Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Anin tidak tahu kapan ibu mertua nya datang dan tiba - tiba saja dia sudah berada di samping nya.
"Tidak papa bu!" Jawab Anin gugup.
Anin ingin sekali menceritakan apa yang di lihat nya barusan, tapi dia yakin bahwa ibu mertua nya tidak akan percaya begitu saja. Dia juga tidak punya bukti nya, andai saja tadi dia membawa ponsel nya maka mungkin dia bisa merekam semua nya.
"Sedang apa kalian di dapur?" Tanya Pak Johan yang tiba - tiba masuk lewat pintu samping yang ada di dapur.
"Tidak ada pak, cuma ngobrol saja!" Jawab Bu Ela sambil tersenyum.
Lain hal nya dengan Anin, melihat kedatangan bapak mertua nya yang secara tiba - tiba dia menjadi jijik. Seketika bayangan pak Johan dan Tika yang sedang berbagi keringat tadi kembali terbayang di mata nya.
"Aku ke kamar dulu, bu!" Anin pamit pada bu Ela.
"Iya nak!" Jawab Bu Ela.
Anin pergi dari hadapan kedua mertua nya dengan langkah tergesa, Pak Johan melihat aneh dengan menantu nya. Pak Johan melihat bahwa Marsya terkesan menghindari diri nya.
"Ada apa dengan Marsya bu?" Tanya pak Johan pada istri nya.
"Mungkin dia sedang lelah pak, biar kan dia istirahat!" Bu Ela berkata pada suami nya.
"Bu, bapak ke kebun dulu ya. Mau mengawasi orang - orang yeng sedang bekerja!" Pak Johan pamit pada istri nya.
"Iya pak!" Jawab bu Ela singkat.
Pak Johan langsung keluar kembali lewat pintu belakang, dia pergi melalui jalan di tepi kebun di belakang rumah. Kebun itu memang milik pak Johan.
'Pamit nya ke kebun, tapi jangan fikir aku tidak tahu kau ingin menggarap sawah sepetak milik selingkuh mu!' Guman Bu Ela di dalam hati.
Bukan nya bu Rpa tidak tahu akan perselingkuhan suami nya dengan bu Sari, ini bukan lah pertama kali nya pak Johan selingkuh. Dulu dia pernah berselingkuh dengan seorang wanita hingga wanita itu melahir kan seorang anak laki - laki.
Anak laki - laki itu seumuran dengan Andri, dan kini bu Ela tidak tahu kemana wanita itu membawa anak nya. Bu Ela tidak pernah mendengar lagi kabar tentang perempuan itu dan anak nya.
Pak Johan dengan langkah riang menuju ke rumah nya bu Sari, tadi dia sudah bercocok tanam dengan menantu nya. Sekarang dia juga akan mengulangi nya lagi dengan wanita simpanan nya.
Bu Sari sudah menunggu di depan pintu belakang rumah nya, rumah berdinding bambu dan berlantai tanah itu menjadi saksi akan berat nya kelakuan bu Nani dan pak Johan.
"Kenapa lama?" Tanya bu Nani sambil mengerucut kan bibir nya.
"Tadi Ela dan Anin ada di halaman belakang, jadi harus menunggu mereka masuk dulu agar bisa ke sini!" Pak Johan berbohong pada bu Nani.
Bu Nani tidak tahu akan hubungan Pak Johan dan Tika, yang dia tahu hanya dia lah satu - satu nya wanita yang menjadi simpanan pak Johan. Begitu pun dengan Tika, dia tidak tahu bahwa pak Johan punya hubungan dengan wanita lain di luar sana.
Hanya Bu Ela yang mengetahui semua nya, tapi demi menjaga perasaan anak - anak nya dia memilih diam dan berpura - pura tidak tahu apa yang terjadi. Hubungan gelap antara pak Johan dan Tika, begitu juga dengan hubungan gelap anatar pak Johan dan bu Nani, semua nya di ketahui oleh bu Ela.
