Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam di perumahan itu terasa lebih dingin dari biasanya bagi Prita.
Tanpa kata pamit, tanpa menoleh lagi ke belakang, ia melangkah keluar dari pagar rumah yang selama ini menjadi pelindung sekaligus penjara baginya.
Dengan tas ransel yang terasa berat di pundak dan hati yang hancur berkeping-keping, ia terus berjalan menyusuri trotoar, membiarkan air matanya jatuh bebas tanpa peduli pada tatapan beberapa tetangga yang masih terjaga.
Di dalam rumah, suasana kacau balau. Mama terisak di sofa, sementara Papa masih berdiri mematung dengan rahang mengeras, mencoba mempertahankan harga dirinya yang terluka oleh pembangkangan putrinya.
Pramesti tidak bisa tinggal diam. Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponselnya dan mencari satu nama yang ia tahu mungkin bisa menjadi harapan terakhir bagi adiknya.
"Halo, Ham? Abraham?!" suara Pramesti pecah saat panggilan itu diangkat.
Abraham yang baru saja keluar dari area perumahan dan sedang memacu mobil double cabin-nya menuju mess langsung menginjak rem mendadak.
Ban mobil berdecit di aspal yang sepi. Ia menepi ke pinggir jalan, jantungnya mendadak berdegup kencang karena firasat buruk.
"Iya, Pram? Ada apa? Suaramu kenapa begitu?" tanya Abraham, suaranya dalam dan penuh kecemasan.
"Prita, Ham. Prita pergi dari rumah! Papa memaksanya bertunangan dengan anak temannya, dan Prita menolak keras. Papa memberinya pilihan keluar dari rumah, dan anak itu benar-benar pergi tanpa membawa apa-apa selain baju seadanya!"
Abraham memukul kemudi mobilnya dengan keras.
"Ke mana dia pergi, Pram?"
"Aku tidak tahu! Dia jalan kaki keluar kompleks. Mungkin dia menuju terminal atau stasiun, Ham. Dia tidak punya tujuan lain di jam segini. Tolong, Ham,cari dia. Aku takut dia kenapa-napa di jalan," isak Pramesti.
"Tenang, Pram. Aku cari dia sekarang. Aku tidak akan biarkan dia sendirian," tegas Abraham.
Ia segera memutar balik arah mobilnya dengan manuver tajam.
Matanya yang tajam menatap setiap sudut jalanan, mencari sosok gadis dengan jaket pastel yang tadi sore tertidur pulas di kamarnya.
Pikirannya kalut. Ia tahu Prita adalah gadis kota yang manja, yang tidak terbiasa menghadapi kerasnya jalanan di malam hari, apalagi dalam kondisi sakit maag yang baru saja reda.
"Prit, jangan nekat..." gumam Abraham sambil menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mesin diesel itu menembus kegelapan malam Malang.
Terminal Arjosari malam itu tampak muram di bawah temaram lampu merkuri.
Prita berdiri mematung di depan loket bus antarkota, jemarinya yang gemetar menggenggam erat tali ranselnya.
Ia berkali-kali menyeka air mata yang terus luruh, membasahi pipinya yang pucat.
Yogyakarta—hanya itu kota yang terlintas di benaknya, tempat ia bisa bersembunyi sejenak di rumah salah satu kawan lamanya.
"Tiket ke Jogja satu, Pak. Keberangkatan paling malam," ucap Prita dengan suara parau yang hampir tenggelam oleh bising mesin bus yang dipanasi.
Baru saja ia hendak merogoh dompetnya, sebuah suara bariton yang sangat ia kenal menggelegar di antara hiruk-pikuk terminal, memecah kebisingan dengan nada penuh kecemasan sekaligus otoritas.
"Prita!!"
Prita tersentak. Tubuhnya membeku. Ia perlahan memutar tubuhnya dan mendapati sosok tinggi tegap itu sedang berlari ke arahnya.
Napas pria itu tersenggal, kaus singlet hitamnya tertutup jaket kargo yang tidak dikancingkan sempurna, seolah ia baru saja melompat keluar dari mobil dalam keadaan darurat.
