina jatuh tanpa tertahan. Rasa bersalah menghujamnya; ia merasa seolah kebahagiaan palsu yang ia jalani bersama Aris selama ini dibangun di atas air mata wanita lain.

Bu Imroh menggelengkan kepala perlahan. Ia mengusap pipi Devina dengan ibu jarinya yang gemetar. "Bukan salahmu, Nak. Kamu juga korban. Laki-laki itu... dia iblis yang pandai memakai topeng malaikat."

Seketika, kedua wanita itu berpelukan. Dalam dekapan itu, dua hati yang terluka oleh pria yang sama saling menguatkan. Devina bisa merasakan detak jantung Bu Imroh yang tidak beraturan, sebuah ritme keputusasaan yang menuntut keadilan.

****

Di ruangan lain, Gavin berdiri menghadap jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Di tangannya terdapat sebuah map cokelat berisi dokumen audit dan laporan kepolisian yang telah "dibersihkan". Berkat jaringan informannya yang luas di dunia bisnis dan hukum, Gavin berhasil mendapatkan apa yang selama ini terkubur rapat.

"Gila..." gumam Gavin, matanya menyipit tajam.

"Ada apa, Pak?" tanya Rian yang berdiri di sampingnya.

"Perusahaan dekorasi Aris bukan sekadar bisnis properti," Gavin meletakkan dokumen itu di meja dengan dentuman pelan. "Dia menggunakan skema ponzi untuk menarik investor. Puluhan vendor kecil di daerah tidak dibayar hingga bangkrut. Dan lihat ini..." Gavin menunjuk sebuah memo internal kepolisian dua tahun lalu. "Dia pernah dilaporkan atas dugaan penganiayaan berat pada seorang karyawan, tapi kasusnya hilang begitu saja setelah ada aliran dana masuk ke rekening oknum penyidik. Aris bukan sekadar penipu, dia adalah predator yang menyuap jalannya menuju puncak."

Rahang Gavin mengeras. Baginya, bisnis adalah soal martabat keluarga yang dijaga tiga generasi. Melihat cara Aris mengotori dunia usaha sekaligus menghancurkan hidup wanita-wanita di sekitarnya, membuat darah Gavin mendidih.

****

Tiba-tiba, suara alarm darurat meraung-raung membelah ketenangan klinik. BIIIIP! BIIIIP! BIIIIP! Lampu merah di langit-langit berkedip-kedip brutal. Kepanikan pecah dalam sekejap. Pasien, perawat, dan pengunjung berlarian keluar dari ruangan masing-masing.

"Api! Ada api di gudang belakang!" teriak seseorang.

Asap tebal mulai merayap di bawah celah pintu, meski sebenarnya tidak ada kobaran besar. Di luar gedung, di dalam mobil hitamnya yang terparkir di area gelap, Aris menyeringai jahat. Ia baru saja menyuruh orang bayarannya untuk menyabotase sistem pemadam api dan menyalakan bom asap untuk menciptakan kekacauan massal.

"Keluar kalian... keluarlah ke arahku," bisik Aris, matanya terpaku pada pintu keluar darurat.

Di tengah kerumunan yang kalang kabut, Bu Imroh terpisah dari Devina. Wanita tua itu terdorong oleh arus orang yang panik, membuatnya berlari keluar menuju area parkir dan jalan raya yang gelap. Napasnya tersengal, ia mencari udara segar di tengah kepulan asap buatan yang menyesakkan.

Saat Bu Imroh berdiri di tepi jalan dengan bingung, sebuah cahaya lampu high beam menyambar penglihatannya. Sebuah mesin mobil meraung keras, pedal gas diinjak dalam-dalam.

Aris melihat targetnya. Ia tidak butuh rencana rumit lagi. Bu Imroh adalah saksi hidup, satu-satunya orang yang terus berteriak soal pembunuhan Salsa. Jika wanita tua ini lenyap, maka narasi "bunuh diri" Salsa akan terkunci selamanya.

"Mati kamu, orang tua sialan!" Aris menggeram, matanya melotot penuh kegilaan.

Mobil itu melesat seperti peluru hitam menuju tubuh ringkih Bu Imroh. Bu Imroh mematung, kakinya terasa terpaku pada aspal, matanya hanya bisa menangkap moncong mobil yang semakin membesar di depan matanya.

"IBU!" teriakan itu berasal dari Gavin.

Dengan refleks seorang atlet, Gavin yang baru saja keluar dari lobi langsung berlari secepat kilat. Ia tidak berpikir dua kali. Ia menerjang tubuh Bu Imroh tepat sedetik sebelum bemper mobil Aris menghantamnya. Keduanya berguling di atas aspal, terlempar ke arah trotoar yang keras.

CIIIIIIIIIITTTTT!

Ban mobil Aris berdecit hebat, meninggalkan bekas karet hitam di jalan. Aris mengumpat keras saat melihat Gavin berhasil menyelamatkan wanita itu. Melalui kaca spion, ia melihat Gavin bangkit dengan lutut berdarah, matanya menatap tajam ke arah mobilnya seolah bisa menembus kaca film yang gelap.

Menyadari rencananya gagal dan orang-orang mulai mendekat, Aris memutar setir dengan kasar. Ia memacu mobilnya, melarikan diri ke dalam kegelapan malam Jakarta, meninggalkan jejak amarah yang tak terkendali.

****

Devina berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. Ia melihat Gavin membantu Bu Imroh berdiri. Keduanya gemetar, namun selamat.

"Gavin! Ibu!" Devina memeluk mereka berdua, tubuhnya menggigil karena ngeri.

Gavin menatap ke arah mobil yang baru saja menghilang. Matanya yang sipit kini berkilat penuh tekad yang mematikan. Ia mengusap luka di sikunya dengan kasar.

"Dia baru saja mencoba melakukan pembunuhan di depan mataku," suara Gavin rendah dan dingin. Ia menoleh ke arah Devina, lalu ke arah Bu Imroh yang menangis tersedu-sedu dalam syok.

"Devina, pertempuran ini bukan lagi soal perasaan atau reputasi," tegas Gavin. "Ini soal nyawa. Dan aku berjanji, Aris Wicaksana tidak akan melihat matahari esok hari sebagai orang bebas."

Devina mengangguk mantap. Rasa takutnya kini telah berevolusi menjadi keberanian yang murni. Di bawah lampu jalan yang temaram, mereka bertiga berdiri—sebuah aliansi yang lahir dari duka dan luka, siap untuk meruntuhkan kerajaan kebohongan yang telah dibangun Aris dengan darah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!