"Mas, aku tidak mau lagi mengurus laki - laki tua itu. Sebaik nya kita singkir kan saja dia secepat nya!" Bu Nani berkata pada pak Johan.
"Aku setuju, jika laki - laki itu sudah tiada maka kita bisa meresmikan hubungan kita segera!" Pak Johan menyetujui rencana bu Nani.
Kedua nya berjalan beriringan masuk ke dalam kamar, saat ini tidak ada orang lain di rumah selain mereka. Putra nya memang tidak pernah di ruamh, dia selalu keluyuran tidak jelas. Hanya sesekali saja dia pulang ke rumah.
Kedua orang itu berdiri di samping bale - bale bambu tempat pak Toni terbaring, kedua nya tersenyum sinis pada pak Toni. Pak Toni bisa melihat senyuman sinis mereka, pak Toni yakin kedua nya punya niat jahat terhadap diri nya. Pak Toni pasrah dengan apa yang terjadi, mau berteriak pun percuma karena yang terdengar hanyalah suara erangan saja.
"Pak, aku sudah muak dengan mu. Aku tidak sudi lagi mengurus mu, sekarang aku akan mengirim mu ke tempat yang seharusnya agar kau tidak lagi menyusahkan aku!" Bu Nani berkata sambil tersenyum smirk.
"Sekarang ucap kan selamat tinggal para dunia ini, silahkan nikmati detik- detik terakhir kehidupan mu di dunia ini!" Kembali bu Nani berkata.
Pak Johan berdiri di samping bu Nani, dia memeluk wanita itu dengan erat. Kedua nya berpelukan dengan bibir yang saling berpagut, pak Toni melihat kedua nya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
'Ya Allah aku ikhlas jika memang mereka ingin membunuh ku, agar aku tidak melihat lagi perbuatan terkutuk mereka di depan mata ku!' Pak Toni berdoa di dalam hati.
Mereka tersenyum setelah saling melepas kan pelukan mereka, bu Nani tersenyum pada suami nya. Dia lalu mengambil bantal yang ada di samping pak Toni.
"Silahkan ucap kan selamat tinggal pak!" Ujar bu Nani lagi.
Kemudian dengan tidak merasa bersalah sedikit pun, bu Nani menutup wajah pak Toni dengan bantal itu. Dia menekan nya dengan keras, pak Toni berusaha menggerak kan kepala nya ke kiri dan ke kanan. Tapi bu Nani semakin kuat menekan bantal itu selama beberapa menit.
Setelah memastikan pak Toni tidak bergerak lagi, bu Nani baru melepas kan bantal itu dari wajah suami nya. Dia menempel kan jari tangan nya di hidung suami nya, sudah tidak ada lagi jembatan nafas nya. Pak Johan pun memeriksa pergelangan tangan pak Toni, denyut nadi nya sudah berhenti.
"Dia sudah tiada, sekarang kita bebas melakukan apapun!" Pak Johan berkata pada bu Nani.
"Akhir nya laki - laki ini mati juga, dengan begitu aku bebas dan tidak perlu merawat nya lagi!" Bu Nani berkata dengan bahagia.
Kedua manusi itu benar- benar tidak punya hati, mereka pun kembali melakukan hubungan terlarang di tempat tidur itu. Tidak ada rasa risih atau pun jijik, mereka melakukan nya di samping jenazah pak Toni yang baru saja mereka bunuh.
Kedua nya mendaki puncak kenikmatan dunia, mereka merayakan kematian pak Toni dengan saling menyalur kan hasrat nya. Setelah puas dan selesai, kedua nya langsung memakai kembali baju nya masing- masing. Bu Nani membetul kan selimut pak Toni, agar terlihat dia sedang tidur.
"Sekarang aku pulang dulu, nanti setelah itu kau baru memanggil orang - orang!" Pak Johan berkata sambil mencium kening bu Nani.
Pak Johan keluar lewat pintu belakang, begitu pula dengan bu Nani. Dia berpura - pura membersih kan rumput di halaman belakang rumah nya.