Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Infiltrasi bayangan
Angin malam di ketinggian lantai 20 berhembus kencang, menyapu wajah Cassia yang tertutup masker hitam. Di bawah sana, lampu-lampu kota terlihat seperti aliran lava yang tak berujung, namun fokusnya hanya pada satu titik: jendela ventilasi kecil di sayap barat Gedung Kencana.
"Oracle, status?" bisik Cassia sambil mengaitkan carabiner ke kabel baja yang sudah disiapkan Talishia.
"Sistem keamanan pintu utama sudah dikunci oleh pihak otoritas, tapi aku sudah masuk ke sub-server CCTV. Aku akan membekukan gambar di koridor lantai 18 selama enam menit. Kamu harus bergerak cepat, Cassie," jawab Zelene dari markas darurat mereka.
"Gue di sini, Cass. Jangan lihat ke bawah. Fokus ke depan," suara Galaksi masuk ke frekuensi, terdengar sedikit berat menahan sakit dari lukanya di rumah sakit, namun tetap menenangkan.
Cassia meluncur. Tubuh rampingnya melesat di antara kegelapan, mendarat dengan senyap di balkon kecil dekat lubang ventilasi. Dengan gerakan lincah, ia merangkak masuk ke dalam lorong sempit yang penuh dengan pipa-pipa dingin.
Di dalam lorong ventilasi, debu dan hawa pengap menyergap. Cassia terus merangkak mengikuti panduan Galaksi.
"Tiga meter lagi, belok kiri. Di sana ada celah yang langsung mengarah ke ruang server utama. Hati-hati, Cassie. Dante mungkin tertangkap, tapi 'Naga' itu pasti sudah menaruh orang di dalam untuk memastikan data itu dihancurkan," peringat Galaksi.
Cassia sampai di atas ruang server. Lewat celah jeruji, ia melihat seorang pria bersetelan jas hitam sedang memasukkan sebuah perangkat penghancur data (jammer) ke salah satu unit server pusat.
"Kak, ada orang di dalam. Dia mencoba menghapus semuanya!" bisik Cassia tegang.
"Siapa?" tanya Kalingga yang juga mendengarkan lewat radio.
"Aku tidak tahu wajahnya, tapi dia memakai lencana karyawan senior perusahaan kita."
Kalingga mengumpat di seberang sana. "Itu pasti Pak Darmawan, kepala keuangan. Dia orang kepercayaan Papa! Ternyata dia pengkhianatnya!"
"Cassie, lo nggak punya waktu buat nunggu," Galaksi memotong. "Gue tahu lo nggak suka kekerasan, tapi kalau data itu hilang, keluarga lo hancur. Gunakan alat yang dikasih Zelene!"
Cassia menarik napas panjang. Ia mengeluarkan sebuah bola kecil berisi gas air mata mini yang sudah dimodifikasi Zelene. Ia menjatuhkannya tepat di depan Pak Darmawan, lalu dengan tendangan keras, ia menjebol jeruji ventilasi dan melompat turun.
PRANG!
"Apa?! Siapa kamu?!" Pak Darmawan terbatuk-batuk, matanya perih akibat gas.
Cassia tidak menjawab. Ia menggunakan kemampuannya di lintasan—refleks cepat dan ketepatan. Ia menjegal kaki pria tua itu hingga tersungkur, lalu dengan cepat mencabut jammer yang hampir menghapus seluruh data.
Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. "Oracle, aku sudah masuk. Ambil alih!"
Di layar tablet Zelene, ribuan data mulai mengalir. "Dapat! Cassie, aku menemukan transaksi ilegalnya. Semua bukti mengarah ke rekening pribadi Darmawan yang terhubung langsung ke sindikat Skorpion di luar negeri. Ini cukup buat membersihkan nama Kak Lingga!"
Namun, alarm gedung tiba-tiba meraung merah.
"Gawat! Darmawan menekan tombol darurat manual!" teriak Zelene. "Keamanan gedung—orang-orang Skorpion yang menyamar jadi satpam—sedang menuju ke lantai 18!"
"Cassie, keluar sekarang!" teriak Kalingga lewat radio.
Cassia menyambar flashdisk berisi backup fisik data tersebut. Ia berlari menuju jendela kaca besar di ujung ruangan. Di belakangnya, pintu server didobrak paksa oleh tiga pria berbadan besar.
"Berhenti, Bocah!"
Cassia tidak punya pilihan. Pintu keluar tertutup, dan lift dimatikan. Hanya ada satu jalan.
"Kak Galaksi... aku akan melakukan hal gila," ucap Cassia.
Di rumah sakit, Galaksi langsung berdiri dari tempat tidurnya, mengabaikan rasa nyeri di bahunya. "Cassie, apa yang mau lo lakuin?!"
"Aku akan melompat ke gedung parkir. Talishia sudah menunggu di sana, kan?"
"Itu sepuluh meter, Cass! Terlalu jauh!" Kalingga berteriak panik.
"Percaya padaku, Kak. Aku adalah Phantom!"
Cassia berlari sekuat tenaga, menabrak kaca jendela hingga hancur berkeping-keping. Tubuhnya melayang di udara malam, jubah hitamnya berkibar seperti sayap Valkyrie. Di bawah sana, Talishia memacu motor birunya di lantai teratas gedung parkir, bersiap menangkap Cassia dengan jaring pengaman yang sudah mereka pasang secara darurat.
BRUK!
Cassia mendarat di jaring dengan keras, berguling, dan langsung melompat ke belakang motor Talishia.
"Ayo pergi, Tal!"
Talishia memutar gasnya hingga maksimal, melesat menuruni spiral gedung parkir tepat saat mobil-mobil hitam Skorpion mulai mengepung area tersebut.
Satu jam kemudian, di lokasi rahasia.
Cassia, Talishia, dan Zelene sampai di tempat persembunyian. Kalingga sudah ada di sana, menunggu dengan cemas. Begitu melihat Cassia, Kalingga langsung memeluk adiknya dengan tangis lega.
"Kita berhasil, Kak. Nama Papa bersih," bisik Cassia sambil menyerahkan flashdisk itu.
Kalingga menatap adiknya dengan rasa bangga yang tak terlukiskan. "Kamu bukan lagi adik kecil yang harus aku sembunyikan. Kamu adalah pahlawan keluarga ini."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Galaksi menelepon lewat video call dari rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat tapi lega.
"Lo keren, Cass," ucap Galaksi dengan senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. "Tapi jangan pernah bikin jantung gue mau copot kayak gitu lagi."
Cassia tersenyum malu. "Makasih, Kak. Berkat panduan Kakak juga."
"Ling," Galaksi menatap Kalingga lewat layar. "Darmawan tertangkap, tapi Dante pasti punya rencana cadangan di penjara. Kita harus pastikan mereka nggak punya celah lagi."
Kalingga mengangguk. "Gue akan urus pengacara dan polisi. Tapi ada satu hal lagi, Sheq."
"Apa?"
"Setelah semua ini selesai... lo benar-benar harus datang ke rumah. Pak Guntur mau ketemu lo. Katanya, dia mau lihat siapa cowok yang berani mati demi aset keluarga Kencana... dan demi hati adiknya."
Galaksi tertawa, meski kemudian meringis kesakitan. "Gue bakal pakai setelan paling rapi, Ling."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...