"Mas Abraham?" bisik Prita lirih.
Abraham berhenti tepat di depan Prita. Ia tidak langsung marah, namun matanya menatap tajam ke arah mata Prita yang sembap dan merah.
Dadanya naik turun, mencoba mengatur napas yang memburu setelah mencari di setiap sudut terminal.
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar loket, Abraham maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka.
"Apa yang kamu lakukan, Prit? Pergi malam-malam begini dalam keadaan sakit? Kamu mau nekat ke mana?" tanya Abraham, suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan.
Prita kembali terisak, ia menundukkan kepala tak berani menatap wajah Abraham yang tampak sangat khawatir.
"Papa jahat, Mas. Aku nggak punya pilihan lain. Aku harus pergi."
Abraham mengembuskan napas panjang, lalu tanpa ragu ia meraih pergelangan tangan Prita dan menariknya lembut menjauh dari antrean loket.
"Pilihanmu bukan lari ke kota lain sendirian di jam segini, Prita. Ikut aku."
"Mas, jangan paksa aku pulang ke rumah itu..." rintih Prita.
Abraham berhenti melangkah, ia berbalik dan menatap Prita lekat-lekat.
"Siapa bilang aku akan membawamu pulang ke rumah itu sekarang? Aku nggak akan membiarkanmu menghadapi Papa dalam kondisi seperti ini. Tapi aku juga nggak akan membiarkanmu pergi ke Jogja sendirian tanpa tujuan yang jelas."
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu jalanan yang melintas bergantian, pertahanan Prita benar-benar hancur.
Ia menangis sesenggukan, bahunya terguncang hebat. Suaranya pecah di antara isak tangis yang menyesakkan dada.
"Dari dulu aku selalu menuruti semua permintaan Papa, Mas," rintih Prita sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kuliah di mana, ambil jurusan apa, semuanya aku ikuti. Tapi untuk menikah, untuk menyerahkan seluruh hidupku pada orang yang tidak aku cintai, aku tidak bisa, Mas. Aku bukan barang dagangan Papa."
Abraham terdiam, jemarinya menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia mendengarkan setiap patah kata Prita yang penuh luka.
Dadanya terasa panas, ada amarah yang tertahan untuk Papa Prita, namun ada juga rasa pelindung yang luar biasa besar yang mendadak muncul untuk gadis di sampingnya ini.
Abraham meminggirkan mobilnya di bawah deretan pohon peneduh jalan yang sepi.
Ia mematikan mesin, membuat suasana di dalam mobil menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara isak tangis Prita yang mulai mereda menjadi sedu sedan.
Abraham memutar tubuhnya, menatap Prita dengan tatapan paling dalam dan paling berani yang pernah ia miliki.
"Prita, lihat aku," pinta Abraham, suaranya rendah namun penuh otoritas yang menenangkan.
Prita perlahan menurunkan tangannya, menoleh ke arah Abraham dengan mata yang sembap dan merah.
"Menikahlah denganku," ucap Abraham tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Prita tertegun, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Apa, Mas?"
"Malam ini juga, aku akan membawamu pulang. Aku akan melamarmu langsung di depan orang tuamu," lanjut Abraham.
"Aku mungkin bukan anak pengusaha kaya seperti Imran. Aku cuma teknisi yang tangan dan bajunya sering kotor. Tapi aku janji, aku nggak akan pernah menjadikanmu pion dalam hidupku. Aku akan menjagamu dengan caraku sendiri."
Prita terpaku. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri.
Di tengah kehancuran dunianya malam ini, pria yang tadi siang ia sebut "bukan tipenya" itu justru berdiri tegak menjadi satu-satunya tempat ia bisa bersandar.
"Mas, yakin? Papa pasti akan menghina Mas. Papa pasti tidak akan setuju," bisik Prita dengan nada khawatir.
Abraham menyunggingkan senyum tipis—senyum yang penuh keberanian.
"Biarkan itu jadi urusanku. Yang aku butuhkan cuma satu: jawabanmu. Kamu mau aku perjuangkan di depan Papamu?"
Prita menganggukkan kepalanya dan bersedia menikah dengan Abraham.